
Selamat membaca semoga suka 🙏😍
Tok tok tok
Ceklek
Diego yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang hampir tuntas terpaksa menghentikan sejenak aktivitasnya karena kehadiran tiga orang yang sangat ia nantikan sejak tadi.
Keempatnya saling bertatapan dalam suasana yang mencekam.
"Silahkan duduk kakak."Ujarnya memberi ruang.
"Terima kasih."Jawab kakak ipar Fahri yang sopan sembari mengambil posisi duduk di hadapannya.
Diikuti oleh sang kakak David dan juga kakak ipar Ardhani Zacky.
David menyodorkan sebuah map amplop kepada Diego,"Sesuai permintaanmu." Ucapnya tersenyum tipis.
Diego menyambutnya sesaat sebelum akhirnya ia memilih untuk menyimak isi dari amplop tersebut.
Meneliti sesuatu di sana dengan sedikit mengernyit lalu menepikan map tersebut ke atas meja di samping laptop miliknya.
"Adik ipar,kau kelihatan makin berisi saja." Usik Fahri tersenyum senang menyadari postur tubuh adik iparnya sedikit bertambah.
Berbeda dengan David yang bertujuan ingin bertemu Diego,Fahri dan Ardhani hanya sekedar menunggu waktu dan sengaja mengikuti David ke ruang kerja Diego karena tujuan utama mereka kemari adalah ingin bertemu dengan papa Fahmi mamun belum terlaksana lantaran sang mertua baru saja pulang dan membutuhkan sedikit waktu untuk beristirahat.
"Ya,seperti yang kau lihat kakak Fah." Balas Diego tertawa tipis.
"Aku baru tahu jika adik Ipar Diego bisa se seksi ini.Apa isterimu ikut berperan di dalamnya?"Celoteh ArZack mulai usil.
"Akh!Kakak ipar,aku memang seksi sejak lahir.Kau saja yang baru menyadarinya."Balas Diego tidak mau kalah.
"Itu karena mata kakak Ar terlalu sering melihat pemandangan yang lebih seksi dari biasa di Dubai."Tambah Fahri tertawa kecil.
"Oh,Kalau di Dubai beda lagi."Timpal Diego tertawa renyah.
"Ya kau benar adik ipar.Di sana biasanya yang seksi itu jenjangnya dua kali lipat. Apalagi di suasana pengantin baru seperti_."
"Ah ya,hal lumrah bagi yang baru memiliki pegangan hidup seperti Diego.Dan betapa nikmatnya ketika punya mainan hidup setiap malam." Potong David menyeringai sinis.
Si kakak David yang terkesan perfect dan tidak suka bercanda sedari tadi tiba-tiba ikut menimpal.
Diego melirik sang kakak yang tengah memperhatikan benda kotak persegi panjang miliknya.
Kemudian berbalik memandang kedua kakak iparnya yang juga sama terbelalaknya melihat sang kakak yang tiba-tiba ikut dalam candaan mereka.
Hening...
"Hei!Ada apa kalian melihatku seperti melihat setan saja."Serang David merasa di pelototi.
"Ah,tidak apa-apa kakak.Aku hanya sedikit merasa bahwa kau juga mulai menggodaku.Sama halnya dengan pikiran mereka." Jawab Diego berterus terang.
"Ehm..Ini urusan aku,adikku dan juga adik iparku.Jadi kalian tenanglah.Apa kalian juga ingin mencampuri lahan kami?"Ucap David tenang dengan alis mata yang naik turun penuh penegasan.
Ucapan yang disertai lirikan tajam ke arah mereka secara bergantian membuat kedua adik iparnya cukup merasa dan seketika menciut.
__ADS_1
Diego mematung.
Tok tok tok
Ceklek
"Ya bi,ada yang bisa kami bantu?"Jawab David semangat melangkah ke asal suara. Tersenyum ramah menyambut kehadiran bibi Ana yang telah mengasuhnya sejak masih bayi.
"Maaf tuan muda,makan malam sudah siap.Tuan besar menunggu kalian di meja makan."Ucap bibi Ana sopan.
"Ah,ya.Ayolah bi kita ke bawah."Jawabnya seraya menempelkan jemarinya ke punggung wanita paruh baya itu sesaat sebelum ia mengajaknya jalan beriringan.
Diikuti oleh ArZack dan Fahri dari belakang.Sedangkan Diego memilih untuk mengamankan amplop yang sebelumnya diterima dari tangan David sesaat sebelum ia menyusul ke tempat di mana sang papa telah menunggu kehadirannya.
Di dapur Diego mendekati bibi Nisah.
"Bi,apa pesanan untuk isteriku juga sudah siap?"Tanyanya sopan.
Bibi Nisah mengangguk,"Sudah nak.Bibi juga sudah mengantarnya ke kamar." Jawab bibi Ana sopan.
"Oh ya,apa Karin yang meminta untuk makan malam di kamar?"Tanya Diego bingung.
Padahal dia sudah mengatakan kepada sang isteri kalau malam ini ada makan malam bersama kakak David dan kedua kakak iparnya.
"Ah,tidak nak.Bukan nona Karin yang meminta melainkan tuan David yang menyuruh bibi mengantarkan untuk nona di kamar."Jelas bibi Nisah pelan.
"Apa bibi tidak menjelaskan kepada kakak kalau aku yang menyuruh Karin untuk makan malam bersama di sini?"Tanya Diego yang terlihat tidak puas.
"Maaf nak,bibi sudah mengatakannya tapi tuan David memaksa.Katanya ini perintah."Lanjut wanita itu ragu.
"Oh baiklah bi."Jawabnya pelan sembari mengedikkan bahu.
"Kemarilah anak-anak mama.Makanlah yang banyak.Semua ini mama yang menyuruh bibi siapkan untuk kalian nak." Ucapnya penuh semangat.
"Oke ma,terima kasih."Jawab mereka sambil tersenyum ramah.
"Diego,mana isterimu nak,papa belum bertemu dengannya sejak tadi sore." Suara menggelegar papa Fahmi mengagetkan semuanya.
"Em..Dia sedang tidak enak badan jadi memilih makan malam di kamar saja pa." Ucap Diego memberi alasan sesaat setelah melirik ke arah David yang juga beradu tatapan mencekam dengan dirinya.
Tanpa mengalihkan fokus lalu tangan lihainya memilih menancapkan garpu menusuk telak ke potongan daging di piring membuat sang adik ikut menciut dan segera menyadari sebuah kesalahan yang dibuatnya.
Kesalahannya karena telah membiarkan candaan mereka melebar hingga melibatkan adik iparnya.
Diego tertunduk.Dia tahu betul bahwa sang kakak tidak pernah main-main dengan ucapannya apalagi tindakannnya.
Meskipun rada bingung karena tidak biasanya Karin makan malam di kamar manakala ada tamu pihak keluarga yang datang bertamu.Akan tetapi ya sudahlah daripada harus mencari tahu lebih jauh lagi lebih baik sang papa memilih memaklumi keadaannya saja.
"Oh ya tidak apa-apa.Biarkan dia istirahat."Lanjut sang papa setelah menyadari bahwa putera bungsunya itu masih merasa canggung.
Acara makan malam berlangsung alot. Sesekali terdengar suara merdu sang mama menawarkan tambahan lauk pauk sedangkan sang papa membuka pembicaraan menanyakan kabar anak-anak dan cucu mereka.
Kedua ipar tersebut,ArZack dan juga Fahri lebih asyik menimpali setiap ucapan dan pertanyaan kedua mertua mereka.
Sementara David hanya sesekali saja ikut menimpali sembari menikmati hidangan makanannya dengan serius.
__ADS_1
Sambil sesekali sorot mata elangnya melirik ke arah Diego yang memilih menikmati hidangan di piringnya dengan khusyu.
Usai menikmati makan malam,kedua ipar memilih untuk melanjutkan tujuan kedatangan mereka yakni ingin bertemu dengan papa Fahmi dalam rangka membahas kelanjutan kerjasama perusahaan yang mereka pimpin dengan para investor yang menawarkan beberapa keuntungan untuk kedua belah pihak.
Diego yang baru muncul dari ruang dapur celingak-celinguk mencari keberadaan David yang tidak ikut bergabung dengan kedua adik iparnya di ruang keluarga.
'Kemana perginya kakak?' Batinnya.
Mana mungkin sang kakak pergi ke ruang gym ataupun perpustakaan dalam tempo yang singkat pikirnya.Sedangkan kedua ruangan tersebut berada di lantai atas.
Diego paham arah gerakan sang kakak hingga ia memilih menuju ke ruang tamu dan ternyata benar sang kakak memang sedang sendirian duduk berselonjor di sofa ruang tamu.
Diego menyambanginya dan ikut mengambil posisi duduk berdempetan dengan dirinya.
"Kakak."Sapanya sopan.
"Hmm."Jawabnya datar tanpa menoleh.
Jemarinya lincah mengutak-atik benda gawai miliknya.
"Maafkan aku."Ucapnya pelan namun tegas.
"Kau sudah tahu di mana letak kesalahanmu?"Tanyanya masih dengan ekspresi datar.
Diego menghela napas dalam.
"Ya,aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."Jawabnya pelan.
"Bagus.Kakak harap jangan sekali-kali terbuai dengan usikan sepele yang berujung kepada jatuhnya harga diri isterimu sendiri di mata orang lain apalagi mereka seorang pria." Ketusnya.
"Baik kakak."Ucapnya pelan namun tegas.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu waktu itu.Dia memang isterimu.Tapi dia juga adikku."Tegasnya sembari meletakkan ponsel di atas salah satu pahanya,"Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk kau." Lanjutnya sembari menekan telunjuknya ke dada sang adik.
"Baik kak.Itu kelalaian kecil yang terlambat kusadari.Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."Jawab Diego dengan ekspresi kuat sesama prianya.
Ada rasa bersalah yang mengalir begitu saja di benaknya manakala sekelebat bayangan sang isteri melintasi pikirannya dan hatinya.
Ia juga merasa bersyukur memiliki seorang kakak laki-laki seperti David untuk teman berbaginya sekaligus sebagai pelindung yang tegas.
"Terima kasih banyak.Kakak telah mengingatkan hal baik kepadaku."Ucapnya sopan dengan senyum samar.
Disambut oleh sang kakak dengan sebuah rangkulan tegas ke bahu adiknya.
Kedua kakak beradik itu akhirnya berdamai dan larut dalam pembicaraan ringan yang menyenangkan.
••
Bersambung...
*****
Terima kasih kawan-kawan sekalian sudah mendukung dengan baik karya pertamaku ini.Semoga kita diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah.Amin.Salam Lanjut dan dukung terus jika berkenan.
Sekedar informasi bahwa karya sequel 'Cintai Aku Sahabat kecilku' author IM Lebelan berjudul 'I Need You' baru release ya..Insya Allah akan diusahakan up sesuai kesempatan.
__ADS_1
Dukung like,rate,vote,dan komen jika berkenan.Salam terus berkarya 🤗🤗🤗
Terima kasih..🙏