Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Puding Enak


__ADS_3

Selamat membaca semoga suka 🙏😍


Rumah Besar Kediaman Tun Fahmi


Hari berganti minggu berlalu bulan bertandang.Tepat sebulan setelah resepsi pernikahan Karin dan Diego dilaksanakan.


Sepulang dari kota D,Karin dan Diego kembali ke rumah besar Tun Fahmi. Menetap di sana sesuai permintaan sang papa.


Kini semua rutinitas kembali normal seperti sediakala.Diego mulai beraktivitas sesuai agenda perusahaannya.


"Sayang,kuharap kau tidak keberatan jika aku menghentikan rutinitasmu di kantor." Ucap Diego kala sang isteri sedang menautkan kancing di lengan kemeja putihya.


"Jadi menurutmu aku harus berhenti dari pekerjaanku itu?Oh tidak,berapa banyak beban yang sudah kuabaikan selama tiga bulan tanpa pertanggungjawaban." Celetuknya frustrasi menatap lama ke wajah sang suami mencari kepastian dari sorot elang miliknya.


Diego menghela napas dalam.


Menangkup kedua bahu sang isteri dan membalas tatapannya dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Dengarkan aku sayang,bebanmu adalah bebanku dan bebanku adalah beban keluarga kita.Maka kak David sudah mengambil alih beban kita selama kita masih di luar negeri."Jelasnya tenang.


Karin membuang pandangan ke sembarang arah.


"Apa aku harus mendengarkanmu untuk hal ini sayang?"Balas Karin sembari menangkup wajah sang suami dan mencium gemas pipinya.


Diego mengangguk.


"Aku hanya ingin isteriku yang cantik ini tidak kelelahan akibat beban pekerjaan yang berat."Menangkup lembut kepala sang isteri dengan kedua telapak tangannya.


Karin memeluk erat tubuh pria yang sudah lengkap dengan balutan jas hitam miliknya.Menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.


Merengguk dalam wangian parfum maskulin yang berpadu dengan aroma khas tubuhnya menambah kesan sensual.


"Akan kuturuti jika itu yang kau inginkan."


"Terima kasih sudah mendengarkanku." Ucapnya sembari memeluk pinggang sang isteri yang ramping.


Kemudian mendaratkan ciuman di kening isterinya.


"Aku berangkat kerja dulu.Jangan membuat pekerjaan yang berat dan jaga kesehatanmu untukku."Ucapnya pelan penuh kasih sayang.


Karin mengangguk sembari menggandeng lengan sang suami siap mengantarnya ke depan rumah.


••


Sore yang tenang di Gazebo Taman Belakang.


Akhir pekan yang indah,Diego dengan pakaian santai tengah berkumpul bersama kedua orangtuanya yang berpenampilan serupa sembari menikmati puding petang.

__ADS_1


Suasana kumpul keluarga yang menyenangkan.


Sebenarnya Diego ingin pindah rumah seperti halnya pasangan kakak David dan kakak ipar Dian yang setelah menikah langsung pindah ke rumah baru mereka.


Akan tetapi sang papa melarang mengingat Karin yang baru sembuh dan membutuhkan sosok keluarga untuk memberi dukungan kepadanya.


"Kasihan isterimu jika di biar tinggal sendirian di rumah baru sementara kau nanti sibuk dengan pekerjaanmu."Ujar sang papa penuh pengertian sembari menyesap teh hijau miliknya.


"Benar kata papamu nak.Isterimu butuh keluarganya untuk berbagi.Jika Kau membawanya ke tempat yang jauh,mama sangat khawatir."Timpal mama Cyntia.


Meraih sepotong puding siap lolos ke dalam mulutnya.Nikmat.


Diego manngut-manggut mengerti.


"Baiklah,aku menurut saja,asal papa dan mama menginginkan dan Karin juga setuju maka semuanya akan baik-baik." Balas Diego mantap.


Ikut menikmati sensasi nikmat puding lembut dan gurih di lidahnya.


Perpaduan antara nutrigel,chocolatos dan roti tawar dan coklat blok menghasilkan puding chocolatos yang menggugah selera.


"Apa kau tahu,papa merasa sangat berat hati melepas kalian berdua tinggal sendirian di rumah baru."Ucap pria paruh baya itu pelan nyaris tidak kedengaran, "Meskipun bibi Nisah atau bibi Ira yang ikut bersama kalian."Lanjutnya tersenyum kecil.


Diikuti oleh anggukan pasti dari sang mama.


Diego mengernyit,'Sepertinya papa dan mama tidak setuju jika kami meninggalkan rumah ini.' Batinnya penasaran.


"Ya,kau benar.Maafkan papa."Menyapu kasar wajahnya,"Papa hanya khawatir soal kesehatan dan juga keselamatan puteri bungsu papa itu."Lanjutnya sembari menghela napas dalam dan menatap intens wajah sang anak.


Diego menyesap kopi miliknya.


Sesaat mata elang junior miliknya membalas tajam sorot elang senior milik sang papa yang telah bertransformasi dan sama-sama nyalang.


Mencari sesuatu di sana dan ia menemukan kebenaran akan ketulusan hati seorang ayah terhadap puterinya.


Lalu mencoba berbalik menatap sang mama meminta kepastian dan ia juga menemukan hal serupa di sana.


Akhirnya ia menyetujui permintaan kedua orangtuanya tanpa syarat.


"Baiklah,soal Karin biar aku yang bicarakan kepadanya."Jawabnya pelan.


Ada raut lega yang terpancar dari wajah kedua orangtua yang telah melahirkan dirinya tersebut.


Di saat yang sama di dapur.Karin mendatangi para pembantu yang tengah duduk membersihkan sayuran di teras dapur sembari bercengkerama ria.


Bibi Nisah,bibi Ana dan juga beberapa pembantu lainnya menyambutnya dengan gembira.


"Bi Ana,apa puding yang kubuat pagi tadi sudah diantar ke gazebo belakang?"Tanya Karin memastikan.

__ADS_1


Perempuan muda itu terlihat sedang merapikan baju bibi Ana yang sedikit berantakan.


Bibi Ana sudah hafal benar akan sikap nyonya mudanya yang suka peduli dan memperhatikan hal kecil pada diri para pembantu merasa terbiasa dengan sikap isteri majikannya itu.


Baik bi Ana maupun bi Nisah sama-sama tidak terlihat risih lagi seperti pertama kali Karin memperlakukan mereka demikian.


Justeru mereka merasa bahagia bisa diperhatikan oleh seseorang yang sudah seperti puteri kandung sendiri.


"Sudah nak.Bibi sudah mengantarkannya dan tuan muda sangat suka." Jawab bibi Ana sopan sembari tersenyum.


"Oh ya,asyik."Balas Karin senang. Tangannya beralih membelai lembut punggung bibi Nisah yang duduk di samping bibi Ana.


"Biasanya tuan muda akan kembali mencari sesuatu yang sangat ia sukai."Timpal bibi Nisah yang tengah mengiris wortel.


"Itu hanya jika ia benar-benar suka kan bi."Ucap Karin memperjelas.


Bibi Nisah dan bibi Ana mengangguk serempak,"Ya."


"Ya,berarti puding buatanku belum tentu lolos."Ucap Karin tertawa kecil.


"Enak kok.Kami sudah mencicipinya."Balas bibi Nisah ikut tertawa.


"Bibi kurang suka puding buatan orang lain,tapi buatan nyonya muda selalu ludes sama bibi."Timpal bibi Ana.


Bibi Ana sengaja mengangkat piring bekas puding yang mereka cicipi sembari tersenyum riang.


"Tuh,lihat paman Jafar,bibi Lia,dan juga Galang ikut menikmati."Lanjut bibi Nisah sembari mengarakan telunjuknya ke arah tukang kebun dan juga penjaga taman.


Karin tertawa renyah ikut menyipitkan mata.


"Oke.Siapa berani taruhan kalau Diego bakal meminta pudingnya lagi!"Jingkrak Karin riang.


"Boleh.Kalau kami menang nyonya muda harus mau buatkan lagi puding serupa ini."Jawab keduanya nyaris bersamaan.


"Baiklah.Kalau aku yang menang,bibi berdua harus mau aku ajak shopping." Balas Karin sumringah.


Sementara kedua wanita paruh baya itu cengar-cengir dengan mata yang berair membayangkan gaya shopaholic mereka ketika ikut shopping bersama nyonya muda yang tidak pelit.


"Bibi,oh bibi."Suara khas Diego sedikit lebih manja manakala berhadapan dengan anggota keluarganya.Mengagetkan semua yang ada.


•••


Bersambung...


*****


Terima kasih kawan-kawan sudah mendukung karya pertamaku..Semoga kita semua diberikan nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah.Salam lanjut dan tinggalkan jejak jika berkenan.🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2