
Diego menunggu sembari menggulir benda pipih yang ia genggam.Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan isterinya, pemuda itu kembali ke mobil.
Di mobil,Diego tertawa tipis memandang sang isteri,
"Ini pesananmu sayang."ujarnya setelah melabuhkan punggungnya ke dalam mobil.
'Ah,suami idaman hati penyejuk jiwa.' hatinya membatin ria,
"Terima kasih banyak sayang,maaf merepotkanmu." balas Karin senang seraya mencium pipi suaminya.
"Demi ibu dan calon anakku,aku rela di seruduk apa saja meski itu kuda sekalipun." celetuk Diego seraya menaik turunkan alis menggodanya plus mengedikkan bahu.
Karin tergelak.
Seperti sebelumnya,bahkan kinipun Karin sempat untuk mengacak-acak isi dari pesanannya,dan kali ini senyum lebar merekah di balik bibir ranumnya membuat Diego seketika bernapas lega.Meskipun pada akhirnya Karin hanya menyentuh sedikit saja kue yang mereka beli.
"Kita ke gerai buah segar ya sayang,aku ingin membeli aneka buah di sana."
Diego mengangguk tanpa suara.Hari ini ia siap memenuhi semua keinginan sang isteri.
Diego sudah memakluminya semenjak sang isteri memasuki awal usia kehamilan.Karin memang berubah menjadi menyebalkan, namun Diego menerima perlakuannya dengan lapang dada.
Sudah bagus ia mau memerintahkan untuk membeli sesuatu lalu menyentuh sedikit saja daripada tidak sama sekali dan muntah-muntah seperti di awal kehamilan dulu.Diego sampai bergidik ngilu membayangkan proses awal kehamilan yang lumayan menguras tenaga dan kesehatan isterinya.
Di rumah besar kediaman Tun Fahmi,Diego memerintahkan kepada bibi Nisah untuk menjemput hasil belanjaan mereka dari jok mobil.
"Bibi,ini royal truffle nanti dibagikan ke mama dan papa ya,sedangkan yang ini,perpaduan dari sepuluh jenis cake yang disatukan.Modelnya ancur jangan diberikan kepada papa dan mama,"ucapnya seraya menunjukkan kotak BonBon Cake yang terakhir dibeli oleh Diego.
"Lalu mau diapakan nona?"tanya bibi Nisah.
"Berikan saja ke,_"Karin menjeda ucapannya seraya melirikkan matanya kepada Diego yang sudah paham akan maksud dari lirikan isterinya.
"Untukku saja bi."ucap Diego pasrah seraya mendengus kecil dan membuang tatapan kesalnya ke sisi lain.
Karin tersenyum puas karena merasakan kepekaan dan pengertian sang suami yang super unggul sehingga membuat semua keinginannya terpenuhi.
Bibi Nisah hanya bisa menahan tawanya yang nyaris meledak manakala melihat raut wajah majikan prianya sudah seperti jeruk purut yang keriput.
__ADS_1
Malam itu Karin tidak bisa memejamkan matanya.Berkali-kali ia membolak-balikkan
posisi tidurnya.Memindahkan posis bantal ke depan dan ke belakang punggungnya, mencari posisi ternyaman.
Tetap saja tidak berhasil.Dalam pikirannya bergelayut pada pengalaman sepanjang harinya di rumah sakit,arae Lady BonBon dan juga gerai buah segar.Ia mencoba mengingat kembali apa yang telah ia lakukan ketika di area toko roti tadi.
Karin mencoba mempersulit suaminya dengan meminta sesuatu di luar dari kebiasaannya sehingga mau tidak mau Diego terpaksa masuk kembali ke dalam toko roti demi untuk memenuhi kehendak isteri tercintanya.
Sementara Karin sendiri diminta oleh Diego agar menunggu di mobil sembari menegak minuman kemasan digenggamannya.
Ya,Karin memang sengaja mencari ide agar memperlambat gerakan Diego.Setelah memastikan dirinya aman,ia pun segera keluar dari mobil manakala Diego telah masuk ke dalam rumah roti termewah itu.
Alasannya mengapa,karena tadi ketika Diego mengarahkan dirinya masuk ke dalam mobil,matanya tiba-tiba kembali menyoroti kelebat manusia yang sama dan telah mengganggu penglihatannya sejak dari rumah sakit.
Bayangan yang sama juga telah menerobos pintu masuk Lady BonBon,dan kali ini ia berdiri di ujung deretan bangunan yang berjajar dengan toko roti tersebut.Ia pun memberanikan diri.
Karin menerobos emperan gedung yang dipenuhi banyak manusia yang lalu lalang mengingat time itu adalah waktu turun minum bagi sebagian pegawai swasta yang menyewa perkantoran di sekitar wilayah tersebut.
Karin yang bergerak maju dengan rasa penasaran membumbung teringat akan bayangan wajah seseorang yang rasanya tidak asing dari penglihatannya.Karin mendekati seseorang yang mengenakan jaket mantel berwarna merah dan memakai topi.
Karin sengaja melemparkan botol kemasan air minum yang sudah diminumnya tadi kepada pria itu,dan orang tersebut sigap menangkapnya tanpa menolehkan wajahnya sedikitpun dari posisi semula.Beberapa saat kemudian ia pun menoleh cepat ke arah Karin.
"Aku yang pantas bertanya kenapa kau ada di sini.Bukankah kita baru bertemu di Indonesia,lalu sejam yang lalu aku melihatmu di hospital Q,"
"dan sekarang kau berada di sini,apa kau mengikutiku,Cano?"ucapnya seraya meningikan sebelah alisnya.
"Tidak Karin,itu hanya pikiranmu saja. Mungkin secara kebetulan tujuan kita sama."balasnya mengedikkan bahu penuh sarkas.
"Jika memang kebetulan lalu kenapa kau terlihat seperti penguntit?"sergah Karin tidak mau kalah.
"Itu karena aku sedang mencari seorang gadis yang sangat cantik."decitnya menyeringai.
"Untuk kau godai lagi?"Karin memicingkan mata.
"Ya,"jawabnya,"apa kau punya stok kenalan?"lanjutnya sambil tertawa kecil.
Manakala dirinya ingin melanjutkan beberapa pertanyaan lagi,tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara orang lain memanggil namanya dari sisi yang berbeda,
__ADS_1
"Nona Karin."
Karin menoleh ke asal suara tersebut sembari berusaha menyembunyikan rasa kagetnya kepada seorang pria asing yang mengenal dirinya.
"Sebaiknya jangan melampaui dua ratus meter dari sini,"ulasnya sigap meraih telapak tangan Karin dan meletakkan sesuatu di sana dan Karin meliriknya, sebuah kertas kecil,batinnya.
"Sungguh tidak aman bagi wanita hamil seperti anda berjalan sendirian."lanjutnya mengarahkan telapak tangan dan mempersilahkan Karin agar segera kembali ke mobil.
"Ah,baiklah paman,dan Cano,aku tinggal dulu."ucap Karin seraya berlalu begitu saja.
"Baiklah Karin,jika kau ada stok jangan lupa mengabariku."balasnya meninggikan suara dengan senyum yang tersungging.
"Ketahuilah nona Karin,saat kita mencurigai sesuatu,itu karena memang pantas untuk dicurigai,"
"Tapi jangan bertindak sendiri karena tindakan gegabah hanya akan membahayakan diri sendiri."
Karin menatap bingung wajah pria berwajah teduh dan bersorot mata tajam yang mensejajarkan langkah dengannya itu,lantas mecoba melirik ke secarik kertas yang diberikan oleh pria tersebut,
'Tanda pengenal Diego Spirit.' batinnya.
"Kalaupun ada yang mencurigakan di sini, maka biarkan kami yang mengurusnya." lanjutnya datar dan membungkuk hormat kepada isteri atasannnya.
Dengan perasaan berkecamuk Karin kembali ke mobil membawa segenap rasa bingung yang membumbung tinggi.Karin merasa hari ini ia melihat wajah Falcano itu beberapa kali, wajah yang sama di beberapa tempat yang berbeda.Ya,wajah Falcano.
Dan untuk menjawab rasa ingin tahunya ia mendekati teman kampusnya itu,bertanya dan dijawab.Selesai urusan,dan itu tidak ada hubungannya dengan apa yang diutarakan oleh anggota Diego Spirit tadi.
Lalu di dalam pikirannya sekarang adalah kenapa pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengatakan kepadanya agar tidak gegabah dalam bertindak.Apa mungkin pria itu membuntuti dirinya ataukah memang secara kebetulan saja ia bertugas di sana dan mereka bertemu.
'Apa Diego Spirit tengah merencanakan sesuatu?Kenapa dia memintaku untuk tidak gegabah?Tapi dalam hal apa?' batinnya.
Ingin sekali ia bertanya kepada Diego tentang pria terlatih tadi,namun rasanya tidak punya keberanian untuk itu.Malam itu Karin hanya bisa membolak-balik posisi tubuhnya disamping sang suami yang tertidur pulas.
Karin menatap intens wajah yang matanya kini terpejam.Akibat dari ulahnya seharian membuat pria itu tampak sangat letih meski dalam keadaan tidur sekalipun.
Bersambung...
Hai teman-teman..terima kasih sudah dukung karya fiktif ini..semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah..like,komen,fav,rate jika berkenan dan salam saling dukung..
__ADS_1
🤗🤗🤗