
...Cinta tak berwajah.......
...takkan bisa kau lukiskan seperti apa rupa sebuah cinta,...
...takkkan dapat kau bingkaikan bagaimana indahnya cinta,...
...meski matamu tak henti untuk mencari wajah dari cinta,...
...dan ragamu mencoba menjerat dan memeluk cinta....
...seribu untaian kata takkan cukup untuk mengungkapkan arti cinta,...
...sedalam samudera takkan sanggup menenggelamkan cinta,...
...seluas cakrawala takkan mampu membingkai cinta,...
...sehebatnya badai takkan bisa menghancurkan cinta....
...saat air mata mu menetes melihat bocah tak berayah dan tak beribu,...
...saat hatimu terluka menyaksikan sesamamu menderita,...
...ketika jiwamu tersiksa memandang saudara mu dianiaya,...
...ketika ragamu merasa haru saat siapapun bahagia....
...itulah cinta.......
...saat kamu tersenyum bersama seseorang, senyumlah dengan tulus,...
...saat kamu tertawa dengan sesamamu, tawalah dengan ikhlas,...
...saat mereka menangis, jadilah sandaran yang menghibur,...
...saat mereka merasa lelah dengan kehidupan ini, jadilah pribadi yang menguatkan....
...inilah cinta.......
...hitam, putih atau merah,...
...tinggi, besar atau pendek,...
...keriting, lurus atau botak,...
...sipit, bulat atau belok,...
...semua itu terlihat indah saat cinta yang berbicara....
...cinta itu tak berwajah,...
...tak berupa,...
__ADS_1
...tak berbentuk....
...tak perlu kau tafsir,...
...tak usah kau nilai,...
...tak guna kau hargai....
...cinta itu merasa tanpa disentuh,...
...mengerti tanpa bertanya,...
...memahami tanpa harus dijawab....
...kitalah cinta.......
...Tuhan sayang, karena kita cinta-Nya.......
Sophia terbangun dari tidurnya. Selimut tipis melingkar di atas tubuh mungilnya. Sophia seperti kebingungan. Seingatnya tadi malam dia duduk di sofa sendiri. Kenapa sekarang sudah berada di tempat tidur dan diselimuti.?
Di rumah ini sekarang hanya ada mereka bertiga. Jadi tidak mungkin orang lain yang melakukannya? Yang artinya tidak lain tidak bukan Stephen lah yang meletakkannya di atas tempat tidur ini. Sophia tersenyum senang tapi sedikit malu-malu. Membayangkan jika tadi malam Stephen mengangkat tubuh kecilnya, membawanya masuk ke kamar dan meletakkannya di atas tempat tidur. Sophia jadi sedikit canggung dan malu.
Sophia bangkit dari peraduannya, lalu menuju kamar Mateo. Dilihatnya Stephen dan Mateo yang masih tertidur lelap. Setelah puas melihat wajah lelap mereka berdiam, Sophia pergi ke dapur untuknya menyiapkan sarapan.
Dia bingung mau memasak apa. Karena dia tidak tahu apa makanan kesukaan Stephen. Apa biasanya yang dimakan saat sarapan pagi? Dari pada dia kebingungan sendiri, akhirnya Sophia memutuskan untuk memasak nasi goreng spesial.
Saat sedang asyik memasak, Sophia tidak sadar jika Stephen sudah berdiri dibelakangnya sambil memperhatikan Sophia yang begitu cekatan. Sophia berbalik dan agak terkejut melihat Stephen yang tiba-tiba sudah berada disana.
" Aroma masakanmu membangunkan aku dari tidurku! sanjung Stephen. Sophia sebenarnya senang namun dia pura-pura bersikap biasa saja.
" Pasti masakanmu enak ya!!
"Aku tidak tahu makanan apa yang biasa kamu makan di pagi hari, jadi akan hanya menghidangkan nasi goreng saja. Nggak papa kan?
" Iya tidak papa. Aku juga suka makan nasi goreng kok!
Sophia kembali focus memasak. Dan Stephen masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Sophia sebelumnya sudah menyiapkan peralatan mandi dan pakaian untuk Stephen.
Nasi goreng sudah terhidang diatas meja. Lengkap dengan susu, dan makanan lainnya. Stephen dan Mateo sudah duduk manis menunggu Sophia yang masih membereskan dapur. Dan kini mereka duduk mengitari meja makan. Tidak lupa bersyukur atas rejeki yang masih boleh mereka nikmati.
Sophia, Stephen dan Mateo begitu menikmati sarapan pagi ini. Mereka seperti sebuah keluarga kecil bahagia.
Ketika asyik menyantap nasi goreng enak buatan Sophia, tiba-tiba Mateo menyelutuk,
" Mama, bolehkah Mateo memanggil Om Stephen sebagai Ayah Mateo?
Sophia yang baru saja hendak memasukkan air ke dalam mulutnya hampir menyemburkannya keluar.
Stephen juga menunjukkan reaksi yang sama. Dirinya tidak menyangka jika Mateo akan mengatakan hal itu.
Melihat kedua orang dewasa itu hanya terdiam tanpa jawaban, Matteo mencoba menyimpulkan jawabannya dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
" Mama dan Om tidak setuju ya?
" Bukan gitu sayang........! sanggah Sophia.
" Kalau Mateo ingin panggil Om dengan sebutan ayah, Om setuju-dituju aja kok. Om senang malah! Stephen memotong perkataan Sophia.
Sophia memandang Stephen dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Kenapa Stephen malah mengiyakan permintaan anak itu? Apakah dia sudah siap untuk mengakui segalanya? Pikiran Sophia berkecamuk tidak tahu harus berbuat apa dengan masalah ini.
Sedangkan Mateo tentu saja merasa senang dan bahagia. Kerinduannya akan kehadiran sosok seorang ayah, kelak akan segera terwujud.
"Terima kasih Om, Eh maksud Mateo ayah!
Melihat sikap Mateo yang begitu mengharapkan sosok sang ayah membuat Sophia mau tidak mau harus menerimanya.
Lagi pula, tidak ada salahnya jika memang Stephen sendiri juga mengiyakannya.
Tapi Sophia harus benar-benar yakin jika memang Stephen bersikap layaknya seorang ayah sekalipun dia perlu banyak belajar untuk itu.
Mungkin sebutan Ayah terdengar sangat klise, tetapi bagi seseorang seperti Mateo, panggilan ayah adalah sesuatu yang sangat berharga. Selama ini kata dan sosok Ayah bagaikan barang langka dan unik sehingga sulit untuk ditemukan.
Tapi kini, kerinduannya selama ini terbalaskan sudah. Bolehlah ia menyombongkan diri.
Dengan percaya diri Mateo bisa membanggakan ayah barunya kepada teman-temannya.
Pagi itu mereka lewati dengan penuh kegembiraan. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang tidak akan terulang kembali.
Stephen terlihat sibuk di balik meja kantornya. Selesai sarapan dari rumah Sophia, Stephen langsung berangkat ke kantor.
Melihat boss mereka yang super sibuk, mereka tidak hanya duduk dibalik meja tetapi tetap melakukan tugas mereka.
Stephen bagaikan candu bagi orang-orang yang mengenalnya terutama gadis-gadis pemburu pria tampan dan kaya raya.
Begitu juga dengan para karyawatinya yang diam-diam menyukainya.
Ya sekedar menyukainya karena tidak mungkin untuk memilikinya.
Sophia sendiri kadang tidak mempercayai dengan apa yang sedang diterimanya saat ini.
Tak pernah terbayang olehnya jika akhirnya Stephen memilih dirinya untuk menemaninya menjadi pendamping hidupnya. Meski saat ini masih berstatus sebagai tunangan tapi setidaknya Sophia sudah punya kartu untuk memiliki Stephen.
Namun disaat semua itu harusnya untuk disyukuri dan dinikmati, muncullah sebuah tembok yang tinggi, sepertinya akan menjadi tembok penghalang cinta diantara mereka berdua.
Maya yang muncul tiba-tiba membuat segalanya sedikit rumit. Karena walau bagaimanapun Maya sangat berhubungan erat dengan masalah ini untuk menentukan masa depan hubungan mereka.
Kini Sophia tidak hanya memikirkan perasaan hatinya sendiri, tetapi juga harus memikirkan masa depan Mateo. Sophia tidak menginginkan dan sangat tidak ingin jika dirinya menjadi pemisah hubungan antar seorang Ibu dengan anaknya.
Kini tantangan yang muncul sungguh tidak bisa dianggap enteng. Karena tidak hanya menguji kadar cinta dalam hati mereka berdua. Tetapi lebih penting lagi adalah kebahagiaan Mateo.
Yaa kebahagiaan Mateo adalah menjadi kunci untuk menentukan pilihan apa yang harus diputuskan? Tentunya itu adalah kesempatan untuk menentukan kebahagiaan Mateo dimasa depan!
__ADS_1