
"Maaf Nyonya, tapi sebelumnya saya ingin berbicara empat mata dengan Mateo! Ijin Maya meminta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Mateo.
Bu Maria merasa aneh dengan permintaan tersebut. Tapi dia juga tidak bisa menolaknya.
Dengan terpaksa Bu Maria mengiyakan permintaan wanita tersebut.
Bu Maria diikuti oleh kedua pria itu, keluar dari ruangan itu dan membiarkan ibu dan anak itu untuk berbicara..
Meski perasaan Bu Maria tidak tenang, tapi dia percaya Mateo akan baik-baik saja. Tuhan tidak akan membiarkan anak itu dicelakai oleh wanita itu. Apalagi Mateo adalah anak yang pintar dan pemberani.
Hanya butuh waktu 15 menit saja, percakapan antara ibu dan anak itu sudah selesai. Maya keluar mempersilahkan mereka untuk masuk.
Bu Maria melihat ekspresi wajah Mateo sudah berubah. Entah apa yang disampaikan oleh perempuan itu sehingga membuat aura wajah Mateo berubah sendu.
Bu Maria duduk disamping Mateo, membelai pundaknya dengan lembut. Mateo terlihat cemas dan takut. Pasti perempuan yang ada dihadapannya ini telah mengatakan sesuatu hal yang tidak baik.
Lalu Bu Maria memandang mata nanar Mateo dengan tatapan teduh.
" Mateo sayang, Ibu ingin bertanya sama Mateo. Mateo sayang tidak perlu takut. Mateo boleh menjawab dengan jujur apa yang memang Mateo inginkan. Ya sayang? Nasehat Bu Maria memberi peneguhan kepada bocah malang itu.
Mateo hanya menjawab dengan anggukan.
" Sekarang dihadapan Mateo ada mama kandung Mateo yang datang ingin menjemput Mateo pulang. Karena mama Mateo ingin sekali merawat dan membesarkan Mateo layaknya seorang ibu. Mateo juga pasti senang kan bisa bertemu lagi dengan mama kandungnya? Mateo terus saja menatap Maya tanpa ekspresi. Datar dan kosong.
" Bu Maria ingin dengar apakah Mateo mau kembali ke rumah mama kandung Mateo dan tinggal bersama mama kandung Mateo?
Mateo tidak menjawab. Pandangannya tidak beralih dari wajah Maya. Ada sorot kebencian terpancar dari netra bening tak bercela itu.
Bu Maria menyentuh pundak Mateo.
Mateo pun mengalihkan pandangannya kepada Bu Maria.
" Mateo..... akan ikut pulang dengan mama kandung Mateo bu! Mendengar jawaban Mateo Bu Maria sangat terkejut. Tidak menyangka Mateo akan memberikan jawaban seperti itu.
__ADS_1
" Mateo ingin kembali ke rumah mama Mateo? Bu Maria mengulang pertanyaan memastikan apakah Mateo benar-benar ingin kembali.
" Iya Bu Maria! jawab Mateo dengan kepala tertunduk seakan tidak berani melihat Bu Maria.
" Sudah dengar sendiri kan Nyonya!? Terlihat ekspresi kemenangan di wajah Maya.
Meskipun Mateo berkata jika dia ingin kembali kepada Ibu kandungnya itu, tapi Bu Maria bisa merasakan jika itu adalah sebuah keterpaksaan. Jawaban itu bukanlah tulus keluar dari hatinya. Ada sesuatu yang membuat Mateo harus memberi jawaban itu. Sesuatu yang tidak diketahui oleh Bu Maria sehingga anak itu memilih untuk ikut pulang bersama ibunya dan meninggalkan panti asuhan.
Sedangkan di kantor Sophia,
Setelah selesai meeting bersama dengan klien, Stephen mengajak Sophia untuk pergi sebentar untuk berbelanja hadiah untuk Mateo di toko mainan. Sophia sudah berusaha untuk menolak agar tidak perlu membelikan Mateo mainan atau hadiah apapun, tapi Stephen tetap saja memaksa.
Karena dia sudah pernah berjanji kepada Mateo akan membelikannya hadiah mainan. Dan baru kali ini dia bisa mewujudkannya juga karena ada waktu yang cukup bagus bisa berdua dengan Sophia memilihkan mainan yang cocok untuk Mateo.
Sophia pun lupa untuk memeriksa ponselnya, melihat apakah ada panggilan atau pesan masuk untuknya.
Hari sudah mulai gelap, langit malam terlihat dihiasi oleh benda-benda angkasa yang bersinar dengan indahnya.
Setelah menemukan mainan yang diinginkan, Stephen dan Sophia langsung pulang ke Panti asuhan. Mereka mengira jika Mateo pasti sudah menunggu kedatangan mereka.
Sophia hanya bisa mendukung apa yang ingin dilakukan oleh prianya itu. Walau bagaimanapun dia tidak bisa selamanya membatasi pergaulan Mateo dengan siapa dia harus berteman. Tapi bukan berarti membiarkan anak itu bergaul dengan orang yang salah.
Sesampainya di halaman parkir panti, Sophia langsung keluar dari mobil dengan menenteng mainan yang akan dihadiahkan kepada Mateo.
Langkahnya dipercepat seakan tidak sabar untuk segera menemui Mateo dan menyerahkan hadiah itu.
Baru saja Sophia membukakan pintu, dilihatnya ada pemandangan aneh di dalam rumah itu. Semua penghuni panti asuhan berkumpul di ruang tamu besar. Wajah mereka terlihat sangat sedih dan kusut. Bahkan ada jejak air mata di sana.
Sophia mendekat dengan langkah perlahan. Menyusul Stephen dari belakang.
Ketika melihat siapa yang datang, mereka semua langsung berteriak menangis.
" Kak Sophia, Mateooo.... ! ucap mereka serempak bersamaan dengan menyebut nama Mateo kencang.
__ADS_1
Mendengar nama Mateo, Sophia langsung mencari dimana gerangan orang yang dimaksud. Tapi dia sama sekali tidak melihat wajah Mateo di antara mereka.
" Mateo dimana,? Carinya.
Tidak ada jawaban dari mulut manis mereka. Bu Maria lalu muncul dari balik tirai yang memisahkan ruang-ruang di tempat itu.
Segera didekatinya Bu Maria dan menanyakan keberadaan Mateo. Stephen yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi mencoba menelaah apakah yang sedang terjadi.
" Bu! Mateo kok tidak kelihatan? Tanya Sophia tanpa curiga sedikitpun. Ekor matanya sibuk mencari-cari keberadaan Mateo di ruangan itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Sophia, Bu Maria malah memeluk Sophia dan menangis.
"Maafkan ibu nak, Ibu tidak bisa mempertahankan Mateo. Ibu tidak bisa menghalangi mereka untuk membawa Mateo pergi!! Rintih Bu Maria pilu.
Sophia yang belum sepenuhnya mengerti maksud pembicaraan Ibu Maria hanya bisa terdiam dan menelaah apa maksud dari semua itu.
Bu Maria melepaskan pelukannya. Ditatapnya kedua bola mata Sophia. Dan dengan penuh keberanian diungkapkanlah apa yang sebenarnya sedang terjadi?
" Mateo sudah pergi dengan mama kandungnya! suara Bu Maria terdengar berat ketika mengucapkan
" Pergi? Pergi kemana Bu? Tanya Sophia dengan tidak tenang dan tidak sabar.
" Hari ini mama kandung Mateo datang membawa dokumen yang menyatakan jika yang berhak atas Mateo hanyalah ibu kandungnya.! Terang Bu Maria.
Mendengar penjelasan Bu Maria, membuat Sophia menjadi sedih dan menangis. Sophia langsung berlari dari sana dan mencari sosok Mateo di setiap lorong di panti itu. Namun. yang diharapkan tak kunjung ditemukan.
Stephen yang mendengar hal itu juga sontak terkejut. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia pun mengikut Sophia mencari-cari keberadaan Mateo.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Disaat dia ingin berusaha untuk semakin dekat dengan Mateo, Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mateo kini malah semakin menjauh.
Sophia yang linglung karena shock mendengar berita kepergian Mateo. Tubuhnya luruh ke lantai seakan dia tidak punya tenaga lagi untuk berdiri. Stephen langsung meraih tubuh itu. Membawanya kepelukannya.
Ada hal yang tidak beres dengan kejadian ini.
__ADS_1
Dan Stephen harus menyelidikinya.