
Stephen dan Harvey menghabiskan malam yang panjang di salah satu restaurant yang terletak di sebuah hotel mewah bintang lima. Perbincangan mereka di kantor siang tadi masih berlanjut hingga sekarang. Perpisahan selama beberapa tahun ini ternyata menyimpan banyak kisah yang rindu untuk diceritakan.
"Rencana kepulanganmu ke Indo hanya untuk sementara atau akan menatap disini Har? tanya Stephen sambil menikmati minuman yang ada di tangannya.
Harvey berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Stephen.
" Kalau aku menemukan jodohku disini mungkin aku akan memilih untuk tinggal di Indo deh! jawabnya tapi dengan masih meragu.
" Kalau begitu cari pacar di sini saja. Cewek Indo tidak kalah cantik kok dengan cewek-cewek bulemu disana.! ujar Stephen.
" Boleh juga tuh usul dari kamu. Tapi kamu punya kenalan cewek cantik nggk? Harvey balik bertanya.
Tapi belum sempat Stephen menjawab Harvey sudah menimpalinya lagi.
" Gimana kamu bisa bantu aku untuk itu ya, kamu aja masih jomblo sampai sekarang!
Mendengar ucapan Harvey, Stephen menunjukkan wajah kesal.
" Hey bung, jangan tunjukkan wajah masammu itu, perkataanku itu memang benar adanya kan? Sampai sekarang saja kamu masih jomblo. Jomblo sejati! pertegas Harvey memanas-manasi hati Stephen.
__ADS_1
Stephen yang semakin kesal ingin rasanya menimpuk sepupunya itu dengan apa saja agar hatinya puas.
Namun kemudian mereka berdua saling memandang satu sama lain lalu tertawa terbahak-bahak. Mereka seperti merasa sangat lucu karena sama-sama menyadari jika mereka berdua sama-sama jomblo sejati.
" Eh bro, kamu tidak punya rencana ingin mendirikan perusahaan baru di Amrik kah? Perusahaan kamu disini kan sudah banyak cabangnya. Kenapa nggk coba untuk melebarkan sayap ke luar negeri? Tanya Harvey kali ini dengan mimik serius.
" Lihat nanti ajalah. Kamu kan tahu perusahaan yang sekarang aku pimpin itu punyanya bokap. Perusahaan ku yang sekarang aku serahkan sama orang lain untuk mengurusnya dulu." jawabnya dengan serius juga.
" Kenapa bukan kamu aja yang bikin kantor baru di Indo? Stephen balik bertanya.
" Kalau kamu kembali ke Indonesia, kan kita bisa kerja sama bareng." ucap Stephen lagi.
Mereka berdua saling memandang dan saling tersenyum. Lalu sama-sama meneguk minuman yang masih ada di hadapan mereka.
Kemudian Harvey bertanya lagi tentang kenangan buruk mereka di malam ulang tahun waktu itu.
" Lalu bagaimana berita tentang gadis cinta satu malam kamu itu? Tidak ada berita sama sekali."
Stephen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya kemudian, " Sudah lima tahun berlalu, dan tidak seorang pun wanita datang mencariku untuk meminta pertanggungjawaban."
__ADS_1
Harvey berpikir sesuatu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan entah kenapa kata-kata ini keluar dari mulut, " Atau jangan-jangan malam itu kamu memang tidak lagi normal ya, sehingga penyatuan kalian berdua tidak menghasilkan apapun?
Mendengar ocehan buruk Harvey membuat Stephen sedikit emosi. Harga dirinya sebagai lelaki sejati dipertaruhkan disini. Tentu saja dia tidak bisa terima jika dia disebut lelaki tidak normal. Lelaki yang tidak mampu memberikan kepuasan pada wanitanya.
" Kalau ngomong tuh jangan seenak udelmu ya! marah Stephen. Ditimpuknya Harvey dengan barang yang ada didepannya.
Harvey malah tertawa cekikikan. Sepupunya itu bisa juga tersinggung olehnya.
Harvey kemudian melanjutkan kata-katanya , " Nggk nyangka ya bro pemuda setampan kamu, nyaris sempurna tapi malah menghabiskan malam pertama dengan orang asing. "
Stephen tidak mau ambil pusing lagi. Apapun yang dikatakan oleh Harvey dia tidak peduli lagi.
Mateo sudahlah pulih kembali. Dengan lincah dan gembira dia berlari-lari kesana kemari di dalam ruangan tempat Sophia biasa bekerja.
Hatinya girang karena akan bertemu dengan teman-temannya lagi besok. Dirinya sudah tidak sabar ingin bermain bersama mereka.
Sophia yang melihat keceriaan di wajah Mateo membuat hatinya juga gembira dan senang.
Hatinya kini bisa tenang. Dia juga bisa bekerja dengan lebih nyaman lagi. Sophia bisa meninggalkan Mateo di Panti tanpa perlu merasa khawatir.
__ADS_1
Tapi tidak hanya Mateo yang menjadi bahan pikirannya saat ini. Wajah senyum bossnya itu juga terngiang-ngiang di dalam otaknya saat ini. Mengapa dia harus kepikiran dengan bossnya itu. Padahal di kantor dia sudah berusaha bersikap biasa saja. Bahkan bossnya itu juga bersikap biasa saja. Sepertinya bossnya itu juga sudah melupakan kejadian saat mereka berada di rumah Sophia. Sikapnya biasa saja. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Jangan-jangan bossnya itu tidak peduli lagi. Sophia yang mungkin terlalu baper dan menyimpan semua perkara dalam hatinya.