
Pagi seperti biasanya, Sophia sedang mempersiapkan semua berkas dan jadwal meeting Stephen untuk sepanjang hari ini. Tidak lupa secangkir kopi hitam. Tidak lama kemudian sang boss sudah muncul dan menyapa Sophia terlebih dulu untuk pertama kalinya.
" Selamat pagi Sophia!
Sophia yang tidak terbiasa disapa duluan oleh bossnya itu agak sedikit gugup sehingga agak lama baru dijawabnya.
" Selamat pagi Pak!
Stephen langsung duduk di kursinya dan memeriksa semua berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Kemudian dia menyibukkan diri dengan komputer dihadapannya itu.
Sophia juga sibuk dengan tugas-tugasnya.
Namun siapa sangka dalam kesibukan mereka berdua pikiran mereka malah memikirkan hal yang sama. Stephen terngiang-ngiang dengan wajah Mateo dan Sophia saat dia berkunjung ke rumah Sophia tempo hari. Demikian juga halnya Sophia, dia terngiang dengan perhatian dan kebaikan bossnya itu. Dan tanpa sadar Stephen mengalihkan pandangannya dari komputer dihadapannya itu, melirik ke arah Sophia yang sepertinya fokus dengan pekerjaannya.
Ketika sedang asyik menatap Sophia dari kejauhan, Harvey muncul dengan diam-diam. Tanpa mengucapkan salam sehingga Stephen maupun Sophia's tidak mengalami kehadirannya. Harvey berdiri dalam diam sambil memperhatikan Stephen yang masih melihat ke arah Sophia. Lalu ditolehnya ke arah Sophia yang dilihatnya juga sibuk dengan pekerjaannya.
Harvey merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi ditempat ini. Dia seperti sedang menyaksikan sebuah drama dimana sang pemeran pria yang mulai tertarik dengan sang pemeran wanita namun hanya berani menatapnya dengan diam-diam. Harvey pun berbicara dalam benaknya, berbicara kepada dirinya sendiri, " Sepertinya api-api asmara sudah mulai menyala ditempat ini?
Harvey lalu mendekati Stephen kemudian mengagetkannya.
" Woiiii..... mata tuh kondisikan sedikit ! teriak Harvey membuat Stephen tersadar dan hampir terjatuh karena kaget. Sophia juga ikut terkejut karena mendengar suara kerasnya Harvey.
__ADS_1
Dia heran kenapa Harvey tiba-tiba sudah ada disana. Namun karena tidak ingin mengganggu kedua mahluk tampan itu Sophia kembali fokus pada pekerjaannya. Meski ekor matanya masih melirik sedikit-sedikit ke arah ciptaan Tuhan yang sempurna itu.
Stephen lalu berdiri dan hendak meninju bahu Harvey karena kaget dan kesal.
" Kamu itu bisa nggk sih, kalau datang permisi kek, halo kek, jangan kayak maling gitu bikin kita jantungan tahu? ucap Stephen dengan setengah emosi. Harvey malah tertawa menimpali kata-kata sepupunya itu.
" Habisnya kamu itu, sibuk melototin kamu punya asisten dan nggk sadar kalau ada orang lain berdiri di depan kamu." ucap Harvey.
Mendengar ucapan Harvey, Sophia yang mendengar samar-samar menjadi again sedikit salah tingkah karena namanya disebut-sebut oleh pria-pria tampan itu.
Harvey mendudukan pantatnya diatas meja kerja Stephen lalu mengatakan sesuatu dengan suara pelan seperti sedang berbisik, " Kalau memang suka, jangan dipendam lama-lama bro, bilang terus terang. Jangan sampai diembat duluan sama orang lain!
Dengan raut wajah yang masih agak kesal ditatapnya tajam kedua mata Harvey seperti sedang mengancam. Lalu dibisikkannya pelan ditelinga Harvey, " Kamu itu mau cari mati ya bikin orang kesal aja!!
Ingin rasanya Stephen mengusir pembawa onar itu dari ruangannya . Tak peduli dengan omongan Stephen, Harvey malah mengatakan sesuatu untuk menggoda Stephen,
" Asisten kamu itu lumayan manis juga ya! Tidak cantik-cantik amat sich tapi masih bisa kok diajak jalan. Nggk malu-maluinlah! ucapnya seakan memuji atau malah mengejek.
Stephen pun berkata kepada sepupunya itu,
" Dari pada kamu buang-buang waktu dan datang kemari hanya untuk mengganggu pekerjaanku, mending kamu cabut deh. Enyah dari hadapanku sekarang. "
__ADS_1
Harvey malah hanya senyum-senyum masa bodoh.
" Tenang bro, santai. Jangan terlalu serius amatlah. Maksud kedatanganku kemari itu pengen kasih kabar baik baik kamu! ucap Harvey dengan bangganya.
" Emangnya kabar baik apa sih yang ingin kamu sampaikan? Tanya Stephen ragu-ragu.
" Malam ini, aku mau ngajak kamu bertemu dengan seseorang. Seorang yang sangat istimewa." ujarnya lagi dengan percaya dirinya.
" Bertemu dengan siapa? Stephen bertanya dengan sangat penasaran.
" Penasaran ya.? Ntar juga kamu kenal siapa orangnya! ujarnya lagi dengan cueknya.
Sedangkan Sophia yang sekali-kali melirik ke arah mereka berdua, menjadi penasaran akan topik pembicaraan yang sedang mereka perbincangkan. Karena tampaknya mereka begitu serius sekali.
Jarang sekali dapat disaksikannya bossnya itu berbicara dengan mimik wajah seperti itu.
Sophia bisa menilai perbedaan karakter yang dimiliki oleh kedua mahluk itu.
Stephen yang terkesan dingin, angkuh, pendiam namun memiliki sisi kelembutan dan hangat. Sedangkan pria yang baru itu terkesan heboh, pecicilan, usil dan ceplas-ceplos dan juga ceria.
Dua pribadi yang memiliki karakter yang bertolak belakang tetapi dapat menyatu. Sebuah percampuran yang unik dan pastinya juga asyik.
__ADS_1
Dalam hatinya Sophia bersyukur dan merasa senang, karena bisa mengenali pemandangan indah seperti ini di dalam hidupnya. Dia sadar jika dia tidak mungkin bisa untuk memilikinya bahkan dia sendiri tidak pernah berani berpikir dan berharap untuk bisa memiliki pacar bahkan suami seperti Stephen ataupun Harvey sepupunya itu. Sofia menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya agar tidak mengkhayal terlalu tinggi. Sudah cukup baginya hanya sebagai gadis biasa yang mungkin suatu saat akan dipertemukan juga oleh Tuhan dengan pria yang sepadan dengan dirinya. Biarlah dia hanya bisa mengagumi sosok-sosok tampan itu dalam pikirannya.