
" Mama! ucap Mateo dengan suara pelan setelah diingatnya dengan jelas wajah wanita di hadapannya itu.
Mendengar kata Mama, Maya seakan bahagia sekali. Ternyata anak itu masih ingat dengan dirinya.
" Iya sayang, ini Mama nak. Kamu masih ingat mama kan? Maya mulai melancarkan sandiwaranya. Sepertinya wanita itu memang cocok jadi ratu drama.
Maya berusaha untuknya meraih tangan Mateo dan mencoba memeluknya. Tetapi Mateo melangkah mundur mencoba menghindari Maya.
Mateo malah memeluk kaki Ibu Maria. Meski dia ingat persis bahwa wanita dihadapannya itu adalah mamanya tetapi hatinya sedikitpun tidak tergerak sama sekali untuk memeluk atau bahkan mendekat padanya. Karena dia merasa tidak punya kesan yang istimewa dengan wanita itu.
Sebab kenyataannya selama tinggal bersama dengan ibu kandungnya itu dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus. Dia hanya sekedar dirawat, diberi makan, punya tempat tinggal tetapi tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang layaknya seorang ibu yang mencintai anaknya.
Selama berada di rumah itu dia hanya dirawat oleh seorang asisten rumah tangga. Sedangkan ibunya sibuk dengan urusannya sendirinya demikian juga dengan neneknya yang tidak pedulinya sama sekali dengan keberadaannya.
Dan tiba-tiba sekarang ibunya itu datang dengan pura-pura perhatian dan peduli kepadanya.
Meski Mateo hanyalah seorang anak kecil tetapi hati dan pikirannya sudah mampu berpikir lebih dewasa. Dia bisa mengerti dan memahami dengan benar mana yang baik dan mana yang buruk.
"Oma, Mateo tidak ingin bertemu dia! Ucap Mateo sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Maya.
" Tapi Mateo sayang, dia itu kan Mamanya Mateo! Mama Mateo datang untuk melihat Mateo karena mama Mateo rindu sekali dengan Mateo! bujuk Ibu Maria.
" Tapi Mateo tidak rindu dia Oma! kata Mateo dengan jujurnya. Membuat wanita itu tersinggung dan sakit hati karena tidak dirindukan sama sekali oleh bocah itu.
" Nggak boleh gitu loh sayang. Bagaimanapun juga dia itu kan Mama kandungnya Mateo yang sudah melahirkan dan merawat Mateo sejak lahir.! Bu Maria mencoba untuk membuka hati anak itu agar mau menerima wanita itu. Karena bagaimanapun juga dia tetaplah ibu kandungnya.
" Tapi bukan dia yang merawat Mateo. Bibi yang selalu menjaga dan merawat Mateo! ucapnya sesuai dengan apa yang dirasakan dan dialaminya yang masih melekat dalam ingatannya.
Ibu Maria pun mengerti. Dan beliau sangat memahami perasaan Mateo. Dan beliau tidak ingin memaksakan Mateo agar mau menerima kehadiran ibu kandungnya yang telah mencampakkannya.
__ADS_1
" Maafkan saya Bu Mayaa. Tapi mungkin untuk saat ini Mateo belum bisa menerima kehadiran anda! ujar Bu Maria berterus terang.
Maya tahu jika waktunya belum tepat. Dan agar tidak meninggalkan kesan yang buruk maka Maya harus bisa memberikan kesan yang baik.
" Saya mengerti Bu Maria, ini memang kesalahan saya karena telah mengabaikan anak saya begitu saja. Karena itulah saya selalu berusaha mencari keberadaan anak saya dan ingin membalas semua apa yang selama ini telah aku lalaikan sebagian ibu kandungnya! ucap Maya dengan wajah memelasnya. Tapi tentu saja dengan wajah memelas palsunya.
Kemudian Sophia muncul. Dia tahu jika Panti kedatangan tamu karena melihat ada mobil parkir di halaman panti. Hanya saja dia tidak tahu siapa gerangan tamu itu.
Saat masuk, Sophia langsung memberi salam dan menyapa orang-orang yang berada disana.
Dan ketika melihat Maya, dia berhenti sejenak menatap lekat. Karena wajah itu seperti pernah dilihatnya tapi dia tidak ingat dimana dan kapan.
Melihat Sophia yang barusan saja datang, Mateo langsung berlari menyambutnya, memanggilnya "Mama" dan memeluknya dengan penuh cinta.
Tentu saja melihat adegan mengharukan itu membuat Maya menjadi cemburu dan emosi. Bagaimana tidak cemburu jika anaknya sendiri bahkan anak kandungnya lebih sayang kepada orang lain dari pada kepada ibu kandungnya.
" Sudah pulang ya nak? sapa Bu Maria.
" Iya, Ibu Maya. Ibunya Mateo! jawab Bu Maria.
Mendengar ucapan Bu Maria, Sophia sedikit terkejut.
" Iya, nama saya Maya. Saya ibu kandung Mateo! sahut Maya menegaskan.
" Oh! sahut Sophia dengan ekspresi biasa saja.
Melihat ekspresi Sophia yang datar Maya menjadi kesal. Dia berharap melihat ekspresi yang lebih mengejutkan dari Sophia. Setidaknya ekspresi sedih atau kecewa. Namun yang ada Sophia malah terlihat biasa saja bahkan lebih percaya diri.
" Oh ya Bu saya ke belakang dulu lihat anak-anak. Permisi Nyonya saya mohon ijin dulu.! ujar Sophia berusaha untuk tetap sopan. Sebagai tuan rumah yang baik harus bisa bersikap rumah dan menghargai tamu yang datang berkunjung ke Panti siapapun itu orangnya.
__ADS_1
Ibu Maria mengangguk dan tersenyum memberi ijin kepada Sophia. Sambil menggandeng tangan Sophia, Mateo pun ikut beranjak dari sana. Dia lebih memilih pergi bersama dengan Sophia darimana pada bertema dengan ibu kandungnya.
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka.
" Nyonya Maya, untuk sementara ini mungkin Nyonya tidak bisa membawa Mateo karena kami tidak bisa memberikan Mateo begitu saja. Lagi pula sepertinya Mateo belum bersedia untuk kembali kekeluarganya saat ini! ucap Ibu Maria memberi pengertian kepada Maya.
" Iya, saya mengerti. Tapi saya tidak akan menyerah untuk itu. Karena dia adalah anakku. Yang berhak atas seorang anak adalah ibu kandungnya.! ucapnya mengingatkan Bu Maria.
" Iya kami juga mengerti. Karena kami juga tidak ingin memisahkan antara seorang ibu dan anaknya. Bahkan kami berharap tidak ada seorangpun anak yang harus dipisahkan dengan orang tuanya sendiri! balas Bu Maria.
" Baguslah kalau ibu mengerti akan posisi ibu dimana! ucap Maya dengan sikapnya yang angkuh lagi. Terdengar klise tetapi menohok. Untunglah Bu Maria adalah wanita yang penyabar dan lembut hati. Sehingga tidak terlalu ambil pusing dengan omongan-omongan yang nggak penting seperti itu.
" Kalau begitu saya pamit dulu. Lain kali saya pasti akan datang lagi.! Maya akhirnya mengundurkan diri dan pamit pulang kepada Bu Maria.
"Titip salam untuk anak saya Mateo! ujarnya lagi. Maya segera berdiri dan beranjak dari sana.
Bu Maria mengantarkannya sampai ke pintu. Maya segera masukkan ke dalam mobil dan langsung melaju dengan kencang. Ibu Maria pun masuk dan bergabung dengan anak-anak Panti yang sedang bermain bersama dengan Sophia dan kakak pengasuh lainnya.
Dan lihatlah betapa bahagianya Mateo berada bersama dengan teman-temannya di tempat ini. Berbeda sekali ketika melihat kedatangan ibunya. Hampir tanpa ekspresi. Tidak ada binar kegembiraan atau kebahagiaan karena bisa bertemu dengan ibu kandungnya.
Tidak seperti anak yang lain yang sangat merindukan sosok seorang ibu kandung.
Pengalaman hidup bersama dengan ibu kandungnya ternyata membuat Mateo tidak begitu antusias untuk bertemu dengan ibu kandungnya itu. Tak ada kenangan manis yang membuat hatinya untuk merindukan ibunya itu.
Meski hidup dan tinggal bersama kurang lebih 5 tahun, namun sama saja dia hidup seperti tidak punya ibu sama sekali. Sepanjang hari 24/7, Mateo diasuh oleh asisten rumah tangga yang juga mengasuhnya tidak dengan sepenuh hati. Hanya karena digaji maka dia melakukannya. Tidak lebih dari itu. Jadi tidak heran jika Mateo tidak merasakan kasih sayang dari siapapun di rumah itu.
Dan ketika dia berada di tempat ini, dia mendapatkan apa yang seharusnya dirasakan oleh seorang anak seusianya. Kasih sayang, perhatian, cinta dan perasaan dihargai. Meski bukan berasal dari keluarga kandungnya sendiri, tapi yang dialaminya melebihi keluarga kandung sendiri.
Dan lihatlah kebahagiaan yang diterima oleh anak-anak malang ini! Disaat keluarga mereka membuang dan menelantarkan mereka, Tuhan masih menyayangi dan melindungi mereka lewat tangan-tangan kasih dari para penghuni di Panti asuhan ini.
__ADS_1
Tidak salah jika pada akhirnya mereka tidak begitu merindukan dan mengharapkan kehadiran keluarga mereka kembali.
Tuhan sayang.