
Selamat Membaca. 🙏😍
Sore yang indah.....
Mobil yang dikemudi Danang membawa papa Imran memasuki pelataran hotel SH.Dua pria beda fase itu segak dengan setelan jas hitam berwarna senada dengan bawahan lengkap memakai sepatu pantofel yang menambah kesan smart ditubuh mereka.Keduanya bergegas menuju ke ballroom yang sudah disiapkan khusus untuk keperluan bertemu klien disaat itu dan tentunya setelah melakukan check in.
Ini kali pertama Danang menemani sang ayah melakukan pertemuan dengan klien.Danang tidak sedikitpun menunjukkan rasa minat ataupun pedulinya terhadap kegiatan itu.Ia memutuskan untuk menyimak setiap tindakan dan ucapan sang papa.
Di kejauhan seorang wanita bersama sekretarisnya tengah duduk manis di kursi kebesaran yang telah disediakan oleh pihak hotel sembari bercengkerama ria tanpa menyadari kehadiran kedua pria itu.Danang berjalan dibelakang mengekori langkah papa Imran yang selangkah di depannya.Matanya tidak lepas dari memandang teman berselancarnya yang berbentuk kotak digenggamannya itu.
“Selamat sore nona Lian.” Ucap papa Imran ramah menyapa gadis dihadapannya.
Gadis itu mendongak,“Selamat sore_” Menatapnya sepintas,” Om Imran? Kenapa bisa kebetulan bertemu disini? Balas gadis itu tersenyum riang menyambut pria paruh baya tadi dengan penuh kegirangan.
“Iya, om memang ada urusan di kota ini.Jadi ini sangat kebetulan.”Jawab papa Imran tersenyum ramah.
“Uih! Asyik ya papanya Dania.”Serunya sambil jingkrak-jingkrak kegirangan tanpa sungkan.Mengingat Dania sahabat kecil yang sangat akrab dengannya adalah puteri dari pria paruh baya yang berdiri dihadapannya itu.Gayanya yang kocak membuat papa Imran ikut terkekeh.
“Oh ya,nona Lian,perkenalkan ini anak pertama om.Namanya Danang Danuarta Setiawan."
“Oh ya? Om punya anak laki-laki? Aku kira anak om hanya seorang saja dan itu Dania Puteri Setiawan.” Balas Lian terbelalak.
Mendengar nama gadis itu disebut dan suara itu mengalun digendangnya sontak memaksa Danang segera mengangkat kepala memandang kearah obyek yang dituju.
Kedua anak muda itu saling tatap dalam kejutan yang tidak disangka.Salsa sekretaris yang berdiri disamping Lian ikut terpana menatap pemuda yang berdiri disamping papa Imran.
“Whatt? Bukankah dia pria di cafe tadi?”Bisik Lian menyikut pinggang Salsa.
"I_iya..Lian." Jawab Salsa gugup.
“Hmm..,dan dia pria yang kita jumpai di depan ruang resepsionis perusahaan milik anak sialan itu bukan? Lanjut Lian memastikan.
“Ya,kau benar!Dia itu pemuda yang tidak sengaja menabrakku waktu itu.Oh...So sweat...!” Gumam Salsa menerawang.
“Haish! Sialan lu!”Ejek Lian.
Hening....
“Ehm..Nak Lian,apa bisa kami ikut bergabung disini?”Tanya papa Haikal membelah hening.
“Oh ya,si_silahkan om.Ayo duduk.”Sahut Lian gugup.
Tidak lama kemudian muncul dari sisi yang saling berlawanan tampak keluarga besar Imran-Amran dan juga mama Andin.
Kehadiran mereka secara bersamaan menimbulkan tanya dikening dua anak muda yang baru bertemu itu.
Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah manakala hadir dari ujung ballroom dua sosok yang tidak asing lagi dipenglihatan Lian dan juga Danang.
Sosok Dania adik Danang sedang berjalan sembari mendorong kursi roda kian mendekat.Kursi roda yang diduduki oleh seorang pria paruh baya yang dikenal Lian sebagai Tuan Billy papa kandungnya.
“Sa! Ada apa ini?Itu ada papa dan Dania.”Tanya Lian berbisik.Salsa mengedikkan bahunya tanpa ekspresi.
“Yy_aa,,Mana gue tahu.”Jawabnya berkelit.Padahal yang sebenarnya adalah tuan Billy memintanya untuk bekerjasama dalam membuat rencana dadakan ini.
“Cepat katakan! Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?”Tatap Lian tajam mencurigai Salsa.
"Ti_tidak_" Jawab Salsa gagap.
Papa Haikal yang mendehem sontak mengagetkan kepanikan kedua wanita muda itu.
Melihat tuan Billy yang sudah diposisi amannya papa Haikal segera memperkenalkan kepada Danang.
“Ehm..Danang,perkenalkan ini tuan Billy.Papanya nona Lian.papa harap kalian berdua tidak kaget dengan pertemuan yang direncanakan ini.”Ucap papa Haikal menjelaskan.
“Ya, itu benar nak! Om dan papamu telah merencanakan semua ini.Maafkan kami jika telah menyinggung perasaanmu anak muda.Om harap kau tidak keberatan disandingkan dengan anak om.” Ucap tuan Billy dengan napas yang sedikit ditahan.
Sekilas Danang melirik kearah Lian yang melotot tanpa arah.Kesal dengan keadaannya sendiri.Sebuah sunggingan sinis ia daratkan menyeringai kearah gadis itu sesaat sebelum ia angkat bicara.
“Oh!Tidak apa-apa om.Dengan senang hati saya menerima keadaan ini.”Kembali melirik tajam kearah Lian.Dibalas dengan decakan kecil dari bibir gadis itu sembari membuang pandangan ke langit-langit ballroom.
“Ya,inilah perjodohan yang papa dan mama maksudkan waktu itu nak! Mama harap kau tidak keberatan dengan keputusan sepihak kami ini.Begitu juga dengan nak Lian.Maafkan atas kelancangan kami ini.”Timpal mama Andin seraya meminta maaf kepada kedua anak muda itu.
“Oh nggak masalah tante.Ini juga merupakan sebuah usaha.Dan aku sama sekali tidak keberatan untuk usaha ini.Aku baik-baik saja tante.Hehe.” Jawab Lian gugup susah payah menarik pandangan kearah Danang yang terlihat cuek bebek.
Tidak butuh waktu lama untuk sesi perkenalan keluarga karena memang keluarga tersebut sudah saling mengenal.Hanya saja Danang dan Lian belum saling mengenal berhubung mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.Tapi benarkah pertemuan diantara keduanya belum pernah terjadi padahal keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama?Apalagi Lian yang begitu dekat dengan Dania sebagai sahabat kecilnya dulu.
Singkatnya mereka berdua pernah bertemu pada usia baru tamat dari bangku SMP.Pertemuan mereka terjadi pada sebuah acara syukuran yang diadakan oleh tuan Billy dalam rangka mengantar puteri semata wayangnya untuk bersekolah di London.Itu merupakan cita-cita dari Lian sendiri.
Akan tetapi pada waktu itu baik Danang maupun Lian sama-sama tidak saling peduli satu sama lain.Meskipun demikian Danang ingat betul akan wajah itu. Sedangkan Lian hampir tidak mengingatnya sama sekali karena pada waktu itu ia lebih peduli kepada cita-citanya.Sementara Dania juga tidak pernah bercerita kepadanya bahwa dia mempunyai seorang kakak laki-laki.
"Dania! Lu tega banget sama gue! Selama puluhan tahun ku umpet kakak lu dari pengetahuan gue?" Serang Lian kepada sahabatnya.
"Maaf sayang! Nggak maksud gitu juga.Anggap saja ini takdir kalian berdua ya mis Oxford Puteri Carnelian Sanjaya." Sanggah Dania sembari tertawa renyah. Membuat Lian semakin memberengut.
Sementara Danang sedang berusaha mencerna ucapan sang adik.Mencoba mengingat kembali kata 'mis Oxford' itu.Dan ia semakin yakin bahwa dirinya pernah membaca sekilas postingan sang adik di akun IG-nya beberapa tahun lalu dimana ia memposting wajah Lian sembari meletakkan caption 'Congratulation mis Oxford'.Seketika wajahnya sumringah.Bibir keringnya ikut tersenyum samar.
Tidak menunggu waktu lama, maka saat itu juga keduanya secara resmi ditunangkan oleh keluarga besar mereka.
"Selamat menikmati perjodohan sialan ini wahai Puteri Carnelian Sanjaya."Ucap Danang sumringah di sela menautkan cincin tunangan di jari manis gadis itu.
Seketika wajah gadis yang tidak berani menatapnya itu menyembulkan rona merah yang tidak berhasil ia sembunyikan.
"Ingat satu hal! Jangan pernah membandingkan diriku dengan anak sialan yang kau maksudkan di cafe tadi.Aku Danang Danuarta Setiawan tidak akan pernah setuju dibanding-bandingkan dengan siapapun." Bisiknya pelan ke telinga gadis itu namun penuh penekanan.
Lian sontak mendongak dengan wajahnya ditekuk,"Kau juga sama.Menganggap perjodohan ini sial kan? Aku mendengarnya di cafe tadi.Jadi jangan pernah berharap lebih dari perjodohan ini!"Balas gadis itu ketus.Membuat Danang seketika tersenyum samar.Menatap intens wajah gadis yang bersemu merah bak tomat matang.Bibir kering itu seketika berdecak.
'Ck! Perjuangan baru akan dimulai!' Batin pemuda itu.
Senja perlahan menyapa malam....
Langit begitu hitam sampai batasnya dengan Bumi hilang. Akibatnya, bintang dan lampu kota bersatu, seolah-olah berada di satu bidang.~ Dewi Lestari
Pemuda itu baru saja menceburkan diri ke dalam kolam renang.Melakukan aktivitas renang,bolak-balik dengan berbagai macam teknik dan gaya yang pernah ia pelajari.Masih belum puas,iapun sengaja menenggelamkam diri hingga ke dasar kolam.Bertahan hingga bermenit-menit lamanya lalu kemudian muncul kembali ke permukaan.Berkali-kali ia melakukan hal serupa hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya.
‘Akh! Sial!’ Pekiknya keras sembari berbaring menelentangkan diri pada pooldeck dengan mata terpejam dan napas terengah-engah.
Pakaian renang edisi terbatas yang membalut tubuhnya,membentuk otot yang kokoh dilihat dari sisi manapun.
Entah apa yang membuatnya rela menguras tenaga didalam dekapan dinginnya air kolam yang menyentuh pori-pori selama berjam-jam.Berjibaku dengan kerasnya hantaman sensasi dinginnya malam yang menusuk hingga ke relung jiwa.
“Aku baru tahu kalau kau suka berenang di jam begini tuan Diego!” Seru suara dari arah yang berlawanan sembari menyodorkan sebuah handuk kepadanya.
Diego sejenak membuka mata,“Kau_!” Menyambutnya dengan napas tersengal dan suara yang masih satu dua.
“Aku kesini dua jam yang lalu saat kau pertama kali menceburkan diri ke dalam kolam itu.” Ucap pemuda tersebut yang tidak lain adalah Danang.
“Kenapa kau mencariku? Aku hanya seorang pesalah yang pantas dihukum.Jadi biarkan aku sendirian_”
“Ya kau benar! Tujuanku kemari memang sengaja untuk menghukummu.”Potong Danang sembari menyodorkan tangannya kepada Diego untuk membantunya berdiri.Diego menuruti gerakan temannya tanpa perlawanan sedikitpun.
Lalu kemudian tangan itu mengarahkan kepadanya agar segera berganti baju.
Di kamar Diego baru saja mematutkan diri dengan celana pendek berwarna hitam dan kaos putih berlengan pendek.Sementara Danang berbaring terlentang sembari memejamkan mata di atas kasur king size milik sang direktur.
“Katakan,ada apa kau kemari?” Ucap Diego yang mengambil posisi duduk di atas lantai yang bersebelahan dengan posisi rebahan Danang.
“Aku akan menginap disini malam ini dan kau harus rela berbagi separuh kasurmu untukku.”Ucap Danang masih dengan posisi yang sama tanpa membuka matanya.
__ADS_1
“Sial kau! Tidurlah di sofa sana.Aku tidak mau berbagi dengan siapapun!” Bentaknya kesal.Mata elangnya tiba-tiba menyala ingin menerkam sahabatnya itu.
Danang menggeliat,“Yakin, nggak mau berbagi?”Memicingkan mata dan tersenyum miring,”Anggap saja sebagai bentuk hukuman kepadamu karena kau belum bisa menjaga adikku Karin dengan baik!” Serangnya sinis penuh sarkas.
Diego berbalik menatap kesal kepada pemuda itu.Kali ini ia terpaksa mengalah.Mungkinkah menyangkut nama Karin? Entah kenapa saat itu ia merasa terganggu dengan sifat Danang yang tiba-tiba begitu menyebalkan baginya untuk diladeni.Padahal Danang sudah sering mendatangi kamarnya dan mereka juga pernah menginap bersama.
Namun kali ini suasana hatinya sedang tidak bersahabat.Danang datang disaat Diego hanya ingin sendirian.Sehingga tampaklah sisi buruk kedua pemuda itu dalam mempertahankan egonya demi mendapatkan keinginan masing-masing.
Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar.Bibi Nisah mengantarkan dua cangkir kopi dan camilan khas kepada kedua pemuda itu sesuai pesan Diego sebelumnya.
“Minumlah!” Perintah Diego datar.
“Kau saja yang minum.Aku mengantuk!”Balas Danang mengubah posisi rebahannya.
“Akh! Kau yang benar saja.Masa iya,dua cangkir kuhabiskan sendiri? Beraninya kau melawan perintah bosmu ini.” Sergah Diego membuat Danang berpaling menatapnya tajam.
Pemuda itu bangkit lalu mengambil posisi duduk diatas lantai yang berseberangan dengan Diego.
Menekan perlahan dada Diego dengan telunjuknya,“Tapi malam ini aku adalah utusan keluarga Jolly.Aku datang sebagai kakak dari seorang adik yang kau penjarakan hatinya.Lalu aku menuntutmu untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu! Jadi malam ini lupakan tentang bos dan anak buah.Oke.” Sanggah Danang datar namun penuh penekanan.
Diego seketika membulatkan penuh bola matanya.
Hampir tidak ada kata-kata yang bisa terucap olehnya.Lidahnya terasa kelu.Jiwa dan raganya seakan diborgol oleh rantai besi tak kasat mata.Tengkuknya seakan dihantam badai es berskala besar.Hampir sekujur badannya dibasahi oleh keringat dingin.
Danang memandang miring sahabatnya,“Heishh?! Malam-malam begini di kamar ber- pendingin ruangan kau keringatan?Lihat bajumu basah! Bukannya kau habis mandi Dy?”Cecarnya memanasi.
Diego mengusap kasar rambutnya yang masih lembab,“Haishh! Gara-gara kau juga yang mengobrak-abrik jantung dan paru-paruku ini. Kau bawa nama keluarga besarmu membuatku benar-benar merasa seperti diguyur bongkahan es dari kutub! Dingin tapi sakit!" Cebik Diego memberengut membela diri.
Danang tertawa renyah,“Cepat sana ganti baju! Nanti masuk angin.Dan jika kau demam malam ini maka batal semua rencana serangan fajarnya.Malah aku pula yang siap menanggung kesalahanmu.”Titah Danang sembari tersenyum usil penuh kemenangan.
Entah kenapa Diego menuruti juga perintah sahabatnya tanpa perlawanan.
'Ada apa dengan diriku ini? Kenapa aku jadi menuruti dia dan bukan dituruti? Lalu apa maksudnya dengan rencana serangan fajar itu?’ Gumamnya pelan disela mengganti baju.
“Kemarilah! Akan kujelaskan biar kau tidak penasaran lagi bro.” Ucap Danang yang sudah berpindah ke sofa manakala melihat Diego berjalan mendekatinya.
“Nah! Begitukan bagus bro!” Balas Diego lega.Mengambil posisi duduk saling berhadapan dengan Danang sembari menyesap kopi seduhan bibi Nisah yang nikmat dilidah.
“Ini menyangkut Karin.Paman dan bibi mengutusku kemari untuk membawamu ke rumah sakit sebelum fajar.” Ucap Danang santai sembari menyesap kopi miliknya.
“Untuk apa?”Tanyanya datar.
“Menculik anak orang!”Sentak Danang melotot kesal mendengar pertanyaan bodoh sahabatnya,”Bukannya kau sendiri yang meminta kepada paman dan bibi untuk membawa Karin berobat keluar negeri?!”Serunya masih kesal.
“I_iya tapi kenapa harus sebelum fajar? Kenapa tidak tunggu besok dan aku persiapkan semuanya secara matang baru kita berangkat.”Sahut Diego dengan wajah yang memerah menahan berbagai macam rasa di benaknya.
Danang mengedar pandangannya,“Ini perintah bibi Nadine lho Dy,aku nggak mau ambil resiko ya.” Ucap Danang pelan,”Kau tahukan marahnya bibi seperti apa?Jika kau berani mengubahnya maka kau sendirilah yang menghadapnya.”Jelas Danang sengaja menakuti,”Aku nggak ikut.Aku pulang sekarang.”Lanjutnya sembari beranjak siap keluar dari kamar Diego.
Diego sontak menahan pergerakan sahabatnya,“Eitt! Tunggu! Ja_jangan pergi dulu.Baiklah.Aku akan menuruti semua perintahnya.Oke.” Bujuknya pasrah.
Danang kembali keposisi semula,“Nah! Itu baru sahabat sejati.”Sahut Danang tertawa geli. Sementara Diego tampak memberengut kesal.Wajahnya ditekuk sempurna menahan dongkol dihatinya.
Mendengus kecil sesaat sebelum mulai angkat bicara,“Lanjutkan ceritamu! Aku mau dengar perintah bibi untukku selanjutnya.Titah Diego kepadanya.
Danang berbalik menatap wajah pemuda itu,“ Boleh,tapi apa kau bisa memenuhi permintaan itu demi adikku Karin?”
Sesaat ia menarik napas dalam kemudian menghembusnya pelan,“Baiklah akan kupenuhi permintaannya.Apapun itu.”
"Baiklah_”
Diego manggut-manggut mendengarkan penjelasan Danang.
"Jadi semua itu bertujuan agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari sekaligus untuk mempermudah urusan kalian di luar negeri sana."Jelas Danang panjang lebar.
•••
Usai makan malam Diego dan Danang kembali ke kamar.Memposisikan duduk masing-masing di sofa.
“Hhhmmm..Mereka juga sebelas duabelas seperti bibi Nadine.” Jawabnya malas.
“Maksudnya?” Tanya Diego penasaran.
“Mereka memaksaku untuk menikah secepatnya.Hey! Padahal calon bini saja aku belum punya.”Jelas Danang menggeleng-geleng tidak percaya.
Diego tertawa kecil menatap sahabatnya yang uring-uringan,“Apa kau perlu bantuanku?”Menawarkan diri.
“Bantuan soal carikan aku calon bini?Sama saja Dy.Keputusan papa untuk menjodohkanku dengan gadis itu sudah bulat tidak bisa dibantah!” Sahutnya kesal.
“Hmm,kurasa sebaiknya kau turuti dulu permintaan beliau."Ucapnya menengahi," Siapa tahu ada solusi dibalik perjodohan ini.Sudah kau temui calon istrimu itu?”Lanjutnya memastikan.
“Sudah tadi sore.” Jawabnya datar.
Diego terbelalak,“Whatt? Hey! Kabar sebagus itu tidak ingin kau bagikan kepadaku?” Serunya antusias.
“Ya,gimana mau cerita? Orang kamu saja baru siuman sekarang.”Sahut pemuda itu pasrah.
Diego tersentak,“Eh! Ya,ya..Maafkan aku bro! Sebab pikiranku terlalu kacau untuk hal yang satu ini.”Ucapnya menyesal.
Danang terlihat berpikir,“Ya,wajar.Aku memakluminya.”Sahut Danang.
Diego memicingkan mata,“Pasti calon kakak iparku itu sangat cantik ya.” Timpalnya menerawang.
“Entahlah!” Danang mengedikkan bahu.
Danang menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya ditekuk sempurna. Ia masih tidak percaya akan apa yang baru saja dialami sore tadi. Danang menceritakan secara persis kronologi pertemuan antara ia dan keluarganya dengan keluarga gadis bernama Lian yang dijodohkan oleh Papa dan Mamanya itu. Mendadak sempat membuat kening Diego mengerut dan sukses memicing tajam mata elang miliknya, "Lian?"
Sekilas ia memandang Diego,"Kau tahu Dy,aku tidak suka dia membandingkanku dengan anak sialan yang ia maksudkan itu."
Diego tertawa renyah sembari memegang perutnya.Matanya memerah dan berair menahan tawa.Untuk sejenak ia melupakan masalah yang sedang menghimpit.
"Nggak lucu tau!" Seru Danang cemberut melihat Diego berekspresi meledek.
"Bro! Kau bilang apa tadi?Tidak ingin dibandingkan dengan anak sialan itu?"Balas Diego masih terkekeh.
"Iya lah! Masa jalan sama aku kok mikirnya sama orang lain.Apalagi yang dia bandingkan dengan si anak sialan tadi."Gerutunya kesal.
"Tunggu dulu! Aku menangkap ada sesuatu yang salah disini.Kau tidak seperti biasanya.Aku rasa kau sedang cemburu.Hahah! "Ucap Diego tertawa renyah.
"Apa? Nggak salah tuh?" Nyinyir penuh sarkas.
"Lalu apa kau tahu anak sialan yang dia maksudkan itu siapa?"Diego kembali memastikan.
Danang mengedikkan bahu,"Yang aku dengar dari obrolannya dengan Salsa tadi dia bilang kalau anak sialan itu klien papanya yang mereka temui pagi tadi."
"Hmm..." Diego manggut-manggut , 'Lalu kenapa hari ini aku bertemu banyak Lian? Apa Lian yang dimaksud Danang, juga orang yang sama?"
•••
Dinihari....Hospital Queen ruang VVIP.
Senyum fajar kembali mengulum meminta mencerahkan harinya.Kedua pemuda itu berjalan melewati koridor rumah sakit dalam suasana dingin yang mencekam pori-pori.Diego dengan gugupnya mengekori Danang satu langkah dari belakang. Keduanya memasuki ruang VVIP dan didalamnya sudah berjejer wajah-wajah yang sangat dikenalnya.
Ada Karin yang masih tertidur pulas di pembaringan.Ada papa Haikal,mama Nadine,Opa Jery,kakak Tama dan kakak Farah.
Diego menatap intens kepada tiga orang lagi yang tidak lain adalah keluarganya sendiri.Papa Fahmi,mama Cyntia dan juga kakak David tengah memasang wajah tenang kearahnya.
Sementara di ujung pembaringan duduklah seorang pria tua di atas karpet yang telah disediakan.Pria tua itu yang akhirnya diketahuinya sebagai penghulu yang akan menikahkan dirinya dengan gadis yang sedang terlelap dipembaringan itu.
__ADS_1
Oleh karena mendengar suara berisik disekitarnya,Karin akhirnya mengerjap dan terjaga dari tidur lelapnya.Sejenak iapun kaget dan mengernyit bingung melihat pemandangan yang sangat asing baginya.Akan tetapi ia memilih bungkam karena melihat wajah calon mertua dan kakak iparnya juga ikut dalam pertemuan tersebut.
"Selamat datang nak Diego." Sapa papa Haikal ramah.
"Ya paman,terimakasih." Jawab Diego sopan.Suaranya hampir tercekat diserang hawa dingin.
"Apa kau sudah siap nak?"Tanya papa Haikal siaga.
"Ya, Aku sudah siap paman."Jawab Diego memantapkan hatinya.
"Ayo! Silahkan maju ke depan."
Sesuai dengan kesepakatan keluarga maka untuk menyanggupi permintaan Diego yang ingin membawa Karin berobat ke luar negeri maka dari itu Diego haruslah menikahi Karin terlebih dahulu agar perjalanan mereka nanti tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari.Selain itu juga demi mempermudah urusan pengobatan dan penyelesaian administrasi disana.
Di depan penghulu Diego duduk menghadap sembari menerima uluran tangan sang penghulu dan membiarkan tangannya digenggam erat!
_
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Karin Dhiyana Haikal Jolly dengan maskawinnya yang tersebut dibayar tunai!"
Kemudian sang penghulu melemparkan pernyataan pengesahan kepada para saksi dan dijawab serentak oleh mereka. 'SAH!'
Ucapan doa syukur dipanjatkan kepada sang EMPUNYA jodoh,ajal dan rezeki. Berharap agar perjalanan bahtera bagi sepasang anak muda yang sudah siap berkomitmen meskipun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.Mereka rela menjalani keterpaksaan ini dan mengawali perjalanan panjang mereka dengan rintangan yang cukup rumit dan mendebarkan.
Diego mengulurkan tangannya kepada Karin dan gadis itu menerima uluran tangannya sembari mencium punggung telapak tangan pemuda yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan genangan air mata yang kian bercucuran. Sejenak Diego mendaratkan kecupan ringan dikening gadis itu.Kemudian membisikkan ucapan terimakasih ke telinganya dengan lembut.
"Percayalah padaku sayang! Kita berjuang bersama ya, dan kau akan segera sembuh!" Bisiknya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.Disambut dengan anggukan mantap dari sang isteri yang masih lemah tak bertenaga.
Maka resmilah hubungan kedua anak muda itu demi memuluskan perjalanan mereka ke luar negeri.Untuk mendapatkan pengobatan terbaik buat sang isteri.
Semua keluarga yang hadir ikut mengucapkan selamat kepada Diego.Tama dan David tampak memeluk sang adik sembari memberikan penguatan kepadanya dengan menepuk bahunya berkali-kali.
Diego yang meminta restu dari kedua orangtuanya mendapat pelukan hangat dan tangis yang tidak tertahankan dari sepasang insan yang telah melahirkan dirinya itu.
"Terimakasih banyak paman dan bibi.Kalian sudah percaya kepadaku."Ucap Diego sembari mencium tangan papa Haikal dan mama Nadine.Wanita paruh baya itu segera membawa Diego kedalam pelukannya dengan airmata yang bercucuran.
"Sama-sama nak.Maafkan bibi juga ya."Jawab mama Nadine.
"Bibi tidak perlu meminta maaf.Aku yang seharusnya meminta maaf kepada bibi.Aku janji akan menjaga Karin dengan segenap jiwa dan ragaku hingga ke akhir hayat."Ucap Diego mantap dengan bulir bening yang berhasil lolos dari pertahanannya.
Ucapannya tersambut kata 'Aamiin' oleh semua keluarga yang hadir dengan derai air mata penuh haru.
Diego melihat Danang yang mendekatinya menatap haru.Keduanya saling melemparkan senyum lalu kemudian berpelukan.
"Terimakasih untuk semuanya bro!"
"Ya,sama-sama.Sekarang kau adikku."Ucapnya pelan.
"Dan kau kakakku." Balas Diego lirih.
Keduanya tersenyum sembari bersalaman dengan tangan yang membentuk kepalan tinju.
•••
Karin POV
Beberapa Menit sebelum kecelakaan terjadi.
Aku meninggalkan pusat perbelanjaan itu dengan seribu perasaan yang berkecamuk.Sesaat setelah pembicaraan pendek antara aku dan kak David terjadi.Sepertinya ia sangat mengkhawatirkan keadaanku.Kuakui saat itu sebenarnya aku juga merasa diriku sedang tidak baik-baik saja.Kak David menawarkan bantuan untuk mengantarkanku ke rumah sakit karena tujuanku memang ingin kesana.Namun aku menolaknya mengingat saat itu aku bukannya sendirian melainkan bersama dengan paman Rul supir pribadi keluarga kami.
Di dalam mobil aku tak henti-hentinya meraba pelipisku yang perih akibat terkena tamparan keras oleh wanita jahat itu.Entahlah sebenci apa dia kepadaku yang jelas aku melihatnya begitu beringas saat ingin menerkamku.Kupasrahkan keadaanku dalam ketidakberdayaan hingga Tuhan mengutus seorang dewa penolong yang datang tepat waktu untuk menolongku.
Ya,kak David yang ternyata sangat peduli padaku dan dialah umpama dewa yang telah menyelamatkanku dari serangan membabi butanya Elyca.
'Serumit inikah perjalananku bersama Diego?Apa benar semua ucapan Elyca tentang Diego?Benarkah Elyca itu kekasih Diego selama di London?’ Batinku lirih.
Entah seperti apa perasaan Diego terhadap Elyca,tidak pernah kuketahui karena memang aku tidak pernah mengetahuinya sama sekali.Bahkan Diego saja tidak pernah bercerita apapun tentang Elyca kepadaku.Dan Aku baru saja mengetahui dari ceritanya sendiri kalau dia adalah kekasih seorang Diego Hedy selama mereka sama-sama di London.Sedekat itukah mereka berdua hingga Elyca mati-matian mepertahankan hubungan cinta seperti yang disebutkan olehnya tadi?
'Akh! Aku harus bertanya langsung kepada Diego tentang hal ini.Diego harus bertanggungjawab karena wanita itu telah menamparku gara-gara ingin mengambilnya kembali kepelukannya.’ Gumamku pelan.
Lamunanku tersentak manakala mendengar suara benturan keras mengenai belakang mobil yang membawa aku dan paman Rul.Aku sempat berteriak karena sangat kaget dan panik.Paman Rul tiba-tiba bersuara memanggil namaku dengan nada gemetar.
“Nona Karin..Nona Karin,sepertinya mobil dibelakang itu sedang mengejar kita.” Ujarnya dengan nada khawatir.
Sesaat aku menoleh kebelakang,sepertinya ucapan paman Rul memang benar karena mobil itu terlihat makin dekat dan begitu memaksa mencari cela agar bisa menutupi haluan kami. Paman Rul yang berpengalaman sebagai seorang supir sejak puluhan tahun mengabdi kepada opa Jery mengaku baru kali ini ada mobil yang nekad ingin mencelakainya.Akan tetapi siapakah mereka?
“Paman,apa paman punya musuh sebelum ini?”Tanyaku dalam kepanikan dan takut yang mendalam.
“Ti_tidak nona,paman merasa tidak pernah punya musuh samasekali.” Jawabnya gugup sembari berusaha mengontrol setir.
Kepanikan kini merajai kami berdua.Aku dan paman Rul sama-sama merasa kaget bukan kepalang.
‘Mama,papa,kakak,tolong Karin...’
‘Diego! Kau dimana? Tolong aku Dy!’
Gumamku tak menentu..
Tatapanku sedikit mulai nanar.
Sementara mobil hitam yang semakin dekat jaraknya dengan kamipun tidak segan-segan mempersempit jalurnya paman Rul lalu kemudian membenturkan keras badannya ke samping mobil kami tepatnya di pintu samping tempat paman Rul berada.Gesekan keras dan gerakan kasar itu membuat aku berteriak keras dan mulai menangis sejadi-jadinya.Berharap agar sesuatu bisa segera menolong kami.Ketakutan kini telah merajaiku.Airmatapun kian berlinangan tak tentu arah. Dalam pikiranku sekarang hanya ada detik kematian yang bakal menjemputku dengan cara yang begitu sadis.
‘Tuhan tolong aku!’ Batinku hilang akal.
Ketakutanku semakin menjadi ketika aku melihat mobil tersebut dengan beraninya mengambil akses jalur kami.
“Pa_paman,mobil itu sengaja mengambil jalan kita!”Pekikku keras.Ucapanku menjadi sangat cepat!
Sesaat aku melihat paman Rul yang sedari tadi berjuang menghindar malah semakin ditekan.Kali ini ia berusaha melawan dengan cara mempercepat laju mobilnya.Namun naas menimpa.Secara bersamaan mobil tadi juga mendadak mempercepat lajunya sehingga ia kehilangan kendali.Siapa sangka kalau mobil itu tiba-tiba menyalib lalu kemudian menabrak pembatas jalan.
“Nona Kariiinn!”Teriak paman Rul yang mulai lepas kontrol.
Berhubung jaraknya sudah terlalu dekat membuat paman Rul kehilangan kendali. Berusaha rem,tidak kuat.Berjuang rem lagi tapi semakin tidak kuat! Dalam hitungan detik,makin dekat,makin dekat lalu akhirnya jedearrrr!
Tatapanku mulai nanar.Mataku berkunang-kunang.Aku merasa seakan masuk kedalam dunia mimpi yang membawaku kepada suatu tempat yang sangat sempit dengan kedalaman jurangnya tingkat dewa.Jalan bebatuan bertuber curam itu kemudian perlahan membenturkan kepala dan sekujur badanku sehingga duniaku seketika menjadi gelap gulita.
“Paman Ruulll....!!!” Teriakku samar.
Dalam gelapnya dunia, yang kurasakan saat itu seperti ada suara-suara aneh yang berteriak tidak jelas sembari memanggil-manggil namaku.Yang jelas adalah suara-suara tersebut disertai dengan isak tangis yang memilukan.Terkadang aku merasa bahwa suara tersebut seperti suara mama,papa,kakak,bahkan suara Diego dan juga Danang.Opa juga tidak ketinggalan.Ingin rasanya aku menjawab namun ketidakberdayaan kembali merajaiku.Lidahku terasa kelu,suaraku seakan hilang dan mataku sulit untuk dibuka.
Hingga disaat aku mendengar suara gemericik tetesan embun dari atas genteng turun menyapa tanah.Suara embun yang sesaat ingin mengajak tanah untuk bercengkerama ria sekedar memadu asmara dan melepas rindu.Begitu jelas dipendengaranku.Sejenak membuatku teringat pada seseorang yang tidak begitu jelas wajahnya bagi penglihatanku akan tetapi namanya tertera begitu jelas didalam otakku.Hatiku memaksa untuk segera menyebut nama itu.’Diego!’ Ucapku lirih.Namun karena wajahnya yang sangat tidak jelas membuatku mulai bertanya-tanya dalam hatiku siapakah dia?
Sejenak kudengar suara yang memanggil-manggil namaku sembari menangis haru.Terucap kata syukur berkali - kali dibibirnya.Sesaat aku berusaha merekam suara tersebut di pendengaranku hingga akhirnya jelaslah bahwa itu suara mama yang sedang memanggilku.Belum sempat kumenjawabnya tiba-tiba bayangan tragis itu datang tanpa belas kasihan lalu dengan sumringah menghantam jiwa dan ragaku sontak naik ke batok kepalaku kemudian membuat semuanya terasa begitu perih, sakit dan berkunang-kunang.Tulang belulangku terasa remuk redam.Mataku seketika panas dan berair.Aku merasa bahwa sakit yang tiba-tiba menyerangku bukan kepalang lalu aku mulai berteriak tak menentu hingga kulihat ada kelebat bayangan beberapa orang yang berpakaian serba putih dan ada seorang lagi diantaranya berjas putih datang menyapaku lalu aku merasakan duniaku kembali gelap dan semua kelebat bayangan tersebut hilang dari pandangan.
Aku merasa bahwa kali ini aku seakan hanyut terseret arus deras yang mulai membawaku ke dasar lautan lepas dimana terdapat hunian para ikan buas disana.Aku berusaha sekuat tenaga melawan derasnya arus yang menghantam tulang belulangku tanpa ampun.Berjuang tanpa mengenal lelah sedikitpun karena bagiku tidak ada yang lebih penting saat ini selain daripada selamat dari terpaan badai yang merajalela.Aku ingin segera terdampar ke tepian agar bisa pulang ke rumah secepatnya.Aku ingin tidur dipangkuan mama Nadine tercinta.
'Mama,Karin lelah!' Gumamku lirih sembari menahan air mata yang siap sedia untuk menetes.
Hingga akhirnya aku benar-benar sadar dari masa kritis itu.Kulihat ada papa yang sedang tersenyum menatapku.
"Putri kecil papa sudah bangun hmm."Ucap papa disela tatapan berkaca-kacanya.
Satu persatu keluargaku menjenguk dan memberiku semangat dan dukungan. Tidak ketinggalan Diego yang datang kepadaku namun rasa tidak percaya diri tiba-tiba menghantuiku.Aku merasa perlu memastikan sendiri apakah dia bisa menerimaku apa adanya.Apalagi soal pernyataan Elyca yang mengatakan bahwa Diego adalah miliknya.Membuatku semakin merasa hilang kepercayaan akan diriku sendiri juga hilang kepercayaan kepada Diego yang selama ini kuanggap sebagai sosok pengayomku.Namun satu hal yang membuatku terkesima adalah dia rela melakukan pernikahan sederhana itu demi untuk menjagaku.
•••
Bersambung.......
__ADS_1
*****
Hai jumpa lagi..😍😍 Maaf up nya selalu lama.soalnya ada adik kecil yang lagi lucu-lucunya di rumah...Rewel sih..hehe..semangat lanjut....🙏😍