
Mateo sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Dan sampai saat itu Stephen belum juga pulang.
Sophia dengan sabar dan hati yang sesungguhnya diliputi kegelisahan dan kekhawatiran masih menunggu dengan setia.
Untuk membunuh waktu yang mulai membosankan itu, dia menunggu sembari menyaksikan drama kesukaannya. Meski pikirannya tidak fokus dan hatinya tidak menikmati drama favoritnya karena pikirannya sedang memikirkan suaminya yang belum pulang juga.
Malam sudah mulai larut, tidak mungkin mereka masih menikmati makan malam di restaurant itu. Apa mungkin pembicaraan bisnis mereka begitu mendesak sehingga tidak ingat waktu sama sekali.
Sophia masih mencoba mengabaikan pikiran-pikiran negatif dari dalam pikirannya. Dia menaruh kepercayaan pada Stephen. Dan yakin bahwa suaminya itu akan setia memegang kepercayaannya itu.
Stephen tidak mungkin akan mengkhianati kepercayaannya itu. Maka dia selalu meyakinkan dirinya jika suaminya itu adalah pria yang bisa dipercaya. Mengingat-ingat selama ini bagaimana perjuangan suaminya itu untuk mendapatkan cinta darinya.
Tapi tetap saja sebagai seorang perempuan biasa yang juga memiliki hati yang lemah, ada kalanya dia merasa takut dan cemas.
Takut jikalau suaminya itu berpindah ke lain hati. Sophia bahkan teringat dengan wajah cantik gadis itu. Sophia tidak pernah bertemu dengan wanita secantik itu. Sebagai seorang perempuan, Sophia saja suka melihat wanita itu, apalagi kaum adam.
Dan mungkin karena terlalu lelah berpikir akhirnya Sophia jatuh tertidur di atas sofa. Dan tepat pukul 11 malam Stephen pulang. Dengan melangkah pelan-pelan, Stephen mengira Sophia sudah tidur jadi dia tidak ingin kehadirannya membangunkan istrinya itu.
Namun betapa terkejutnya Stephen melihat Sophia yang tertidur di atas sofa. Dia tidak mengira jika istrinya itu akan menunggunya sampai tertidur.
Kemudian dilihatnya meja makan yang masih terhidang makanan yang pastinya sudah tidak hangat lagi. Dan ketika dilihatnya makanan favoritnya terhidang disana hatinya terharu.
Ada rasa penyesalan dalam hatinya seketika itu. Sophia pasti telah menyiapkannya untuk dirinya. Namun dia malah mengabaikan istrinya itu dengan tidak mengabarinya sama sekali.
Hanya karena menuruti kesenangan semata dia tanpa sengaja telah melukai hati istrinya itu. Dan untuk membalas rasa penyesalannya Stephen pun duduk di meja makan dan mencicipi masakan istrinya itu meski makanan itu sudah terasa dingin.
Tapi Stephen terlihat menikmatinya. disantapnya masakan Sophia dengan lahapnya. Dan Sophia terbangun ketika mendengar bunyi sendok dan piring beradu.
Dilihatnya suaminya itu makan sendirian menikmati makanannya. Sophia pun segera bangkit dan menjumpai suaminya itu.
" Mas sudah pulang, maaf yaa aku ketiduran nggk dengar kalau mas sudah pulang.! Sophia malah meminta maaf padahal dirinya tak bersalah sama sekali.
Stephen yang melihat ke arah istrinya itu pun menyahut,
" Tidak papa sayang, mas yang minta maaf karena pulang telat. Mas juga lupa hubungin kamu! Maafin mas ya udah bikin kamu menunggu terlalu lama!?
" Nggak papa kok mas, ini kan sudah kewajibanku sebagai seorang istri.! balas Sophia. Dia pun duduk di samping Stephen menemani suaminya itu menyantap makanannya.
" Makanannya sudah dingin, pasti sudah tidak enak lagi. Mas nggk usah di makan lagi .!
" Ah masih enak kok sayang. Aku suka. Terima kasih ya, sudah memasak makanan favoritku. Enak sekali! Puji Stephen dengan tulus, namun juga sebagai bentuk penyesalan karena telah berbuat kesalahan kepada istrinya itu.
Dalam benaknya Sophia sebenarnya dia ingin bertanya tentang apa yang dilihatnya tadi, namun dia menahan dirinya untuk tidak bertanya. Dia berharap suaminya itu sendiri yang langsung mengatakannya dengan jujur tanpa harus diminta.
__ADS_1
Tapi di tunggu dan di tunggu suaminya itu sepertinya tidak ada niat sama sekali untuk mengatakan kejadian hari ini. Jika suaminya itu diam tidak mau bercerita artinya dia memang tidak ingin bercerita.
Maka Sophia tidak akan bertanya. Dia akan menunggu suaminya itu untuk berbicara sendiri dari dalam hatinya. Sophia hanya terdiam menemani suaminya itu menyelesaikan makan malamnya.
Sophia tahu jika suaminya itu sudah kenyang namun demi menghargai kerja keras Sophia serta menebus rasa bersalahnya dia pun rela menghabiskannya. Dan untuk itu Sophia pun harusnya menghargainya juga. Maka biarkanlah suaminya itu menikmatinya.
Seolah-olah hari ini tak terjadi apa-apa, Stephen bersikap seperti biasanya. Setelah menyelesaikan santap malamnya, Stephen membersihkan dirinya sebelum menuju tempat peraduannya untuk melepaskan lelah sesudah pekerjaan hari ini.
Sophia pun tak ingin memaksa suaminya itu untuk bercerita kepadanya. Maka malam ini Sophia harus memendam rasa keinginan tahuannya tentang kejadian hari ini.
Malam semakin larut, bulan purnama seakan malu menunjukkan dirinya sehingga dia memilih bersembunyi. Sophia dalam pikiran yang berkecamuk tidak dapat membenamkan matanya dalam tidurnya. Moment suaminya bersama wanitanya itu terus membayang dalam benaknya.
Meski dariNya sudah berusaha untuk mengabaikannya tetapi hati kecilnya seakan tidak rela. Ada sesuatu yang mengganjal disana. Yang membuat pikirannya dihantui perasaan-perasaan yang tidak baik.
Naluri seorang perempuan jarang keliru. Tapi dia tidak ingin bertanya langsung kepada suaminya itu karena dia takut akan menjadi batu sandungan dalam pernikahan mereka.
Jangan sampai Stephen akan menuduh dirinya sudah tidak mempercayainya lagi jika dia bertanya langsung kepadanya. Namun jika dia tidak bertanya dan Stephen tidak mau berterus terang jangan sampai akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan pernikahan mereka.
Sophia pun berdoa dalam hatinya, semoga pikiran-pikiran buruk yang muncul dalam benaknya hanyalah pikiran sesaat dan keliru. Dia berharap jika suaminya itu akan selalu menjaga cinta dan kepercayaan yang sudah mereka janjikan bersama.
Sophia pun kembali memejamkan matanya berusaha untuk dapat segera tidur. Karena suaminya itu sejak dari tadi sudah terlelap. Nampak gurat lelah di wajah tampannya itu.
Dan akhirnya mata itupun terlelap juga.
Entah kemana sopir pribadinya tidak turun membantunya mengangkat barang-barangnya itu. Bahkan bagasi mobil dia juga yang harus membukanya dan memasukkan barang belanjaan ke dalamnya.
Setelah semuanya sudah masuk, Sophia menutup pintu bagasi dan berjalan masuk ke dalam mobil. Baru saja tangannya membuka pintu mobil, matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan yang tak biasa.
Stephen sedang berjalan dengan seorang wanita memasuki sebuah butik tidak jauh dari supermarket tempat Sophia berbelanja.
Dengan rasa penasaran Sophia pun mengikutinya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan suaminya itu didalam butik bersama dengan wanita yang bukan istrinya.
Wanita itu asyik memilih-milih gaun yang dipajang di dalam butik itu dan Stephen dengan sabar dan setia menemani disampingnya. Sepanjang pernikahan mereka Stephen baru beberapa kali mengajaknya berbelanja di butik. Bisa dihitung dengan jari.
Wanita itu begitu bahagia sekali dan Stephen juga nampak tersenyum bahagia melihat wanita itu bahagia. Ada rasa sesak dalam hati Sophia melihat pemandangan itu. Ingin rasanya dia segera menghilang dari tempat itu dan muncul penyesalan dalam hatinya mengapa dia tadi melihat mereka berdua dan mengikutinya sampai ke butik sehingga dia harus menyaksikan moment bahagia suaminya dengan wanita lain.
Tapi bukannya menghilang, Sophia malah mendekat dan semakin mendekat. Dan kini dia berhadapan dengan suaminya itu. Stephen yang melihat kemunculan Sophia sangat terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Sophia berdiri dihadapannya saat ini.
Sophia yang tak berbicara sepatah katapun hanya memandang wajah suaminya itu. Mata mereka saling beradu dan saling bertanya di dalam hati mereka masing-masing.
" Kenapa kamu ada disini? Tanya Stephen dalam benaknya.
" Siapa wanita itu? Mas Stephen sedang apa dengan wanita itu? Tanya Sophia juga dalam benaknya.
__ADS_1
Lalu wanita itu mendekat kepada Stephen dan menunjukkan sebuah gaun sexy berwarna merah meminta pendapat Stephen.
" Bagaimana menurutmu gaun ini? Sexy bukan, kamu pasti tertarik melihat tubuhku memakainya! ucap wanita itu dengan suara manjanya.
Mendengar ucapan wanita itu tentu saja membakar hati Sophia. Wanita itu berbicara seolah-olah sedang berbicara dengan kekasihnya. Rasanya sangat menyesakkan dada. Melihat Stephen yang tidak menggubrisnya dan malah menatap ke arah wanita lain, wanita itu pun melirik ke arah Sophia.
" Kamu siapa? Tanya wanita itu.
" Aku istrinya! Jawab Sophia tegas
" Ouh... jadi kamu istrinya. Kok bisa? ucap wanita itu dengan entengnya.
Sophia kaget mendengar ucapan wanita itu.
Sedangkan Stephen tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya terdiam. Seperti bukan Stephen yang dikenalnya.
Wanita itu semakin merapatkan dirinya disamping Stephen. Tanpa segan dia menggandeng lengan Stephen dengan sikap manjanya.
Anehnya Stephen tidak menghindarinya. Malah seakan membiarkan wanita itu melakukan apa saja yang ingin diperbuatnya. Sophia semakin terpojok dalam luka di hatinya.
Ada apa gerangan yang telah terjadi? Mengapa Stephen berubah 360 derajat seperti ini? Stephen seperti orang asing yang tidak mengenal Sophia.
" Mas Stephen tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Tanya Sophia yang sudah tidak tahan lagi melihat sikap Stephen terlebih wanita disampingnya.
Mungkinkah cinta diantara mereka telah hilang dalam sekejap saja? Mengapa semua terjadi tiba-tiba mengejutkan seperti ini.?
" Maafkan aku, tapi sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai disini. Aku sudah menemukan wanita yang tepat untuk mendampingiku. Dan wanita itu adalah dia.! Stephen berkata tanpa merasa bersalah sedikitpun. Seolah-olah selama ini cinta diantara mereka tak ada artinya sama sekali dan hubungan yang sudah terjalin selama ini hanyalah sebuah sandiwara semata.
" Segampang itukah Mas!? ucap sophia dengan hati yang sedih dan luka.
" Aku jatuh cinta kepadanya dan yakin bahwa dia adalah masa depanku. Selama ini aku sudah mencoba bertahan dengan hubungan kita tetapi sebenarnya aku tidak bahagia. Jadi aku minta maaf! Sesudah berkata demikian, Stephen mengajak wanita itu pergi dari sana dan meninggalkan Sophia sendiri dalam kesedihannya yang begitu mendalam.
Tanpa menoleh sedikit pun Stephen berjalan meninggalkan Sophia dalam keadaan hati yang terluka. Sophia tak dapat menahan duka di hatinya dan meneteskan air mata. Sophia pun berteriak meluapkan kesedihan di hatinya.
" Tidaaaaaaakkk.......!!!!
Sophia terbangun dari tidurnya. Keringat mengucur deras di dahinya. Napasnya terengah-engah. Ternyata dia sedang bermimpi. Mimpi yang sangat buruk dan menyakitkan.
Sophia menoleh melihat suaminya sudah tidak ada lagi disampingnya. Terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Stephen sedang mandi. Sophia pun bangkit dari tempat tidurnya, menyiapkan pakaian kantor suaminya itu dan kemudian turun menuju dapur menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tak lupa diperiksanya kamar Mateo, melihat apakah anaknya itu masih tidur. Dan ternyata juga sudah bangun dan sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Mimpi buruk tadi masih terngiang-ngiang jelas dalam benaknya.
Apakah itu sebuah pertanda buruk?
__ADS_1
Sophia berdoa dalam hatinya semoga Tuhan selalu melindungi keluarga kecilnya itu.