
Diego,Danish dan Falcano tengah berjuang melepaskan diri dari terowongan tempat mereka menyembunyikan diri.Tepatnya mereka menyembunyikan Diego dari pelacakan Mr.Patrick and crew.
Hanya itu satu-satunya tempat yang tidak bisa dijangkau olehnya karena dijaga ketat oleh sistem pengawasan digital sama seperti di gedung Patrick ataupun di Diego Spirit Hotel.
Hanya saja dikarenakan tempat tersebut adalah milik Falcano,maka sang ayah yang mencium gelagat aneh dari anaknya itu, akhirnya memilih menggeledah tempat tersebut dan ternyata dugaannya benar.
Hingga di saat ia mencoba mengerahkan pasukan terbaiknya untuk menggeledah seisi gedung,ternyata seluruh pasukan elit miliknya malah ikut terjebak dalam permainan Danish sekawan.
Para pasukan elit itu berhasil dikibuli Diego dengan membelokkan penunjuk jalan palsu hingga akhirnya mereka masuk ke dalam perangkap yang telah disediakan oleh tim gerakan satu malam.Sedangkan sistem digitalnya sudah tidak berfungsi untuk terowongan itu akibat ulah Falcano.
Dan di saat yang bersamaan tim Diego Spirit yang telah mendapat sinyal baik dari tim gerakan satu malam ikut menyerbu gedung yang lengkap dengan sistem pengawasan serba digital itu.
Di sana Falcano telah membiarkan Diego si master electro mengacaukan server mafia elit tersebut lalu membuka akses kepada tim lawan ayahnya hingga mereka bisa dengan leluasa melacak keberadaan sang ayah dan juga markas utama kebesaran mafia Shimpson Familly di tanah Mat Saleh.
Diego sempat mengerutkan keningnya manakala membaca kalimat motivasi dari Falcano dalam bentuk huruf sandi di dalam laptop miliknya,
TIDAK ADA KEJAHATAN YANG DIBIARKAN MENANG DI BUMI MAT SALEH!
'Seperti pernah mendengar kalimat ini dari seseorang.'gumamnya pelan.
Dalam kerja sama itu,Davidlah yang berperan membekuk Mr.Patrick dengan duel satu lawan satu.Mengingat seluruh pasukan elit miliknya telah masuk ke dalam perangkap besar milik tim gerakan satu malam dan siap diangkut satu persatu menuju ke penjara kastil milik Diego Spirit.
"Rupanya kau,bocah ingusan!"seru Patrick geram dan David menyeringai sinis.
"Kau yang cari masalah denganku, Mr.Patrick!"balas David tidak gentar.
"Kau akan menyesal karena telah berurusan denganku!"bentaknya meninggi dan David menyeringai memacing emosi pria tersebut hingga pria paruh baya itu benar-benar takluk kepada amarahnya sendiri.
Pria itu akhirnya kalah dalam pertempuran hawa napsu sementara David yang tenang seperti air tanpa riak dengan mudah melumpuhkan Mr.Patrick yang terbelit amarah hingga membuatnya kehilangan fokus dan taktik mebghadapi musuhnya yang semakin kuat dan teduh.
David yang ahli dalam hal semacam ini dengan mudah membawa musuhnya ke dalam genggamannya meski si musuh berkekuatan baja sekalipun.
Berkat bantuan tim gerakan satu malam, David bersama timnya berhasil memboyong tubuh sang mafia elit tersebut ke dalam penjara.
"Sebaiknya bertaubatlah di sisa umurmu."
ucap David datar setelah berhasil memasukkan pria itu ke dalam ruang bawah tanah Diego Spirit sembari menunggu keputusan tindak lanjut dari sang ayah Tun Fahmi.
Sementara itu di terowongan bawah tanah....,
__ADS_1
Diego,Danish dan juga Falcano akhirnya bertemu pada titik akhir di sebuah hutan lindung milik warga setempat.Pintu yang membawa mereka keluar dari tempat meyeramkan itu.Senyum kemenangan mengukir di wajah ketiga anak muda yang bertaruh nyawa sejak satu malam yang lalu.
Rintangan besar yang baru saja berhasil mereka lewati telah membuat diri mereka menjadi lebih kuat dan bermental baja. Danish yang sudah terbiasa dengan hal semacam itu bahkan mengakui solidnya kerja sama di antara mereka bertiga.
"Semua ini berkat kerja sama dari kalian berdua."ucap Diego seraya mengangkat tinju high five nya kepada kedua pemuda yang berdiri berhadapan dengannya.
"Itu karena idemu,kawan!"jawab Falcano.
"Ya,Falcone benar teman!Jika bukan karena kau yang memberikan ide itu maka kami juga akan kewalahan menghadapi tuan mafia."timpal Danish mengakui.
Butuh waktu satu hari penuh mereka menuntaskan pekerjaan mereka hingga benar-benar tuntas dan kini baik Diego maupun Falcano dan juga Danish sudah bisa bernapas lega karena isteri,sahabat dan juga pelindung mereka terbebas dari ancaman maut keluarga mafia itu.
"Ah,ya.Semuanya demi isteri dan anakku. Terima kasih juga buat kalian berdua karena telah menyelamatkan nyawaku dari ledakan bom itu."balas Diego menggubris.
"Pulanglah,dan berterima kasihlah kepada isterimu,dan....,"balas Falcano datar,
"sampaikan salamku kepadanya."lanjutnya menerawang.
Diego menanggapinya dengan respon yang positif.Mengangkat tinju membentuk high five dengan pemuda yang juga telah menyelamatkan dirinya itu.Di sela ucapan kemenangan mereka itu tiba-tiba terlintas bayangan akan isterinya yang tengah mengalami kesakitan yang luar biasa membuat Diego seketika kalap.Ia baru menyadari jika isterinya kini telah melewati masa akhir kehamilannya,
"Maaf,aku harus pergi sekarang."desahnya pelan dan ditanggapi oleh kedua pemuda itu dengan anggukan kepala.
'Karin....,Karin....,Karin!'
Tanpa sadar Diego bergumam memanggil nama isterinya berkali-kali.Sorot mata berkabut itu membawa tubuhnya menerobos hutan lindung dengan langkah panjang.
Di depan sana,Diego sudah ditunggu oleh tim Diego Spirit utusan David.Diego disambut dengan penuh hormat,
"Maaf tuan muda,kami yang akan membawa anda pulang ke rumah."ucap salah satu di antaranya dengan hormat dan Diego mengangguk pelan.
Kediaman Tu Fahmi...,
Tun Fahmi yang sedari tadi harap cemas menunggu kehadiran putera bungsunya, tampak mondar-mandir di tengah ruang keluarga.Isterinya dan juga keluarga besar Haikal telah lebih dulu pergi ke rumah sakit dalam rangka membesuk puteri kesayangan mereka.
Sementara pria paruh baya itu tidak sanggup berdalih di hadapan menantunya hingga ia memutuskan untuk berangkat bersama Diego.
"Papaa!"seru Diego kegirangan sembari berhambur ke dalam pelukan sang papa.
Tun Fahmi menyambut sang anak denganĺ tatapan berkabut.Ingatan akan masa kecilnya di mana ia selalu menggendong dan memeluk cium puteranya kini bermain diingatan seorang ayah tangguh yang mendidik anaknya menjadi pribadi lasak dan kuat.
__ADS_1
Tun Fahmi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sang pencipta karena telah menjamah doa-doanya hingga sang putera kesayangan keluarganya telah pulangbdengan selamat.
"Kau sudah kembali nak,"desah papa Fahmi dengan tatapan berkabut dan Diego mengangguk pasti.
"Berkat ketulusan papa...,aku berhasil pulang."jawabnya sebak.
Tidak terasa air mata mengalir membasahi pipi kedua pria beda fase itu.
"Bersiaplah,karena puteriku sedang menunggu kehadiran putera papa."ucap papa Fahmi pelan.
Diego mengangguk dan bergegas membersihkan diri.Usai mandi,ia mendapati wajahnya yang terdapat luka lebam akibat beradu dengan pria misterius yang tidak lain adalah Danish sahabatnya sendiri.
Diego berusaha menyamarkan luka yang masih membekas di ujung bibir dan juga lebam di pelipisnya.
'Hmm...,jika wajahku begini,nanti isteriku pasti akan meledekku.'gumamnya merasa tidak aman.
Diego termasuk tipe pria yang hati-hati di depan isterinya sendiri.Apalagi mengingat selama sembilan bulan kehamilan,sang isteri tampak lebih sensitif soal rasa dan juga perawatan.Karin kerap mengomentari penampilannya yang terkadang tidak sreg menurut hormon ibu hamil.
'Ah,ya.Ada baiknya aku samarkan saja dengan pelembap wajah miliknya.'lanjutnya sembari tangannya lincah meraih foundation milik isterinya,memencet beberapa kali lalu memoles wajah asli maskulinnya itu.Entah merk apa ia bahkan tidak menghiraukannya sama sekali.
Di rumah sakit,Karin yang tengah berjuang menahan rasa sakit yang mendera berupaya sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.Gadis tangguh itu memilih untuk melahirkan secara normal karena ingin merasakan pahit manis perjuangan seorang ibu dalam melahirkan bayinya.
'Ke mana dia?' batinnya di sela rasa sakit yang kian mendera.
Mama Nadine yang menemani puterinya, ikut merasakan derita sang puteri yang mencoba kuat dalam kondisi tidak bersama suami disampingnya.
Manakala tiba detik-detik yang dinantikan, dokter yang menangani persalinan normal Karin memerintahkan kepada perawatnya untuk segera memanggil suami dari pasien bernama nyonya Karin Dhiyana Haikal Jolly.
Di depan ruang VVIP
"Suami nyonya Karin Dhiyana Haikal Jolly, diharapkan segera masuk ke dalam ruang persalinan."seru sang perawat lantang di depan pintu yang menghubungi ruang tunggu.
•••••
Bersambung...
Selamat bertemu kembali teman-teman..., maaf baru muncul lagi dikarenakan kondisi keluarga yang kurang vit.Terima kasih sudah mendukung karyaku yang amburadul ini..salam hangat dan saling dukung..terima kasih..
🤗🤗🤗
__ADS_1