
Setelah selesai conference press dari kantor Stephen, Angela langsung melarikan diri pulang ke rumah. Dia tidak mau menjadi bahan olok-olokan media massa yang mencoba mencari berita tentang kekonyolannya waktu itu. Angela tidak menyangka akan bakal menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Maksud hati hanya ingin memberi peringatan kepada Sophia, malah dia yang dipermalukan untuk sekarang ini. Di dalam kamar Angela membenamkan dirinya dibalik selimut. Meratapi kesedihannya namun bercampur dengan perasaan yang berkecamuk serta ada dendam terbersit didalamnya. Hari ini hatinya cukup terluka karena diperlakukan dengan buruk. Amarah, kebencian dan dendam menyatu berkecamuk didalam hatinya. Hatinya kini tersimpan dendam membara dan keinginan untuk balas dendam.
Di tempat lain.
Stephen dan Harvey sedang berdiskusi. Dilihat dari raut wajah, mereka berdua nampak serius sekali. Ternyata yang sedang mereka perbincangkan adalah masalah tentang Sophia.
Stephen sudah menceritakan tentang penolakan Sophia. Namun Harvey malah berpendapat jika Sophia pasti ada rasa kepada Stephen. Dari kaca mata lelakinya, Harvey yakin bahwa sebenarnya didalam hatinya Sophia punya perasaan khusus untuk Stephen. Hanya saja wanita itu malu untuk mengakuinya.
Bisa saja Sophia kurang percaya diri dengan dirinya sendiri. Mengingat statusnya yang jelas-jelas berbeda jauh dengan Stephen.
Sehingga Sophia tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun dengan berbagai kejadian akhir-akhir ini, membangkitkan rasa percaya diri didalam dirinya. Bagaimanapun juga segala bentuk perhatian yang diberikan Stephen kepadanya sudah cukup membuktikan jika pria tersebut memang tulus untuk menjaga dan melindunginya. Bahkan Stephen tidak segan-segan menunjukkan kasih sayangnya.
Stephen masing-masing terdiam seperti memikirkan sesuatu. Sedangkan Harvey dengan kepala manggut-manggut seakan-akan sudah menemukan suatu solusi.
Lalu tiba-tiba Stephen menyelutuk, " Atau, apa mungkin aku tidak perlu memaksa Sophia untuk menerima lamaranku itu ya?
Harvey yang mendengarnya sedikit terkejut dan matanya sedikit melotot.
__ADS_1
" Kamu ngomong sembarangan aja. Masa gitu aja langsung menyerah! Usaha dong bro, usaha! Harvey mencoba menyemangati sepupunya itu.
" Aku hanya berpikir jika sebenarnya Sophia tidak menyukai diriku. Jadi aku tidak ingin memaksanya dan membuat dirinya terbebani. " ucap Stephen dengan polosnya.
" Aihhh, brooo... Sejak kapan kamu jadi melankolis begitu hah? Ucap Harvey dengan nada mengejek. Kemudian Harvey berkata lagi,
" Kamu harus yakin my brother, jika cinta sejatimu itu ada dalam dirinya Sophia. Aku bisa melihat aura cinta diantara kalian berdua itu begitu kuat dan bersinar. " Stephen melihat Harvey dengan tatapan aneh. Kata-kata sepupunya itu seolah-olah bukan keluar dari mulut seorang Harvey. Terlalu bijaksana bagi seorang manusia bernama Harvey.
Harvey masih berkata lagi,
" Tapi, jika kamu benar-benar tidak menginginkannya lagi, aku harap kamu rela untuk melepaskannya untuk diriku. Oke!
Stephen pun melihat Harvey dengan heran dan terkejut. Ternyata sepupunya itu diam-diam ada udang dibalik batu.
Harvey hanya senyum cengar-cengir.
" Jadi beneran kalau kamu juga suka sama Sophia? Stephen mencoba memperjelas lagi
maksud dari perkataan Harvey.
" Jujur my bro, awalnya aku sama sekali tidak pernah berpikir akan juga merasakan perasaan seperti itu. Tapi lama kelamaan semakin aku mengenal dan dekat dengan Sophia, entah mengapa sedikit demi sedikit muncul perasaan suka dalam hatiku. " jawab Harvey dengan sejujur-jujurnya.
__ADS_1
" Tapi kamu tidak perlu khawatir bro, aku tidak akan bersaing dengan saudaraku sendiri. Hanya saja kamu harus ingat kata-kata ku, jika kamu menyia-nyiakannya aku siap untuk merebutnya darimu! ucap Harvey lagi sambil cengar-cengir.
Stephen pun langsung meninju bahu Harvey dengan pelan.
" Jangan harap ya, aku tidak akan membiarkan siapapun lagi untuk mendekatinya. Termasuk kamu.! tegas Stephen dengan penuh kepercayaan. Sikapnya yang tadi masih meragu mendadak berubah menjadi yakin. Harvey pun hanya membalas kelakuan sepupunya itu dengan tawa kecil.
Dalam masalah percintaan, sepupunya ini memang perlu di ancam dulu agar dia mau bergerak dan percaya diri.
" Aku harap kamu selalu berjuang demi cinta sejatimu brother. Karena kebahagiaaan mu itu juga sangat penting. " nasehat bijak seorang Harvey.
Stephen sangat bahagia memiliki saudara seperti Harvey. Meski mereka hanyalah sebatas saudara sepupu tapi selama ini hubungan mereka berdua melebihi hubungan saudara kandung.
Saat Stephen dan Harvey masih asyik ngobrol berdua, Sophia muncul dari balik pintu.
Harvey yang langsung menangkap sinyal baik langsung saja mengundurkan diri dari sana.
Sophia yang sedikit salah tingkah, dengan berani mendekat ke meja Stephen. Dihimpunnya tenaga dan keberaniannya agar bisa menyampaikan apa yang ada dalam hatinya saat ini. Dan tanpa menunggu terlalu lama Sophia langsung berkata to the point.
" Pak, apa tawaran lamaran bapak masih berlaku? Jika iya maka saya bersedia menerima tawaran lamaran bapak! ucap Sophia terus terang.
Stephen yang tidak menyangka akan mendengarkan respon Sophia yang mendadak seperti itu sempat terdiam seakan tidak percaya. Dan beberapa saat kemudian dia tersadar dan mulai tersenyum.
__ADS_1
Stephen pun bereaksi bukan dengan kata-kata. Dia langsung bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Sophia dalam dekapannya. Pelukan hangat, lembut dan penuh cinta. Sophia pun menyunggingkan senyum dibalik dada bidang Stephen.
Ya, akhirnya, dua insan itu saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.