
Selamat membaca
Di perusahaan...
Karin meraih hasil print out laporan akhir bulan internal auditor, meneliti sejenak kemudian menyematkan ke dalam sebuah map. Dering ponsel membuatnya harus menerima panggilan tersebut.
Drrrrrrrrttttttt
Hallo Hany.
Aku kira kau sudah melupakanku.
Ayolah! Ini sudah enam bulan kau tidak menghubungiku.
Bagaimana kabarmu di sana?Proses kehamilanmu juga baik-baik saja kan?
Uih! Beruntungnya kau memiliki pria sebaik pak Fahri.
Tidak,aku lebih betah bekerja dengan pak Fahri.Adikmu payah! Banyak maunya.
Kenapa kau ketawa.Aku serius.Aku lebih rela jadi tukang sapu yang kerjanya continue daripada harus mengerjakan ***** bengek kerjaan yang seharusnya bukan tugasku.Dan semuanya ulah dari adik kesayanganmu itu.
Benarkah kau akan datang? Baiklah aku tunggu.Jangan lupa kabari aku lagi ya.
Memutuskan sambungan...
Kembali fokus kepada pekerjaan.Meraih map yang akan diantar ke ruangan Diego.
Tok tok tok
Ceklek
"Selamat pagi pak,ini berkas laporan yang bapak mint,"ucapnya sopan smbari menyodorkan berkas tersebut kepada Diego.
Direktur itu menerima berkasnya,"Baik terimakasih,silahkan duduk,"ucapnya lalu meneliti dengan saksama.
Karin megangguk sopan,"Baik pak,"ucapnya seraya duduk bersandar di kursi.
Diego manggut-manggut,"Ok.Kerja bagus.Keluarlah!"serunya acuh.
"Ehm..Baik pak,"jawab Karin menarik napas dalam lalu segera beranjak.
"Tunggu sebentar Karin!"seru Diego menahan tanpa menoleh kepadanya.
Karin menoleh ke arahnya,"Ada lagi yang bisa saya bantu pak?"ucap gadis itu bertanya sopan.
Diego masih cuek dan tetap memandang laptop,"Tolong bawakan secangkir kopi untukku.Tunggulah di kantin."perintahnya acuh.
Karin mendengus kecil,"Baik pak!"ucapnya menyetujui lalu melangkah keluar.
Karin menggerutu panjang pendek sepanjang jalan.
"Bukan perintahnya yang aku tidak suka,tapi sikap acuhnya yang aku benci,"celetuknya gemas seraya melangkah gontai.
Ia menyeduh secangkir kopi hitam untuk Diego dan secangkir teh untuk dirinya sendiri lalu kemudian mengambil posisi duduk di ujung ruangan sambil meneguk teh miliknya.
Tidak lama kemudian Diego muncul mengambil posisi saling berhadapan dengannya.Lalu menyesap kopi yang telah siap di hadapannya.
'Enak sekali.' batinnya.
Sorot mata Diego tidak lepas dari memandang Karin yang tidak sabar berkali-kali melirik arloji di tangannya.
Hening....
Sorot mata Diego tidak lepas dari memandang Karin yang tidak sabar berkali-kali melirik arloji di tangannya.
Hening....
"Santailah!Aku hanya meminta waktumu lima menit untuk menemaniku minum kopi,ucapnya datar.
'Diego..Bagaimana aku bisa santai.Melihatmu dari jauh saja jantungku sudah bekerja keras.Apalagi memandangmu dari jarak beberapa sentimeter.Ekstra Gila ! Jiwa jombloku meronta.Ini memalukan jika kau mengetahuinya.' batinnya menjerit.
Hening....
__ADS_1
"Karin?"
"Ehm..I-Iya pak."
"Kau tidak seperti yang dulu,aku tidak suka kau menyapaku dengan sapaan resmi sekalipun itu dalam urusan pekerjaan."
"Emm..,Diego,maaf aku hanya mencoba untuk profesional,"jawabnya gagap.
"Denganku jangan ada profesional karena aki tidak membutuhkannya,aku butuh kau yang dulu,"balas Diego penuh penekanan.
Karin mematung.
Diego melanjutkan,"Ehm..,kurasa beberapa hari ini kau sengaja menghindariku,"decitnya.
"Tidak,itu hanya perasaanmu saja,"balas Karin pelan dan pasti.
"Kalau begitu cepat katakan,kenapa hari minggu kemarin kau tidak pulang ke rumah paman Haikal,aku bahkan menunggumu sampai malam."
"A_aku.Ada kesibukan yang tidak bisa kutinggalkan,"jawabnya berkelit.
"Karin,jangan menghindar,aku sudah mengetahui apa saja rutinitas akhir pekanmu,"serangnya,
"apa karena kehadiranku di rumah itu membuatmu merasa tidak nyaman,dan sengaja menghindar agar tidak bertemu denganku?"
"Maaf Diego,karena aku sekarang fokus dengan omaku,tidak dengan papa mamaku,"balas Karin menjelaskan.
"Bisa kau jelaskan kepadaku kenapa kau lebih memilih tinggal di rumah opa Jery ketimbang di rumahmu sendiri?"
"Aku sudah terbiasa tinggal di sana sejak_"
"Sejak aku pergi ke London! Iya kan,"mata elangnya menatap dalam ke bola mata gadis yang tengah berusaha menghindari tatapannya.
"Ehhm..Lalu apa pedulimu?Aku mau tinggal dengan siapa dan sejak kapan itu urusanku.Kenapa kau mulai mencampurinya?"ketus Karin berusaha menepis pandangan ke lain arah demi menghindari kontak mata dengannya.
Namun dengan cepat tangan kekar pemuda itu menangkup lembut wajahnya menahan mata itu untuk tetap beradu netra dengannya.Menatapnya dalam dan menguncinya lama.Seolah-olah tengah mencari sesuatu yang hilang di sana.Kemudian perlahan turun ke bibir lembab sang gadis yang terlihat merekah bak buah cherry seketika menggoda kodrat maskulinnya..
"Aku tidak mencampuri urusanmu.Aku hanya sedikit merasa dihindari ketika aku ke rumahmu dan kau tidak ada di sana.Dan itu sangat menggangguku!"ucapnya setengah berbisik, lirih dipendengaran.
Raut wajah Karin tiba-tiba berubah sedih.Tanpa disangka mata sendu itu tiba-tiba berkaca dan seketika mengerjap.
"Tapi kau tidak berhak memaksaku melakukan sesuatu seperti yang kau inginkan!Kita tidak saling mengenal." Tandas Karin tidak terima.
"Tidak mengenal karena kau membenciku?Aku memang pernah bersalah kepadamu tapi tolong,"menjeda seraya mengatur napas yang tiba-tiba tercekat,
"maafkan aku dan tolong berikan aku hak untuk memulai semuanya dari awal Karin,"ucapnya lirih.
Tatapan elang itu tiba-tiba sendu dan samar-samar kelihatan berkabut kaca.
"Itu resikomu.Selama sepuluh tahun kau ke mana? Setahun dua tahun setelahnya kita sudah diberi hak untuk memiliki benda ini,"balasnya seraya mengangkat benda ponsel yang dimaksdukan,
"tapi kau tidak pernah menghubungiku dan memberikan penjelasan kepadaku.Lalu tiba-tiba kau datang dan mendiamkanku begitu saja.Apa salahku padamu?"ketusnya kembang kempis di dada.
Lagi-lagi ia berusaha menepis tangan Diego yang sengaja melakukan kontak fisik dengannya.Namun Tangan Diego kini semakin erat mencekam dagunya.
Demi Tuhan.Bukan mereda detak jantungnya malah semakin berpacu lebih kencang membuat rona merah seketika menyembul di wajahnya.
Mengingat-ingat pasti kapan ia pernah melakukan kontak fisik dengan pemuda itu.
Sesuatu yang pertama kali pernah ia rasakan 'sedetik' di sepuluh tahun lalu tiba-tiba kembali begitu saja dan menjentik keras jantung hatinya seolah-olah memberi peringatan dan kode keras kepadanya.
Dan itu tidak pernah terjadi ketika ia melakukan kontak fisik dengan siapapun termasuk Danang yang sangat dekat dengan dirinya.
'Ini sungguh berbahaya!' batinnya.
"Kenapa kau tidak mengerti juga Karin?Aku hanya ingin kau ada di sana.Hanya tempat itu yang menyimpan kenangan kita dan,"ucapannya kembali tercekat.Kali ini disertai dengan hujan kabut.
"aku hanya ingin kita bisa seakrab dulu Karin,dan kalau boleh jangan pernah berpisah lagi untuk selamanya,"sentakan suara Diego yang pelan namun penuh penekanan menusuk di gendang telinganya.
Aroma tiupan napas wangi nan lembut pemuda itu sukses menari di hidung dan bibirya yang sensitif.Menghadirkan sensasi khas menyentil seonggok daging yang bertahta indah di alam dadanya manakala menghirup aroma maskulin yang menyeruak dari tubuh pemuda di hadapannya itu.Seketika membuat onggokan tersebut ikut bergetar seakan meminta untuk segera dijelajah.
Otaknya melumpuh seakan tidak mampu berpikir jernih.
'Matilah kau hati,berhenti berdetaklah kau jantung!'Hanya itu ekspresi yang menggambarkan apa yang terjadi pada degup jantung dan hatinya.
__ADS_1
Jiwanya serasa kelu seakan diborgol oleh pemasung baja tak kasat mata.Sekujur badannya nyaris membeku.Urat nadinya serasa disengat arus listrik bertegangan tinggi.
Berharap sesuatu bisa menolongnya dari tatapan maut mata elang pemuda yang tidak bisa ia pungkiri lagi bahawa selama ini sangat ia rindukan itu.
"Ma-aaf Diego,ini sudah lewat lima menit."Karin segera mengalihkan kontak matanya dan mengubah topik pembicaraan.
Karin mengingatkan kepadanya bahwa jam kerja masih berlanjut lalu kemudian segera beranjak meninggalkan pemuda itu dalam kebingungan dan terpaku menatapnya.
"Ck!"Diego berdecak.
Di toilet.........
Karin berdiri menghadap cermin wastafel.Mencerna kembali setiap ucapan Diego yang penuh penekanan.Benarkah Diego ingin mengembalikan semua kenangan itu? Ataukah Diego memang telah mengetahui perasaannya lalu sengaja untuk membuatnya terluka lagi?
'Dia pikir dia siapa sampai aku harus menuruti apa maunya?'
'Sepuluh tahun aku bisa menyembunyikan semua rasa kecewaku dihadapan semua orang tapi tidak untuk hari ini dihadapannya.'
'Tapi..kenapa aku jadi lemah begini?'
'Dan aku bahkan terlihat seperti anak kecil.'
'Tidak seharusnya aku tersinggung dengan ucapannya.'
'Memangnya siapa dia?'
Gerutunya menatap kesal pantulan wajah di cermin sembari menghentakkan kakinya naik turun.Untung saja dirinya sendirian di toilet saat itu.Jika ada orang lain yang melihatnya pasti ia dikira makhluk sterss.
Gadis itu sengaja mengucurkan air dari kran untuk membasuh wajahnya yang terlihat sembab.
Ya, ketika beranjak tadi Karin memang tidak bisa membendung air matanya hingga mengalir begitu saja sembari melangkah cepat menuju ke toilet.Berharap tidak ada siapapun yang melihatnya.
Namun Danang yang kebetulan keluar dari pintu toilet pria tidak sengaja menangkap sekelebat tubuh Karin yang melangkah cepat dengan wajah yang memerah menahan air mata yang mulai berjatuhan.
'Ada apa ini?' batinnya bingung.
Ia kemudian memilih mengarahkan tubuhnya menuju ke kantin sembari mencari air putih untuk melepas dahaga.
Di kejauhan ia mendapati sosok tunggal Diego yang duduk mematung tanpa ditemani oleh siapapun sementara dirinya berhadapan langsung dengan dua cangkir berjejer di atas meja.
Danang mulai paham mengapa Karin tiba-tiba bersedih.Sebisa mungkin ia menahan gejolak amarah yang membuncah sembari melangkah mendekati Diego.
"Sudah cukup kesedihan itu ditanggung selama sepuluh tahun,"ucapan menggelegarnya membuyarkan lamunan seorang direktur muda yang tengah dilanda gundah itu,
"Jangan kau tambah lagi luka baru di hatinya,"lanjutnya mempertegas sembari mengambil posisi duduk di tempat yang diduduki oleh Karin sebelumnya.
"Tidak,aku tidak bermaksud melukainya.Aku hanya bingung harus memulai dari mana.di matanya semua ucapanku selalu salah." jelasnya datar namun sedikit gugup.
"Tapi kau telah membuatnya menangis!" ucapnya penuh penekanan menatap tegas kepada Diego.
Diego membalas tatapan sahabatnya.Tenang tanpa amarah namun tetap bungkam.
Danang seketika menarik napas dalam.
"Maaf sepertinya aku berlebihan,"menyisir kasar rambutnya dengan jemari,"Aku hanya terbawa perasaan.Kau kan tahu aku tidak bisa melihatnya_"
"Terluka dan menangis."potong Diego.
Danang menundukkan pandangannya sembari mengangguk pertanda setuju.
"Ya aku mengerti,kau tidak salah bro!Tidak seharusnya aku menyinggung masa lalu yang menyebalkan itu,"ucap Diego menggeleng pelan.
Danang mengangguk,"Ya sudah,nanti dibicarakan baik-baik,"ucapnya mereda,"Oh ya,tujuanku ke sini mau mencari minum." ungkapnya tertawa seraya beranjak ke dispenser untuk menuntaskan dahaganya.
Beberapa saat kemudian ia kembali lagi sembari menjemput sahabatnya yang telah menunggu untuk beranjak dari sana.
•••
Bersambung..........
*****
Terimakasih,,Semangat lanjut.............
__ADS_1