Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Kebaikan


__ADS_3

Selamat membaca semoga sehat selalu 🙏😍


~


Sambungan terputus.


'Hah! Dia bahkan lupa kalau sebenarnya kakak ipar tidak tahu jalan pulang dan masih disini bersamaku.Plukk! ' Celetuk Haidar sembari menepuk jidat.


Bingung memandang Karin yang masih duduk berselonjor di kursi tamu.


Saking paniknya Diego sampai lupa kalau isterinya tidak tahu jalan pulang dan masih bertengger di ruang utama bersama Haidar sepupunya.Karin yang keluar dari ruang tempat Elyca disekap tadi langsung dicegat oleh asisten yang siaga di sana.Karena khawatir nyonya muda itu bakal tersesat maka asisten tersebut segera membawanya kembali ke ruang utama sembari menunggu kehadiran tuan muda Diego untuk menjemputnya.


"Ck!" Decaknya.


'Aku bahkan lupa kalau isteriku tidak tahu jalan pulang.' Gumamnya sesaat setelah menerima pesan WhatsApp dari Haidar berisi foto sang isteri yang sedang duduk berselonjor di kursi tamu ruang utama.


Diego mengacak rambutnya frustrasi.Berjalan mondar-mandir resah menunggu kehadiran sang isteri.


"Makanya dengar dulu apa yang ingin kusampaikan sebelum kau memotong pembicaraanku." Sergah Haidar sesaat setelah memasuki ruang owner mengantarkan Karin kepada Diego.


"Diam! Kau mulai bertingkah padaku."Sanggah Diego ketus.


Haidar mencebik sembari merutuk samar.


"Ehmm..Kau bukannya berterima kasih,malah balik memarahinya?' Timpal Karin meleraikan.


"Ehmm..Sayang,apa kau baik-baik saja? si playboy itu tidak macam-macam denganmu kan?" Celoteh Diego sembari mencermati setiap inci penampilan sang isteri dengan tatapan menyelidik dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.


Karin menyungging senyum malu melihat tingkah posesif sang suami.


'Haissh! Apa dia sudah gila? Dia kira aku sebuas itu? Yang bisa seenaknya menggoda kakak iparku sendiri?' Gumam Haidar pelan namun masih terdengar oleh Karin yang berdiri menyamping.


"Maafkan dia.." Ujar Karin pelan dengan wajah memerah kepada Haidar.


"Ahahaha,tidak apa-apa kakak ipar.Kami berdua memang sering bertengkar.Akh! Hal biasa..Hanya kak David yang bisa meleraikan kami berdua."Balas Haidar meredakan rasa malu Karin yang membumbung.


Karin baru menyadari kalau Diego yang kharismatik ternyata bisa seposesif itu terhadap orang yang ia sayangi.


"Apa kau tahu kami akan segera pulang."Ucap Diego sembari menatap Haidar.


Pria yang disebut playboy oleh Diego itu manggut-manggut.


"Maka segera uruskan semua keperluan keberangkatan kami."Lanjutnya datar.


"Baiklah,baiklah!Kau tenang saja.Akan kubereskan semuanya demi kakak ipar." Jawabnya sembari mengedikkan bahu.


•••


Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka berdua. Karin memilih bungkam sembari menatap pemandangan malam lewat kaca jendela mobil. Sedangkan Diego memilih fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah belahan jiwanya yang sedang termenung.


Beberapa kali ia mencoba untuk berbicara agar bisa mencairkan suasana kaku namun lidah kelu dan tenggorokannya serasa kering untuk memulai pembicaraan.Akhirnya ia memilih diam hingga mereka tiba di apartemen.


Setelah membersihkan diri Diego menyusul ke dapur dimana Karin sudah lebih dulu berada di sana untuk memanaskan menu makan malam mereka yang telah dimasak oleh Karin pagi tadi.

__ADS_1


Selama aktivitas makannya juga diisi dengan keheningan.Hanya terdengar benturan irama sendok dan garpu yang beradu dengan piring.Kedua anak muda itu larut dalam pikiran masing-masing tanpa ada keinginan untuk lebih dulu membelah hening.Diego memenuhi janjinya pagi tadi


semua menu yang dimasak Karin dihabiskan malam itu.


Karin yang baru saja membereskan cucian piring kotornya melangkah pelan menuju ke ruang tamu dimana Diego sedang duduk santai.


"Ini kopinya,minumlah!" Pelawa Karin menyodorkan cangkir kepadanya.


Diego menyambutnya tanpa suara.Hanya anggukan kecil yang menyertai rengkuhan cangkirnya sesaat sebelum Karin berbalik meninggalkannya.


"Karin!" Ucapnya tiba-tiba.


"Ya?" Balasnya sembari menghentikan langkah..Berbalik badan lalu menatap dari kejauhan.


Hening.......


"Istirahatlah!"Ucap Diego dari kejauhan.


Karin mengangguk pelan.Suasana kembali kaku seperti hari-hari sebelumnya.


Manakala Karin usai membersihkan tubuh,ia memilih menikmati malamnya dengan membaca buku di sofa sebelum tidur.


Satu jam kemudian


Ceklek


Diego menutup rapat pintu yang baru saja dibukanya.Pria itu berjalan


menghampiri Karin yang masih memegang buku bacaan ditangannya.


"Ya."Jawab Karin singkat.


"Tidurlah! Ini sudah malam."Perintahnya sembari memeriksa layar ponsel miliknya.


"Hmm...Baiklah."Jawab Karin masih tetap fokus kepada bacaannya dan tidak bergeser sedikitpun.


Duapuluh menit berlalu.Diego yang masih mengutak-atik ponsel miliknya kembali menegur sang isteri.


"Kenapa kau belum tidur juga?"Tanya Diego menatap wajah yang kian letih.


"Aku masih belum mengantuk."Jawabnya sembari mengucek-ngucek matanya.


"Kenapa tidak dicoba dulu?Kemarilah! Tidur dipangkuanku."Ujar Diego sembari menepuk pelan pahanya mempersilahkan kepada sang isteri menyandarkan kepalanya.


"Hmm..Baiklah." Jawabnya melunak setelah berpikir beberapa saat.


Diego menatap intens wajah sang isteri yang terlihat lelah.Jemarinya membelai lembut sulur rambut yang membingkai wajah gadis itu.


"Jika memang ada beban,bicaralah! Jangan dipendam." Ujar Diego sembari menarik napas dalam.


"Karena itu hanya akan membuatmu semakin sulit beristirahat."Lanjutnya pelan setengah berbisik.


Karin hanya mengangguk pelan.Wajahnya menengadah menatap Diego yang juga tengah menatapnya dalam.Cukup lama mereka saling bertembung dengan tatapan penuh arus yang menyengat menggetarkan jiwa hingga mata sayu itu memilih lebih dulu mengakhirinya.

__ADS_1


"Maafkan aku telah menyusahkanmu." Ucapnya sendu sembari melarikan tatapannya ke ujung langit-langit.


"Maaf untuk apa? Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu." Timpal Diego bimbang sembari menangkup bingkai wajah gadis itu.


"Kau tidak salah."Sergah Karin.


"Tidak seharusnya aku mengajakmu ke tempat itu."Balas Diego menyesal.


"Tindakanmu sudah tepat.Aku yang berlebihan menanggapinya." Timpal Karin berpendapat.


"Jadi kau tidak marah kepadaku?" Tanya pemuda itu memastikan.


"Tidak,untuk apa marah?Kau sudah berjuang untuk memulihkanku."Jelasnya parau.


Diego merasa perlu waktu untuk mencerna setiap ucapan dan tindakan sang isteri.Hatinya seakan belum percaya dengan keputusan yang diambil oleh gadis berwajah oval itu.Diego berpikir bahwa mungkin saja gadis itu akan bertindak kejam terhadap Elyca setelah apa yang dialaminya selama ini.Padahal tidak!


"Kenapa kau membiarkannya tetap hidup?" Tanya Diego datar.


"Aku tidak sampai hati membunuh orang."Jawabnya menerawang.


"Setidaknya kau bisa memerintahkan kepada para bodyguard itu untuk menyiksanya sampai tidak berdaya." Timpal Diego memberi saran.


Karin bahkan memberi kesempatan kedua kepada Elyca untuk tetap hidup dan mengubah diri.Satu hal yang membuat Diego merasa perlu belajar lagi untuk memandang dari sisi yang berbeda.Seorang gadis telah mengajarkan kepadanya arti kesabaran dari sudut pandang menanggapi suatu kejahatan tanpa harus balas menyakiti.


"Jika kuperintahkan mereka untuk membunuhnya,maka apa bedanya aku dengan dia?Aku tidak ingin melakukan hal sekeji itu." Jelas Karin bergidik.


Diego tersenyum samar.Perlahan ia menggendong tubuh mungil isterinya menuju ke ranjang yang sesaat sebelumnya sempat meronta untuk melepaskan diri namun Diego tidak membiarkannya.Hati-hati ia membaringkan gadis itu di ranjang lalu kemudian mengambil posisi rebahan disampingnya saling berhadapan.


"Tidurlah ini sudah malam."Perintahnya setengah berbisik.


Jemarinya masih membelai lembut wajah yang terlihat letih namun matanya sulit terpejam.


Karin mengangguk pelan.


"Aku akan menjagamu sayang."Ucapnya parau sembari memeluk erat tubuh mungil itu.


Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke gadis itu hingga hidung bangir mereka bertembung.Deru napas hangat milik sang gadis menguar lembut ke mulut dan hidungnya.Diego menambah erat pelukan hangatnya,menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher jenjang milik sang gadis dan mengusap lembut bibir cherry itu dengan jemarinya lalu mendaratkan kecupan yang cukup lama dengan napas yang menggelora.


Karin berusaha mengurai pelukan yang memanas itu namun dicegat oleh Diego.


"Biarkan seperti ini dulu,aku rindu.."Bisiknya lembut ketelinga gadis itu.Deru napas maskulin menerpa nakal kekuping membuat si gadis cantik seketika menggeliat.Diego merengguk dalam-dalam aroma wangi segar tubuh sang isteri yang berbalut piyama laksana menghirup aroma bunga mawar yang menguar menembus indera penciumannya.


"Dy, aku_"


"Psst! Diamlah! Aku sedang tidak ingin berbicara."Celetuknya tak ingin dibantah.


Hening....


Beberapa lama kemudian terlihat tatapan gadis itu mulai sayu dan perlahan memejam sempurna.Diegopun menghentikan aktivitasnya namun tetap memeluk erat dengan lutut yang mengunci tubuh belahan jiwanya itu.Sejenak iapun ikut larut kedalam mimpi bersama gejolak hati yang berbunga dan penuh ketenangan.


•••


*****

__ADS_1


Bersambung.......


🤗🤗🤗


__ADS_2