
Sophia melihat Stephen dengan mimik penuh pertanyaan. " Ada apa gerangan dengannya.? Mengapa dia menatap kearahku dengan tatapan aneh seperti itu, membuat diriku merasa tidak nyaman. " bathin Sophia.
" Kamu tidak apa-apa kan? tanya Stephen dengan penuh perhatian. Membuat Sophia seperti kebingungan.
" Tidak apa-apanya gimana ya? Sophia balik bertanya.
Stephen langsung mengerti jika Sophia pastinya belum melihat video tersebut. Itu sebabnya dia masih terlihat santai dan merasa baik-baik saja.
" Baguslah kalau dia belum melihatnya. Setidaknya dia baik-baik saja untuk saat ini. " gumam Stephen dalam pikirannya.
" Kamu lagi buat apa sekarang? Stephen mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Lagi bikin laporan bulanan perusahaan Pak! jawab Sophia.
" Kamu ikut dengan saya sebentar. Ada yang mau saya bicarakan.! " Setelah berkata demikian Stephen langsung masuk ke kamar pribadinya yang ada di dalam ruangan kantornya itu. Sophia yang masih kebingungan terlihat enggan untuk ikut masuk ke ruangan tersebut.
Melihat Sophia tidak ada reaksi sama sekali, Stephen pun menatapnya dengan tatapan tajam. Tatapan yang seakan memintanya dengan paksa untuk segera beranjak dari sana dan masuk ke ruangan tersebut.
Melihat tatapan bossnya yang sedikit menakutkan itu membuat Sophia pun mengikutinya meski masih dengan perasaan takut dan khawatir.
Sophia duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. Dengan rasa takut dan was-was, tubuh gemetaran Sophia hanya tertunduk tidak berani menatap wajah Stephen.
__ADS_1
Melihat sikap Sophia yang terlihat aneh itu membuat Stephen sedikit kesel.
" Kenapa kamu melihat saya seperti orang yang ketakutan? Apakah wajah saya terlihat begitu menyeramkan dimatamu? ucap Stephen dengan kesal.
" Bukan begitu.... Pak! jawab Sophia masih dengan wajah tertunduk.
" Lalu kenapa wajahmu seperti itu? Kamu juga tidak berani menatap mataku!
Sophia lalu mengangkat kepalanya perlahan, dan dengan ragu menatap wajah Stephen.
" Saya takut karena wajah kamu terlihat marah. Kalau kamu lagi marah terlihat menakutkan bagiku! Kata-kata Sophia terlalu jujur membuat Stephen tidak habis pikir dengan kelancangan gadis itu. Atau lebih tepatnya keberaniannya sebagai seorang karyawan mengata-ngatai bossnya sendiri.
" Sekarang kamu dengarkan saya baik-baik. Tidak perlu berkomentar. Mengerti? perintah Stephen. Wibawanya sebagai seorang boss muncul kembali.
Sophia mengangguk tanda mengiyakan.
" Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu dan aku harap kamu tidak menolaknya. Karena ini demi keselamatanmu! ucap Stephen.
Sesuai dengan arahan Stephen yang tidak mengijinkan Sophia untuk menjawab atau berkomentar, maka Sophia pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Aku ingin kamu bersedia menjadi wanitaku!
__ADS_1
Duaaarrr...... Bagai mendengar suara petir di siang hari, Sophia terkejut bukan main. Jantungnya tiba-tiba berdetak begitu kencang. Hatinya tidak percaya dengan apa yang di dengar oleh pendengarannya itu.
Bahkan dia merasa jika saat ini dia sedang berada di dalam alam mimpi.
" Hey... kenapa wajahmu jadi bingung begitu seperti orang kesurupan? bentak Stephen menyadarkan Sophia dari rasa shocknya.
" e.. e.. e... sayaaa....! suara Sophia terbata-bata kehilangan kata-kata.
" Kamu jangan salah sangka, aku melakukan ini hanya untuk melindungimu saja bukan karena hal yang lain! ucap Stephen kemudian yang membuat Sophia semakin tidak mengerti.
Kata-kata Stephen membuat hati Sophia menjadi terombang-ambing. Kalau memang dia sama sekali tidak punya perasaan kepada Sophia lalu kenapa dia malah meminta Sophia untuk menjadi kekasihya?
" Maksudnya apa ya? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan! Tanya Sophia kemudian.
" Aku ingin menjaga dan melindungi kamu. Dan caranya adalah kamu harus jadi kekasihku! Stephen menjawab dengan kalimat yang hampir sama.
" Untuk apa kamu menjaga dan melindungi saya? Emangnya ada apa dengan diriku? Apakah keselamatanku dalam bahaya sehingga kamu ingin melindungi Ku!? Tanya Sophia butuh penjelasan.
Stephen tentu saja tidak akan mengatakan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi jika Sophia tidak diberi alasan yang tepat dia pasti tidak akan mau menerima tawaran itu.
" Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi aku berharap, kamu mengijinkan aku untuk melindungimu!!
__ADS_1