
Selamat Mambaca 🙏😍
Hembusan angin subuh memecah hening menyambut fajar.Sensasi sejuknya membawa langkah gadis itu perlahan menuruni anak tangga sembari menguap menahan sisa rasa kantuk. Percikan air dingin masih membekas disebagian wajahnya yang baru saja ia basuh sesaat sebelum melangkah keluar dari kamar meninggalkan sang suami yang masih terlelap di atas ranjang.
Sesekali terdengar suara benturan antara sutil dengan wajan yang saling beradu di atas perapian panas seakan memberi kesan bahwa ketiga objek itu saling memadu kasih demi untuk menghasilkan masakan yang enak dengan tingkat kematangan sempurna.
"Salam menyambut fajar bibi."Sapa Karin mengagetkan bibi Ana yang tengah sibuk menjerang air di perapian untuk keperluan mengukus sesuatu di sana.
Bibi Ana si kepala pembantu yang sudah puluhan tahun mengabdi kepada keluarga ini sangat lihai dalam menyediakan semua kebutuhan majikannya.
Sementara diujung perapian yang lain terlihat bibi Nisah tengah sibuk mengaduk-adukan nasi di penggorengan yang didalam terdapat minyak panas yang telah dibumbui dengan bawang putih cincang,irisan wortel dan paprika manis ditambah potongan daging paha ayam dan juga kecap inggris serta sedikit air perasan asam jawa yang menguar aroma khas nasi goreng spesial.
"Salam nyonya muda,subuh-subuh sudah kemari.Apa ada yang bisa saya bantu nyonya?Jawab bibi Ana sopan namun bernada tegas.
Ya,secara sikap mereka sudah terlatih karena selain daripada tugas utamanya memasak dan menyediakan menu baru kesukaan keluarga ia juga bertugas mengontrol semua pekerjaan yang ditangani oleh setiap pekerja yang ada disana dan juga membimbing setiap pembantu yang baru dipekerjakan oleh majikannya.
"Tidak bi,terima kasih.Aku kemari hanya ingin membantu bibi menyediakan sarapan untuk pagi ini."Ucap Karin sopan.
"Maaf,tapi sebaiknya nyonya muda kembali ke kamar saja.Biarkan kami yang menyelesaikan pekerjaan ini.Saya khawatir akan ditegur oleh tuan dan nyonya besar karena dianggap lancang mempekerjakan majikan sendiri."Sela wanita paruh baya itu dengan wajah yang khawatir.
"Tidak apa-apa bi,aku hanya ingin membantu bibi,bukan mengerjakan semuanya sendirian.Jadi izinkanlah aku bi." Sanggah Karin bersikukuh ingin membantu.
Setelah berpikir keras,akhirnya dengan berat hati bi Ana menyetujui permintaan Karin.Dengan senang hati gadis itu memulai aktivitasnya sembari mengajak bibi Ana dan bibi Nisah bercerita dan bercanda ria.Kedua wanita yang merasa seperti memiliki seorang puteri diusia menjelang senja itu dibuat senang dan tertawa lepas akibat pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan olehnya.
"Apa bibi Nisah suka jalan-jalan?"Tanya Karin.
Wanita itu tersenyum, "Ya,nona.Bibi suka jalan-jalan sewaktu masih muda dulu."
"Nisah memang suka jalan-jalan.Tapi ke luar negeri bersama tuan muda Diego yang tampan itu nona." Timpal bi Ana sembari tertawa usil melirik sahabatnya.
"Oh jadi ceritanya bibi jalan bareng pujaan hati nih!"Seloroh Karin terekekeh sembari memeluk ramah bibi Nisah.
Maka yang diusik jadi ikut cengar-cengir melihat Karin tertawa riang.
"Kalau bi Ana malah punya tuan muda David yang keren itu.Kemanapun tuan David pergi dia wajib ikut.Tapi semenjak tuan David menikah dan pindah rumah, lalu Ana diangkat menjadi kepala koki,dia jadi mendekam di rumah ini tanpa bisa pergi kemana-mana." Timpal bibi Nisah tidak mau kalah.
'Oh,pantas saja kemarin kuperhatikan kak David lebih sering berinteraksi dengan bi Ana ketimbang pembantu yang lainnya.' Batinnya.
"Yah! Bibi..Kalau begitu ceritanya oke fix aku dan kak Dian cuma meminjam kak David dan Diego dari bibi berdua.xixixixi"Ucap Karin tertawa memelas.
Kedua wanita itu jadi ikut terpingkal akibat candaannya.
__ADS_1
"Nis,sungguh beruntung nak Diego memiliki isteri seperti dia."Ucap bi Ana.
Nisah tersenyum manggut-manggut,"Ya,kau benar.."
"Bi Ana dan bi Nisah,kapan-kapan jika aku ajak jalan harus mau ya."Ucapnya Karin yang tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan secara saksama oleh kedua wanita tersebut.
"Boleh nak."Jawab keduanya hampir bersamaan karena merasa terpaut hati dengan sikap dan celoteh riangnya yang menganggap mereka seperti sahabat dan juga orangtua sendiri.
Karin terlonjak senang.Merasa seperti memiliki kembali si tiga serangkai bibi Ira,Irna,dan Mina serta bibi Rani yang tertinggal di dapur asri sang mama Nadine dan oma Hasnah.
Menjelang pagi Karinpun usai membantu menghidangkan menu sarapan pagi untuk keluarga barunya.
Pagi ini ada menu nasi goreng,omelet telur,sereal gandum,yogurt dan juga telur setengah matang plus kecap asin.
"Bi, ini bubur ayam untuk papa atau mama?"Tanya Karin sesaat setelah bibi Nisah menghidangkan semangkuk bubur panas di atas meja.
Bibi Nisah tersenyum,"Tidak nak,itu bubur yang dipesan khusus oleh tuan muda untuk anda.Katanya anda suka makan bubur di pagi hari."Jawab bibi Nisah sembari tersenyum.
"Oh ya itu benar bi.Baiklah,terima kasih."Ucapnya berbinar.
"Ya,sama-sama nak."Balas wanita itu sembari berlalu dari hadapannya.
Karin melangkah kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berdandan.
"Katakan,pagi-pagi buta begini puteri papa sudah muncul darimana hmm?
Ucapan seseorang yang tak lain adalah papa Fahmi sembari berjalan mendekat mengagetkan dirinya.
"Eh,papa.A_aku baru habis cari minum di dapur."Jawabnya gagap.
"Benarkah?Apa kau yakin hanya mencari minum dan bukan karena ikut memasak nak?"Usik pria paruh baya itu sembari tersenyum menyapu lembut kepala gadis tersebut.
Karin melongo merasa diawasi oleh mertuanya.
Papa Fahmi tersenyum geleng-geleng,"Papamu sering bercerita kepadaku kalau kau suka sekali memasak nak."Jelasnya pelan,"Ya sudah,setelah ini katakan kepada Diego kalau papa ingin bicara kepada kalian berdua."Lanjutnya sembari berlalu ke ruang tamu diikuti oleh anggukan gadis cantik yang masih tertegun memandangi punggung ayah mertuanya yang kian menjauh.
Ceklek
Karin masuk kedalam kamar sembari berdendang pelan.Sementara Diego yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dibaluti handuk selutut menampakkan kesan seksi dari otot-otot kekarnya yang menyembul keluar.Sumpah ini kali pertama Karin melihatnya langsung terpana meneliti dengan saksama anugerah terindah yang terpampang nyata tanpa sekat tanpa batas.Menyadari hal itu,Diego yang melangkah pelan mendekatinya lantas menangkup tubuhnya kedalam dekapan erat yang tak terelakkan oleh gadis itu.
"Sayang apa_"
__ADS_1
"Aku akan segera mengambil pakaian gantimu,oke."Potong Karin cepat sembari berusaha melepaskan diri.
Diego tersenyum miring,"Jangan akh! Biarkan begini sayang.Kau harus membayar kecerobohanmu karena telah lancang keluar dari kamar ini sebelum kuperintahkan."Cegatnya sembari berbisik pelan dan manja.
"Ya sudah,aku minta maaf hmm sayang,sekarang bersiaplah karena baru saja papa bilang ingin berbicara dengan kita berdua."Balas Karin berbisik ke telinganya.
Semerbak wangi sabun yang melekat ditubuh kekarnya memadu dengan aroma maskulin yang khas menguar lembut menambah kesan sensual di indera penciuman Karin sehingga gadis itu merasa perlu merengguk dalam-dalam aroma khas yang membuatnya kian candu setiap kali berada disisinya.
"Ya,tapi layani aku dulu."Sanggahnya.
"Sayang,kasihan papa jika dibiarkan lama menunggu."Bujuk sang isteri.
"Hmm..Okelah! Apa yang tidak untukmu."Balasnya mengalah.
"Dy,apa boleh setelah ini aku pergi ke boutique?"Ucapnya sembari meraih satu setelan pakaian kerja dan disodorkan kepada sang suami.
Dengan telaten ia membantu sang suami mengenakan kemeja biege khas TF.Electro branded.Merapikan ikat pinggang yang melingkar dipinggang,menata rambut,hingga kepada mengalungkan dasi.Semuanya ia lakukan dengan penuh kasih sayang sebagai balasan selama ini Diegolah yang telah mengurus segala keperluannya.
"Aku sangat ingin pergi ke boutique milik kakak Heny."Lanjutnya memelas.
"Boutique? Boleh,tapi aku yang antar."Jawabnya mengiakan.
"Haish! Kau harus bekerja sayang,biarkan aku sendiri dan paman supir saja yang menemaniku.Oke."Ringis Karin menolak keinginan Diego.
"Pokoknya jika bukan aku yang mengantarmu,maka tidak ada acara jalan-jalan kemana-mana."Tandas Diego bersikukuh.
"Sayang_"
"Sayang,sayang,kumohon jangan paksa aku mengiakan dirimu pergi sendirian. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu.Oke."Ulas Diego memotong ucapan sang isteri.
Karin hanya mematung hingga Diego benar-benar memboyongnya menuju ke kamar mandi lalu mengarahkannya agar lekas mandi dan bersiap-siap turun ke ke dapur untuk sarapan pagi.
•••
Bersambung.......
*****
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mampir dan meninggalkan jejak di karya pertamaku ini..Salam kenal dan salam saling mendukung..
Jangan lupa tinggalkan jejak lagi ya..🤩🤩🤩🤗🤗🤗
__ADS_1