Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Eps 26


__ADS_3

Selamat membaca


Beberapa jam kemudian.....


Berhubung kondisi oma yang semakin melemah,opa memutuskan untuk membawa Oma ke rumah sakit.Beliau menugaskan Karin untuk segera menghubungi keluarga besarnya.


Sesampai di rumah sakit oma Hasnah dirawat di ruang VVIP.Wanita renta itu tiba-tiba masuk dalam fase kritis.


Opa Jery yang selama ini terkenal kuat hari ini terlihat ambruk!Jelas tergambar kerapuhan di wajah pria renta itu.Di usia mereka yang sudah tidak muda lagi sudah seharusnya mereka menggunakan waktu mereka untuk beristirahat dan mempersiapkan hati spiritual mereka.Keadaan sang isteri ini membuat dirinya benar-benar terpuruk.Matanya menatap kosong ke wajah sang isteri yang tidur membisu.


Tidak berapa lama keluarga besar Karin mulai berdatangan. Terlihat kakak Tama dan isterinya,om Amran dan isterinya, Tania dan juga kedua orangtuanya serta Danang bersama Dimas dan Vania.Om Amran adalah satu-satunya keponakan Oma Hasnah yang berada dekat dengannya.Jelas tergambar kepanikan diwajah pria paruh baya itu.Dia bahkan sempat menelpon mama Nadine untuk mencari tau keberadaannya.


Sepanjang malam Karin dan anggota keluarga yang lain dengan sabar dan setia menemani sang oma.


Sedangkan Danang,ia duduk berselonjor di ruang tunggu sembari menatap kosong langit-langit rumah sakit.Pemuda itu terlihat sedang bersedih.


Satu-satunya wanita yang menjadi pelindung bagi dirinya kini terbaring kaku di ruang VVIP dengan alat bantu pernapasan.


Teringat akan keinginan terakhir oma yang sempat diutarakan agar segera menikah dengan Karin, satu-satunya cucu kesayangan beliau kini telah pupus.


Harapan yang terpaksa ia kubur dalam-dalam karena memang tidak ada cela baginya untuk berharap menjadi kenyataan.


'Oma maafkan aku...,'bisiknya pelan.Sejenak ia mengerjap dengan mata yang berkaca-kaca.


Apalah daya jika takdir berkata lain.Hati yang memilih bukan dipilih.Seketika ia menarik napas panjang menahan sebak di dada.


‘Oma cepat sadar! Cepat sembuh! Aku mencintaimu!’ batinnya lirih.


•••


Pagi itu, Karin baru saja keluar dari ruangan di mana oma sedang terbaring manakala ia menerima panggilan dari sang mama yang masih berada di Kuching Sarawak.Terlihat wajahnya kusut dengan mata sembabnya berjalan melewati semua anggota keluarga yang hadir.Seketika sang kakak Adhytama dengan sigap mengambil posisi menggantikan dirinya menjaga sang oma.


Karin berjalan melewati Danang yang masih duduk terpaku menatap dirinya. Tangannya bergetar menggenggam ponsel yang masih menempel di telinganya. Suaranya terdengar serak sembari menjawab panggilan sang mama.


~


Karin...Jangan tinggalkan oma nak!


Suara Isak tangis sang mama membuat emosinya semakin tidak terkontrol.


Ya,mama Karin tidak akan meninggalkan oma dan opa sendirian.


Lututnya gemetaran hampir tidak bisa menahan tumpuannya.Karin nyaris terjatuh ke lantai namun Danang sigap menangkap tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


Di sisi yang lain Diego terlihat sedang melangkah pasti ke ruang tunggu dimana keluarga Karin berada.Dimana sebelumnya ia telah mengambil informasi melalui loket penjaga.Pria itu terlihat sedang teeburu-buru sembari melirik arloji di tangannya.Namun seketika langkahnya tiba-tiba terhenti manakala ia melihat pemandangan yang tidak asing di depan sana dan membuat dirinya seketika mematung!


Deg


Danang yang sigap menangkap Karin ke pelukannya dengan segera meraih ponsel milik Karin yang masih aktif. Masih terdengar jelas suara Isak tangis mama Nadine di seberang sana.


Hallo bibi.Ini Danang.


Bibi tenang ya,oma pasti akan baik-baik saja.


Maaf bi,Hp nya aku matikan dulu ya,ini Karinnya kepeleset.


Ok,Bibi hati-hati di jalan ya.Semoga cepat sampai.


Memutuskan sambungan.


~


“Karin! Kau kenapa?”suara Danang panik menangkup wajah Karin yang terlihat lemas.


“Oma sekarat Danang,"isak tangisnya memecah.


“Iya, kita semua tahu itu.Kau tenanglah! Aku yakin oma pasti baik-baik saja.”Membawa gadis itu kembali kepelukannya.


“Bagaimana aku bisa tenang Danang?Keinginan terkahir Oma belum bisa kupenuhi.Semalam oma mengulangnya lagi.Dia minta pulang ke Indonesia pagi tadi Danang.Tapi syaratnya setelah aku menikah.Aku harus harus bagaimana?”isak tangis yang tiada henti membuat suaranya makin serak dan terdengar kasar.


“Tenang Karin!Aku mohon tenanglah!”bujuk Danang. Menepuk lembut belakang gadis itu lalu kemudian membelainya pelan.


Karin segera melepas pelukan Danang,“Ini salahku Danang! Jika sampai terjadi sesatu pada oma maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.Andai saja waktu itu aku menuruti permintaan Oma,mungkin ia tidak separah ini.Karena mungkin sekarang aku sudah menikah denganmu.Lalu kita akan sama-sama mewujudkan impian Oma.Kita ke kampung halaman Oma di Indonesia.Dan semuanya tidak akan terlambat begini. ” seru Karin tersedu.


Danang membuang pandangan ke sembarang arah.Seakan perkataan Karin begitu menyayat hatinya. Sejenak ia mendekap lama tubuh gadis itu.Mereka sama-sama larut dalam isak tangis yang pilu.Lalu kemudian ia membawa tubuh gadis itu untuk duduk di kursi ruang tunggu,“Sudahlah Karin! Jangan kau menyalahkan dirimu sendiri.Ini semua sudah menjadi takdir bagi kita semua,"ucapnya sekedar menguatkan.Namun dihatinya terasa bagaikan ditusuk dengan belati tajam.


Sementara Diego yang sedari tadi berdiri mematung berusaha sekuat mungkin menahan gelisah di hatinya.Ia bahkan mendengar dengan begitu jelas setiap tutur kata kedua anak muda itu.Ingin menyapa takut ketahuan menguping.


‘Mengapa hatiku sekalut ini?’batinnya lirih.


Ingin bergabung khawatir mengganggu.

__ADS_1


'Mengapa jadi serba salah begini?' bisiknya pelan.Menyapu kasar wajahnya yang terlihat kaku.


Sejenak ia memutuskan untuk berpindah posisi di samping lorong yang berdekatan sembari menguping apa yang dibicarakan oleh kedua sepupu itu.


‘Maaf,aku terpaksa melakukannya.Hanya ini yang bisa membuatku menemukan pokok masalahnya.’ bisiknya pelan.


Mana mungkin ia bertanya langsung kepada Danang akan hal ini .Meskipun ia sahabatnya akan tetapi ia tidak akan bisa mencampuri privasinya.


Dan jika ia bertanya kepada Karin?Gadis itu sekarang lebih tertutup dari yang ia duga.


Semenjak bertunangan Karin lebih banyak diam meskipun mereka selalu pergi dan pulang kerja bersama-sama.


Hanya ada pembicaraan serius dan guyonan ringan yang terjadi diantara mereka.Dan itupun jika Diego yang memulainya.


Oleh sebab itu Diego memutuskan untuk mencari tahunya sendiri.


Karin menoleh,”Kau tahu Danang,saking paniknya aku semalam sampai pikiran jernihku mulai lenyap.Otakku blank Danang! Aku sempat berpikiran bodoh bahwa jika calon suamiku itu adalah kau maka aku akan memaksamu untuk menikahiku malam itu juga agar esok paginya kita segera berangkat ke Indonesia buat memenuhi keinginan oma.Namun sayangnya itu bukan kau Danang,"mata sembab itu kian mengecil akibat airmata yang berjatuhan tiada henti.


Danang seketika terbelalak,”Kenapa kau berpikir demikian Karin? Kenapa tidak menghubungi Diego lalu ceritakan semuanya.Kau pasti mendapatkan solusi darinya.”


“Tidak Danang,mana mungkin aku membawanya ke dalam masalah ini.Dia tidak memiliki hubungan darah dengan kita.Aku tidak akan membiarkannya terjebak dalam masalah pribadiku ini.Bagaimana mungkin ia bisa memahami situasi begini.Hanya kaulah yang bisa mengerti betapa pentingnya oma bagi kita.”


“Kenapa tidak kau coba dulu Karin? Diego sangat adil.Aku yakin dia pasti akan memahami dan memakluminya.Bagaimana dia tahu duduk masalahnya jika kau saja tidak pernah menceritakan hal ini kepadanya?"menyarankan,


"Dengan adanya masalah ini kau bahkan tidak menghubunginya sama sekali,"ucapnya sambil merangkul bahu gadis itu,


”Akuu lebih suka melihat kau yang terbuka dan apa adanya seperti dulu.Entah kenapa aku merasa kau sekarang bukan seperti Karin yang kukenal sejak awal.”


Hening..........


“Karin...? Apa kau baik-baik saja? Karin!”suara Danang tiba-tiba memecah heningnya ruang tunggu.Karin mendadak tidak sadarkan diri membuat Diego terpaksa muncul dari persembunyiannya.


“Karin!”suara Diego tertahan melihat wajah gadis pujaannya pucat tak bergeming.


Melihat kehadiran Diego membuat Danang seketika merasa lega.Tangannya segera melepaskan Karin dari pelukannya kemudian menyerahkannya kepada Diego sahabatnya itu.


Pemuda itu kemudian sigap membawa gadis itu ke gendongannya kemudian mengarahkan dirinya sendiri ke kamar yang telah ditunjukkan oleh perawat yang kebetulan baru saja datang setelah dipanggil oleh kakak ipar Farah.


Diego segara dengan hati-hati membaringkan gadisnya itu dipembaringan.


Danang yang ikut dari belakang lantas menepuk bahu sahabatnya itu,“Kau tenanglah! Dia hanya terpuruk dengan masalah ini.Aku yakin kau bisa menyelesaikannya setelah kau mendengar langsung darinya,"ucapnya parau.


“Aku pamit ke ruang sebelah.Ada oma dan opa di sana.”


“Ya.”


Hening.....


Diego memandang wajah gadis yang mampu membuat hatinya bergetar sejak lama.Ada banyak beban berat yang tengah dipikul oleh gadis itu.Perlahan tangannya membelai lembut kepalanya.


'Pantas saja kau sangat menyayangi Danang.Dia begitu penting di mata seorang oma Hasnah Setiawan dan juga dirimu dan hidupmu,'hatinya berkecamuk.


'Dasar gadis bodoh! Bahkan kau tidak mengabariku sama sekali.Kalau bukan kak Tama yang meneleponku mana mungkin aku bisa mengetahui keberadaanmu ataupun masalahmu,"batinnya lirih.


Segera ia menggenggam erat jemari pujaan hatinya sembari mencium keningnya.


“Cepatlah sadar! Oma dan opa membutuhkanmu sebagai penguatnya.Aku juga sangat membutuhkanmu sayang," bisiknya ke telinga gadis itu.


•••


Mentari menjelang siang menerobos dinding jendela ruangan tempat Karin dirawat.


Tubuh gadis itu sengaja diberikan suntikan obat tidur oleh perawat yang merawat dirinya agar ia bisa beristirahat dengan baik.


Menurut pernyataan opa Jery yang baru saja datang menyambanginya, Karin memang tidak tidur selama beberapa hari karena kondisi omanya mulai memburuk sejak seminggu yang lalu.


Tidak lama setelah itu,Karinpun siuman.Seketika matanya mulai mengerjap menyesuaikan pandangan.Ruangan yang aneh.Ditatapnya sejenak.Perlahan ia mendapati Diego sedang duduk disampingnya sembari menggenggam erat jemarinya.Karin baru tersadar sepenuhnya setelah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


“Omaaa!”jeritnya panjang.Airmatanya kembali bercucuran.


Sontak tubuhnya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari tetap terbaring di pembaringan.Namun Diego dengan sigap menahan tubuhnya.


“Karin,tenanglah dulu.Oma akan baik-baik saja.”


“Tapi oma sedang kritis Dy.Itu artinya oma tidak sedang baik-baik saja,"bantahnya sambil menangis terisak.


“Sayang,tenanglah dulu.Kau harus sehat terlebih dahulu barulah bisa bagikan kekuatanmu itu kepada oma.Oke,”ucapnya sambil memeluk erat gadis itu lalu mendaratkan satu ciuman ke pucuk kepalanya.


Perlahan ia melepaskan pelukannya sambil memperhatikan wajah gadis yang sembab itu terlihat lemah tak bertenaga.


“Ayo,ikutlah denganku sebentar,"ucapnya sembari memapah gadis itu turun dari pembaringan.Berjalan keluar dari ruangan meninggalkan area rumah sakit.

__ADS_1


•••


Rumah....Kediaman Joe Haikal


Dimeja makan Karin dan Diego duduk saling menyamping.


Diego sengaja mengajaknya pulang atas permintaan dirinya sendiri dan juga tentunya atas izin dari opa Jery dan kakak Tama.


Mengingat gadis itu sudah beberapa hari tidak istirahat dan lupa menjaga pola makannya dengan baik.Membuat sakit lambungnya kumat.


Karin membisu sembari menatap hampa kedepan.Kosong tanpa ekspresi.


“Makanlah! Kau butuh tenaga untuk menjaga oma hingga beliau sadar dan sembuh,"ucapnya menyodorkan perlahan sepiring makanan yang baru saja dihidangkan oleh bibi Ira.


Karin mengangguk lemah.Mencicipi makanan tersebut tanpa suara.


“Setelah ini mandi dan istirahatlah sejenak.Kau butuh tenaga untuk menjaga oma.Bibi Ira akan mengurus perlengkapanmu yang akan kita bawa ke hospital Queen.”


“Tapi..”


“Ini perintah! Kau sudah tidak tidur selama beberapa hari.Kesehatanmu juga perlu dijaga agar kau bisa menjaga oma dengan baik.”


Karin tertunduk lesu.Pasrah menuruti arahan Diego.Ia memilih melanjutkan makannya tanpa mau berdebat dengan pemuda yang menurutnya banyak maunya itu.


Diego menyodorkan segelas air dan beberapa biji pil yang diberikan oleh perawat Hospital Queen atas nama pasien rawat jalan Karin,"Minumlah!"ucapnya pelan.


Karin menyambutnya sembari menyulut pil ke ujung lidahnya,"Terimakasih banyak,"menelannya dengan seteguk air kedalam rongga mulutnya," Maaf sudah merepotkanmu,"menatap sendu wajah Diego yang sedari tadi menatapnya tanpa henti.


Diego mengangguk tanpa suara,membuang pandangannya seraya melemparkan satu pertanyaan yang memang disengajanya,"Menurutmu,bagaimana kalau tanggal pernikahan kita dipercepat saja Rin?"ucapnya tanpa memandang wajah gadis yang masih meneguk minumannya.


Pertanyaan memancing yang tiba-tiba itu membuat Karin seketika tersedak,


"Uhuk uhuk uhuk!


Uhuk uhuk uhuk!"


"Karin,hati-hati sayang,kenapa kau sampai tersedak begini?,"ucapnya seraya mengusap lembut punggung wanitanya,"Apa aku salah berkata?"kanjutnya sembari menatap bola mata sendu Karin yang terlihat menyipit.


Karin meletakkan gelas di atas meja,"Ti_tidak ada yang salah.Aku hanya kurang fokus saja,"jawabnya sedikit menghindar.


Diego berdiri dan menuntun Karin menuju ke ruang keluarga.Setelah merasa Karin sudah mulai tenang,Ia melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda.


Mengangkat kedua tangannya ke atas tengkuk kemudian mengambil posisi nyaman disamping Karin,"Maaf jika pertanyaanku tadi salah.Aku akan menariknya kembali jika kau keberatan.Aku hanya khawatir dengan keadaan oma yang begini.Andai dia dalam keadaan sadar aku yakin dia pasti akan mendukung niatku ini."melirik ke arah Karin sembari menunggu respon balik gadis itu.


Karin seketika tertunduk,"Aku merasa sangat bersalah kepadanya Dy,"ucapnya pelan dengan mata yang berkaca -kaca,"Aku gagal memenuhi keinginan terakhirnya,"lanjutnya tiba-tiba kembali terisak.


Diego merangkul tubuh Karin ke dalam pelukannya,"Apa boleh aku tahu keinginan terakhir oma itu apa?"mendaratkan sebuah ciuman singkat di keningnya lantas membelai lembut pundaknya.


"Melihatku menikah dan kami sama-sama pergi ke Indonesia,"ucapnya tenang seraya membalas pelukan Diego,"Tapi semuanya sudah terlambat Dy,"lanjutnya sembari mempererat pelukan dan mengambil posisi ternyaman tanpa beban membuat Diego seketika terkesiap.


Deg


Baru kali ini ia merasa menerima respon balik dari Karin.Matanya terbelalak merasakan perubahan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat.


'Tuhan,kalau begini terus bukan dia yang gugup tapi aku yang bakal masuk ICU.' batinnya meronta.


Namun bukan Diego namanya kalau sampai malu-maluin di hadapan kekasih hatinya.Ia malah membiarkan semua itu berjalan sebagaimana mestinya. Memberikan sentuhan rasa kepada Karin sembari berbisik lirih ke telinga pujaan hatinya itu," Belum terlambat jika kita sama-sama ikhlas dan mau berjuang sayang,"ucapnya meyakinkan.


"Apa kau yakin Oma akan menyetujuinya?"tanya Karin pelan.Masih nyaman di dalam pelukannya.


Diego mengangguk,"Yakinlah! Kita berdoa agar oma lekas sadar dan kita akan segera mewujudkan impiannya itu."


"Apa kau yakin mau membantuku?"


"Kenapa tidak wahai calon istriku?Sudah seharusnya aku memperjuangkanmu," mempererat dekapannya,"Apa kau tidak merasakan detak jantungku itu? Tidak peduli bahwa kau mencintainya atau tidak tapi dia sedang sangat mencintaimu!"


"Ya,aku merasakannya.Tapi apa kau yakin oma akan sadar Diego?Aku takut untuk berharap lebih banyak lagi,"sembari melepaskan pelukan.


"Pssstt!" Diego menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk,"Kau tidak boleh berkata demikian!"mendaratkan satu kecupan singkat dibibir mungilnya,"Kita berjuang dulu sebelum menyerah ya,"lanjutnya sembari membelai lembut wajah ovalnya.


Karin manggut-manggut mengerti.


"Sekarang bersihkan dirimu,istirahatlah sejenak.Setelah itu kita akan berangkat ke hospital Queen bersama-sama,"ucapnya menutup pembicaraan.Sesaat kemudian ia menatap sendu punggung Karin yang berjalan menjauhi dirinya.


••


Bersambung..............


******


Terimakasih.....Lanjut.....

__ADS_1


__ADS_2