Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Rindu Keluarga dan Sahabat


__ADS_3

Selamat membaca 🙏😍


Langit teduh Kota S....


Kutatap lekat wajah lelaki yang tertidur pulas disampingku.Ada gurat lelah yang terpampang jelas di raut wajahnya.Dan juga kantong mata yang menghitam di bawah pelupuk mata yang sedang tertutup itu.Kalimat sakral ijab kabul yang dilafazkan secara langsung dari bibirnya itu masih terngiang jelas dipendengaranku.


Semangat serta rasa percaya dirinya yang kuat di hari itu seakan menceritakan kepadaku bahwa ia sedang tidak main-main dengan keputusannya untuk menikahiku meski dalam keadaan memprihatinkan.


Dia benar-benar menjaga hati dan perasaanku.Satu hal yang membuatku bertanya dalam hatiku adalah mengapa ia begitu rela membawaku ke negara orang hanya untuk menjalani pengobatan lanjutan padahal sebenarnya semua ini bisa dilakukan oleh keluarga besarku.Dia tidak perlu susah payah menjalankan pernikahan sederhana itu hanya demi diriku.Sedangkan konsep pernikahan yang telah direncanakan oleh pihak keluarga besarnya adalah konsep mewah yang serba gemerlap mengingat ia adalah generasi ke dua perusahaan milik sang ayah yang tealh mendunia itu.


Lantas hanya demi aku dia rela melepas konsep kemewahan pernikahan itu.Ia sanggup meninggalkan pekerjaan untuk jangka waktu yang tidak ditentukan hanya untuk menemaniku kemari.Meskipun ia mengaku bahwa ia bisa bekerja dari luar negeri namun aku merasa ini tetap saja tidak adil bagi dirinya.Ia rela mengikutiku ke sini hanya untuk memberikan dukungan dan penguatan kepadaku agar lekas sembuh dari luka-luka dan juga trauma pasca kecelakaan yang menghantui hari-hariku.


Berbagai macam upaya yang ia lakukan termasuk mencurahkan kasih sayangnya kepadaku.Menggantikan perban yang masih membalut di tubuh dan kepalaku.Entah keberapa kali ia melakukan hal tersebut semenjak kami menginjakkan kaki di negara ini.


Jujur saja bahwa kasih sayang yang ia curahkan tanpa luntur sedetikpun membuatku benar-benar membumbung tinggi.


'Akh,ini seperti mimpi.' batinku.


Kini hanya ada kami berdua di dalam ruangan yang pada akhirnya kuketahui sebagia ruang VVIP Hospital Healthy negara S,karena selama dalam perjalanan kemari aku diberi obat penenang dan tidak tahu persis bagaimana caranya aku bisa sampai kemari.Dan kami berada di sini sejak kemarin malam.Aku merasa pergerakanku sangat terbatas mengingat sekujur tubuhku terbelit kain kasa putih yang bernama perban.Hatiku benar-benar sakit menyadari ketidakberdayaan diriku sendiri.


Bayangan kecelakaan itu selalu muncul di dalam mimpiku membuatku susah untuk memejamkan mata jika tidak diberi perangsang tidur.Perasaan takut dikejar mobil hitam yang diikuti oleh wajah-wajah beringas pengemudinya yang menyeringai serta tampang sombong seorang Elyca yang tengah menyeringai angkuh membuat hati dan jiwaku meronta bak tersayat sembilu hingga bersimbah darah dam juga wajah panik paman Rul yang berjuang mengontrol keseimbangan mobil namun pada akhirnya ia lepas kendali serta mobil yang menyalib begitu saja menabrak pembatas jalan kemudian membentur keras yang menghantam segenap jiwa dan ragaku itu selalu saja menghantui mata hati dan pikiranku.Membuatku kerap menangis tak menentu dan menjerit-jerit tidak karuan.


Dalam pikiranku sekarang hanyalah ibgin berteriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan semua rasa yang berkecamuk di dalam hati dan otakku.


Kupandangi lagi wajah yang selalu membuatku merasa tenteram bila bersamanya,


'Mengapa dia begitu yakin untuk menemani dan menjagaku?Padahala aku tidak pernah meminta kepadanya melakukan hal demikian.' Gumamku susah hati di sela air mata yang kian berlinangan.


Berdasarkan vonis dokter bahwa aku mengalami sedikit keretakan pada tungkai yang membutuh waktu beberapa bulan untuk proses penyembuhannya.Selain itu juga benturan di kepalaku tersebut. Meskipun ianya tidak mempengaruhi kinerja sistem syaraf otak kecilku namun tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh kepada trauma pasca kecelakaan yang bakal membuatku kesulitan dalam menjalani hari-hariku dengan baik.


Itu sebabnya dokter agar aku menjalani terapi psikologi serta mengonsumsi obat anti depresan sebagai pereda rasa cemasku yang berlebihan dan juga susah tidur akibat mimpi buruk yang kualami.Obat-obatan tersebut aku konsumsi dalam beberapa minggu sesuai takaran yang diberikan langsung oleh dokter.


Kuakui memang cukup sulit menjalani semua ini.Terkadang perasaan menyerah itu datang secara bertubi-tubi.Apalagi perasaan tidak percaya diri yang kualami sekarang membuatku merasa ingin pergi jauh dari kehidupan Diego yang notabene memiliki segala kelebihan dalam dirinya yang nyaris sempurna.Lalu bagaimana ia bisa menerima kekurangan diriku ini.Ditambah lagi keretakan pada tungkai dan juga bekas luka lecet di sekujur tubuhku membuatku makin merasakan yang namanya minder.


Namun sejauh ini kuperhatikan dia yang selalu menemani ini tidak pernah meninggalkan diriku.Jangankan sehari,safu jam pun ia tidak pernah melakukannya.Yang kuketahui adalah ia selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadaku selayaknya sebagai pasangan suami isteri yang sudah lama menikah.


Meskipun diriku terkesan uring-uringan dalam menerima perlakuan baiknya itu.Ya,mungkin saja karena itu hal baru bagiku dan juga pengaruh sari rasa minder yang kualami,namun dia tidak pernah menyerah sedikitpun.


Semakin aku berontak dan menangis kemudian mengusirnya pergi,maka semakin pula ia bersikap lembut dan manis kepadaku.


Hal inilah yang menjadi alasan utama bagiku untuk tetap berjuang agar bisa sembuh secepatnya.


"Ayolah sayang,berjuanglah demi aku,demi cinta kita,atau paling tidak demi dirimu sendiri."ucapnya lirih seraya memelukku erat di sela tangisku yang kian menjadi.Kurasakan juga sisi rapuhnya yang hampir mencuat karena di situ aku melihat kabut samar yang membalur di kelopaknya saat ia menatapku dalam.


Namun dia lah yang membuatku merasa memiliki kekuatan baru untuk bangkit dari keterpurukan walau hanya dengan memandang dirinya saja.


Saat ini aku jauh dari papa,mama,kakak,opa dan juga oma.Atau bahkan dari Danang sahabat dan sang motivatorku itu.Namun berkat dia aku merasa tidak sendirian.Bahkan setiap perasaan dan kasih sayang yang diberikannya telah membuatku merasa bahwa dialah suami,dialah orangtua,dialah keluarga dan dialah sahabat.Akibat dari itu proses pemulihanku juga berjalan apik dan kini kurasakan bahwa perlahan diriku mulai sembuh.


Di minggu ke lima,luka di badanku sudah mulai mengering.Satu persatu perbam mulai dilepas dari sekujur tubuhku.Kini tinggal bagian kepala yang masih harus menunggu proses penyembuhan luka.Di minggu ke enam aku diperbolehkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan.Diego membawaku pulang ke apartemen milik keluarga besarnya di pusat kota S.Di sinilah kami menghabiskan waktu selama berbulan-bulan sembari menunggu proses kesembuhanku secara permanen.


Kutatap ulang-ulang wajah yang telah merawatku dengan baik.Ada raut lelah di sana.Namun yang membuatku yakin dan beropini saat ini bahwa ia sedang baik-baik saja.Karina meski dalam keadaan tertidur pulas,akan tetapi bibir keringnya itu tetap menyungging senyum memukaunya.Senyum yang selalu membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya.Senyum yang memaksa sebagian wanita seperti Elyca rela melakukan apa saja demi mendapatkan senyum dan hati itu.Dan senyum yang bagiku sangatlah berarti.Bahkan aku merasakan kekuatan senyumnya itu berhasil menular kepadaku untuk ikut tersenyum dan seketika mengubah mood ku yang lagi kacau menjadi baik,bahkan sangat baik.


Namun entah mengapa,ketika di hadapannya aku merasa malu untuk mengakui semua itu.Malu kalau sampai ia mengetahui bahwa aku sering mencuri pandang wajahnya ketika ia sedang tertidur begini.Namun ketika ia dalam keadaan terjaga aku lebih memilih diam dan menyimak setiap tindakan dan ucapannya.


Asli bahwa wajah itu terlihat tampan dan menggoda meski dalam keadaan tertidur sekalipun.Dan sama sekali tidak mengurangi nilai ketampanannya.Perlahan kupupuk kekuatanku lalu jemariku berusaha membelai lembut rambut tipis yang menghiasi tempurung kepalanya turun menjelajahi pelipisnya.Awalnya ia hanya menggeliat namun tidak terjaga.Lama kelamaan ia mulai mengerjap dan di setengah kesadarannya ia semakin tersenyum melihatku lantas sigap merebut jemariku ke dalam gengamannya.


Tidak lama kemudia ia menghadiabkan kecupan manis di punggung telapak tanganku berlanjut berpindah ke kening yang kurasa itu adalah jatah setiap saatku seakan ia menancapkan ribuan bunga yang menempel di kening dan pucuk kepalaku. Seketika membuat perasaanku ikut membumbung melangit.


"Maaf sayang,aku ketiduran,"ucapnya di sela kesadaran yang mulai penuh.


Aku mengangguk pelan dengan ekspresi yang merona namun jarang berkomentar karena untuk berbicara dengannya saja lidahku seakan kelu dan tidak kuat menahan gejolak panas dingin yang menggerogoti hati dan jiwaku.Hanya saja dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu.Mungkin dikarenakan kondisiku yang membutuhkan perhatian khusus ini sehingga ia tidak pernah menuntut sesuatu yang berlebihan dariku.


Hanya sesekali ia meminta kepadaku untuk tersenyum kepadanya dan menjawab pertanyaannya meskipun lebih banyak yang tidak ingin kujawab.Jika ditanya mengapa,jawabannya karena aku merasa sangat risih dan malu mengingat di apartemen ini hanya ada kami berdua.


Meskipun kami berdua sudah berstatus sebagai suami isteri namun sama saja karena pernikahan yang kami jalani itu atas desakan suatu keadaan yang membuatku siap atau tidak siap harus menerimanya.


Entah dari dia sendiri bagaimana yang jelas diriku merasa tidak enak hati dan sangat khawatir jika dia menerimaku hanya berdasarkan perasaan iba atau belas kasihan dan bukan berlandaskan cinta tulus yang pernah ia ungkapkan ketika sebelum kecelakaan itu terjadi.


Jika memang itu benar adanya maka akulah orang yang paling bersalah di dalam hubungan ini karena diriku maka ia rela berkorban.Dengan keadaanku yang begibi membuat rasa percaya diriku semakin pupus.


Rasa malu menggerayangiku dan terkadang ingin sekali aku menjauh darinya.Akan tetapi dia yang selalu peka terhadap hati dan pikiranku juga perasaanku malah membuatnya semakin bersikap baik dan lembut kepadaku.Hal inilah yang membuatku merasa tidak sanggup untuk bertindak demikian apalagi menyakitinya dengan cara yang tidak ia inginkan.


Karin POV end


•••


Waktu berlalu begitu cepat.Tanpa terasa kini masuk bulan ke tiga Karin menjalani masa-masa penyembuhan di negara S.


"Sayang,ayo buka mulut,aakk..."Diego meletakkan pil di lidah Karin,"minumlah obatnya."pintanya lembut sembari menempelkan gelas ke mulut gadis itu dan membiarkannya meneguk beberapa tegukan isi dari gelas tersebut.


Sejenak,ia pun memandang wajah gadis itu dengan penuh rasa kasih sayang,menyibak rambut yang menutupi setengah wajahnya kemudian merapikan bingkaian wajah tersebut lalu mendaratkan satu kecupan manis dipucuk kepalanya.


Karin menatap sendu ke bola mata Diego.Sesaat kemudian ia membuang pandangan ke sisi lain dengan tatapan kosong.


"Sayang,apa ada sesuatu beban yang merajai hatimu?"tanya Diego ingin tahu.


Sesaat Karin hanya menggelengkan kepala seraya menunduk dalam.


"Katakanlah sayang,apa yang ingin kau sampaikan hmm,"mengecup keningnya,"aku akan setia mendengarkanmu."lanjutnya seraya mengecup kembali kening itu berulang kali.


Sorotnya turun menatap lekat ke mata yang wajahnya ditangkup oleh kedua tangannya yang kekar.Berharap agar gadis itu segera berbicara kepadanya.


"A_aku hanya merindukan orang rumah."


"Apa kau ingin bertemu mereka secepatnya sayang?"


"Ya."Karin menjawab singkat.


"Maka kita akan segera pulang sayang."


"Benarkah itu?"


Diego mengangguk pasti.Baru kemarin dokter menyatakan bahwa isterinya telah sembuh total.Dan sudah waktunya untuk segera pulang dan berbaur kembali dengan keluarga besarnya agar hatinya tidak kesepian lagi.


Diego memperhatikan wajah sang isteri yang tersenyum bahagia manakala mendengar dirinya sudah diperbolehkan untuk pulang le rumahRaut rindu kian memancar di wajah oval yang terlihat menirus dengan tulang pelipisnya terlihat menonjol.


Diego mengakui bahwa isterinya memang terlihat semakin kurus sejak ia sakit.Namun ia percaya bahwa isterinya pasti akan kembali lagi seperti dulu.


"Ayo,tunjukkan sekali lagi senyum indah itu kepadaku."bisiknya ke telinga gadis itu,"aku merindukannya."lanjutnya lirih membuat gadis itu seketika menatapnya lekat lalu melemparkan kembali senyum terindahnya.Sesuatu yang sangat langka baginya.


Demi melihatnya tersenyum saja pemuda itu harus menempuh berbagai cara untuk meluluhkan hatinya barulah ia mau tersenyum.Namun pemuda itu tetap bersabar dan pantang menyerah. Berbagai upaya ia lakukan meskipun hanya sesekali gadis itu bisa tersenyum kepadanya.Ia tetap bersyukur dan berjuang kembali.


Diego memeluk erat tubuh mungil gadis yang berat badannya menurun secara drastis itu,"Ya sayang,semua itu kulakukan


sebagai bukti cintaku padamu." Bisiknya pelan ke telinga gadis itu,"Apa kau tahu betapa pentingnya kau dihatiku ini hmm..."Lanjutnya sembari menghirup" dalam-dalam aroma tubuh mungil yang dipeluknya.Kemudian sesaat ia memberi jeda ke atas ucapannya tanpa melepaskan masing-masing tubuh yang kekurangan nutrisi itu dari dekapan erat satu sama lain.


"Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu."Lanjutnya lirih ketelinga pujaan hatinya.


Sesaat ia sangat ingin bertahan dalam dekapan hangat tersebut tanpa membiarkan seseorang diantara mereka menguraikannya,"Sayang,biarkan kita seperti ini sebentar saja.Aku rindu!" Pintanya lirih sembari mempererat daya pelukannya.


"Tapi aku susah bernapas Dy!"Ucap Karin memelas.

__ADS_1


"Oke,aku longgarkan.Tapi janji jangan lepaskan dulu ya.Kumohon!"Pintanya manja.


Karin yang masih tertunduk hanya bisa mengangguk pasrah membiarkan tubuhnya berada dalam dekapan sang suami.Membiarkan hembusan napas pemuda itu menjalar ke seluruh wajah dan telinganya bagaikan obat antibodi yang menyembuhkan setiap luka yang bertebaran di sekujur jiwa dan raganya.


Hingga terbang bersama angin malam yang berhembus memberi kesan damai yang menebar ke seluruh atmosfer ruangan.Membuat gadis itu tersipu malu karena merasa benar-benar telah jatuh hati kepada pemudanya.


"Sayang,apa kau tidak ingin membalas perasaanku sekarang juga?" Goda pemuda itu tersenyum nakal manakala melihat rona merah yang menyembul diwajah belahan jiwanya sesaat setelah ia menangkup wajah oval miliknya.


"Ihh! Kau ada-ada saja." Balas Karin merona,"Katakan dengan cara apa aku harus membalasnya hmm?"Lanjutnya tersipu.


"Sayang,kita kan suami isteri."Ucap Diego sesaat setelah mengecup singkat bibir itu,"Dan kau juga sudah sembuh"Lanjutnya memeluk erat tubuh Karin,"Apa kau tidak ingin merayakan hari bahagia ini bersama denganku sembari melewati malam pertama kita?"Ucapnya sambil menggesek-gesekkan raga vitalnya ketubuh sang isteri yang terbalut dengan baju piyama.


Diego memang sengaja melakukan kontak fisik dengannya sembari tersenyum menggoda.Berharap agar gadis itu semakin tersenyum dan kembali seperti dulu sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi.


Maka yang digodapun seketika kulit putihnya menjadi bertambah merah bak tomat segar yang siap untuk dijadikan lalapan segar.Wajahnya yang tersipu malu bagaikan kepiting rebus yang disiram dengan kari santan yang sangat pedas tapi nikmat.


Karin terkesiap,"Ugh!Sejak kapan kau mulai belajar mesum hmm?" Sergah Karin memukul dada bidang Diego karena merasa tidak terima diperlakukan demikian.


Diego tertawa renyah mengangkat kepala dan bahunya tinggi-tinggi melihat Karin mulai merespon balik candaannya.Ada rasa bahagia yang menyeruak disegenap hati yang pernah luluh lantak akibat peristiwa tragis itu.


Sesaat Diego berbalik menatapnya, "Sejak kalimat ijab kabul itu terucap dari bibirku ini." Lirihnya sembari menempelkan bibir keringnya ke bibir gadis tersebut.Kemudian menatap dalam ke bola mata bening yang masih terlihat cekung dan berkantung hitam itu.


Cup


Satu kecupan singkat mendarat kebibirnya.Lalu kemudian sigap membopong tubuh mungil itu menuju ke ranjang.


"Tidurlah sayang,ini sudah malam." Ucapnya sesaat setelah mengajak isterinya berbaring.


Tidak butuh waktu lama gadis itupun mulai berkelana ke alam mimpi dalam dekapan hangat sang suami diiringi merdunya nyanyian jangkrik dan buaian angin laut yang berpadu menjadi satu alunan syahdu yang disebut irama malam.


Ditatap lekat wajah gadis yang tengah larut dalam mimpinya.Wajah cantik yang jiwanya telah kembali seutuhnya.


•••


Waktu berlalu begitu cepat.Hari berganti,minggu berganti dan bulan berganti.


Diego si pemuda kharismatik yang selalu konsisten dalam segala urusan,dirinya benar-benar telah membuktikan kepada keluarga besarnya bahwa ia berhasil menjaga Karin dengan sepenuh hatinya.Bahkan tidak seharipun ia berani meninggalkan gadis itu sendirian.Berkat cinta dan kasih sayang yang ia curahkan kepada sang belahan jiwa maka proses kesembuhan gadis itu mencapai kemajuan yang terbilang cepat.


Tepat di bulan ke tiga Karin dinyatakan sembuh oleh pihak dokter.Tentunya setelah melewati beberapa upaya pengobatan termasuk menjalani terapi untuk menghindari trauma pasca kecelakaan.


Tangannya lincah menekan tombol ponsel miliknya.Sesaat kemudian terdengar sambungan telepon dari seseorang.


•••


Pagi itu,udara sangat bersahabat.Karin yang sedari tadi telah berdandan secantik bidadari sejak sebelum matahari terbit memilih untuk rebahan di kasur sembari menunggu kepulangan Diego.


Ya,sekitar dua jam yang lalu Diego berpamitan dengannya untuk pergi ke suatu tempat yang menurutnya ada hal penting yang harus ia selesaikan sebelum keberangkatan pulang mereka.Dan Karin meng-iakan tanpa bertanya lebih lanjut.


Semenjak keberadaan mereka di negara tersebut,maka ini merupakan kali pertama Diego keluar dari apartemen tanpa penjelasan mendetil.Meskipun dihatinya rada penasaran dengan kepergian Diego namun ia memilih untuk tidak mempertanyakan hal itu kepadanya.


Dua jam lebih telah berlalu namun Diego masih belum menampakkan batang hidungnya.Baru dua jam namun rasanya sudah seperti dua hari.Gadis itu memutuskan untuk melakukan sesuatu di dapur agar tidak terlalu jenuh menunggu.


‘Akh! Apa aku memasak saja ya?’ Gumamnya pelan.


Di pelataran apartemen,Diego baru saja menghentikan putaran roda mobilnya di area parkiran.Langkah gesit ia melangkah masuk ke lift sembari melirik arloji di tangannya kemudian menekan tombol pada angka dua puluh enam dimana tempat ia dan Karin menginap disana.


'Hampir tiga jam.Karin pasti sudah menungguku.’ Batinnya.


Sementara di dapur,Karin mulai mengecek seisi dapur yang terlihat sangat rapi.Diego memang telaten selama tiga bulan keberadaan mereka di kota ini.Tidak heran jika memang apartemen seluas dua kali lipat dari apartemen biasa itu tetap terawat dengan baik.Soal jatah makan selama mereka disana Diego selalu membuatkan bubur sehat untuk mereka berdua dan terkadang Diegopun melakukan delivery order untuk dirinya sendiri jika memang ia ingin memakan sesuatu yang lebih spesial.


Betapa senangnya ketika ia mendapati ada berbagai jenis seafood yang masih dalam keadaan segar di dalam kulkas seperti udang,kepiting,kerang,cumi dan juga gurita.Dan juga sayuran segar menyejukkan mata.


‘Kapan Diego menyediakan semua bahan ini?’ Ucapnya mulai kedengaran menggema di seluruh atmosfer ruangan apartemen.


Saking bahagianya ia sampai lupa kalau di apartemen itu tidak ada siapapun melainkan dirinya sendiri yang bertingkah aneh seperti si 'kurang waras'.Ia pun dengan penuh semangat berbicara sendiri sambil ketawa-ketiwi memperagakan gaya ala master chef dunia.


'Hmm..udangnya kubuat saos tiram,kepiting kari pedas,gurita saos merah dan juga sate kerang! Wah! Wah! Wah! Sedangkan sayur,akh! Cukup yang bening saja.hehe.. '


‘Oke.Dan sekarang,koki handal Indonesia ala grandma Hasna Setiawan siap beraksi!Hehe'


Pekiknya jingkrak-jingkrak bahagia.


Karin greget beraksi mulai dari menanak nasi,mencuci lalu membersihkan semua bahan kemudian mengawali langkah gesitnya dengan merebus kerang serta menyiapkan semua jenis bumbu untuk setiap masakannya.


Selama kegiatan memasak Karin terlihat begitu bahagia dan sesekali tertawa riang menanggapi setiap kalimat candaan yang diucapkan untuk dirinya sendiri.


Tanpa ia sadari setiap gerak-geriknya sedang diperhatikan oleh Diego yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu.Namun karena keasyikan menikmati dunianya sendiri membuat ia tidak menyadari keberadaan Diego disana.


'Ada apa dengan istriku? Apa dia baik-baik saja?' Gumamnya bingung rada panik.


Akan tetapi setelah ditelisik baik-baik ia baru menyadari bahwa ternyata gadis itu baik-baik saja.Hanya karena ia baru bisa beraktivitas kembali secara normal membuatnya kegirangan rada uring-uringan sendiri.Dan Diego mulai merasa lega akan hal tersebut.Ia memilih menepi sambil memperhatikan tingkah lucu nan menggemaskan sang isteri sebelum ia benar-benar menampakkan batang hidungnya di ruangan itu.


‘Dia terlihat begitu semangat!’ Gumam Diego tersenyum bahagia melihat tingkah lucu isterinya.


Empat puluh lima menit berlalu hampir seluruh menu masakannya siap disajikan.


Karin ingin memulai menata setiap hasil masakannya ke piring hidangan diatas meja.Satu persatu menu dihidangkan sembari berjingkrak ria kemudian ia melanjutkan ucapannya dengan sengaja mengajak berbicara kepada setiap menu yang siap ia sajikan seakan mereka adalah sekumpulan anak manusia yang siap mendengarkan semua ocehannya.


“Hai udang! Apa kau tahu Diego itu hebat! Dia sudah menyelamatkanku dari masa-masa sulit yang kualami semenjak peristiwa tragis itu,hingga pengobatan pasca kecelakaan dan aku bahagia! Aku harus berterima kasih kepadanya.” Ucapnya haru sebelum meletakkan piring hidangan diatas meja.


“Hallo cumi! Diego itu pria kharismatik yang terkenal.Keberadaannya selalu menjadi sorotan publik.Aku tidak ingin ikut-ikutan menjadi sorotan ketika bersama dengannya.” Serunya kalem kemudian meletakkan disamping menu udang.


“Hei Gurita! Kau tahu Diego itu selalu diburu para wanita.Ya,mungkin karena lilitan dan daya hisapnya dahsyat! Dan pastinya nakal tapi pengayom seperti lengan-lenganmu ini.Banyak orang yang berusaha untuk mendapatkan hatinya. Bahkan ada wanita seperti Elyca yang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dirinya.Akhirnya pipiku juga yang jadi korban keserakahannya.” Sergahnya geram sembari berkacak pinggang lalu menata piringnya disamping menu cumi.


“Heh kepiting! Kurasa Diego itu playboy! Kenapa begitu? Ya entah sejak kapan ia mulai suka berbuat mesum! Padahal awal kepulangannya dari London ia terkesan dingin dan mengabaikanku.Tapi entahlah!Setiap tindakan mesumnya itu selalu membuat wajahku memerah dan jelek seperti dirimu.hahah! Tapi sebenarnya kau cantik!" Celutuknya geram sembari mengarahkan telunjuknya ke arah mata kepiting lalu kembali menata disamping menu gurita.


“Oh kerang yang imut! Diego itu suamiku.Aku mulai mencintainya semenjak kami remaja.Dimana saat semua remaja yang mulai bercerita tentang cinta pertama mereka,aku menyadari bahwa Diego-lah yang menjadi cinta pertama di hati mungilku itu.Dan pertemuan terakhir kami ditaman waktu itu membuatku benar-benar merasa terpuruk selama satu dasawarsa.Tahun lalu dia pulang dan tiga bulan lalu ia menikahiku.Aku sangat bahagia.Apapun yang terjadi aku tidak ingin kehilangan dia.Apalagi sampai berbagi cinta dengan wanita manapun di dunia ini.Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar kami tetap bersatu dalam cinta sampai kami menua bersama.”Lanjutnya nelangsa berkaca-kaca.


Karin tersenyum lega karena setidaknya ia sudah menumpahkan segenap isi hatinya yang selama ini ia pendam bertahun-tahun lamanya.Ya,walaupun sekedar curhat kepada si sate kerang.ck ck ck.


Karin baru menyadari kalau makanan yang ia masak sangatlah banyak untuk ukuran dua isi perut.Membuatnya sukses terbelalak.


‘Wah! Bagaimana bisa sebanyak ini, hmm?’ Serunya kaget.


‘Siapa yang akan menghabiskannya?!’Serunya panik.'Akh! Diego kemana ya?Dia harus mencoba semua masakanku ini.Bila perlu dia yang menghabiskannya.’ Ucapnya sembari bersedekap ria dan mengerucutkan bibir.


Sementara Diego sedari tadi merem melek menyaksikan secara langung ulah dan perbuatan sang isteri yang terkadang mengundang tawa yang ditahan,menguras iba,mengharu biru kan suasana,sedih lucu bercampur gemas dengan dada dan hidung yang kembang kempis.Bibir yang tiada henti komat-kamit bergumam antara perasaan senang, sedih, haru,kesal tapi juga gemas dan lucu semuanya menyatu padu menjadi satu rasa yang disebut bahagia.


Karin mulai membolak-balik ponsel miliknya yang sudah diganti baru oleh Diego. Akibat kecelakaan tersebut membuat ponsel lama beserta kartunya ikut menjadi korban benturan hingga benar-benar remuk tidak berbentuk.Lalu ia segerakan jemarinya untuk memeriksa daftar kontak mencari-cari nomor kontak Diego. Namun yang ditemukannya hanyalah nomor kontak papa,mama,kakak,kakak ipar,opa,oma,Hanny dan juga Danang.


'What?Lalu nomor Diego kemana?’ Karin menepuk jidat.


'Ini sudah menjelang siang,kenapa dia belum pulang juga?’ Kebingungan.


‘Belum setengah hari ia pergi dari hadapanku. Rasanya sudah seperti setengah abad aku menunggunya.’ Karin bergumam pelan namun masih terdengar jelas.


'Diego kau dimana?’ Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Lalu tiba-tiba Karin melihat ada panggilan masuk yang berwajah 'nomor tanpa nama' di layar ponsel miliknya.


Ya,Diego sengaja melakukannya agar Karin tidak berpikir yang macam-macam tentang dirinya.

__ADS_1


'Nah! Ini pasti dia.’ Pekiknya terlonjak riang.


‘Baru saja disebut nama,orangnya sudah menelpon.Panjang umur anak mama, aamiin.’ Celotehnya tersenyum simpul.


‘Ugh!Benar-benar suami idaman hati! Hehe ' Celingak-celinguk rada khawatir akan peribahasa 'dinding bisa menguping.'


'Hmm..Calon papa siaga! Ihihihik!’ Lanjutnya tertawa cekikikan sembari menutup mulut dengan jemari.


“Apa kau bilang?!” Seru suara yang tiba-tiba muncul mendadak terjingkat. Diego yang sedari tadi sudah mulai tidak tahan dengan celoteh imut gadis itu akhirnya memutuskan untuk segera memergokinya.


Matanya membulat penuh manakala melihat tampang Diego yang berjalan mendekati sembari memandangi dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan kedua alis yang naik turun.Di tangan pemuda jangkung itu tengah menggenggam ponsel yang masih tersambung dengan ponsel ditangannya. Jantungnya berpacu ria jungkir balik.


Wajah tampan yang terpahat sempurna segak dengan senyum sumringah penuh kemenangan.Bibir kering yang menyungging miring tapi manis seolah memberi gambaran ingin mengejek bahwa dirinya hanyalah seorang gadis pengecut yang beraninya bicara sama kerang dan kepiting.


Sorot mata elang yang selalu membuat orang mati langkah itu sedang memicing seakan sedang meledeknya dan ingin memberitahu tentang fakta bahwa dirinya seorang gadis sinting yang terkena dampak negatif dari sebuah kecelakaan tragis sehingga membuatnya bicara sendirian tidak karu-karuan.


'Haishh!Mati kau Karin!’ Batinnya frustrasi.Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Kau tahu aku disini sejak tadi kan! Apa kau sengaja dan ingin menggodaku, hmm sayang?Katakanlah! Aku akan melayanimu dengan segenap jiwa dan ragaku.”Godanya tersenyum nakal dengan menaikturunkan alis manakala melihat Karin yang mulai panas dingin.


'Apa Diego pikir aku gila gara-gara over dosis ya?' Batinnya dalam-dalam.


“Jangan mendekat! Pergi dari sini!”Pekiknya keras dengan ekspresi menahan malu sembari menghentakkan kedua kakinya ke lantai.Namun sedikitpun tidak menyurutkan langkah pemuda tampan terpahat sempurna itu.Ia malah dengan agresif merentangkan kedua tangannya dan perlahan mulai mendekati sang isteri dengan langkah kecil.Sementara Karin yang terciduk hanya pasrah menerima pergerakan sang suami dengan napas satu dua.


“Isteriku,apa kau bilang tadi,hmm? Calon papa,hmm? ” Suara Diego menggelegar ke seluruh ruangan dapur bagaikan ingin menerkamnya bulat -bulat.


“Di_Diego,i-iya,se_sejak kapan kau ada disini?”Ucapnya panik melihat Diego yang tertawa menyeringai.


“Sejak kau mulai bertanya kapan aku menyediakan semua bahan segar itu.Aku sudah menghubungi petugas hotel milik papa untuk mengantarkan semua pesananku setiap jam enam pagi jika aku membutuhkannya. ”Jawabnya santai.


“Ja_jadi kau mendengar semua ucapan konyolku itu?” Tanya gadis itu mulai panik.


“Heeum..Iya..Lalu kenapa?” Jawabnya sembari tersenyum usil.


“Ti_tidak aku hanya memastikan saja.”Ucapnya gugup,”Kau tidak menguping setiap pembicaraanku kan?” Lanjutnya panik dengan wajah memucat.


Diego tergelak,“Aku tidak menguping tapi aku melihat dan mendengar semuanya dengan jelas.”Balasnya tanpa dosa.


Diego sudah siap merapatkan tubuhnya ke gadis yang sempat memilih mundur selangkah itu kemudian kedua tangannya menangkup bahu sang gadis. Disambut oleh gadis tersebut dengan perasaan malu yang membombardir segenap isi hatinya akibat si gasdis merasa terciduk.


'Sesuatu tolong aku!’ Batinnya pasrah.Kali ini asli membatin didalam hatinya.


Diego merendahkan pita suara,“Jangan takut sayang,sudah seharusnya kita saling memiliki.Dan perlu kau ketahui satu hal bahwa diriku juga mulai mencintai dirimu disaat yang sama seperti kau mulai mencintaiku.”Ucapnya sembari menatap dalam ke bola mata bulat sang isteri yang tiba-tiba berbinar.


Diego mendaratkan satu ciuman di keningnya lalu kemudian tangannya gesit menangkup rahang sang isteri.Menatap mata dan bibir itu.Perlahan mulai mengecup hangat dan lama ke bibir yang juga lama ia pandangi.Meninggalkan jejak gigitan kemudian menyesap manis isinya dengan penuh rasa candu seakan mampu menyalurkan energi positif dan nikmat gelenyar menjalar ke segenap jiwa raga kedua anak muda yang telah sah menjadi pasangan suami isteri tersebut.Seakan kekuatan energinya membahana ke seluruh atmosfer ruangan dan melanglang buana seisi alam meminta untuk dipenuhi tuntutannya.


Sejenak Diego melepaskan aksinya sembari membiarkan sang isteri mengatur napas ke rongga dadanya.Kemudian ia mengulangi hal serupa dan kali ini lebih lama dari sebelumnya demi mengobati luka yang selama ini menyayat hati dan sanubari.Keduanya sama-sama merasakan nikmat kasih sayang yang pernah terpendam selama bertahun-tahun lamanya lantaran tidak ada keterbukaan diantara keduanya.Kecupan dan ******* terjadi sepanjang detik hingga mereka benar-benar merasa kehilangan napas dan berusaha mengaturnya kembali.


“Kalau cinta..., bilang, sayang. Kenapa diam saja lalu curhatnya kepada udang, kerang,kepiting,gurita dan cu_hhm_mi, hhmm?” Bisik Diego lirih dengan mata yang berair sembari melepas setengah tawa gemas pada polah konyol sang isteri.


Diego gencar merangkai kata cinta ke telinga sang isteri sembari meniup nakal aroma napas maskulinnya membuat gadis itu seketika merasakan bagai digelitik. Gelenyar nikmat menjalar meningkatkan suhu basal raga dan jiwanya seakan meminta untuk segera dijamah.Seketika membuatnya nyaris kehilangan akal sehat.


“Dy,Dy,Dy! Hentikan ya,kumohon! Pintanya memelas.


“Tapi kenapa sayang?Bukankah kita sama-sama saling menginginkan ini?”Tanya Diego memancing sembari menahan tawa.


“Y-ya, tapi jangan sekarang.Aku tidak ingin merasakan sakit terlalu cepat setelah apa yang kurasakan berbulan-bulan lamanya.Dan ini baru sembuh.Ini membuat urat nadiku bakal putus Dy.Mengertilah sayang,please!”Lagi-lagi ia memelas.


Pemuda itu akhirnya mengakhiri candaannya setelah menyadari sang isteri sebenarnya masih memiliki ketakutan tersendiri,“Hmm..baiklah! Tapi kalau hanya pemanasan seperti yang baru saja terjadi.Boleh ya sayang, kumohon!”Pintanya manja.


“Ehm..Ya, ya,ya..Aku mengizinkanmu.Tapi lepaskan aku sekarang juga,kita makan dulu.Setelah itu kau bebas melakukannya.Oke.” Ucap Karin meleraikan aksi gencar sang suami.


Diego mengiakan dengan penuh rasa bahagia.Tersenyum memandang isterinya kemudian mendaratkan satu kecupan ringan di pucuk kepalanya.


‘Tuhan,jika begini terus aku bisa mabuk kepayang! Salahku juga pakai bicara melantur sendirian.Keras-keras lagi.’ Batin Karin menyesali kekonyolannya.


Sedangkan Diego sangat antusias menyambut sesendok nasi putih beserta lauk-pauk yang telah disiapkan oleh Karin sebelum disodorkan kepadanya.Lalu kemudian membawa sang isteri ikut duduk menempel disampingnya.


“Eum! Enak sayang,ini rasanya seperti menu di hotel favoritku.”Ucapnya tulus dan berbinar -binar.


“Oh ya?Kau punya menu dan juga hotel favorit?Aku ingin ikut mencobanya juga.” Timpal Karin sembari menerima sesuap nasi kedalam mulutnya.


Diego manggut-manggut.Pemuda yang selera makannya saat itu menjadi bertambah tidak pernah lupa untuk menyuapkan sang isteri seperti hari-hari sebelumnya.Bedanya adalah hari itu mereka makan sepiring berdua karena Karin sudah bisa menikmati menu bebas.


“Ehm..Tentunya sayang,akan ku pastikan kau mengetahui secara mendetil semua hobi dan kegemaranku.”Balas Diego penuh semangat sembari melanjutkan kunyahannya dan tidak lupa menyuapkan sang isteri.


“Dy,aku kenyang!”Ucap Karin memelas merasa tidak sanggup menerima suapan terakhirnya.


“Oh ya,baiklah biar aku yang habiskan.Sayang, ini sudah setengah bagian dari menu yang kusikat.Sisanya sebentar malam boleh,ya?Kumohon!”Pinta Diego yang juga merasa kekenyangan. Kali ini kenyangnya mencapai satu tingkat dari biasanya .


Karin mengangguk cepat sembari menyodorkan segelas air putih kepadanya. Diego menyambutnya sembari tersenyum puas.


“Aku janji sebentar malam akan kuhabiskan jika kau menemaniku makan seperti ini.Kalau tidak maka siap-siaplah kau memiliki suami yang gemuk dan perutnya membuncit!”Seru Diego menakuti Karin.


“Eit! No! Tidak ada cerita gemuk dan buncit.Papa Haikal dan opa Jery yang jago makan seumur hidup saja perutnya tetap me-roti bantal walau mereka setua itu. Apalagi om Fahmi yang ganteng dan kerennya minta ampun! Lalu menurun ke kak David.Mana ada terlihat gendut di perut mereka.Contohi merekalah sayang!” Sergah Karin tak mau kalah.


“Jadi menurutmu papa dan kakak sama-sama tampan? Sedangkan kau ingin bilang kalau aku ini jelek,begitu? Celutuk Diego memicingkan mata dan mengerucutkan bibir dua senti kedepan.


“Bukan begitu sayang,aku hanya mencontohkan kepada yang lebih tua saja. Bahkan kakakku setelah menikah dengan kakak ipar juga jadi ikutan banyak makan macam papa.Tapi lihatlah pertunya tetap sixpack.Maka dari itu kuyakin kak David juga pasti demikian sayang.Apa penjelasan ku ini sudah bisa diterima?” Lanjut Karin panjang lebar.


“Heumm! Terima kasih sayang.”Ucap Diego sembari mencium gemas pipi gadis yang sudah mulai netral menerima perlakuan Diego meskipun masih ada rona merah yang menyembul di kulit ovalnya yang putih menggebu.


“Terima kasih juga untuk segalanya sayang.”Balas Karin sembari memeluk erat tubuh kekar suaminya.Menghirup dalam wangi parfum pemuda itu.Aroma maskulin yang menguar dari dada bidang sang suami selalu menghanyutkan jiwa yang meronta untuk segera dijamah.


"Kuharap kau jangan bertingkah konyol lagi ya." Pinta Diego pelan.


"Dy,aku tahu ini konyol.Tapi ini hanya karena aku jenuh..Aku butuh keluarga dan sahabatku.Aku juga ingin duniaku yang dulu.Bukan terisolasi seperti ini." Ucap Karin berkaca-kaca.


"Sayang,dengarkan aku.Ini hanya sementara.Kita akan segera pulang dan kau bebas menikmati duniamu yang akan menjadi dunia kita berdua.Oke." Jelasnya penuh pengertian.


Karin mengangguk pasrah.


Hening.....


“Apa kau bersedia jika kuajak ke suatu tempat sebelum kita benar-benar meninggalkan negara ini sayang?” Tanya Diego yang masih menikmati segarnya tubuh sang isteri dalam pelukan hangatnya.


Karin mengangguk,”Memangnya kita mau kemana?”Tanya Karin menyelidiki.


“Pergi ke suatu tempat yang agak angker.Aku hanya ingin memastikan bahwa kau sudah benar-benar sembuh seperti kata dokter.Tapi aku bersedia untuk membatalkannya jika kau belum siap sayang.” Jelas Diego memastikan.


“Oh ya? Seangker apakah tempat tersebut ? Kau membuatku penasaran saja. Baiklah aku mau ke sana asalkan kau janji tidak akan meninggalkanku sendirian disana.” Timpal Karin mengiakan.


“Oke sayang! Ma_mana mungkin aku akan meninggalkanmu se_sendirian ditempat seperti itu.Bila perlu kubumi hanguskan setelah kau melihatnya!” Ucap Diego dengan mood yang berubah -ubah sembari mengeratkan pelukannya seakan dirinya sedang ketakutan.Takut akan kehilangan hak milik yang berharga disaat itu.


Ucapan yang menimbulkan reaksinya sedikit aneh sempat menimbulkan tanya di kening gadis itu.


•••


Bersambung ...............


*****

__ADS_1


Salam lanjut...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗


__ADS_2