Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Welcome Sang Penakluk


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka 😍


Di depan ruang VVIP


"Suami nyonya Karin Dhiyana Haikal Jolly, diharapkan segera masuk ke dalam ruang persalinan."lantang suara seorang perawat memanggil di depan pintu penghubung ruang tunggu.


Sedangkan saat ini,di sana hanya ada mama Cyntia,papa Haikal,Adhytama, Heny dan juga Hany.Seluruh keluarga besar yang hadir merasa sangat sedih mendengar panggilan kedua dilakukan.Akan tetapi yang dipanggil belum juga muncul di depan mata.


Kejadian ini membuat mama Cyntia yang tidak tahu persis tentang apa yang sebenarnya telah menimpa sang putera Diego,merasa tidak enak hati pada pihak besan.Berkali-kali ia menyampaikan permohonan maafnya kepada tuan Haikal atas kelalaian puteranya itu.


Sedangkan tuan Haikal yang mengetahui persis peristiwa naas yang nyaris menimpa menantunya itu,mencoba menenangkan mama Cyntia dengan kalimat ringan yang menghibur hati.Padahal sesungguhnya di dalam hati pria paruh baya itu menaruh perasaan bersalah yang tidak terhingga.


Di area pelataran rumah sakit....,


Tampak Diego dan sang ayah Tun Fahmi baru saja turun dari mobil dan bergegas menyusuri koridor dengan langkah panjang.Tidak lupa Diego menggandeng lengan ayahnya yang tampak kurang fit.


"Cepatlah,Dy....,namamu sudah dipanggil sejak sepuluh menit yang lalu!"lantang suara David yang tampak muncul dari arah berlawanan.


Pria tiga anak itu,hampir saja mencapai lift. Namun tiba-tiba mendapat panggilan dari adiknya Heny,menanyakan keberadaan Diego.Pria tiga anak itu lantas berbalik dan berniat mencari keberadaan sang adik.


Mendengar ucapan David,Diegopun sigap berlari mencapai lift meninggalkan kedua pria hebat yang selalu menjadi panutan baginya itu.David perlahan mengambil alih menggandeng sang ayah seperti yang baru saja dilakukan oleh Diego.Tun Fahmi tampak lemas,nyaris tidak berdaya akan tetapi dipaksakan jua untuk tetap tegar.


Wajah keriput samar itu,tampak pucat dan sedikit kusut.Namun tidak mengurangi aura ketampanan di wajah pria yang telah melahirkan dua pemuda hebat dan kini mengiringi langkahnya secara bergantian itu. Apapun perasaan ayahnya saat ini, hanya Davidlah yang lebih paham.


Diego berlari kecil menyisir ruang tunggu,dengan perasaan campur aduk yang memacu di dada.Antara rindu,kasih,sayang dan cinta.Akan tetapi perasaan bersalahnya juga tidak kalah banyaknya bergelayut indah di relung hatinya.


"BAPAK DIEGO HEDY DZUL FAHMI!" lantang suara suster menyapa sopan.

__ADS_1


Deg


Jantung Diego berdetak kencang manakala mendengar nama lengkapnya disebut. Pemuda itu baru mencapai pintu ruangan di mana sang isteri berada,menerobos masuk di saat namanya dipanggil untuk yang terakhir kalinya.Aksi sigapnya mengundang rasa haru di hati segenap keluarga besarnya yang hadir saat itu.Tidak seorangpun dari mereka yang tidak mengucurkan air mata menatap pemuda yang melangkah masuk ke dalam ruang persalinan tersebut.


Diego mematung usai mengenakan jubah pembesuk di depan layar pembatas


yang menutupi pembaringan sang isteri. Langkah kakinya terasa berat antara perasaan gugup yang tiba-tiba mendera saat mendengar suara erangan rasa sakit sang isteri yang memuncak dan perasaan tidak percayanya bahwa ia akan segera menjadi seorang ayah.


Deg


Jantungnya kembali berpacu.Dengan segenap kekuatan yang ia miliki akhirnya ia mampu menerobos tabir pembatas tersebut dan mendapati pemandangan yang cukup asing baginya.Sosok wanita tangguh itu tengah menyembunyikan wajahnya di balik tubuh sang ibu karena sedari tadi masih bertahan di pembukaan sekian.


Perlahan Diego mengambil alih posisi mama Nadine yang tampak letih.Tenaganya ikut terkuras menahan gerakan-gerakan refleks dari tubuh puterinya yang kesakitan.Mama Nadine akhirnya lega mendapati pantulan wajah menantu yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga.


Diego membayar semua keterlambatannya dan rasa rindu ingin segera menggapai tubuh isterinya ke dalam pelukan.Kini tubuh mungil itu berhasil ia raih dan peluk erat dengan mata yang berkaca-kaca.


Wanita kuat,wanita tangguh....,kini tampak mendongakkan kepala saat menyadari perubahan sosok yang ia peluk saat itu. Sejenak iapun tersenyum getir sembari mengumpulkan segenap kekuatan dengan menghirup,meraup dalam-dalam aroma tubuh maskulin yang sangat dirindukan dan tidak menemuinya sejak kemarin siang.


"Bertahanlah,sayang...,aku di sini untukmu."desah Diego pelan meniupkan bara semangat ke dalam diri isterinya.


Ajaibnya tubuh mungil itu menampakkan reaksi yang berbeda dari sebelumnya.Gadis itu seakan mendapat kekuatan baru hingga detik-detik akhir itupun seakan deras memberondong begitu saja dan meminta untuk segera dituntaskan.Meski demikian, wanita yang menjalankan tugasnya sebagai malaikat pelindung bagi bayinya itu masih kuat dan tersenyum di sela rasa sakit yang mendera.


"Tarik napas dalam.....,tahan....,mengedan!" pandu ahli medis yang menangani jalannya persalinan.


Berhubung sang isteri adalah seorang ibu pemula,maka kesalahan wajarpun tidak terlewatkan hingga membuat ahli medis tersebut harus memandu dan mengulang ucapannya beberapa kali.


Diego tergugu menyaksikan perjuangan isterinya yang nyaris sekarat.

__ADS_1


'Tuhan,lindungilah isteri dan bayiku ini.'batinnya menegang.


Serasa darahnya ikut berdesir menyaksikan pengorbanan seorang ibu.Mempertaruhkan nyawa demi lahirnya generasi emas.Satu hal yang membuatnya semakin yakin dan ingin menghargai makhluk lembut yang bernama wanita.


Ooeek ooeekk ooeeekkkkk,


lenting suara si raja mungil itu menggema seisi ruang persalinan.Membahana,memecah gendang telinga.Menguar syahdu....,haru...., mengundang tangis bahagia di mata dan hati keluarga besar Tun Fahmi-Haikal Jolly.


Ayah siaga itu sigap menyambut puteranya seraya mengumandangkan azan ke telinga mungil sang penakluk jagat raya dengan suara merdunya semerdu buluh perindu.


"Menyerulah,wahai sang penakluk jagat raya!"tegasnya menggreget secara refleks usai mengazankan telinganya,membuat dokter dan para perawat yang ada ikut tersenyum dan berdecak kagum menatapnya.


Sosok kharismatik itu baru mulai menangis haru sesaat setelah memastikan bayinya dalam keadaan sehat walafiat dan kini ia sibuk menenangkan isterinya.Pemuda itu benar-benar baru lepas dari detik yang menegangkan.


Ya,sangat menegangkan baginya.Ah,bahkan peristiwa ledakan bom di Bruno Palm itu nyaris merenggut nyawanya namun rasanya tidak seberapa.Apalagi kejaran membabi buta pasukan Mr.Patrick yang sudah masuk dalam jebakan tangan ahlinya sendiri,kecil baginya.


Semua itu tidak seberapa menegangkan dibanding dengan detik-detik di mana sang isteri bertaruh nyawa demi memberikan status ayah bagi dirinya,itu lebih menegangkan.Serasa jantungnya mencuat dari posisi semula.


Isteri kuat...,isteri tangguh...,ibu dari anaknya.Itulah yang dirasakan oleh Diego saat ini.


"Terima kasih sayang....,terima kasih karena telah berkorban untukku."desahnya lirih ke telinga sang isteri yang lamat memandang wajahnya tanpa suara.


Raut wajah yang baru usai menjalani perawatan dalam itu jelas menggambarkan bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.Diego membalas menatap, mendamba,dan membelai wajah lelah itu hingga akhirnya wanita hebat yang telah melahirkan benih darinya itu benar-benar terlelap.


•••••


Bersambung...

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2