Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Eps 29


__ADS_3

Selamat Membaca,


Kediaman Tun Fahmi


Malam itu sehabis makan malam,Diego langsung menuju ke ruang kerjanya di lantai tiga rumah besar kediaman Tun Fahmi.


Dengan langkah gontai ia memasuki ruangan yang menjadi tempat favoritnya ketika sedang dalam masalah.Menghempaskan tubuhnya diatas sofa sembari meraih cangkir kopi hitam yang telah disediakan oleh bibi Nisa untuknya.Wanita paruh baya itulah yang selalu setia menemaninya selama sepuluh tahun ia berada di luar negeri.Kemudian ia pun menyesap kopi tersebut pelan lalu meletaknya kembali.


'Pengalaman ini sungguh buruk!’ Batinnya.


Pikirannya masih berkecamuk memikirkan masalah yang kini sedang dihadapinya.Baru saja hatinya merasa bahagia melihat Karin yang perlahan mulai menerima keberadaannya,kini ia harus menyelam kenyataan pahit lainnya.Pertunangannya terancam batal hanya gara-gara kecelakaan itu.


Ceklek


Diego menoleh.


“Apa boleh papa masuk?”


Mengangguk tanpa suara.


Berdiri menyambut kehadiran sang ayah,”Silahkan duduk papa.”Mempersilahkan sang ayah duduk di sofa.


“Papa telah mendengarnya.”Ucapnya pelan sesaat setelah mengambil posisi


duduk.


Hening....


"Bibi Nadine bersikeras membatalkan pertunangan kami pa.Padahal aku sudah berjuang keras untuk memenangi hati Karin.


“Biasanya seorang ibu memiliki perasaan yang sangat kuat terhadap sang anak.Papa yakin,ini hanya faktor emosi sesaat.Jadi kau harus bersabar! Waspadalah dalam setiap urusan.”


“Ya,papa...Aku mengerti,dan aku berjanji untuk menyelesaikan semua masalah ini.”


Tok tok tok


Ceklek


“David..Masuklah!”Ucap sang ayah yang baru saja menoleh.


David berjalan mendekat.Suasana seketika mencekam.Terlihat wajah David menegang.


“Maaf aku terlambat pa.Aku baru saja menjemput Dian dan anak-anak dari rumah paman Syam.Mereka semua kuajak kemari.”


“Pantas saja,tadi siang mamamu ke rumah tapi rumahmu kosong.”


“Ya,pa.Dean dan Daren ingin sekali mengajak oma Sita ke taman hiburan.Itu sebabnya aku mengantar mereka ke sana.Aku baru menjemputnya kembali setelah kegiatan mereka usai.”Ucap David sembari menggeleng kecil.


“Itulah tugas dan tanggungjawab seorang ayah nak!”


“Ya,hal sekecil itu tapi akan membuat mereka merajuk jika tidak dipenuhi.” Keluhnya sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.


Papa Fahmi hanya tersenyum menanggapi keluhan putera pertamanya.


Ditanggapi oleh Diego dengan sebuah senyum kecil namun segera sirna,“Oh ya,Bagaimana kabar mertuamu kak?”Tanya Diego.


David seketika memandang wajah sang adik,“Mereka baik-baik saja Dy.”Ucapnya tenang,”Super happy malah!Kau tahu kan ayah mertuaku itu selera humornya tinggi.”Tambahnya.


“Ya,syukurlah kak! Aku juga sering dikerjai oleh orangtua itu.Bahkan dia pernah menyuruhku mencabut ubannya ketika aku pulang dari London.Menyebalkan bukan?”Timpal Diego sambil menggeleng-geleng.


“Hahaha..Kukira cuma diriku saja yang dikerjai.Rupanya kau juga.Kakak pernah disuruh memakai boxernya saja didepan keluarga besarnya.”


“Gila! Bagaimana bisa begitu kak?”


“Iiyaa Dy..Ceritanya waktu itu pertama kali kakak pacaran sama Dian. Dijalan,mobilku mogok dan kakak kebasahan.Ya jadilah kupakai tu boxer miliknya.Mana kebesaran lagi,malu akh! Tapi dia malah menyuruhku santai tanpa ekspresi bersalah gitu.Sialnya Dian sampai ketawa terpingkal-pingkal melihatku cemberut.”Jelas David masih terbawa perasaan masa lalunya.


“Hahahhaaaa....Gokil ayah mertuamu kak!”Seru Diego memegang perutnya menahan tawa hingga matanya berair.


“Ya,kau benar dan kakak rasa sifat Daren bakal sebelas duabelas dengan beliau.”Lanjutnya masih tertawa.


Untuk sejenak Diego melupakan masalah yang menimpa dirinya bersama calon isterinya.Dan papa Fahmipun tersenyum lega melihat hal tersebut.


“Oh ya,ada hal penting yang inginku sampaikan soal Karin.”Ucap David tiba-tiba teringat akan sesuatu.


“Apa itu?” Tanya sang papa antusias.Sementara wajah Diego seketika berubah menegang.Suasana mulai mencekam.


“Informasi terbaru dari 'Gangster Putih’ mengatakan kalau kawanan pelaku yang mencelakai Karin telah diringkus dan dihajar babak belur sebelum diserahkan kepada kepolisian.”


“Papa tidak menyuruh mereka menyerahkannya ke kantor polisi.”Ucap sang papa bingung.


“Ya,papa.Karena bukan tim GP yang melakukannya.Melain ada geng lain yang telah lebih dahulu menyerangnya.Bahkan Elyca juga diduga telah disergap oleh mereka.Karena menurut pengintai GP mengatakan bahwa keluarga Mr.Paul sedang panik dan kebingungan mencari keberadaan puteri mereka sejak kemarin malam.Sementara tim GP baru melakukannya hari ini."


Sang papa manggut-manggut mengerti.


Davidpun melanjutkan kalimatnya,"Informasi terakhir yang kudapat dari mereka mengatakan kalo ada hacker yang menyusup masuk ke sistem perusahaan Mr.Paul.Semua data perusahaan telah dikunci olehnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.Tenaga IT dari perusahaannya tidak bisa melacak keberadaan pelaku karena menurut mereka sistemnya dalam keadaan baik-baik saja”Ucapnya panjang lebar.


“Teruskan kabar lanjutannya nak!” Seru sang papa datar dan dingin.


“Kemudian Mr.Paul sedang diusut pihak kepolisian atas tuduhan praktek peniruan dan pemalsuan merk dagang luar negeri serta melakukan kekacauan publik terkait sifat dan asal usul merknya.”Tambah David.


Papa Fahmi bergumam pelan,“Dan ternyata merk luar negeri yang mereka gunakan selama ini hanyalah merk abal-abal yang berasal dari produksi perusahaan mereka."Ucapnya menarik kesimpulan.


“Ya, itu benar papa.Sehingga terjadilah pemutusan kerjasama sepihak oleh rekan bisnisnya.Ada beberapa perusahaan besar yang sengaja mencabut saham mereka dari Paul Group.Termasuk perusahaan raksasa T......”


David tiba-tiba menghentikan ucapannya seraya memandang intens kewajah Diego,”Kau kah pelaku gerakan satu malam ituu wahai Diego Mr. London?” Lanjutnya menyeringai.


Diego bungkam.Tidak ada tanda respon balik terhadap pertanyaan sang kakak.Mata gelapnya menatap kosong kearah langit-langit ruang kerjanya.


Sontak Tun Fahmi merangkul erat bahu Diego sembari meninjunya pelan.


“Papa yakin kau pasti bisa mengatasi masalahmu sendiri dengan baik nak!” Menyikut pinggang putera bungsunya, ”Tidak salah lagi.Selamat datang generasi kedua TF.Electro Group!”Ucap sang papa sumringah.


Hanya anggukan kecil dan tatapan kosong yang menyertai senyum sumringah sang ayah itu.


“Wah!Kau pasti menggunakan trik uncle Danial kan Dy?”Tanya David menuding sembari meninju bahu adiknya.


Juga hanya dijawab dengan sebuah anggukan kecil dari sang adik.


Ayah dan putera pertama itupun serentak saling pandang dan berdecak kecil menyadari kehadiran ‘penjahat baru' dunia perbisnisan tersebut.Ada senyum tipis yang tidak terlihat dari bibir kedua pria beda fase itu.


“Skak Mat!” Ucap sang ayah datar.Disambut seringai tipis dari David.


Hening....


‘Don’t **** with me!’ Gumam Diego pelan sembari mengunci rahang dan mengepal tinjunya.Namun masih terdengar oleh ayah dan kakaknya.


•••


* Flashback on


Hari kedua setelah proses pertunangan Karin ~ Diego


Di cafe langganan...........


Danang habis menikmati secangkir kopi kesukaannya.Baru saja ia akan beranjak dari tempat duduknya,tiba-tiba ia mendapati dua sosok pria berpakaian serba hitam yang bertingkah aneh! Salah seorang diantaranya terlihat tengah sibuk memberikan informasi kepada seseorang di seberang sana melalui ponselnya. Sembari menyebutkan nama Karin beserta ciri-ciri gadis itu dan juga asal muasalnya.


'Apa gue nggak salah dengar tuh?Perasaan nama Karin disebut-sebut disana.' Batin Danang.


'Akh! Ya,ada nama om Haikal dan opa Jery juga.Eh! Jolly Group dan Adhytama hotel juga disebut.' Gumamnya pelan.


'Siapa mereka?!' Batinnya.


Merasa tidak tenang,akhirnya ia memutuskan untuk mengambil foto dua pria sangar itu.Lalu meneruskan informasinya kepada Diego.


Kediaman Tun Fahmi..................


Manakala semua anggota keluarga yang tengah berkumpul diruang keluarga, antusias membahas persiapan pernikahan Diego dan Karin.Rencananya akan dilangsungkan secara meriah dan mewah.


Diego tidak ingin ikut bergabung.Ia memilih uji diruang kerjanya.Ketika ia sedang sibuk membuka email perusahaan,tiba-tiba derit ponsel membuyarkan konsentrasinya.


Drrrrrrrrtttttt drrrrrrtttttttttt


Nama 'Danang' tertera dilayar ponselnya.


'Akh! Sahabat sejati.Tidak biasanya dia menghubungiku lebih dahulu.Apa dia yang akan mengajakku minum kopi saat ini ?’ Batinnya sesumbar.


Hallo bro


Ya aku dirumah.


Baiklah aku tunggu di whatsapp.


Sedetik kemudian derit ponsel menandakan pesan wa masuk.


~ Aku Sekarang berada di cafe langganan kita.Ini foto dua pria yang aku maksudkan.Sikap dan gerak-gerik mereka sangat mencurigakan.Mereka membicarakan identitas Karin dan asal muasal keluarganya.Apa kau mengenal mereka?


^^^Aku belum pernah melihat mereka.^^^


^^^Tapi aku sudah mulai menebak siapa dibalik semua ini.^^^


Coba kau selidiki lebih lanjut.


Aku tidak mau jika Karin disakiti oleh mereka.


^^^Ok bro!Aku akan mencari tahu siapa mereka.^^^


^^^Dan apa tujuan mereka.^^^


Jangan dulu informasikan berita ini


ke seluruh keluarga besar kita.


Sebelum semuanya jelas.


^^^Baik bro! Perketat penjagaan terhadap Karin.^^^


^^^Bila perlu awasi setiap aktivitasnya.^^^


Kalau dia tahu bagaimana?


^^^Jangan biarkan dia tahu kalau dia sedang diawasi^^^


^^^agar ia tidak merasa privasinya diganggu.^^^


Ok bro!


^^^Thanks bro!^^^


Tut Tut Tut Tut Tut


Memutuskan sambungan


'Siapa mereka sebenarnya?' Batin Diego penasaran.Mengamati wajah dua pria tersebut dengan saksama.

__ADS_1


Semenjak hari itu Diego memutuskan untuk mempekerjakan sejumlah besar anak buah yang ia hubungi melalui teman masa kecilnya bernama Danish yang sekaligus tetangganya sendiri.


Keseruan Danish merespon hangat.Ia sangat senang ketika Diego menyapanya lewat sambungan jarak jauhnya.


Tumben kau ingat aku bro!


^^^Ya,karena aku merindukanmu.^^^


Sudah kau sikat habis antrian wanita bulemu disana hahh?


^^^Dammn! Kau yang masih bertengger pada wanita bule mu itu.^^^


Apa sekarang tinggal giliranku bro?


^^^Diam kau bandit kelamin!^^^


^^^Apa Kau kira aku penggemar tubuh lurusmu itu?^^^


(Pasang emoji tertawa ngakak sambil menangis)


Lalu apa maumu bro.Katakanlah!


^^^Aku serius butuh bantuanmu bro!^^^


Jelas Diego disela basa-basi mereka......


Kabar terakhir Danish berangkat ke Los Angeles dimana tempat sang paman berada.Setelah lulus Kuliah bersama dengan Karin,ia memilih untuk menjalani perusahaan sang ayah.


Namun dikarenakan sang paman memintanya untuk mempelajari seluk beluk dunia bisnis di Los Angeles ,maka ia pun dengan senang hati mnerimanya.


Berkat kenakalan masa kecil dan pengalaman masa remajanya,Danish sukses mengumpulkan sejumlah besar anak buah yang siap membantunya dalam tindakan mencegah kejahatan ketika ia membutuhkan.


Anak buah yang dipekerjakan oleh Diego hanya untuk mengawasi Karin dari jauh dan menjaga keselamatannya tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya terkecuali Danang.


Pada ketika ia berangkat keluar kota,ia sempat menghubungi anak buahnya untuk memperketat penjagaan terhadap Karin.


Namun sayangnya para anak buah itu terlambat menyadari akan tindakan nekad anak buah Mr.Paul.Di tengah jalan mereka melancarkan aksi bunuh diri dengan menyalib mobil paman Rul hingga akhirnya mereka berhasil mencelakakan Karin dan supirnya.


Hanya saja ketika dihari naas itu mereka berusaha menghubungi Diego,namun ponsel milik pemuda itu sedang berada diluar jangkauan.


Perjuangan para anak buah itu tidak berakhir disana.Dalam tempo satu jam mereka berhasil mengumpulkan bukti baru menyangkut jaringan ilegal Paul Group.


Berdasarkan bukti konkrit yang dimilikinya,mereka segera mencari keberadaan basis komplotan itu hingga kemudian membumi hanguskan sarang pertahanan mereka.


Dalam aksi satu malamnya, mereka mengetahui ternyata Elyca ikut bersembunyi di sarang preman milik sang ayah tersebut.Lalu merekapun memutuskan untuk menyergapnya.


Dan setelah semuanya jelas, maka Diegopun mulai melancarkan serangannya melalui sistem perangkat lunak perusahaan Paul Group.Ilmu yang pernah ia dapatkan selama belajar di London.Yang juga merupakan trik yang pernah digunakan uncle Danial dalam membekuk musuhnya yang berusaha menjatuhkannya dengan cara kotor.Paman Danial adalah adik satu-satunya mama Cyntia.


Flashback off


Malam kian sunyi,sesunyi hati Diego yang belum terlelap.Masih berkutat dengan semua beban pikiran diruang kerjanya setelah kepergian sang ayah dan kakak. Tangannya masih mengutak-atik mengerjakan sesuatu di laptop miliknya.Tarikan napas panjang dan dalam dilakukannya berulang-ulang sembari melepasnya kasar.


'Bagaimana aku bisa senang mendengar para penjahat itu diringkus sementara disisi lain aku tidak bisa menyelamatkan calon isteriku sendiri.Hatiku tidak bisa menerima hal ini sebagai suatu kemenangan.’


'Keluarga iblis itu telah membahayakan nyawa wanitaku.satu hal yang tidak akan pernah kumaafkan!’


'Kaariiinn...’ Bisiknya lirih sembari mengusap kasar wajah dan rambutnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Drrrttttt drrrrtttt


Mengangkat ponsel


~


Diego Hedy Dz disini.


Kerja bagus!


Tunggu aba-aba dariku.


Tut Tut Tut Tut tut


Memutuskan sambungan


~


Tersenyum sinis.


‘Elyca... Why don’t you shut the **** up? ‘


'Kau hanya perlu menunggu sampai Karin sembuh.Dia sendiri yang akan mengadilimu nanti!'


‘Shit!’


••


Fajar menyingsing menelusup masuk bersamaan dengan sayup gemericik embun yang menetes dari atap genteng kamar, meronta untuk mencerahkan harinya.


keheningan fajar seakan menguatkan segenap indera yang hatinya memilih untuk pergi beberapa lama.


Hembusan sepoi angin subuh seolah membawa pesan rahasia yang ingin disampaikan kepada jiwa yang sempat meminta untuk menghilang.


Semestapun seakan ikut membawa kembali ruh dari sang EMPUNYA kepada jasad yang sempat terkapar di ruang ICU.


Gadis itu seketika mengerjap singkat seakan memberi sinyal kepada seisi ruangan bahwa dirinya ada.


Kelembutan angin subuh membawa wanita paruh baya melangkah menuju ke wastafel untuk sekedar mencuci mukanya yang masih di baluti hawa kantuk.Gemericik air yang bercucuran dari kran wastafel beradu dalam heningnya fajar yang segera menyambut pagi.Sentuhan dingin air yang menghantam wajahnya cantiknya membuat wanita itu seketika mendelik kedinginan.Sayup-sayup ia mendengar suara pesakitan menyapa lemah tak bertenaga dipendengaran.Mama Nadine sengaja masang kuping mencari tahu darimana asal suara tersebut.


“Dy...Diego!” Lamat-lamat semakin jelas.


Ya walaupun masih kesal dengan Diego,namun mama Nadine tetap memaklumi apa yang baru saja didengarnya.Selama ini mama Nadine selalu menerima semua hal yang menjadi pilihan puterinya.


Apalagi seperti saat ini.Pada detik-detik pertama yang sangat menegangkan baginya.Dimana penentuan nyawa puterinya antara hidup dan mati.


Jika nama tersebut yang dipanggilnya berarti besar kemungkinan ada sesuatu diantara mereka yang belum sempat diselesaikan.Ataupun memang dialah penawar segala duka lara yang sudah tertoreh.


“Ka_Karin putriku! Karin apa benar itu suara anakku?”Suara mama Nadine menyergah berhambur kepada obyek yang ditujunya.


Melihat napas puterinya yang naik turun secara teratur membuatnya semakin yakin bahwa puterinya telahpun sadar.


“Sayang! Ini mama nak!” Ucapnya penuh haru.


Tangannya membelai lembut kepala yang terbalut perban.Turun mengusap lembut ke wajah mulus yang mendapat sedikit goresan samar hingga ke dagu runcingnya.


Airmatanya berlelehan manakala mendapati ada bulir bening yang membasahi pipi mulus sang anak.Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu.


“Sayang,apa kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah! Mama akan mendengarkanmu.”Bujuk sang mama yang melihat air matanya bercucuran semakin deras.


“Ma_ ma ma, sekujur badanku saakiit!Mama....hiks hiks hiks....Mama ini sakit!..Ini semua sakit...Aduh! Kepalaku maa....Saakkitt...!!” Semakin lama terdengar tangisan menjerit meraung-raung pilu membuat mama Nadine terlihat sangat panik dan segera menekan tombol darurat hingga dokter dan beberapa perawat bergegas datang.Melihat rombongan yang sigap tersebut, papa Haikal, Adhytama,dan Farah yang berada diruang tunggu merasakan panik yang luar biasa.


Diruang tunggu mama Nadine yang diminta keluar oleh dokter, menangis meraung-raung dalam pelukan suaminya.


"Bagaimana aku bisa tenang pa, kalau puteriku saja merasakan kesakitan yang luar biasa?" Ucapnya terisak.


Papa Haikal yang berusaha tegar namun tidak bisa menahan bulir-bulir bening itu lolos dari sumbernya.Terlihat sangat rapuh.


Farah yang sedang membelai punggung sang mertua juga ikut menangis.


Sementara Adhytama hanya bisa tertunduk lesu.


‘Karin! Bertahanlah dek! Kakak sayang kepadamu.' Gumamnya pelan.Tidak terasa air mata kian membasahi pipi sang kakak.


Dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Karin memberikan penjelasan kepada Adhytamaa yang bergegas mendapatinya.Menurut dokter pasien mengalami trauma pasca kecelakaan.


“Kami sudah memberikan suntik penenang kepada pasien.Biarkan pasien beristirahat dengan baik.Jangan dulu diganggu atau diajak berbicara.”


"Lalu bagaimana dengan dampaknya dok? Apa itu akan mempengaruhi mental adik saya dok?"


"Anda perlu bersabar dalam hal ini pak.Berikan perhatian dan dukungan terbaik kepada pasien agar ia tidak merasa tertekan akibat peristiwa itu.Baik itu perasaan dihantui takut ataupun kehilangan rasa percaya diri dan juga malu."


"Baik dok! Terimakasih atas sarannya."


"Lakukan saja upaya seperti itu terlebih dahulu.Kita lihat perkembangan beberapa hari kedepan.Jika belum ada perubahan dan memerlukan bantuan terapi pembukaan maka kita akan segera mengambil tindakan."


"Baiklah dok! Terimakasih atas informasinya dok!" Ucap Tama berterimakasih.


Disaat yang sama, di ruang ICU yang lain, semilir angin subuh juga membawa sinyal yang kuat kepada tubuh renta itu untuk seketika membuka mata dan menyesuaikan pandangannya ke sekeliling.Lemah dan tak bertenaga.


Didetik yang sama ditempat yang berbeda juga seorang pemuda segera mengangkat tubuh dari gelungan selimutnya.Bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Lalu muncul dengan tubuh berbalut handuk yang melilit di pinggang.Sisa-sisa percikan air masih terlihat dibagian rambut dan tubuhnya yang kekar.


Pemuda jangkung itu terlihat mulai mematutkan dirinya didepan cermin dengan setelan kemeja putih dan jas hitam serta celana hitam.Lengkungan dasi dilehernya dan sepatu pantofel diujung kaki menambah kesan smart ditubuhnya.


Aroma parfum mewah yang baru disemprot menyeruak wangi keseluruh atmosfer ruangan kamar seolah turut memberikan semangat kepada sang fajar untuk lebih cepat menyuguhkan keindahan pagi hari.


Diego bergegas menuju ke dapur sembari tangannya gesit meraih segelas air putih kemudian meneguk pelan dalam posisi duduknya.


“Tuan muda,apa tidak sebaiknya sarapan dulu?”Pelawa bibi Nisa yang melihat tampilan majikannya sudah rapi dan menawan mata.


“Tidak usah bi,aku harus pergi sekarang.”Tolak Diego sembari melirik arloji ditangannya.


Diego memutuskan untuk bertemu dengan klien satu jam lebih awal dari jadwal biasanya.Ia berharap agar setelah ini ia bisa ke hospital dan berharap bisa bertemu dengan wanita pujaannya.


“Apa perlu bibi siapkan bekal untuk dibawa tuan?”Tawarnya ragu.Rada khawatir akan kesehatan tuannya.


“Tidak perlu bi,aku akan sarapan setelah sampai di kantor.”Kembali menolak sopan,”Bibi masih ingat zaman bocahku ya, kemana-mana harus bawa bekal.”Seloroh Diego membuat wanita paruh baya itu tawa tersipu.


“Ehm..eh..tidak nak,bibi hanya tidak mau kalau tuan muda sampai sakit.Mana beban pikiran sudah menumpuk,ditambah pola makan tidak dijaga nanti bisa sakit nak.”Jelas bibi Nisah yang sudah seperti ibu kandung bagi Diego.


Wanita itu memang sudah sangat dekat dengan majikannya itu.Ia bahkan memiliki ikatan emosi yang kuat dengan pemuda itu.


Segala hal yang menyangkut keperluan Diego sudah terhafal mati di otak wanita paruh baya itu.Bahkan hal-hal yang dilupakan Diegopun ia yang mengingatnya.


Belakangan ini ia merasa khawatir melihat perubahan pada diri Diego yang lebih banyak diam dan serius.Padahal sifat dasar Diego sebenarnya adalah ramah,suka bercanda dan peduli sama semua orang.


“Bibi,makasih sudah pedulikan kesehatanku,tapi bibi jangan khawatir ya.”Ucap Diego sembari merangkul bahu wanita yang sudah sangat berjasa kepadanya itu,”Aku janji, di kantor nanti langsung cari sarapan sebelum memulai aktivitasku.”Lanjutnya membujuk.


“Baiklah,hati-hati dijalan ya nak!”


Kembali ke ruang ICU hospital Queen, beberapa jam Kemudian setelah peristiwa menjelang fajar tadi, gadis itu terlihat menggeliat.Dalam setengah sadar ia menyebut kembali nama itu.'Diego!' Nama pemuda itu.


Sang papa yang sedari tadi setia memperhatikan wajah sang anak,tersenyum manis manakala melihat gadis kecilnya itu mulai mengerjap,membuka mata,dan menyesuaikan pandangan sekeliling mencari sesuatu disana.


"Pa pa.." Ucapnya pelan dan manja.


"Puteri kecil papa sudah bangun hmm sayang!" Balas sang papa penuh kasih.


Hanya ada anggukan pelan dari gadis itu.Seketika ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.


Hening.....


"Papa..Kenapa aku ada disini.Aku mau pulang saja pa."


"Ya sayang,kau disini hanya untuk beberapa waktu saja nak.Setelah itu kita akan segera pulang,ok!."

__ADS_1


Hening...


"Apa kau tahu sayang, papa,mama,kakak,dan kakak ipar sangat saayyaang kepadamu."Ucap sang papa hati-hati.


"Dimana mereka pa?"Matanya mengedar mencari sesuatu.


"Ada di ruang tunggu nak.Apa kau ingin bertemu dengan mereka?Papa akan panggilkan satu persatu ya?" Sahut papa hati-hati membelai manja pipi sang anak dikuti anggukan pelan darinya.


"Lalu dimana Danang pa?"


"Danang__"


Seperti yang Karin kehendaki maka satu persatu diantara ahli keluarganya masuk ke ruang ICU dan berintersksi secara bergantian dengannya.Mulai dari sapaan dan ucapan kasih sayang serta candaan ringan yang dilemparkan oleh setiap ahli keluarga berhasil membuat gadis itu tersenyum kecil.


"Hey!Adik kakak yang paling cantik sudah bangun!" Sapa sang kakak ramah.


Gadis itu tersenyum manja kepada sang kakak namun seketika wajahnya datar manakala menangkap sesuatu yang asing dari wajah sang kakak.


"Kakak,apa kau baik-baik saja?"Tanyanya datar.


Tama tersenyum membelai wajah sang adik setelah melihatnya menatap intens ke arah mata elangnya yang sembab.Tama sangat mengerti apa maksud dari tatapan tersebut


"Apa kau tahu kenapa mata kakak ini bengkak kayak tomat dek?"


"Digigit serangga mungkin?" Jawabnya asal.


"Bukan cuma digigit,tapi juga dicium serangga dek.Abis serangganya nakal." Usik Tama sembari tersenyum miring mengusap mata sembabnya.


"Kakak,candaanmu itu! Apa kakak pikir aku anak kecil yang tinggal dibohongi?Aku Karin bukan serangga kak!"Cebik gadis itu memicing cemberut dan lucu meskipun terlihat lemah tak bertenaga.


Tama ikut tersenyum lega sembari mengerjap menahan bulir bening yang hampir lolos dari sumbernya.


Ya,kini keadaan Karin memang sudah mulai menunjukkan perkembangan yang berarti.Kebiasaan usik mengusik ketika bersama sang kakak juga sudah mulai terlihat kembali.


Hingga pada ketika giliran Danang yang baru saja menapakkan kaki di ujung pembaringan, gadis itu langsung menyerangnya.


"Aku dengar kau akan segera pulang ke Indonesia?"Ucapnya pelan tapi ketus.


Danang tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca melihat gadis yang pernah dipujanya itu kembali dalam kehidupan nyata.


"Akh! Masa sih? Aku lebih betah tinggal di kota ini."Mendekati gadis itu dan mengelus bahunya pelan,"Apalagi ada tuan puteri disini."Lanjutnya menahan bendungan yang terasa kian berat.


"Yang benar saja kau!Aku ini hanya seorang yang tidak berdaya."Ucapnya pelan sembari menatap sendu kearah Danang.


"Pssst!Jangan katakan itu.Apapun yang terjadi,kau akan tetap menjadi sahabat terbaikku seperti yang kau inginkan selama ini." Sanggahnya pelan.Tanpa terasa bulir air mata berhasil menerobos pertahanannya.


"Apa kau mau berjanji untukku?"Tanya dengan mata yang berkaca-kaca.Air mata siap kurun dari kelopaknya.


"Ya,aku berjanji untukmu."Ucapnya lembut seraya menatap mata polosnya sejenak kemudian mendaratkan ciuman di kening gadis yang baru sadar dari mimpi panjangnya.


Seketika gadis cantik itupun tersenyum.Ada rona tenang yang muncul diwajahnya namun tidak lama.Tiba-tiba ekspresi itu berubah datar sembari mengedarkan pandangan ke arah pintu ruangan tersebut.Berkali-kali ia lakukan seolah sedang menunggu sesuatu disana.


"Apa kau ingin sesuatu Rin?Katakanlah! Akan kuambilkan untukmu." Ucap Danang menawarkan bantuan namun dibalas dengan gelengan pelan.


"Atau kau sedang menunggu seseorang Rin?Apa kau menunggu Diego?Tanyanya hati-hati.


"Apa dia melupakanku Danang?" Balasnya seakan tidak percaya diri.Raut wajah itu terlihat seperti ingin menangis namun paksa ditahan.


"Dia tidak akan pernah melupakanmu sayang.Percayalah,dia sedang ada temu janji dengan kliennya.Sedikit lagi juga pasti akan kemari." Sahut Danang membujuknya.


"Benarkah itu Danang?"


"Ya, itu benar tuan puteri."


•••


Mentari pagi yang mulai menyusup malu-malu menembus tirai tipis ruangan pribadinya.Diego baru saja selesai berbenah mempersiapkan segala keperluan untuk meeting.Sementara menunggu kedatangan Sheila petugas yang ditunjukkan Diego untuk membantu sekretaris membawa berkas penting yang sudah dipesan sebelumnya.


“Nona Sheila,apa semuanya sudah siap?” Tanya Diego tanpa memandang wajah karyawannya.


“Sudah tuan!”


“Apa nama perusahaannya nona Sheila?’


“Carnelian Group.Perusahaan terbesar di negara tetangga yang dipimpin oleh Tuan Billy Sanjaya.”


“Carnelian Group..?”Gumamnya pelan.


“Ya tuan,dan satu lagi tuan.Berhubung tuan Billy sedang sakit maka beliau menunjuk langsung Puterinya Carnelian sebagai utusan.”


‘Sepertinya nama itu tidak asing lagi.Diakah orangnya?’Batinnya penasaran.


“Ok lakukan yang terbaik.Jangan mengecewakan pihak klien.”


“Baik tuan!”


Seperti janjinya kepada bibi Nisah,pemuda itu akhirnya memilih sarapan pagi terlebih dahulu sebelum memulai pertemuan dengan kliennya.


Diruang meeting...


Meeting kali ini dilakukan bersama utusan dari perusahaan Carnelian Group. Salah satu perusahaan terbesar di negara tetangga yang sepak terjangnya juga mendunia.


Carnelian Group memang sudah lama mengincar TF.Electro Group namun baru kali ini mereka diberi kesempatan untuk bisa saling negosisasi.


Pimpinan Carnelian Group yang memiliki riwayat penyakit jantung sedang dalam perawatan dokter.Terpaksa mengutus puterinya bernama Puteri Carnelian Sanjaya untuk memenuhi temu janji tersebut.


Tepat seperti dugaannya.Puteri Carnelian yang dimaksud adalah wanita yang ia kenal persis.Puteri Carnelian Sanjaya adalah mantan mahasiswa terbaik University of Oxford yang satu jurusan dengan Diego,juga sama-sama dengan Diego mengambil double degree dan juga Lulus bersamaan.Berarti sudah bisa ditebak soal kemampuan Puteri Carnelian Sanjaya.Setingkat dibawah Diego.


Wajahnya yang cantik dan otaknya yang encer serta pergaulan sosialnya yang meluas merupakan satu paket yang nyaris sempurna.Ia masuk dalam deretan tiga besar wanita tercantik dan terpintar di kampus mereka.


“Diego!”


“Puteri Carnelian!”


Ucap kedua anak muda itu hampir bersamaan.


“Kau kah itu? Akh! Selamat berjumpa kembali.” Ucap Diego lepas mengulurkan jabatan tangannya.


“Sialan Dy! Sudah kuduga.Pas papa menyebut nama kliennya, pikiranku langsung lari ke kamu.”Sahut Putri Carnelian menyambut jabatan tangan Diego,”Awas saja ni anak kalau beneran dia.Akan kupaksa dia berkeliling negeri bersamaku.” Lanjutnya berseloroh ria.


“Eh!Apa kau tahu, baru saja sekretarisku menyebutkan namamu,aku kira kau Puteri impian yang selama ini kucari.Ternyata kau berlian!”Sewot Diego tidak mau kalah.Membuat keduanya sama-sama tergelak.


“Oh ya,bagaimana kabarmu?Kau seperti ditelan bumi saja.Eh! Melihatmu aku jadi ingat sama London! Kau kan icon Oxford di zaman kita.”Serunya bertubi-tubi menggambarkan kegembiraan luar biasanya bertemu dengan pemuda itu.


“Seperti yang kau lihat sekarang.Aku baik-baik saja.Kau juga Mis Oxford di zaman kita.Aku kira kau sudah dilamar oleh tuan Spanyol itu.”Ucap Diego tertawa lepas mengingat wanita itu pernah menjalin hubungan dengan seorang pria asal Spanyol bernama Zane.


Ya,Zane.adalah pemuda Spanyol yang tergila-gila kepada Lian sapaan bagi Carnelian.Mengetahui itu, Zane pun sengaja dimanfaatkan oleh Putri Carnelian untuk merebut hati Diego.Lian sengaja membuat Diego cemburu dengan bermesraan dihadapan Diego.Namun upaya Lian tidak sedikitpun berhasil mempengaruhi pendiriannya.


“Sialan Dy, itu juga gara-gara sikap lu yang super dingin.Pake nolak diajak pacaran.Peka dikit kek! Hehe..”Sanggahnya berseloroh.Namun rona merah yang menyembul diwajahnya itu tidak luput dari penglihatan Diego.Malu dengan tingkah alay masa lalunya.


Hingga suatu saat ketika pemuda itu merasa dipermainkan akhirnya iapun menuntut lebih kepada Lian.


Zane sengaja membawanya ke sebuah pusat hiburan malam dan memaksanya agar menyerahkan kehormatannya.


Untung saja wanita itu masih punya akal sehat dan berhasil kabur dari sana. Berlari sekuat tenaga dan akhirnya di tengah jalan ia bertemu dengan Diego yang nyaris menabraknya.Seketika itu Diegopun menolongnya.Dan akhirnya mereka berduapun berteman hingga kini.


“Jadi papamu juga tahu soal tuan Spanyol itu?”Tanya Diego sengaja memancing.


“Huhhh! Bukan Cuma tahu,tapi papaku malah sengaja menjodohkan ku dengan pemuda pilihannya agar aku tidak salah pilih lagi.Padahal pilihan papa itu yang tidak kukenal sama sekali!Belum juga bertemu sampai sekarang!” Sahutnya kesal.


“Oh ya? Aku turut prihatin Lian.Tapi aku rasa dia akan lebih baik daripada tuan Spanyolmu itu.Jadi sebaiknya kau pikirkan lagi jika kau mau menolaknya.” Ucap Diego tersenyum usil.


Putri Carnelian mencebik kesal,"Kalau orangnya kayak kamu aku mau Dy!" Ucapnya ketus sembari bersedekap.


"Ya kalau seperti aku,pasti nanti dingin lagi."Sahut Diego masih mengusik.


"Akh! Bodo ah! Daripada jantung papa makin parah mendingan aku nurut aja."Ucapnya pasrah iikuti oleh tawa lepas Diego.Dalam hatinya ada perasaan iba mendengar nasib wanita yang pernah nekad mengejar cintanya itu.


Gara-gara keseruan mereka menyebabkan meeting itu terjadi tanpa ada rasa cangggung dan kaku sedikitpun.Pertemuannya berjalan lancar dan kesepakatan bersama yang dibuat saling menguntungkan kedua belah pihak tanpa negosiasi yang rumit.


Untuk sementara Diego melupakan semua aktivitas dan beban yang melanda diri dan kehidupannya selama beberapa waktu belakangan ini.


“Padahal aku sudah berpikir akan susah menjalin kerjasama ini.Karena menurut papaku TF.Electro Group sudah dua kali menolak kerjasama dengan papaku.”


Ucap Putri Carnelian dengan nada menyesal.


“Bukan ditolak Lian,tapi Carnelian Group hanya belum mendapat kesempatan menerima persetujuan dari admin TF.Electro Group saja.”Jelas Diego meralat ucapan Putri Carnelian.


“Ya,pokoknya begitulah!”Sahutnya pasrah.


Tanpa disadari pembicaraan seru mereka telah menyita waktu selama dua setengah jam lamanya.Diego baru menyadari setelah ada pesan whatsapp masuk dari Danang yang mengatakan bahwa dirinya minta izin pulang lebih dulu untuk menjenguk Karin.


“Astaga!!!" Keluhnya sembari menepuk jidat.


'Karin!' Gumamnya pelan.


“Ada apa Dy?Kagetnya udah kayak disamber petir gitu?”Sergah Putri Carnelian mengernyit bingung.


“Maaf Lian,aku harus pergi sekarang.Ada urusan penting yang terlupakan!”Ucapnya menyesal.


“Kenapa nggak bilang dari tadi Dy?” Lentingnya kaget.


“Ya,baru ingat.Ini juga gara-gara kamu.Pakai seru-seruan soal masa lalu khan.”Sambar pemuda itu mencebik sambil berlalu tanpa pamit.


Baik Sheila maupun Putri Carnelian sama-sama geleng-geleng kepala melihat tingkah Diego yang tidak asing dimata mereka.Bagi mereka sudah bukan hal yang mengejutkan lagi.


“Dari dulu nggak pernah berubah dia.”Gerutu Puteri Carnelian sembari tersenyum lucu memandangi punggung Diego yang kian menjauh.Sesaat kemudian Sheilapun menutup acara meeting ala keluarga tersebut dengan ucapan terimakasih dan selamat bergabung kemudian berlalu pergi mengejar bosnya yang sudah lebih dahulu meninggalkan ruangan meeting.


Diego berhambur keluar ruangan melepaskan semua pekerjaannya.Diluar ia sudah siap menunggu kehadiran Sheila yang berjalan setengah berlari menuju kearahnya.


“Nona Sheilla,batalkan semua jadwal meeting klien diatas jam sebelas siang.Kosongkan semua jadwalku hari ini.Atur jadwal pertemuan kembali dilain waktu.”Melirik arloji ditangannya,”Aku ada urusan mendadak yang sangat penting!”Lanjutnya sembari melangkah panjang tanpa menunggu persetujuan dari sekretaris penggantinya.


“Baaaaiiikkk pak!” Pekik gadis itu setinggi satu oktaf mengikuti gerak punggung bosnya yang sudah seratus meter menjauh.


“Hhhhh!Ada-ada saja pak bos ini!Pantas saja nona Karin lebih banyak murung setelah menjabat sebagai sekretaris pribadinya.” Gumam gadis itu menggerutu sendirian sambil menggeleng -geleng kepala.


'Eh!Apa kabar nona Karin sekarang ya?’ Batinnya


'Aku merasa perlu untuk menjenguknya.' Sembari melangkah gontai menuju ke meja kerjanya.


Tidak lama kemudian rombongan Puteri Carnelianpun memutuskan untuk pulang ke Hotel SH sembari menunggu jadwal temu janji dengan klien selanjutnya.


Disisi yang berbeda,Danang sedang terburu-buru mengganti sepatu dan semua perlengkapan antistatic keselamatannya.Ia bergegas menuju ke luar gedung perusahaan.Siap untuk berangkat ke hospital mengingat hari itu ia harus membawa sang ayah yang baru dua hari mendatangi kotanya untuk bertemu dengan seorang klien yang telah membuat janji dengannya.


Di depan ruang reseptionist tanpa sengaja tubuh Danang menabrak salah seorang wanita dari rombongan Puteri Carnelian Sanjaya.Berujung dengan permintaan maaf oleh pemuda tersebut kemudian segera berlalu dari sana. Wanita yang ditabrak tersebut tidak lain adalah sekretaris tuan Billy itu sempat terpana menatap punggung kekar pemuda itu.


'Kenapa di perusahaan ini semua pria pada ganteng sempurna ya?!' Gumamnya lebay.


Hal yang tidak diketahui Danang itupun sempat terekam jelas di memori Puteri Carnelian Sanjaya yang sedari tadi memang tidak sengaja sedang mengamati dengan jelas gerak langkah pemuda yang baru saja berlalu dari hadapan rombongan mereka bersama hembusan cerahnya hari.


••••


Bersambung...

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2