
Keesokan harinya, Afkar dan Alexa pun janjian ketemu lagi malamnya, Ariel dan Attar yang mengetahui dari Aryan kalau Afkar dan Alexa sudah jadian, membuat mereka sangat shock dan patah hati. Bahkan menangis dalam pelukan Aryan.
"Sudah lah Bro, jangan sedih lagi, Alexa sudah memilih, kita mau apa lagi, cepatlah move on kawan, carilah wanita cantik, masih sangat banyak di luar sana. Aryan terus menyemangati kedua sahabatnya yang semakin menangis memilukan dalam pelukan Aryan. Untunglah di ruangan ganti tak ada yang melihat mereka.
"Kami butuh selalu jalan bareng, dan banyak mencicipi warung makan di mana saja Aryan, kalau perlu kami mau liburan ke luar negeri.
Mengapa Alexa tidak memilihku...huhuhu..."
Attar menangis lebay, Ariel yang mendengarnya pun semakin menangis lebay.
Aryan hanya bisa memeluk sahabatnya dengan erat, bajunya sudah basah dengan air mata kedua buaya darat itu, tapi Aryan tidak memperdulikannya. Dia adalah ketua geng mereka. Jadi dia harus tetap menyatukan persahabatan mereka tetap langgeng walau ketiga sahabatnya mencintai satu wanita yakni adiknya sendiri.
"Mengapa kamu Aryan harus terlahir sebagai pria, seharusnya kamu terlahir sebagai wanita."
Kata - kata Attar, membuat Aryan sangat kesal dan mendorong kedua sahabatnya.
"Apaan sih kalian ini, sudahlah bersedih atau aku tendang bokong kalian Hahh..!!!"
Akhirnya Attar dan Ariel pun saling berpelukan, meratapi nasib mereka harus patah hati sebelum berpacaran.
Aryan menatap jengah dan meninggalkan mereka berdua yang sedang depresi, yang sedang meratapi nasib cintanya yang malang.
*****
Malam harinya, Afkar dan Alexa ada di dalam sebuah Mall, mereka berdua duduk dengan memakai kacamata di sebuah kursi di tengah pusat perbelanjaan itu.
Mereka mulai mengomentari orang yang sedang lalu lalang di depan mereka.
Para gadis dan pria lajang habis mereka komentari.
"Afkar, bagaimana pria itu, dia cukup manis."
Afkar pun yang melihat semua pria yang lewat, masih jauh dari standar ketampanannya. selalu memberi jawaban yang tak puas bagi Alexa.
"Apakah kamu tidak lihat, dia itu pendek..?"
"Kalau yang itu, dia kelihatan cool."
"Apakah kamu tidak lihat, dia norak ?"
"Aaah yang ini !! dia tampak macho...!!"
"Apakah kamu tidak melihat, dia seperti penagih hutang ?"
"Waaah..!! kalau ini dia sangat tampan, dan berwajah baik."
__ADS_1
"Pria tampan itu, banyak yang menyukainya, bisa saja dia itu piaraan Tante - Tante."
"Apaan sih kamu,!!! dari tadi, semua tak baik memangnya kamu begitu sempurna."
"Tidak usah memilih pria lagi, bantu aku memilih wanita."
"Nah ini, body nya langsing, wajahnya cantik pasti dia adalah seorang model top."
"Apa kamu tidak lihat, tubuhnya bukan langsing, tapi kurang gizi. Wajahnya juga cantikan aku kok"
Afkar menatap jengah, dan memperhatikan ke depan kembali.
"Nah ini bagaimana, dia modis, seksi juga cantik."
"Aaahh...!! dia kurang manis, paling satu hari, kamu sudah bosan melihat wajahnya."
Kalau ini, dia begitu anggun, dan memiliki aura wanita elegan dan baik hati.
"Apakah kamu tak lihat, kalau dia itu seperti seorang wanita yang sudah bersuami."
Apaan sih kamu...., !! kita coba kenalan dan cari tahu, itu tugasmu. dan jika dia pria itu tugasku menyelidiki.
"Aaahhh..cari yang lain saja, feeling ku tak pernah salah kok."
Afkar mencoba mencari wanita cantik lainnya.
"Apa kamu tidak lihat aura wajahnya, seperti wanita materialistik, dia pasti akan membuat orang tuamu bangkrut, dan meninggalkanmu menjadi gembel di jalanan."
Afkar menggaruk kepalanya, mulai kesal pada Alexa.
Semua yang lewat pun, sudah tak ada dalam kriteria mereka.
Setiap harinya, mereka yang seharusnya jalan bareng, Karna sudah resmi pacaran. Malah setiap harinya nonkrong, di satu Mall ke Mall lainnya, di taman kota, di cafe bahkan di pinggir jalan yang banyak orang lalu lalang.
Mereka cukup depresi, bahkan sering tertawa juga bersama, kalau ada yang tak sesuai selera mereka.
Tapi saling mendukung memilih orang itu, yang membuat mereka selalu tertawa, dan saling memukul bahu masing - masing.
Bahkan saling gantian menyandarkan kepala mereka gantian di bahu mereka masing - masing karna, kelelahan mencari sang pujaan hati yang belum ketemu.
Sudah satu bulan mereka mencari tapi tak ada hasil, malah mereka bertambah akrab dan nyambung.
Tapi jika di hadapan keluarga mereka, selalu mencari masalah pertengkaran, dengan tujuan membuat orang tuanya akan depresi, dan akan membatalkan perjodohan mereka.
Mereka selalu melakukan drama setiap harinya, bahkan saling menjambak rambut di depan orang tuanya, yang sibuk melerai mereka.
__ADS_1
Alexa dan Dea selalu stres setiap harinya, tapi tetap saling menyemangati kalau akan ada perubahan nantinya.
Seperti sore itu Alexa menangis Bombay seperti biasanya, di depan Ayuni dan Dea, yang ada di butik Mama Afkar.
"Momy...lihatlah Afkar, dia memandang wanita cantik yang lewat di depan mataku tampa berkedip, bahkan memujinya. Dadanya montok lah, bokongnya seksi lah. Dan dia mengatakan kepadaku, jika dada dan bokongku seperti papan mall untuk ngecor semen...Hik...hik..hik...hik...Dia sungguh menghina tubuhku Momy."
Kedua Mama itu pun saling menatap depresi, membayangkan diri mereka di bandingkan oleh Suami mereka seperti itu, pasti akan langsung membunuhnya di tempat. Tapi mereka pun hanya bisa menarik nafas dengan teratur. Tarik dan buang perlahan.
Afkar lebih nyolot lagi.
"Apa aku salah mengatakannya, aku punya mata dan otak yang menilai, memang wanita itu seksi daripada kamu, yang berbadan rata begitu tak ada seninya."
Dea segera membungkam mulut Afkar dan menunduk malu pada Momy Ayuni, yang mulai kesal pada Afkar yang menghina fisik anaknya.
Alexa makin menangis bombay.
"Momy...lihatlah Afkar, begitu menghina aku Momy, apakah anda ingin melihatku menderita hidup, dengan pria mata keranjang ini Momy."
Kepala Ayuni langsung migran, begitupun Dea. Persahabatan mereka sungguh tengah di uji karna ulah anak mereka.
Alexa pun mendekati Afkar, dan duduk di sampingnya jemarinya langsung menyingkap celana pendek Afkar naik ke atas, memperlihatkan paha putih Afkar yang putih bersih, dan menyimpan lengannya tepat di atas aset berharga Afkar, dan langsung menggigit paha atas Afkar dengan kuat.
Afkar pun berteriak kencang, tak menyangka Alexa akan menggigit pahanya.
"Aaaaaaahhhh....!!!!"
Ayuni dan Dea hanya bisa menutup mulut mereka sendiri.
Alexa menarik wajahnya naik, mengelus paha Afkar yang sudah ada dua lobang bekas giginya, dan sudah memerah sekali disana.
"Wanita ini sangat mengerikan Mama, aku tak mau menikah dengan gadis drakula begini.
Setiap hari aku akan di siksanya Mama"
Dea mau membelanya, tapi jika mengingat Kata - kata Afkar yang kejam, masih mending Alexa menggigitnya, jika dia di posisi Alexa dia akan langsung menebas leher Dewa. Lebih baik mati saja, daripada menyukai wanita lain.
Ayuni pun berpikiran sama.
Alexa melangkah dengan tenang, dan berbalik ke arah Afkar.
"Jika kamu menghina ku lagi, lain kali barang berharga mu itu yang aku gigit."
Afkar bergidik ngeri, dan langsung memegang barang pusakanya. Membayangkan Alexa menggigit aset berharganya diapun berteriak depresi.
"Dasar wanita gila...!!!"
__ADS_1
Ayuni dan Dea hanya bisa tersenyum geli, menahan tawa mereka agar tidak meledak.
Bersambung.