
Selamat membaca 🙏😍
Menatap langit London... Settingan dua Minggu sebelum kepulangan Diego ke kampung halaman.
Usai melewati acara wisuda pasca sarjana yang diraihnya dalam tempo yang singkat, Diego kini bisa bernapas lega. Pemuda itupun sudah bisa menentukan kepulangannya ke tanah air. Tanah Mat Saleh yang sudah satu dasawarsa ia tinggalkan, termasuk dengan semua kenangan masa kecilnya. Ya, momen paling penting yang terpaksa harus ia tinggalkan demi mengejar cita-cita yang tingginya selangit. Kini i harus berpuas hati dengan membawa kembali gelar pebisnis handal seperti yang diharapkan sang ayah, Tun Abdul Fahmi.
Minggu terakhir sebelum kepulangannya ke kampung halaman, Diego duduk termenung memandang langit London.Beragai macam perasaan yang muncul bercampur aduk didalam lubuk hatinya yang paling dalam.Segala impiannya dan juga impian orangtuanya telah berhasil ia raih.
Kini saatnya ia akan kembali ke kotanya untuk melanjutkan kehidupan yang seharusnya ia jalani.
Kenangan masa kecilnya bergelayut ria dipelupuk matanya.Ada sosok Karin si gadis kecil lincah dan cerewet menggemaskan turut menghiasi lamunannya.
Ingin rasanya ia mengulang kembali masa-masa itu.Masa dimana ia dan Karin selalu saling membutuhkan dan saling mengisi.
Masa ketika ia mulai merasakan jatuh cinta kepada gadis yang telah sekian lama menjadi sahabatnya.
Ya, tepatnya adalah sahabat kecilnya. Masa-masa ketika keduanya tiba-tiba tidak rela untuk saling berpisah.
Flash back on
Settingan Masa kecil ~ detik-detik keberangkatan Diego ke London
Diego anak Kelas V Sekolah Dasar....Di ruang keluarga.Sore yang indah,Diego sedang asyik menonton film animasi kesayangannya berjudul 'Avatar: The Legend of Aang' Film yang sudah berkali-kali ditonton olehnya namun tidak membuat dirinya bosan.
Beberapa jenis cemilan kacang-kacangan turut menemani aktivitas asyik menontonnya.Oleh bibi Nisah sang pengasuh Diego yang sangat menyayangi dirinya seperti ibu kandungnya sendiri juga telah menyediakan minuman kesukaannya yaitu jus buah.
"Hallo semuanya,papa pulang!"Seru papa Fahmi yang baru muncul dari pintu utama rumah berdesain interior klasik modern itu.
"Papa..."Diego bangkit menyerobot,"Hore papa pulang!" Melewati tubuh mama Cyntia yang berjalan mendekati sang suami.Melompat kedalam gendongan hangat sang ayah.
Sinar mata yang berbinar bahagia menyambut kepulangan orang nomor satu dihatinya. Ya, ayah adalah sang idolanya.
"Ow..anak papa lagi-lagi nonton Avatar?" Menyambut sang anak kedalam dekapan hangat seorang ayah.
"Ya papa."Jawabnya senang.
"Apa anak papa sangat suka?"Tanya papa Fahmi basa-basi."Apa ada tokoh yang membuat mu terkesan?" Membopong sang anak ke sofa yang berdekatan.
"Sangat suka!"Jawabnya bangga,"Ada tokoh Aang si bocah tua." Menggeserkan tubuhnya memberi ruang duduk kepada sang ayah.
"Dia sang penguasa elemen kan pa."Lanjutnya berharap sang ayah mengetahui apa yang ia maksudkan.
Papa Fahmi mengangguk pasti.
"Aku ingin kuat macam dia!"Rengekan anak kecil meminta permen.
Sang ayah tersenyum,"Boleh sayang,"Membelai rambutnya manja,"Kelak kau akan menjadi penguasa yang hebat tak terkalahkan."Mendaratkan ciuman kepucuk kepala sang anak.
"Tapi bagaimana caranya papa?"Seorang anak seusianya begitu penasaran.
"Papa akan tunjukkan caranya jika sudah waktunya."Memeluk sang jagoan,"Ayo lanjutkan, setelah ini ikut papa ke ruang multimedia."Mengajak sang anak berselancar ria diikuti oleh anggukan setuju sang buah hati.
••
Di kantor perusahaan TF.Electro Group........
Diego remaja kelas satu sekolah menengah pertama di ruang kantor sang ayah. Mengisi waktu luang pra masa orientasi sekolahnya dengan mengikuti sang ayah ke kantor.
Bukan untuk pertama kalinya ia kantor. Melainkan untuk pertama kalinya diusia yang sudah terbilang memiliki akal dan jiwa remaja yang menggebu-gebu.
Setia menemani sang ayah yang sedang memantau perkembangan mutu perusahaan raksasa yang dirintis semenjak Diego masih belum dilahirkan kedunia.
Perusahaan yang lagi-lagi menjadi rangking satu yang mendapatkan penghargaan sebagai perusahaan terbesar yang memproduksi perangkat elektronik dengan kualitas terbaik di negaranya.
"Papa hebat!" Satu pujian lolos dari mulut sang anak yang dari tadi ikut memperhatikan layar monitor sang ayah.
"Terimakasih sayang!"Jawab papa ringan.
"Apa papa punya ilmu magis seperti di Avatar?" Diego berseloroh ria sembari terkikik.
"Punya sayang!"Jawab papa santai menimbulkan tanya dikening sang anak yang rasa ingin tahunya kian menggebu.
"Untuk menguasai sebuah perusahaan berlabel raksasa seperti ini,kau harus bisa menguasai ilmu tentang kedisiplinan! Dunia bisnis tidak mengenal iba. Dan kau harus menguasai teknik dasar penerapannya terlebih dahulu.
Kau baru akan menjadi penguasa yang hebat dan tak terkalahkan setelah kau berhasil melakukannya sendiri." Jelas sang papa panjang lebar.
Diego manggut-manggut mengerti.Dalam hatinya bertekad ingin menjadi hebat seperti sang ayah yang telah menjadi idolanya sejak lama. "Bukankah dengan memenuhi keinginan orang tua, termasuk tindakan anak yang berbakti?" kira-kira begitulah perasaan yang berkecamuk ria di dalam benaknya.
"Boleh pa,tapi aku tidak ingin pergi jauh macam kak David dan kak Heny." Jawabnya polos.Sang papa terdiam membisu untuk beberapa lama.Namun kemudian menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Pikirkan lagi sebelum kau mengambil keputusan ini," ujar sang ayah bijak.
Diego junior hanya mengangguk pasrah, "Baiklah, Pa."
Siapa sangka untuk menjadi seorang pemimpin berkharisma tinggi seperti yang diinginkannya harus terbayar mahal dengan cara mengorbankan masa kecil bersama orangtuanya. Masa remaja yang membutuhkan bimbingan orangtua, kasih sayang dan perhatian dari jarak dekat dan segala kebahagiaan yang masih harus dirasakan oleh anak seusianya.Yang masih ingin bersenang-senang tanpa harus terbebani dengan segala macam urusan orang dewasa.
Tepat dikelas dua sekolah menengah pertama Diego diboyong oleh sang papa untuk mengenyam pendidikan awal diluar negeri demi untuk menjadikan sang putra seperti apa yang ia inginkan.
"Bersiaplah, nak. Sudah saatnya kau mengambil keputusan terbesar dalam hidupmu." pinta sang ayah lembut penuh harap.
Diego junior kini sudah bisa membaca binar mata sang ayah yang seakan tidak ingin dibantah. Perlahan ia berupaya melawan egonya sendiri demi turut andil dalam membahagiakan pria nomor satu yang telah melahirkan dirinya ke dunia.
Ditambah lagi perusahaan raksasa miliknya sedang menanti kehadiran generasi muda yang bersifat fleksibel untuk menjadi pemimpin yang mampu mengatasi dunia persaingan.
"Baik, aku setuju berangkat ke London, Pa." jawabnya mantap.
Berkat jiwa lembut dan tangan dingin seorang ayah, Diego akhirnya menyetujui permintaan papanya untuk pergi ke London untuk menimba ilmu serta memantapkan disiplin ilmu sekaligus untuk melatih kepemimpinannya disana.
••
Malam itu....
__ADS_1
Diego makan malam bersama kedua orangtuanya dan Hany sang kakak yang kebetulan sedang berlibur dari aktivitas sekolah kebanggaannya Stella Maris.
Sedangkan kakak David dan Heny telah lebih dahulu tinggal di London bersama paman Danial.Satu-satunya adik laki-laki dari sang mama Cyntia Halimatusahdia. Ya, kedua kakak tertua mereka memang sengaja diutus menuntut ilmu di sana demi bisa membawa gelar besar yang bakal mereka pergunakan untuk pengembangan bisnis pribadi mereka yang telah dirintis semenjak mereka masih duduk di bangku SMA.
Diego makan dengan malas tanpa mau menghiraukan suasana sekelilingnya.Suasana ruang makan yang hening...Hanya terdengar irama denting piring beradu dengan sendok dan garpu yang berpadu.
Sesekali pula terdengar suara sang mama menawarkan tambahan lauk pauk kepada ketiga orang yang sangat ia cintai.
"Diego,setelah ini temui papa di ruang tamu,"ucapan papa membuyarkan konsentrasi makannya.
Hanya satu anggukan sebagai jawaban atas ucapan sang ayah yang tersenyum memandangnya dengan tatapan sulit diartikan.
Mama dan kakak Hany diam saling berpandangan.Seolah ada sesuatu yang tengah membebani hati dan pikiran mereka.
Kedikan bahu Kaka Hany dan tatapan sendu sang mama membuat Diego sedikitnya mulai menebak-nebak maksud sang papa yang tiba-tiba ingin bertemu khusus dengannya.
Hal penting apakah yang ingin disampaikan oleh papa yang sangat ia cintai itu.Satu pertanyaan yang mulai berkecamuk dibenaknya namun tidak berhasil ia jawab.
Tidak banyak yang dikatakan sang ayah diruang keluarga.Diego diminta untuk menjalani apa yang sudah ditetapkan oleh sang ayah maka akan menjadi aturan yang tak terbantahkan.Pergi ke London untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak seraya mempelajari teknik dasar mengelola perusahaan raksasa miliknya.
"Kemarilah Avatarnya papa."Fahmi berucap sembari tersenyum.
"Ya,apa ada yang ingin papa katakan?"membalas senyuman sang papa seraya mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang berdekatan dengan sang ayah.
Tangan sang ayah merangkul bahu putra kesayangannya,"Sudah saatnya untuk kau mulai mengembangkan dirimu nak,"ujarnya membelai lembut bahu sang anak," Apa kau tahu kalau TF.Electro Group tengah menunggu seorang generasi yang siap melakukan gerakan perubahan,"lanjutnya sambil tersenyum menangkap kedua bahu dan menatap dalam bola mata sang anak.
Diego manggut-manggut mengerti akan ucapan sang ayah,"Lalu apa yang harus aku lakukan pa?"tanyanya polos.
Lagi-lagi pria bertangan dingin itu menampakkan senyum kharismatiknya,"Kita ke London,"mengarahkan jemarinya memutar si globe bola dunia menuju ke belahan bumi yang bertuliskan peta kota 'London' agar sang anak tahu persis akan di mana posisinya nanti.
Gema suara sang ayah yang bijak menerobos dalam dinding kuping seakan berhasil menyugesti alam bawah sadarnya,"Untuk menjadi seperti 'The Legend of Aang' maka kau harus miliki ilmu sebagai penguasa yang hebat,"ucap sang papa di sela bujukan mautnya.
Laksana obat bius bagi anak seusianya yang belum mengerti akan susah senang saat berjauhan dari orangtua tercinta.Seakan ada dorongan kuat yang ikut memaksanya untuk menuruti semua keinginan papa.
Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah keinginan untuk membahagiakan sang papa.Dan kini giliran Diego juga akan bergabung di London bersama kedua kakaknya yang telah lebih dahulu berada di sana dalam rangka menuntut ilmu sesuai basic pendidikannya masing-masing.
Sang ayah masih saja tersenyum bahagia,"Persiapkan dirimu dan segala sesuatunya.Dua hari lagi kita akan berangkat bersama bibi Nisah.Dia yang akan mengurus segala keperluanmu selama kau di sana,"ucapan sang papa yang tak terbantahkan hanya bisa membuat anak kecil yang mulai beranjak remaja itu mengangguk pasrah.
••
Keesokan harinya, Sore itu..sepulang dari taman Kompleks Putatan Rich, tujuannya mendatangi taman kompleks kali ini, tidak lain demi memastikan keberadaan sahabat kecilnya itu, sama ada masih sakit ataukah sudah sembuh. Namun sayangnya ia tidak bisa menemukan jejak gadis cantik yang belakangan telah mengusik relung hatinya, Diego langsung berhambur ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa tidak tenteram, entah perasaan apa itu.
'Ada apa ini sebenarnya?' batinnya bingung.
Mungkinkah karena Karin gadis remaja itu,sedang merajuk kepadanya.Siapa sangka jika peristiwa di taman kemarin sore itu merupakan pertemuan terakhirnya dengan Karin.Gadis yang telah membuat hatinya bergetar.
Besok adalah jadwal keberangkatannya ke London tanah kelahiran nenek buyutnya untuk jangka waktu yang cukup lama.Dan hari ini adalah hari terakhir ia masuk ke ruang kelas sekolahnya setelah semua kelengkapan surat pindahnya diurus oleh sang mama.Tidak ada Karin disana karena sejak semalam Karin memang mengalami demam tinggi.
Lalu bagaimana caranya agar ia bisa bertemu dengan gadis pujaannya itu hanya sekedar untuk mengucapkan kata pamit pergi jika sekarang saja ia tengah sakit.
'Terlalu singkat !' batinnya.
Bagaimana mungkin hatinya tega melihat gadis itu menangis dalam keterpurukannya disaat sedang sakit seperti itu.Ingat sekali akan kalimat terakhir gadis remaja itu ketika ia tidak ingin ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi.
"Maka kau akan terlihat lebih jelek daripadaku akibat keriputmu itu.Karena aku tidak akan memaafkanmu dan aku akan memutuskan tali persahabatan kita jika kau benar-benar meninggalkanku !"
Membuat nyalinya seketika menciut untuk melakukan pertemuan dadakan lalu kemudian pergi untuk bertahun-tahun lamanya.
'Sungguh ini berat,aku tidak sanggup melihatnya menangis,' batinnya lirih.
Butuh kemampuan ekstra agar bisa melakukannya.
Padahal ia juga telah mendatangi rumah Karin namun hanya mampu bertahan sebatas di ruang tamu karena didapatinya bahwa sahabat kecilnya itu sedang dalam keadaan lemah dan dibopong sang ayah menaiki tangga menuju ke kamar.
'Ini sungguh waktu yang tidak tepat!' batinnya.
Rasa apa yang tiba-tiba menggelayut di hati dan pikirannya membuat ia begitu enggan untuk menampakkan wajahnya kepada gadis kecil yang baru menginjak remaja itu.
'Karin...'
'Tunggu sampai suatu hari aku pulang!'batinnya nelangsa.
Dengan langkah berat. Seketika bola bening itu tampak berkaca-kaca.
Flashback off.
Di suatu pagi yang cerah, cuaca tampak sangat bersahabat. Begitu cerah secerah hati Karin yang akan menerima gelar sarjananya hari ini.Setelah empat setengah tahun ia berjibaku antara karir dengan kuliah demi masa depan,kini akhirnya ia mendapatkan gelar yang ingin diraihnya.
Ada rasa bahagia dan puas. Karena usaha yang ia lakukan selama ini tidaklah sia-sia.Karin beserta keluarganya telahpun bersiap-siap jauh sebelum matahari terbit.
Mereka siap-siap untuk segera berangkat ke Kampus Karin untuk mengikuti acara wisuda yang berlangsung tepat pukul delapan pagi.
Hari Ini merupakan momen bahagia bagi Karin.Ia mengambil cuti selama dua belas hari untuk melangsungkan momen bahagia yang sangat ia nantikan itu.Impiannya kini telahpun menjadi kenyataan.
Berbagai ucapan selamat dan pelukan hangat serta doa-doa syukur yang dipanjatkan ke atas dirinya mengalir datang dari seluruh kerabat dekat dan handai taulan.
Keluarga tercintanya terutama papa,mama,kakak Adhytama,opa Jery dan mama Nadine dan juga Danang dan Hany sahabat setianya.Mereka adalah orang pertama yang datang menyaksikan sendiri momen paling bahagia itu di kampus Karin.
Selanjutnya kerabat dan orang-orang terdekatnya,rekan kerja dan atasannya pak Fahri,juga termasuk Tuan Fahmi dan isterinya mama Cyntia.
Tidak terkecuali beberapa nomor ponsel baru yang masuk secara bertubi-tubi menghiasi layar ponselnya.Masing-masing nomor menyematkan inisialnya sendiri-sendiri,dan Karin mengenal benar karena mereka adalah adik-adik semester baik laki-laki maupun perempuan yang kagum akan dirinya dan juga sering menjadikan ia sebagai sosok panutan.
Karin dengan sigap mengirimkan ucapan terima kasih sebagai balasan atas kepedulian mereka terhadap dirinya.Namun ada beberapa nomor yang tidak membubuhkan inisial membuat Karin terpaksa mengabaikannya karena khawatir akan nomor liar.
"Karin,selamat ya sayang,"sesaat setelah Karin turun dari podium,tiba-tiba Hany menyerang Karin dengan satu pelukan dan ciuman bertubi-tubi di pipi gadis itu membuat wajahnya seketika memerah.
Hany datang bersama pak Fahri.Atasan Karin yang menjadi calon suami sahabatnya itu.Pak Fahri tidak keberatan sama sekali menerima ajakan calon isterinya untuk menghadiri acara wisuda sahabatnya itu.
Dilanjutkan dengan Danang yang menyerobot di tengah keramaian menyambut Karin dengan tingkah konyolnya setelah acara resmi dibubarkan.
"Selamat ya tuan puteri!"serunya sambil merentangkan kedua tangannya,"Ayo peluk aku,"menyambut tubuh Karin ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Karin berhambur dengan penuh rasa gembira melihat antusiasme sahabatnya itu,"Terimakasih cucu Oma Hasnah Setiawan,"menerima pelukan,"aku kira kau kerja hari ini,"tertawa sembari mencuit pinggang sahabatnya itu.
"Oh tidak sayang,Pak Fahri tidak setega itulah,"mengedipkan matanya,"Pak Fahri tidak segalak yang kau kira apalagi tidak memberikan aku izin di momen bahagia seperti ini,"tertawa riang sambil celingak-celinguk mencari sosok pak Fahri.
Khawatir kalau sosok yang disebut berada di sekitar.Setelah dikiranya aman,"Kau tenang saja,jika pak Fahri tidak mengizinkan maka akan ku guna-gunai dia biar mau!"lanjutnya mencubit gemas pipi Karin.
"Itu benar Karin,"tiba-tiba suara seseorang muncul dari sisi yang berbeda dan semakin jelas pita suaranya dan tidak lain adalah pak Fahri yang berjalan mendekat bersama dengan Hany.
Karin dan Danang terperangah membelalak menyadari kehadiran kedua orang yang salah satu di antaranya sedang digosipi Danang.Ada senyum kecut di wajah kedua anak muda itu.
'Mati kau Danang!' gumam Karin menyikut pinggang Danang.
"Saya tidak akan membiarkan Danang tidak menikmati momen bahagia bersama orang spesial di hatinya,"ucap Pak Fahri tersenyum ramah,"apalagi orang itu adalah kamu,"lanjutnya sambil menepuk bahu Karin,"Semoga hubungan kalian berdua maju ke tahap yang lebih serius,"ucapnya mendoakan.Membuat semua yang hadir ikut tertawa dan mengaminkan.
"Aamiin."Jawab Danang sumringah menyikut balas pinggang Karin.
Hany ikut tersenyum dan merasa bahagia memandang Karin dan Danang secara bergantian.Baru kali ini ia melihat sosok Danang di mana sebelumnya ia pernah mendengar pengakuan Karin bahwa ia dijodohkan oleh oma nya dengan pemuda itu.Danang yang sangat tampan dan perhatian menurutnya.
Seketika itu juga ada gurat sendu terukir di balik mata yang dipaksakan untuk menatap ke depan dengan senyum yang disemat sesempurna mungkin.Hany tersenyum getir.
'Kelihatannya mereka berdua sangat cocok.' batinnya lirih.
•••
Di kediaman tuan Haikal..
Karin dan keluarga besarnya disambut oleh Tuan Fahmi dan isterinya mama Cyntia yang telah menunggu kehadiran mereka setengah jam yang lalu.
Mengingat anak tetangga mereka itu sudah bertungkus lumus memberikan dedikasi yang terbaik untuk perusahaan mereka.
Maka tidak ada salahnya mereka juga ikut hadir dalam memberikan ucapan selamat juga semangat dan support agar lebih giat lagi mempersembahkan karir terbaiknya buat orangtua dan keluarganya juga memperat tali silaturahmi yang telah dibentuk sejak mereka menjadi teman.
Meskipun kedua keluarga itu masing-masing sibuk dengan urusan pekerjaan namun sesekali di waktu senggang Tuan Fahmi dan papa Haikal sering melakukan pertemuan tertutup yang tidak pernah diketahui oleh keluarga Karin yang lain dan begitu juga keluarga Hany yang lainnya.
Kedua orang tua itu terlihat akrab sekali meskipun tidak pernah saling berkumpul.Itu menurut Karin dan Hany yang baru menyadarinya setelah kehadiran papa Fahmi ke rumah Karin.
"Aku tidak menyangka kalau papaku bisa sedekat itu dengan papamu,"ucap Hany tiba-tiba melihat keakraban papanya dengan tetangganya itu.
"Ya,mereka terlihat seperti sahabat saja,"ujar Karin menyetujui pendapat sahabatnya,"Padahal mereka tidak pernah bertemu,"lanjutnya sembari menerawang sempurna.Diikuti anggukan diam Hany sahabatnya.
•••
Disela kesibukan pembicaraan dua pria paruh baya itu baru menyadari akan sorot mata kedua puteri mereka.Seakan memahami apa yang berkecamuk dipikiran mereka.Keduanya pun dengan segera memanggil puteri mereka untuk bergabung.
"Hany,mana mamamu?" Papa Fahmi memulai pembicaraan.
"Di ruang keluarga bersama tante Nadine dan keluarga yang lain pa,"jelas Hany menatap sang papa dengan sorot mata penuh selidik.Membuat pria tua itu tersenyum gemas kepada puterinya,"lalu di mana Fahri?"lanjutnya mengubah cara tatap anaknya.
"Sudah berangkat ke kantor,"jawab Hany singkat.
"Karin,om dengar prestasimu di tempat kerja sungguh baik,"ucap Tun Fahmi.Mengedarkan pandangannya kepada Karin yang sedari tadi mematung.
"I_iya Om.Ti_tidak.Saya hanya mengikuti aturan kerja saja om,"jawabnya gagap.Mengambil posisi duduk di antara Tuan Fahmi dan papa Haikal.Sedangkan Hany yang telah lebih dahulu duduk di samping papa Fahmi dari sisi yang berbeda.
Papa Haikal tertawa kecil menyadari bahwa puterinya sedang gugup kepada direkturnya itu.
"Santailah nak!Di sini rumah bukan kantor."Tuan Fahmi menenangkan,"tidak perlu sungkan apalagi di hari bahagiamu seperti ini,"lanjutnya menepuk bahu gadis cantik di sampingnya itu.
"Iya sayang,apa kau tahu,om Fahmi ini sudah sangat dekat dengan papa semenjak kami masih di pulau pinang dulu,"ujar papa Haikal mulai bersuara disertai anggukan kepala dari papa Fahmi,"Kami pernah tinggal satu kompleks sama seperti di sini," lanjutnya menerawang.
"Iya dulu kami berdua sering pergi bersama-sama layaknya sahabat,"timpal papa Fahmi,"dan setelah kami mulai merintis karir masing-masing,kami pun jarang bertemu,"lanjutnya tersenyum.
"Tapi itu tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap bersahabat nak,"ujar papa Fahmi kemudian menatap lekat wajah kedua gadis belia di hadapannya itu,"Kami masih saling kontak hingga akhirnya kembali lagi menjadi tetangga seperti saat ini," tersenyum,"dan sekarang persahabatan kami ini dilanjutkan oleh kalian berdua,"merangkul bahu anak-anaknya.
Karin dan Hany manggut-manggut mendengarkan dengan saksama.Hany yang dua tahun lebih tua dari Karin,ia ingat betul waktu mereka masih tinggal di Pulau Pinang seperti yang disebut om Haikal dan papanya itu.Ketika itu ia berusia lima tahun.
Kenangan demi kenangan yang sempat terekam bergelayut di pikiran Hany.Namun belum juga ia temukan tentang om Haikal dan keluarganya.Ia memilih diam dan memutuskan untuk bertanya kepada kedua kakaknya Heny dan David pada waktu senggang nanti.
•••
Dua hari setelah syukuran acara wisuda Karin, Keluarga itu kembali menggelar hari bahagia mereka dengan menikahkan putera pertama mereka Adhytama Haikal Jolly sang pewaris Jolly Group dan Adhytama Hotel.Pesta pernikahan itu digelar secara sederhana dan tertutup.Cukup dihadiri oleh kerabat dekat dan rekan bisnis Mr.Jolly dan Tuan Haikal.
Tuan Fahmi dan keluarga besarnya terlihat ikut mengambil bagian di dalam acara sakral tersebut.Hany dan pak Fahri terlihat sangat bahagia mengingat tidak lama lagi pasangan ini juga akan bersiap untuk melangsungkan pernikahan mereka.
Kakak Heny dan David juga terlihat turut hadir dalam acara tersebut.David terlihat lebih pendiam dibandingkan dengan adik bungsunya Diego yang masih berada di London.Namun tidak mengurangi ketampanan pemuda dua anak itu.Gayanya yang smart membuatnya tidak kalah tampil dengan pemuda lajang masa kini.
David dan Heny beserta pasangannya masing-masing terlihat memasuki red carpet menuju kursi pengantin untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.Aura bahagia kian terpancar di wajah kedua mempelai atas hadirnya tamu-tamu istimewa mereka.
Adhytama tersenyum memandang sang isteri.Kini Farah si gadis tempatan bertampang Chinese itu resmi menjadi isteri sah Adhytama Haikal Jolly kakak tercinta Karin Dhiyana Haikal Jolly.
Farah adalah anak Tuan Farhan pemilik kebun strawberry terbesar di Kundasang. Tuan Farhan tinggal di Ranau.Kota yang berada di lereng gunung Kinabalu itu terkenal sebagai Kota dingin dengan tempat wisata air panas yang banyak menarik minat para wisatawan.
Ibunda Farah yang bernama Nyonya Liza adalah seorang dokter cantik keturunan Chinese di kota ini.Gurat sipit dan putih menggebu pada diri wanita paruh baya itu menurun kepada puterinya Farah.Ada rona bahagia terpancar di wajah keluarga besar Tuan Haikal dan Tuan Farhan.
"Selamat menempuh hidup baru nak,"ucapan papa Haikal kepada puteranya disertai rintik kecil air mata yang tidak terbendung.Membuat mata pemuda itu seketika berkaca-kaca.
Disambut pelukan hangat dari mama Nadine kepada putera dan menantunya juga membuat keluarga itu tidak lepas dari airmata bahagia.
Karin berlari kepelukan sang kakak dengan raut wajah haru dan bahagia bercampur aduk,"Selamat ya Kak,"tersenyum menatap bola mata kakak tercintanya.
"Terimakasih adik manis." Ucapnya sambil mencium pucuk kepala sang adik.
Karin kemudian beralih ke dalam pelukan kakak iparnya,"Selamat datang kakak ipar sayang,"lirih disambut oleh anggukan berkaca-kaca dari Farah.Keduannya larut ke dalam dekapan yang mengharukan.
"Siap-siap keluarga besar Haikal-Jolly akan bertamasya ke gunung untuk satu minggu, sebagai bagian dari agenda pernikahan tuan muda Adhytama-Farah dan juga cuti wisuda nona Karin. Untuk sementara segala aktivitas tatap muka dengan keluarga besar ditunda sepuluh hari ke depan hingga mereka kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Harap dimaklumi." gema suara sound yang disampaikan oleh wakil dari pihak keluarga.
•••••
Bersambung.....
*****
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya.Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗🤗🤗