Cinta Yang Tertukar Part 2

Cinta Yang Tertukar Part 2
Bab 92. Jangan Sakiti Istriku


__ADS_3

Maaf Yah My Readers, πŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°baru bisa update lagi, kali ini aku buat tiga bab lho, jadi jangan lupa Like, Vote dan Comment nya dong.πŸ₯°πŸ₯°β€οΈ


Author sangat harapkan dukungan kalian.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ₯°πŸ₯°


Jadi jangan lupa yah, Like. Vote dan Comment nya yah πŸ™πŸ™πŸ™


Love Love You All ❀️❀️


Lanjut ke cerita Alexa yang sudah ada di tangan penculik misterius nya.


Sementara di dalam gudang besar itu, mereka segera mengeluarkan Alexa, yang sudah bersimbah air mata.


"Hik...hik...hik....Aku mohon lepaskan aku, hik hik...keluargaku akan membayar kalian, aku mohon hik..hik..hik..aku mau pulang."


"Diaaaaam....!!!! Apakah kamu mau aku mampusin hahhh...!!!"


Alexa shock dengan bentakan itu, dan segera menutup mulutnya, dengan tubuh terguncang menahan Isak tangisnya.


"Tutup matanya dan ikat kedua tangannya .."

__ADS_1


Alexa semakin ketakutan, tapi hanya bisa pasrah kedua tangannya di ikat di belakang, dan kedua matanya ditutup kain hitam, di ikat di belakang kepalanya.


Dia hanya bisa pasrah di seret masuk ke sebuah mobil berwarna biru tua yang dia tak tahu, jika mobil itu bukan yang tadi membawanya, sebuah mobil lain yang berkaca riben gelap, jadi orang di dalam mobil tak terlihat dari luar.


Keempat pria itupun sudah ada di mobil, dua di depan dengan supir, dan tiga di belakang dengan Alexa yang duduk di jepit di tengah.


Alexa hanya bisa merasakan dia tiga kali berpindah mobil, dengan perjalanan yang sangat jauh, bahkan makan pun dia di suap di dalam mobil, dan minum pun, pria penculiknya itu yang tuang.


Sedangkan Aryan dan Afkar masih terus berkeliling dengan depresi.


Tulang belulang mereka terasa mau remuk semua, hati mereka sangat kacau dan depresi berat membayangkan empat pria itu, sedang melakukan apa pada kesayangan mereka.


Siang telah merangkak jadi malam, Afkar dan Aryan sudah melapor kepada polisi dan kedutaan, besok mereka akan menindaklanjuti kasus penculikan Alexa.


Tiap detik tak bisa membuat Afkar dan Aryan tertidur, mereka hanya bisa duduk di pojok dinding dan terus meremas rambut mereka dan menangis.


Nirmala hanya bisa menangis dan memeluk lengan Suaminya.


"Hik..hik..hik...Bagaimana nasib adikku, Ya Allah...Apa yang bisa aku katakan pada Mama, Papa, Kakek dan Nenek, ? Aku sungguh kakak tak berguna, hik...hik..hik...tak bisa

__ADS_1


menjaga adikku dengan baik...hik..hik..hik...Bagaimana nasib adikku, ?aku tak mau ke empat pria itu, melecehkan adikku, hik..hik..hik, dan membunuhnya, hik..hik..hik..."


"Jangan berkata begitu sayang, hik..hik...hik..aku yakin Alexa baik - baik saja, tolong jangan katakan itu sayang, hik..hik..hik...."


Aryan semakin meremas rambutnya dan menangis pilu, badannya terguncang hebat, menahan tangisannya yang sudah tak menahan lagi luapan kesedihannya, dengan suara tangisan yang membahana dalam ruangan yang kedap suara itu.


Nirmala mengusap wajah Suaminya, mencium seluruh wajahnya.


"Lihat aku sayang, hik..hik..tatap aku sayang, Alexa baik - baik saja sayang, aku yakin itu sayang, besok mereka akan minta tebusan dan kita berikan sayang, dan Alexa akan kembali pada kita sayang.."


Aryan mengangguk tapi masih terus menangis, Nirmala membawa kepala Suaminya bersandar di bahunya, mengusap air matanya, mencoba menenangkan hati Suaminya.


Sedangkan Afkar sudah mengamuk dalam kamar itu, melempar semua apa yang ada di kamar itu, menarik sprei dan memukul kasur, berulang kali dan bersujud di atas kasur, selalu memukul kan tangannya dan berteriak di sertai tangisan yang keras.


"Aaaaaaaahhhh....keparaaat...kalian...!!!! Dimana kamu bawa Istriku, Haahhhh !!! Hik...hik...hik...Aku mohon jangan sentuh apalagi menyakiti Istriku, Hik..hik..hik...Apapun kalian minta....walau kalian menjadikan budak kalian.... atau membunuhku....., tapi tolong...Hik..hik...hik...


Jangan sakiti istriku.....Aku mohon...Kasihanilah aku....Hik..hik...hik..."


Afkar terus menangis, kemudian mengamuk kembali, dia sungguh sangat depresi, Malam itu Aryan dan Afkar sama sekali tak tidur, bahkan sang malam pun, menjadi sasaran luapan marah mereka, karna mengapa malam tak segera menjadi siang ?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2