
Kevin, Mateo dan Sophia sedang menghabiskan waktu bersama di sebuah taman bermain. Mateo yang memaksa Kevin untuk membawanya jalan-jalan karena sudah lama mereka tidak pernah jalan bersama lagi. Apalagi semenjak ayah dan ibunya sudah menikah. Meski dalam keadaan setengah terpaksa, Kevin pun mengabulkan permintaan Mateo.
Langit terlihat begitu cerah dan bersahabat. Sesekali angin bertiup memberi kesejukan dicelah-celah sengat panasnya sang mentari. Mereka bertiga duduk diatas rerumputan yang beralas tikar kecil yang disediakan di taman itu. Kevin dan Mateo asyik bercerita dan berbagi tawa, sedangkan Sophia hanya memandangi keduanya dengan perasaan bahagia.
Terdengar bunyi panggilan masuk di ponsel Sophia. Muncul nama "My Husband" di layar ponsel. Sophia segera mengangkat dan menjawab panggilan Stephen.
" Kalian ada dimana? Kok tidak ada dirumah? Tanya Stephen dari seberang.
" Oh, maaf mas. Aku lupa kirim pesan kalau kami lagi ada diluar, di taman hiburan.!" jawab Sophia dengan perasaan bersalah karena lupa mengirim pesan kepada suaminya itu.
" Suara siapa itu?" Tanya Stephen ketika terdengar olehnya suara tawa Kevin dan Mateo lewat telvon.
" Oh, ada Mas Kevin dan Mateo sedang bermain.!" jawab Sophia sambil memperhatikan keduanya yang nampak begitu bahagia.
" Kevin. Kevin siapa?" tanya Stephen penasaran. Sekaligus ada sedikit rasa cemburu karena istrinya itu sedang bersama dengan pria lain yang tidak dikenalnya.
" Mas Kevin, anak Ibu Maria!" jawab Sophia.
" Deeg!" Hati Stephen tiba-tiba berdegup mulai kencang. Teringat olehnya siapa Kevin itu. Kevin anak Ibu Maria pemilik Panti Asuhan. Dan Stephen sangat ingat sekali jika pria itu dulu juga menaruh hati kepada Sophia. Dan dia juga tahu persis bagaimana pria itu sangat mencintai Sophia. Hanya saja karena dia kalah oleh waktu sehingga tak bisa mendapatkan hati Sophia.
Pertanyaan yang muncul dalam benaknya saat ini adalah, " Kenapa pria itu tiba-tiba muncul lagi?" Stephen tahu jika hubungan diantara keduanya memang dekat lantaran ikatan antara Sophia dan Ibu Maria. Sehingga memungkinkan keduanya untuk bisa bertemu kapan saja. Tapi sudah lama pria itu tidak pernah muncul lagi. Dan kini mendadak muncul. Di saat dirinya akhir-akhir ini mulai jarang menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya karena tuntutan pekerjaan. Atau bahkan karena alasan lainnya.
Maka muncullah pikiran-pikiran aneh dan negative dalam benaknya terhadap Kevin. Tanpa memberi salam dan sapa, Stephen langsung mematikan ponselnya. Dan dia pun berencana hendak pergi menyusul mereka ke tempat taman bermain.
Sophia yang bingung karena suaminya itu tiba-tiba mematikan ponselnya tanpa memberitahukannya hanya menggeleng saja memaklumi tingkah aneh suaminya itu.
Tak perlu waktu yang lama Stephen sudah muncul disana. Dengan langkah tergesa-gesa dia menemui mereka bertiga.
__ADS_1
" Mateo, sayang!" teriaknya dari kejauhan memanggil istri dan anaknya itu. Mendengar suara panggilan Stephen, Kevin ikut berbalik melihat siapa si pemilik suara tersebut.
Dan yang terjadi berikutnya, Kevin dan Stephen saling beradu pandang. Hanya saja pandangan itu bukanlah pandangan persahabatan melainkan tatapan persaingan.
Meski mulut mereka diam tak bersuara, tetapi mata dan hati mereka saling berbicara. Jauh di lubuk hatinya, Kevin belum sepenuhnya merelakan cintanya bersama dengan orang lain. Dari luar dia terlihat tegar dan ikhlas, namun sesungguhnya tidak dalam hatinya.
" Kalau bukan karena Mateo, aku yakin Sophia tidak akan pernah jadi milikmu!" ucap bathin Kevin tertuju kepada Stephen. Dan Stephen pun membalasnya perkataaan Kevin juga lewat bathinnya seakan dia mengerti
''Kamu boleh beromong kosong, tapi maaf apapun yang terjadi, Sophia sudah jadi milikku.!"
Kedua tatapan itu masih beradu. Sophia yang mengerti jika situasinya sedang tidak baik mencoba mencairkan suasana.
" Mas, gimana kalau kita sekalian makan malam bersama. Kevin juga baru pertama kali datang setelah pernikahan kita. Dan Mateo juga rindu ingin menghabiskan waktu bersama Kevin. Boleh ya Mas?"
Meski dalam hatinya Stephen ingin menolak tapi dia tidak ingin sikapnya itu malah mengecewakan Sophia apalagi Mateo. Karena dia tahu persis bagaimana kedekatan diantara mereka. Bahkan boleh dibilang Mateo lebih dekat dengan Kevin dibandingkan dia ayah kandungnya sendiri. Maka tak baik kiranya jika dia mementingkan egonya dari pada perasaan anak dan istrinya itu.
" Yeee.... asyiiikk. Makasih ayah!" ucap Mateo dengan girangnya. Begitu bahagianya dirinya bahkan lebih bahagia dibandingkan ketika Stephen membelinya sebuah hadiah. Materi dengan perasaan memang tak bisa dibandingkan. Levelnya jauh berbeda.
Mereka berempat duduk melingkari meja yang penuh dengan makanan lezat. Mateo yang berada disamping Kevin terlihat sangat bernafsu sekali. Hampir semua jenis makanan yang terhidang disantapnya dengan nikmat. Kevin nampak senang dan bahagia karena ternyata sikap dan perhatian Sophia dan juga Mateo tidak berubah sama sekali.
Hanya pandangan tak bersahabat dari Stephen yang berbeda diantara mereka malam ini. Namun Kevin tak ambil pusing soal itu. Lebih lagi tak mau peduli. Baginya malam ini dia ingin menikmati kebersamaan dan kebahagiaan bersama Sophia dan Mateo.
" Ma, Mateo kebelet pipis.!" seru Mateo dengan wajah sudah tak tahan lagi ingin segera mengeluarkan hajat pipisnya.
Sophia segera bangkit dari tempat duduknya dan menemani Mateo pergi ke toilet.
" Aku temani Mateo dulu ya!" ujar sophia kepada Stephen dan juga Kevin. Kedua pria itu sama-sama menundukkan kepalanya.
__ADS_1
" Akhirnya gue bisa bicara berdua dengan nih bocah!" Ucap Stephen pada dirinya sendiri.
Setelah Sophia dan Kevin menghilang dari sana Stephen langsung melancarkan aksinya.
" Sebenarnya, apa tujuan kamu datang ke rumah saya?" Tanya Stephen tanpa basa-basi.
Tapi tangan dan mulutnya tak berhenti untuk bekerja menikmati hidangan yang ada dihadapannya itu.
" Apa aku harus memberitahukan dirimu tentang apa saja yang aku lakukan?" Kevin malah balik bertanya.
" Selama iri berhubungan dengan Sophia dan Mateo maka aku berhak wajib tahu.!" ucap Stephen dengan tegas. Sebagai seorang suami sekaligus ayah, Stephen harus bisa bersikap tegas demi melindungi anak dan istrinya dari orang asing.
" Apa kamu bersikap seperti ini hanya dengan diriku atau terhadap setiap orang yang mendekati Sophia dan Mateo?" Kevin mencoba memancing kejujuran dari Stephen.
Karena secara diam-diam sebenarnya Kevin mengawasi Stephen lewat orang suruhannya. Jadi dia tahu persis apa yang dilakukan oleh pria itu. Bahkan masalah tentang wanita rekan bisnisnya itu yang berusaha untuk mendekatinya, Kevin juga tahu. Kedatangannya kali ini sebenarnya bukan hanya karena permintaan sang ibu, tetapi juga karena keinginan hatinya untuk melindungi Sophia dan Mateo.
" Maksud kamu apa?" Tanya Stephen dengan nada tinggi.
" Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa yang sedang kamu perbuat. Aku hanya akan mengingatkan kamu saja. Jangan sampai kamu menyakiti hati Sophia dan Mateo. Jika sampai hal itu terjadi aku tidak akan segan-segan membalasnya untukmu dan jangan pernah salahkan aku jika kelak aku akan membawa Sophia dan Mateo dari hidupmu.!" Stephen begitu kaget mendengar perkataan Kevin yang seakan mengancamnya. Apa yang Kevin ketahui sehingga dia berani berkata seperti itu? Apakah selama ini Kevin memata-matai dirinya? Tapi menurut cerita Ibu Maria waktu itu, Kevin berada di luar negeri. Dan jarang mengirimkan kabar. Bahkan belum pernah pulang sama sekali.
Tapi kini tiba-tiba dia datang dan dengan percaya dirinya berkata hal demikian kepada Stephen. Bahkan dengan beraninya mengancam Stephen. Seolah-olah dia begitu yakin dengan semua perkataannya.
" Aku tidak tahu apa maksud ucapan mu itu. Tapi kamu harus tahu, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Sophia dan Mateo. Aku akan selalu melindungi mereka dengan nyawaku. Camkan itu baik-baik.!" ucap Stephen dengan tegas dan keras.
Kevin membalasnya dengan senyuman sinis, yang menganggap perkataan Stephen hanyalah bualan saja. Sebelum Kevin hendak menjawab kembali perkataan Stephen, Sophia dan Mateo telah muncul.
" Sepertinya kalian berdua sedang membicarakan hal yang serius. Lagi bicarakan tentang apa?" Tanya Sophia mencoba mencairkan suasana tegang. Dari raut wajah keduanya nampak jelas jika mereka berdua sedang bersitegang dan saling berdebat satu sama lain.
__ADS_1
" Tidak kok, kita hanya bicara biasa saja. Stephen bertanya soal pekerjaanku di luar negeri. Karena begitu sibuknya sampai tidak punya waktu untuk pulang ke rumah!" ucap Kevin mengalihkan pembicaraan. Stephen mengangguk menyetujui ucapan Kevin. Dan Sophia hanya menanggapinya dengan santai.