Cinta Yang Takkan Berubah

Cinta Yang Takkan Berubah
Rasa Ingin Tahu


__ADS_3

Masih terngiang-ngiang dalam benaknya Stephen. Siapa gerangan pria yang bernama Wijaya yang disebut-sebut oleh Mateo sebagai Papanya. Karena sepanjang makan malam bersama dengan Mateo dan Sophia, Stephen melihat dan memperhatikan wajah Mateo dengan begitu mendalam. Ada kemiripan yang begitu kentara antara dirinya dengan Mateo. Tidak hanya dari segi fisik wajah tapi juga dari sikap dan gaya yang jelas-jelas mirip dengan dirinya.


Stephen mencoba mengingat-ingat kembali kenangan masa lalu yang pernah dilaluinya. Satu peristiwa yang sangat dibencinya. Tapi tidak dapat dihindari olehnya karena sudah terlanjur terjadi.


Ketika disuatu malam yang panjang, Stephen menghabiskan waktu tidur dengan seorang perempuan diluar kesadarannya. Malam itu Stephen yang tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak minum dan membuatnya mabuk berat. Dan yang tidak diketahuinya ternyata teman-temannya memberinya obat penenang di dalam minumannya. Yang memberinya efek yang sangat luar biasa.


Akibat obat tersebut membuat gairahnya meningkat berkali-kali lipat. Dan jika tidak disalurkan dengan tepat dapat membuatnya tersiksa dan menderita karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Teman-temannya hanya bermaksud iseng namun ternyata dosis yang diberikan melebihi batasannya. Dan disaat yang bersamaan ternyata Stephen sudah diincar oleh perempuan tersebut. Sehingga kejadian itu tidak dapat dihindarkan. Melihat kesempatan didepan mata si perempuan tersebutpun memanfaatkannya. Demi mendapatkan kenikmatan tidur bersama dengan pria idamannya itu dia rela menyerahkan tubuhnya.


Dan memang si perempuan ternyata juga tidaklah gadis lagi. Hal ini bukan kali pertama baginya, jadi tidak menjadi masalah untuknya. Bahkan rasanya dia merasa lebih terhormat karena bisa tidur bersama dengan seorang pria seperti Stephen. Hanya saja malam itu mereka tidak menggunakan pengaman. Tidak ada yang tahu jika pada akhirnya peristiwa malam itu menghasilkan buah karya yang ajaib.


Stephen berusaha mengingat-ingat dengan jelas, apakah malam itu memang benar-benar terjadi dan perempuan itu akhirnya hamil dan melahirkan seorang anak. Kemudian karena hamil di luar nikah maka dia menyerahkan bayi itu ke Panti asuhan agar tidak menanggung malu?


Meski telah mencoba berusaha sekuat tenaga tetapi Stephen tidak bisa mengingat dengan baik. Dia sendiri ragu dengan dirinya sendiri. Ingin bertanya tapi kepada siapa? Lagi pula dia juga merasa gengsi untuk menanyakan hal sensitive seperti itu kepada orang lain.


Atau mungkinkah selamanya Stephen hanya berani bertanya kepada dirinya sendiri tanpa menemukan jawabannya.!


Sementara itu di kediaman Sophia...


Mateo terlihat bahagia sekali malam ini. Nampak sinar binar wajah dan sorotan matanya yang begitu cerah bersinar. Dan secara terang-terangan Mateo mengatakan kepada Sophia kalau dia sangat menyukai sosok Stephen. Senyum diwajahnya tak henti-hentinya mengembang karena bahagianya.

__ADS_1


Saat Sophia sedang menidurkan bocah itu, Mateo pun memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Sophia.


" Mama, apakah Papa Mateo sebaik dan seganteng seperti Om Stephen?


Sophia yang mendengar pertanyaan itu pun tidak tahu harus menjawab apa. Namun demi menyenangkan hati bocah lugu itu Sophia menjawab dengan penuh keyakinan.


" Tentu dong sayang. Papa Mateo adalah orang yang terbaik. Buktinya Mateo kan anak yang baik. Jadi Papa Mateo sudah pasti orang yang baik juga dong.!


Mendengar jawaban Sophia, nampak jelas rona gembira dan bahagia dari wajahnya. Sophia pun berkata dalam hatinya,


" Bocah yang malang. Seandainya saja kedua orang tuamu melihat kamu yang begitu hebat dan pintarnya, tentu mereka pasti bangga.!


Mateo menutup matanya dan menghanyutkan dirinya dalam dunia mimpinya. Sophia pun meninggalkan bocah itu dalam lelapnya.


Sophia melangkah dalam heningnya malam meninggalkan kamar Mateo. Lalu dia duduk sejenak di atas sofa. Pikirannya melayang, membayangkan atau lebih tepatnya memikirkan siapa kira-kira orang tua kandung Mateo? Mengapa mereka begitu teganya membuang seorang anak seperti Mateo.


Mateo yang tampan, manis, pintar dan bijak. Siapapun yang melihatnya pasti tertarik dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi ibu mana sih yang rela membuang anaknya hanya demi sebuah pernikahan? Ternyata harta atau uang mampu mengalahkan perasaan cinta seorang ibu terhadap anaknya. Miris tapi kenyataan.


Lalu sekilas bayang wajah Mateo dan wajah Stephen tiba-tiba muncul dalam benaknya. Ibarat foto slide yang muncul berganti-gantian dalam pikirannya. Dan entah mengapa kedua wajah itu semakin lama semakin mirip satu sama lain. Garis wajah, tatapan matanya, hingga senyumannya. Sama persis.

__ADS_1


Sophia membuyarkan khayalannya. Kenapa dia sampai memikirkan hal itu?


Tetapi seandainya Stephen benar-benar serius menikah dengannya apakah dia akan bersedia juga menerima Mateo untuk menjadi bagian dalam kehidupannya kelak? Walaupun dia bersedia apakah keluarganya juga bisa menerimanya? Pertanyaan itu muncul silih berganti dalam pikiran Sophia.


Lalu Sophia senyum sendiri membayangkan khayalannya barusan. Kenapa dia begitu percaya dirinya memikirkan hal itu.? Memang untuk saat ini Stephen sudah menyampaikan perasaannya terhadapnya. Tapi siapa dapat menduga apa yang akan terjadi kedepannya? Karena manusia itu kapan saja bisa berubah. Tidak hanya sikap atau karakter yang bisa berubah. Perasaan dan cintapun dapat berubah kapan saja. Meski kata orang cinta sejati tidak akan pernah berubah. Tapi manusia tidak pernah tahu kapan dan dimana cinta sejati itu berada.?


Sophia merasa kantuk dan waktunya memang seharusnya baginya untuk beristirahat. Dihentikannya khayalannya. Dia segera beranjak dari sana dan masuk ke kamarnya. Membenamkan dirinya di balik selimut hangat yang akan membawanya ke alam mimpi.


Pagi hadir kembali. Langit nampak cerah, matahari bersinar terang dan hangat. Sophia dan Mateo sudah beberes akan pergi ke Panti. Seperti biasanya rutinitas yang sudah menjadi santapan setiap pagi. Dengan wajah sumringah keduanya nampak gembira menyambut hari baru. Sophia menggenggam tangan Mateo, mereka berjalan menyusuri jalanan yang terlihat mulai ramai dengan kendaraan. Mateo berjalan sambil melompat-lompat kecil dan dari mulutnya terdengar senandung kebahagiaan.


Sophia pun turut bergembira tertular kebahagiaan yang ditularkan oleh si bocah manis itu. Tanpa mereka sadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan penuh perhatian. Tatapan itu adalah tatapan aneh antara ragu dan percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Wanita itu terus saja menatap Sophia dan Mateo sambil berpikir apakah apa yang ada dalam benaknya saat ini adalah kenyataan?


Terlebih tatapannya terhadap Mateo. Semakin dipandanginya semakin nampak jelas dalam pandangannya dan memang tidak salah lagi. Anak kecil yang dilihatnya itu adalah Mateo. Anak yang dibuangnya. Meski bukan dia sendiri yang secara langsung menyerahkan anak itu ke Panti asuhan, tapi tetap saja dia turut andil telah membuang Mateo. Sejenak dia tertegun melihat wajah Mateo yang begitu manis dan tampannya. Wajahnya bersinar terang dan indah. Dan wajah itu kembali mengingatkannya dengan sosok pria yang telah menjadi ayah dari anak itu. Benar-benar mirip sekali.


Tak pernah dibayangkannya, jika Mateo tumbuh begitu sehat dan tampan seperti saat ini. Tiba-tiba naluri keibuannya muncul. Bukannya hanya naluri keibuannya tetapi juga nafsu keserakahannya pun turut bangkit. Terbersit niat buruk dalam pikirannya. Bibirnya menyeringai licik. Dihidupkannya mesin mobilnya. Satu tujuannya saat ini menjumpai kedua orang itu. Dipacunya mobilnya dengan laju dan hampir saja menabrak kendaraan yang ada didepannya.


Bunyi klakson panjang menghentikan aksinya yang ugal-ugalan itu. Bukannya merasa bersalah dia malah melaju lebih kencang lagi dan meninggalkan si sopir yang mengomel karena hampir saja kena tabrak oleh pengendara brutal itu. Karena saat ini yang terpenting adalah jangan sampai dia kehilangan jejak kedua manusia itu.

__ADS_1


__ADS_2