Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Kebenaran


__ADS_3

Selamat Membaca 🙏😍


Asisten tersebut mengatakan kalau mereka sedang ditunggu oleh Haidar di ruang utama.Lalu mereka berjalan berjalan beriringan menuju ke tempat tersebut.Ruang utama yang dimaksudkan adalah ruangan yang dipenuhi dengan CCTV yang menghubung ke seluruh ruangan hotel tanpa terkecuali.Diego segera menggandeng tangan Karin dan membawanya masuk ke ruangan yang di depan pintunya terpampang tulisan 'Diego Spirit' yang sangat besar dan jelas.


Karin celingak-celinguk melihat suasana baru yang baginya cukup aneh namun tidak bagi seorang Diego.Ia sudah terbiasa dengan hal semacam ini berhubung kelompok 'gangster putih' milik sang ayah sudah lama dibentuk sejak ia masih berusia anak-anak.


Dan tempat ini menjadi basis utama dibawah basis cabang yang beroperasi ditiap negara dimana berjalannya bisnis keluarga ini dan juga sebagai pusat misi yang selalu didatangi oleh papa dan kakaknya.


Mereka akan melakukan kunjungan setiap bulan untuk membahas pelaporan hasil penyelidikan keamanan dunia perbisnisan mereka dan melakukan kunjungan tiap minggu ketika ada hal penting yang tidak bisa dielak dan harus diselesaikan sesegera mungkin.


Berhubung mereka tinggal di negera tetangga maka untuk mencapai tempat ini mereka harus segera menempuhnya dengan menggunakan jet pribadi milik keluarga TF.


Karin melihat Haidar tengah duduk di atas kursi yang bersanding dengan meja tempat proyektor LCD tertata rapi sembari mengutak-atik beberapa dokumen penting yang mungkin sedang dibutuhkan saat ini.


"Kakak ipar, kemarilah! Silahkan duduk." Pelawa Haidar ramah.


Diego mengarahkan Karin duduk berhadapan dengan Haidar sedangkan dirinya mengambil posisi disamping Karin.


Karin masih mengamati cctv yang bertebaran.Satu rekaman yang cukup menarik pernatiannya namun ia berusaha menepis pikiran buruk yang tiba-tiba muncul dalam otakknya.Sejenak kemudian ada adegan dirinya dengan Diego sedang berpelukan dan aksi agresif Diego yang meremas pinggang dan mengecupnya di ruang owner terpampang nyata.Adegan yang juga tidak luput dari pengamatan Haidar saat itu.


'Dia sangat buas! ' Gumam Haidar tersenyum samar.


Menyadari itu, Karin terbelalak sempurna dan menunduk malu dengan pipi yang memerah bak tomat segar.Namun tidak dengan Diego.Pemuda itu terlihat biasa-biasa saja seakan tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya disana.


Manakala jemari lincah Haidar siap menekan tombol power proyektor LCD. Sesaat setelahnya muncullah suara-suara yang tidak asing dipendengaran Karin. Suara bentakan dan tamparan keras yang selalu mengganggu hari-harinya dan juga tidur malamnya.Seketika membuatnya meringis dan refleks menyentuh pipinya.


"Dy,aku tidak sedang berada diruang psikoterapi kan?" Tanya Karin sembari menatapnya penuh harap.


"Tidak,kenapa berpikir demikian hmm sayang?"Balas Diego menggenggam erat jemari Karin yang terasa dingin.


"I_itu suara yang suka mengganggu mimpiku kenapa bisa terasa hidup?" Lanjut Karin panik.


"Sayang,Lihatlah itu layar datar dibelakangmu.Kita akan temukan jawabannya di sana.Oke."Diego membalikkan posisi duduk Karin kebelakang.


Alangkah terkejut dirinya ketika melihat wajah beringas Elyca yang berusaha mencekik batang lehernya kemudian dilerai paksa oleh David.Karin mengamati setiap adegan yang berisi percakapan antara dirinya,Elyca dan juga David yang menolongnya dengan penuh rasa kekeluargaan.Menghargai dan memperlakukan dirinya dengan sangat baik sebagai calon adik iparnya.

__ADS_1


Lalu kemudian di sesi berikutnya ada suara Mr.Paul yang memerintahkan anak buahnya untuk segera menyingkirkan dirinya hidup ataupun mati.Terdengar suara Mr.Paul yang menggema di seluruh ruangan utama yang kedap suara tersebut.


“Adhytama Hotel!.....Jolly Group!...... Beraninya bermain-main denganku.”Seru Mr.Paul sumringah.


“Apa???? Selama ini pemilik Adhytama Hotel memiliki anak gadis dan kita tidak pernah mengetahui itu papa?” Suara isteri Paul melenting memecah seisi ruangan.


“Aku merasa tidak punya urusan apapun dengan mereka.Karena Adhytama Hotel bukan apa-apa dimataku.Tapi rupanya aku salah selama ini.Ternyata mereka memiliki aset yang tidak bisa dimiliki oleh putriku.Maka aku akan membuat perhitungan dengan si Joe Haikal!” Teriak Paul berapi-api.


"Diego! Kau mengabaikan puteriku! Aku akan membuat perhitungan denganmu!"


"Segera singkirkan gadis itu! Bila perlu lenyapkan dia!"


"Tuan,menurut kamera pengintai kami gadis itu berada dibawah perlindungan kelompok 'ganster putih' milik Tun Fahmi.


"Aku tidak peduli! Apapun yang terjadi gadis kecil itu harus merasakan akibatnya karena dia telah mengganggu kebahagiaan puteriku."


"Baik tuan!"


"Segera ikuti mobilnya sebelum gerak kalian tercium oleh tim mereka dan singkirkan dia, buat itu seolah-olah murni kecelakaan."


"Karin Dhiyana Haikal Jolly...! Nama yang bagus.Tapi bagus untuk dilenyapkan!"


Karin mencermati setiap rekaman peristiwa secara saksama.Perlahan mencoba merangkaikan setiap kejadian.Kini ia sadar akan satu kebenaran bahwa kecelakaan yang menimpa dirinya itu murni perbuatan Mr.Paul dan puterinya Elyca beserta para anak buahnya.


Mata Karin membelalak sempurna.Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi datar dan amarah terlihat menguasai dirinya.Airmata tak tertahankan mengalir deras di pelupuk mata yang masih terlihat cekung lantaran susah tidur.


Diego memperhatikan dengan saksama perubahan yang terjadi kepada sang isteri.Gadis polos yang selama ini lembut tiba-tiba jemarinya gemetaran sukses mengepalkan tinju.


"Sayang,sayang tenanglah! Aku di sini." Ucap Diego menggenggam jemari yang masih mengepal.


"Dy,ini keterlaluan bukan?Kenapa ada perempuan jalang yang masuk dalam kehidupanku,mencelakaiku,merusak hidupku,ketenanganku?Kebahagiaanku hancur gara-gara dia! Siapa wanita ini dimasa lalumu? Hmm, cepat katakan!


"Sayang,jangan terpengaruh dengan ucapannya.Ku mohon! Dia hanya seorang penggemar yang terobsesi dengan hasrat ingin memiliki diriku."Jelas Diego pelan kepadanya sembari menangkup erat jemari Karin yang masih mengepal.Namun segera ditepis oleh Karin.


"Apa aku harus percaya kepada kebohongan ini?" Sergah Karin penuh penekanan.

__ADS_1


"Sayang,percayalah padaku.Aku tidak mungkin mengkhianati perasaanku sendiri.Aku hanya memilikimu dimasa lalu dan juga masa sekarang.Tidak ada satupun wanita di masa laluku apalagi si jalang itu!" Balas Diego penuh penekanan diakhir kalimatnya.


Karin tertunduk lesu beberapa lama.Wajahnya ditenggelamkan ke dasar bumi seakan tidak ingin mendongak.Menopang siku-sikunya di kedua lutut kemudian menyapu kasar wajah sendunya yang mulus.Naik mengacak pelan rambutnya yang tergerai indah.


'Kenapa hidupku se kacau ini? Apa karena cinta gilaku kepada pemuda ini? Aku benci kehidupan baruku!' Aku benci semuanya,aku ingin pergi saja..' Gumam Karin pelan namun masih terdengar jelas oleh Diego yang selalu siaga disampingnya.


Diego hanya mengawasi setiap gerak-geriknya tanpa mengganggu.Ia yakin Karin masih syok karena baru mengetahui semua ini.


Hening...


"Sayang,apa kau baik-baik saja?" Ucap Diego sembari menangkup kedua bahu Karin.Kemudian menengadahkan wajahnya yang masih menembus dasar bumi.


"Hmm.."Jawabnya singkat.


"Ayo,ikutlah denganku."Pintanya.


Karin menolak.


"Sebentar saja.Setelah ini kita akan segera pulang dan kau bebas mengambil keputusan..." Pintanya pelan,"Dan kau bebas memilih untuk tetap bersamaku atau pergi dari kehidupanku." Bisiknya parau menatap dalam penuh arti ke bola mata wanita yang dipujanya.Menarik sudut bibirnya mengukir satu senyum tipis yang dipaksakan.


Karin menangkap sebuah kesedihan mendalam yang tersirat ditatapan membelenggu pemuda itu manakala ia mengucapkan kata pergi dari kehidupannya sesaat sebelum ia mulai beranjak tanpa mau berbalik untuk menggandeng tangannya seperti yang biasa ia lakukan.


Perilaku Diego tersebut membuatnya merasa seakan salah satu kebutuhan batinnya ikut menghilang entah kemana.Tubuh Karin terguncang hebat.Gadis itu berusaha menahan sebak di dada.Airmata yang sebelumnya telah menetes kini bertambah deras membasahi pipinya yang memanas.


"Kakak ipar, harap tenangkan dirimu."Ucap Haidar yang masih berada diposisi semulanya.


"Perlu kau ketahui satu hal bahwa sepupuku tidak pandai berbohong.Kau boleh pegang kata-kataku ini."Tambahnya meyakinkan Karin.


Karin melongo memandangi punggung Diego yang kian menjauh melewati ambang pintu.Entah apa yang membuatnya merasa seakan baru saja dilempar jauh ke dasar jurang yang tidak ada ampun baginya untuk bisa kembali.


•••


Bersambung......


🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2