
Selamat Membaca semoga suka 🙏😍
Diego masih mencerna sesuatu di dalam pikirannya tentang kemungkinan yang terjadi hingga Lian berani menyerang isterinya seperti tadi.
Diego terang-terangan saja bahwa ia merasa cemburu yang mendalam ketika melihat kedekatan Danang dengan gadis pujaannya.Apalagi sampai colek-colekan,peluk-pelukan bahkan cium-ciuman kening bersama pria normal seperti dia.
Akan tetapi Diego mencoba berpikir positif karena walau bagaimanapun papa Haikal,mama Nadine dan kak Tama tidak pernah menolak keberadaan dirinya.
Justeru mereka menganggap pemuda itu sebagai anak dan adik kandung bagi mereka sehingga mereka berani percayakan kepadanya untuk menjaga puteri mereka.
Lalu Danang benar-benar memegang kepercayaan yang telah diberikan kepadanya itu dan Diego membuktikannya sendiri.
Hal inilah yang menjadi alasan terkuat baginya untuk tidak mengadili pemuda itu manakala melihat ia dan isterinya masih sering bertingkah konyol.
Tapi Lian?
Apa dia bisa senetral dirinya itu jika pertama kali matanya terpaksa harus melihat keadaan demikian secara langsung. Sedangkan dia tidak pernah mengetahui masa lalu di antara Danang calon suaminya itu dengan Karin.
'Akh!Danang harus menyelesaikan ini.' Gumamnya pelan.
Di tempat yang lain dalam kamar sepi di sebuah rumah mewah berlantai dua.Seorang gadis sedang duduk termenung sembari memeluk kedua lututnya.Sorot matanya menatap sendu langit-langit kamar.
Rumah besar yang kosong itu hanya di tempati oleh seorang ayah bersama anak gadisnya.Sang ayah ditinggal mati oleh isterinya yang menderita penyakit menahun kanker rahim stadiun empat.
Kini hidup mereka hanya ditemani oleh beberapa orang pembantu rumah tangga yang setia selama puluhan tahun kepada keluarga ini demi memberikan pelayanan terbaik kepada majikannya.
Tok tok tok
Ceklek
"Maaf non Lian,bibi cuma aku bilang makan malamnya sudah siap." Ucap salah satu pembantu yang datang menghampiri gadis itu.
"Baiklah bi,sebentar lagi aku akan ke bawah."Balas gadis itu.
"Baik non Lian."Ucap pembantu tersebut sembari membungkuk siap beranjak dari sana.
"Bi,tunggu sebentar."Pinta Lian pelan.
"Ada yang bisa bibi bantu non?"Tanya pembantunya sopan.
"Apa papa belum pulang bi?"Tanya gadis itu.
"Belum non,tuan besar masih di luar kota."Balas sang pembantu.
Pembicaraan di antara keduanya terhenti seketika manakala bel rumah berbunyi.
"Bi,tolong bukakan pintunya.Kalau ada yang mencariku katakan saja aku sedang keluar ya."Perintah Lian kepada pembantunya seraya siap beranjak ke suatu tempat.
Lian sengaja melangkah ke balkon dan mengintip dari kaca jendela dekat balkon.Ada mobil Danang yang terparkir di sana. Hatinya benar-benar kacau dan untuk saat ini ia tidak ingin menemui pemuda itu.
Lian melangkah gontai kembali ke kamarnya.Membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.Belum juga sempat ia menutup pintu kamarnya tiba-tiba seseorang mencegatnya dari luar.
Lian terkesiap memandang tajam ke arah seorang pemuda yang berdiri di sana.
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan."Pinta suara yang tidak lain adalah Danang.
Lian terpaksa melebarkan daun pintu dan membiarkan pemuda itu masuk ke dalam kamar tanpa sepatah katapun.
Gadis itu memilih bersedekap sembari membawa langkahnya menuju sofa lalu mengambil posisi duduk diikuti oleh Danang dari belakang dan memposisikan duduknya di samping gadis tersebut sembari memeluk hangat tubuh gadis itu.
Kemudian mendaratkan satu ciuman yang lama ke pucuk kepalanya merengguk aroma wangi bunga yang menguar lembut dari rambut panjangnya.Ada ketenangan tersendiri yang ia rasakan setelah tertimpuk beban yang menumpuk.
Hening...
"Maafkan aku soal kejadian di hotel tadi."Ucap Danang pelan.
__ADS_1
"Untuk apa?"Balas Lian datar.
"Bukan dia yang memelukku,tapi aku yang memeluknya."Jelas Danang sembari menangkup bahu gadis itu dengan kedua tangannya.
"Apa kau mengatakan ini hanya untuk membelanya?"Sergah Lian ketus.
Danang terdiam.Hanya ada gelengan kepala yang menyertai tatapan memelasnya sebagai penegas.
"Jelas-jelas aku melihat kalian mesraan di tempat sepi. Memangnya siapa lagi kalau bukan selingkuhan?"Desak Lian memaksa pemuda itu membuka suara.
Danang menghela napas yang tertahan di tenggorokan.
"Sebenarnya dia cucu kandung oma Hasnah yang telah membesarkan nama bagi keluarga kami.Nama gadis itu Karin.Aku janji setelah kau masuk dikehidupanku nanti maka kau akan mengerti dengan sendirinya."Jelas Danang.
"Jadi dia sepupumu dan menjadi isteri dari anak sialan itu?"Tanya Lian memastikan.
Danang mengangguk pelan sembari mencerna ucapan terakhir Lian dengan kening yang berkerut.
"Ya,sepupu jauh yang pernah dijodohkan denganku namun gagal. Hanya saja kedekatan antara kami sebagai sahabat sudah jauh sebelum perjodohan itu terjadi.Itu sebabnya kami sangat dekat."
Lian terdiam sembari mencernakan setiap ucapan Danang yang dengan sukarela menjelaskan.
"Aku tahu kau pasti terluka dan kecewa.Tapi yakinlah aku tidak sedang berbohong.Tadi aku hanya terlalu bersemangat dan perasaanku seolah meledak-ledak melihat kehadirannya di sini." Tambah Danang meyakinkan.
Lian menatap menantang tatapan dalam yang ditujukan Danang kepada dirinya.Ia berusaha menyelidiki suatu kebenaran dari sorot mata elang pemuda yang selalu menggetarkan jiwanya itu.
"Karena ini pertama kali aku bertemu dengannya setelah dia mengalami masa kritis pasca kecelakaan tragis itu."Lanjutnya dengan tatapan bermuram durja berharap Lian mau menerima penjelasan darinya.
"Baiklah aku percaya ucapanmu.Besok aku akan menemuinya dan meminta maaf."Ucap Lian padat.
Namun di hatinya menyimpan segudang rasa penasaran terhadap sosok wanita yang bernama Karin itu.Apakah dia gadis masa lalu yang dimaksudkan Diego ketika di Oxford.Lalu kecelakaan apa yang dialami gadis itu hingga ia melewati masa kritis seperti yang baru saja dijelaskan oleh Danang tadi.
Danang menarik tubuh calon isterinya itu ke dalam dekapannya.
"Terima kasih karena telah mempercayaiku."Ucapnya lirih.
Hening...
"Senyum dong!"Pinta Danang sembari menyentuh bibir seksi gadis itu sesaat setelah ia menguraikan pelukannya.
Bak terhipnotis dengan ucapannya, Lian pun ikut menarik bibir membentuk senyum termanisnya kepada pemuda itu.
"Boleh aku bertanya sesuatu Li?"Tanya Danang sembari menangkup wajah gadisnya dengan sebelah tangan.
Lalu pemuda itu mengecup singkat bibir seksi sang calon isteri tersebut dan meninggalkan satu gigitan kecil di sana namun hangatnya terasa menjalar ke sekujur tubuh gadis yang kini terpesona dengan daya pikat calon suaminya itu.
Lian mengangguk sembari mengedikkan bahu mempersilahkan pemuda itu bertanya.
"Apa anak sialan yang kau maksudkan selama ini adalah Diego?" Tanya Danang sembari memicingkan mata mengukir senyum samar di bibirnya yang tidak kelihatan oleh Lian.
Lian mengangguk ragu,"Ya."
"Jadi selama ini kau membandingkanku dengan si gila itu?"Tanya Danang ketus.
"Ti_tidak,maksudku bukan begitu."Sanggah Lian pucat.
"Katakan padaku,seberapa dekat kau dengan dia?"Pinta Danang tenang.
"Baiklah tapi ceritanya panjang_"
Puteri Carnelian POV
"Aku Puteri Carnelian Sanjaya pernah belajar satu kampus dengan Diego dan juga satu jurusan dengannya di University of Oxford London.
Bahkan kami sama-sama mengambil S2 di ruang dan waktu yang sama. Hubungan pertemanan kami juga sangat baik.Kehebatan kharisma dan sifat cool dari seorang Diego sukses membuatku jatuh hati kepadanya.
__ADS_1
Boleh dibilang bahwa cuma aku satu-satunya wanita yang bisa menjadi teman dekatnya.Banyak sekali wanita yang iri melihat kami selalu dekat.Bahkan ada wanita yang berani menyakiti hatiku hanya gara-gara tidak ingin melihatku dekat dengannya.
Kedekatan kami itu membuat aku salah mengartikannya. Kebaikan dan perhatiannya membuatku mengira bahwa dia memiliki perasaan yang sama denganku.
Lalu suatu saat aku mencoba jujur dengan menyatakan perasaanku kepadanya.Namun dia menolakku dengan baik-baik.
Namun bodohnya diriku karena terobsesi dengannya hingga aku berusaha untuk menjebaknya sewaktu di acara dinner bersama yang kurencanakan.
Aku sengaja menaruh obat tidur dosis tinggi di dalam minuman jus miliknya yang kami pesan agar bisa membuat dia tidak sadarkan diri.
Maka dengan begitu aku bebas membuat seolah-olah dia telah tidur denganku lalu aku menuntut pertanggungjawaban darinya.
Namun dia lebih dulu mengetahui rencana busukku hingga ia menukar gelas yang menjadi miliknya kepadaku dan terbukti aku mabuk berat dan terlelap semalaman suntuk.Hal ini membuatnya marah besar padaku dan memintaku untuk tidak mengenalnya lagi.
Aku mulai putus asa,lalu berpacaran dengan seorang lelaki bule bertujuan untuk menyakiti hatinya namun ternyata pria itu malah menjebak diriku dan ingin memperkosaku.Akan tetapi Diegolah yang menyelamatkanku dari perbuatan bejat pria yang bernama Zane itu.
Maka sejak saat itu dia selalu saja mencariku dan menunjukkan perhatiannya dengan cara melindungiku baik dari jarak dekat maupun jauh dan menemaniku ke manapun aku pergi.
Meski awalnya kulihat ia sangat terpaksa melakukannya hingga akhirnya menjadi terbiasa denganku.
Sedangkan aku sangat malu dengan perbuatanku sendiri dan berusaha menghindar darinya,namun tidak berhasil karena dia selalu berusaha datang kepadaku.
Namun satu hal yang aku sadari adalah hatinya tidak untukku. Diego tidak mencintaiku.
Akhirnya aku sadar lalu memilih untuk berteman dengannya dan menjadikan dia sebagai motivator terbesar dalam perjuanganku.
Hingga aku berhasil mendapatkan sosok sahabat yang baik seperti dia yang selalu memenuhi segala keinginanku dan intinya kami selalu bersama-sama dalam mengejar mimpi kami di kampus itu.
Sedangkan dia yang mulai menerimaku sebagai sahabatnya, setelah melihat ketulusanku itu ia malah semakin membuka dirinya kepadaku sebagai sahabat.Dia mulai berani menceritakan perihal masa lalunya.
Bahwa dia memiliki cinta dan kesetiaan terhadap seorang gadis di masa lalunya.Gadis yang ia tinggalkan begitu saja di kampung halamannya namun ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk membawanya kembali ke dalam hidupnya.
Aku sempat trenyuh mendengar ceritanya itu dan bertekad untuk mendukung tindakannya itu.Bagiku betapa beruntungnya wanita yang berhasil memiliki dirinya.
Puteri Carnelian POV end.
Danang menyimak dengan cermat semua penjelasan Lian tentang masa lalunya bersama Diego.Ia melihat kejujuran di mata gadis yang sekarang telah menjadi calon isterinya itu.
"Begitulah kekuranganku di masa lalu.Jika kau tidak bisa menerima minusku maka aku ikhlas untuk melepasmu pergi dari kehidupanku."Ucap Lian dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokannya.
Gadis itu berusaha mengerjapkan matanya beberapa kali untuk bersembunyi agar bola bening itu tidak terlihat basah oleh air mata.Namun Danang lebih gesit menyadari hal itu.
Hingga pemuda itu sigap menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mempersilahkan kepadanya untuk menangis semaunya. Melepas semua uneg-uneg yang bersarang di hati dan pikirannya agar lenyap tak berbekas.
"Menangislah jika itu yang kau inginkan.Aku akan menjadi orang pertama yang mendengarkanmu."Bisiknya lirih ke telinga Lian.
Mengecup lembut telinga itu lalu membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Gadis itu menyambut perlakuan Danang dengan membalas pelukan disertai derai air mata yang berlinangan dan tubuh yang berguncang hebat.Ia sukses menangis sejadi-jadinya dalam dekapan calon suaminya sendiri.
"Maafkan aku."Bisik Danang lirih.
"Untuk apa,justeru aku yang salah dan harus meminta maaf kepadamu dan juga gadis itu."Jawabnya juga lirih.
"Aku berjanji akan menjaga dan melindungimu."Ucapnya pelan.
'Sudah seharusnya aku berkaca dari kesamaan masa lalu kita. Karin ditakdirkan untuk Diego dan kau ditakdirkan untukku.' Batinnya dengan tatapan berkabut.
•••
Bersambung...
*****
Terima kasih teman-teman yang sudah setia mengikuti karya pertamaku..Semoga kita diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah oleh-NYA..Bagi pertanyaan-pertanyaan insya Allah akan dijelaskan di dalam ceritanya ..terima kasih ya..
__ADS_1
Salam lanjut terus dan tinggalkan jejak..❤️❤️🙏🙏🤗🤗