
Selamat Membaca 🙏😍
Hany yang mengajak Karin bertemu di cafe membuka pembicaraan,"Apa kau sama sekali tidak peduli dengan kabar adikku?"tanya Hany blak-blakan sambil meneguk yogurt buah dari gelasnya.
Karin bungkam.
"Apa karena adikku hilang kabar jadi kau membencinya?"tanyanya lagi tanpa peduli perasaan Karin yang sedang terluka saat itu.
"Ti_tidak,bukan begitu,"jawab Karin gagap,"aku hanya,_"Karin merasa tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Serasa ada sesuatu yang mengganjal di balik tenggorokannya.Berat hatinya untuk mau berbagi kepada siapapun termasuk wanita yang berada di hadapannya itu. Meskipun statusnya sebagai kakak dari sahabat kecil yang telah membuatnya terluka.
Bertahun-tahun ia mencoba menutupi perasaan sedihnya dari siapapun termasuk orangtua dan kakaknya.Bertahun-tahun ia mencoba untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang,kini dalam hitungan satu menit saja semua yang ia bendung selama bertahun-tahun pecah begitu saja.
Kehadiran Hany telah membawanya kembali ke masa lalu yang tidak ingin ia ungkit lagi. Masa lalu,masa remaja yang baginya gelap gulita lantaran ditinggal pergi oleh sahabat yang sangat ia harapkan.Masa lalu yang ia benci karena sahabat yang ia percaya pergi begitu saja tanpa ada sebarang kata pamit yang keluar dari mulutnya.
Ingin rasanya ia berteriak keras memarahi orang yang duduk di hadapannya itu,membentak lalu mengusirnya pergi jauh-jauh dari pandangan matanya.Namun hatinya tidak tega melakukan semua itu.Ia pun tertunduk lemas.
"Kau boleh berbagi denganku jika kau menginginkannya,"ujar Hany sambil menggenggam erat tangan Karin.
Karin hanya mengangguk pelan tanpa suara.
"Aku siap jadi sahabatmu jika kau mengizinkan,"lagi-Lagi Hany membuatnya tidak berdaya.
"Baiklah aku akan menerima uluran persahabatan ini,"ucap Karin berkaca-kaca menatap gadis bermata cokelat yang duduk di hadapannya itu.
Hany melihat ada gurat luka yang mendalam di mata sendu milik gadis yang sedang ia pandangi tersebut.Hany lalu menyodorkan ponsel miliknya kepada Karin.Karin menatapnya sambil mengerjap.
"Bertukar nomer,"ucapnya sambil tersenyum.
Karin ikut tersenyum sambil menekan beberapa angka pada layar ponsel milik Hany lalu menyodorkan kembali kepada pemiliknya.Kemudian terlihat mereka saling berpelukan.Sejenak kedua gadis itu larut ke dalam perasaanya masing-masing.
Meskipun mereka tetangga,namun Karin dan Hany tidak terlalu akrab dikarenakan Karin belajar di sekolah yang berlabel negeri bersama dengan Diego adik Hany.
Sedangkan Hany sendiri sejak kecil ia belajar di yayasan pendidikan berjenjang swasta 'Stella Maris' yang mengharuskan ia tinggal dan menetap di asrama zone milik yayasan 'Stella Maris'.Hanya satu kali di dalam sebulan barulah siswa bisa berkunjung ke rumah orangtua mereka.
Selain itu Karin dan Hany juga terpaut perbedaan usia dua tahun.Hingga kini Karin dan Hany menjadi sahabat baik yang tidak terpisahkan.
__ADS_1
Flashback off......
Liburan akhir pekan,Karin dan Hany mengisi waktu senggang dengan melakukan perawatan ke beauty salon langganan mereka yang tidak lain adalah milik kakak Heny puteri kedua Tuan Fahmi.Kedua gadis belia itu kerap mendapatkan perlakuan khusus dari kakak Heny.Wanita satu anak itu sangat menyayangi adik-adiknya.
"Rin,kau ingin memulai dari mana?"sambil mengarahkan tubuh sahabatnya ke salah satu kursi duduk,"Kak Heny memberikan kita beberapa pilihan treatment," memposisikan duduknya di depan cermin,"kau suka?Terimalah,mumpung gratis,"lanjutnya sambil tersenyum.
Karin menerimanya dan ikut tersenyum.
"Creambath,"ucapnya singkat kepada hairstylist yang berdiri disampingnya.
Perlahan kepala gadis itu diarahkan ke washbak oleh hairstylist untuk dikeramas menggunakan shampoo,yang sebelumnya telah memasang handuk di bahu Karin.
Kedua gadis itu larut dalam kesibukan treatment di dalam ruangan yang dilengkapi dengan desain interior mewah dan eksklusif itu seakan memberi kesan aroma terapi tersendiri.Mereka benar-benar ingin memanjakan diri setelah sepekan giat bekerja.
"Selamat pagi Hany,"sapaan seseorang lembut menggema dipendengaran.Membuat Hany dan Karin mendongak hampir bersamaan.
Sosok gadis muda seusia mereka sedang berjalan mendekati Hany.Di tangannya terlihat sedang menenteng kantong plastik berisi bungkusan parcel berukuran sedang. Senyum menawan terselip di bibir manisnya.
"Elyca,kau di sini?"tanya Hany kaget disahut oleh gadis bernama Elyca itu dengan anggukan.Senyum manisnya masih saja tetap mengembang.
Sekilas ia memandang ke arah Karin membuat gadis itu ikut melemparkan senyum kepadanya.
Hany pun manggut-manggut mengerti,"Ada apa kau kemari?"tanyanya tanpa basa-basi.
"Tidak,aku hanya ingin menyapa kak Heny," ucapnya rada gugup.
"Oh kak Heny baru saja pulang bersama anaknya,"jawab Hany disertai anggukan kepala gadis itu.
"Kalau begitu aku titipkan bungkusan ini," ujarnya lembut,"satunya untuk Kak Heny dan satunya lagi untuk dirimu,"memisahkan dua bungkusan yang berbeda ke tempat yang berbeda pula.
"Tidak usah repot-repot Elyca,"ucap Hany sedikit menolak,"Ini pasti merk luar negeri lagi kan?"tebaknya membuat Elyca tersenyum tanpa menggubris.
"Aku sudah bertemu Diego di London," ucapan gadis itu berhasil membuat mata Karin mengerjap.Telinganya tidak bisa mengelak untuk terpaksa melakukan kebiasaan buruknya yaitu menguping.
"Kami sudah bicara banyak,"ucapnya pasti, makin tersenyum manis kepada Hany, "Besok malam papa dan mamaku akan berkunjung ke rumahmu,"lanjut gadis itu sambil memegang bahu Hany.
Hany mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.Wajahnya sedikit ditekuk tidak suka.
__ADS_1
"Aku pamit ya Han,"siap beranjak,"titipkan salamku buat kak Heny,"ucapnya sambil berlalu.
Hany mengangguk malas.
"Kau kenapa Han?" Karin penasaran melihat wajah sahabatnya yang tidak seperti biasanya.
Hany menoleh menatap gerak tubuh Elyca yang kian jauh dan menghilang.
"Aku tidak suka dia begitu,"balik menatap Karin,"jika ada maunya maka pertemuan keluarga dijadikan alasan,"lanjutnya lagi.
Karin mendelik mencerna ucapan sahabatnya yang ia rasa mengganjal.
"Kau jangan menolak niat baik orang,"ujar Karin menatap wajah sahabatnya yang kian ditekuk mengerucut.
"Aku tidak menolak jika dia tulus.Dia dan keluarganya sama saja,"balasnya hilang mood.Bibirnya manyun dua senti ke depan.
"Psstt! Tidak baik bawa nama keluarganya. Jika kau kesal terhadapnya cukup dia yang kau sebut,"Karin mengingatkan sahabatnya yang mulai lepas kontrol.
"Habis dia aneh.Mana mungkin adikku menyukai wanita seperti dia,"balasnya kesal.Wajahnya masih menahan amarah.
Karin mulai mengerti arah tujuan gadis yang baru saja menyambangi keluarga sahabatnya itu.
"Hmm, baiklah.Aku yakin kau punya alasan di balik itu,"menghela napas dan tersenyum memandang sahabat yang mulai tersenyum lagi memandang dirinya.
"Jadi kapan kau baru mengambil cuti?" Hany memastikan sahabatnya yang akan melangsungkan acara wisuda sarjana satu minggu mendatang.
"Aku sudah mengajukannya,"jawabnya semangat,"satu hari sebelum hari 'H' aku akan mengambil cuti dua belas hariku," Lanjutnya diperjelas.
"Aku turut bahagia."Hany kegirangan."Kau tahu aku akan tampil paling cantik di acaramu itu,"timpalnya bersemangat.
"Terima kasih,dan aku akan menjadi orang yang paling bahagia saat kau datang,"balas Karin tertawa senang.
Keduanya tenggelam dalam cerita lucu yang menyenangkan sembari menunggu proses akhir dari perawatan rambut mereka.
•••
Bersambung.....
__ADS_1
*****
🤗🤗🤗