
Pagi itu Diego dan Karin berniat untuk mendatangi Adhytama Star Hotel sekalian menghabiskan waktu bersama-sama di Pantai Kenangan.
"Sayang,ingat satu hal.Kau tidak boleh kelelahan di sana."ucap Diego di sela menyugar rambutnya yang sudah rapi.
"Emm..,ya sayang."jawab Karin tersenyum riang.
Usai bersiap-siap Diego mengarahkan telapak tangannya ke punggung Karin seraya mengajaknya melangkah keluar dari kamar karena telah ditunggu oleh para orangtua untuk sarpan pagi bersama.
Sepasang suami isteri dengan calon bayi saling mengisi dan saling melengkapi, melangkah perlahan menuruni anak tangga.
Diego memegang tangan isterinya dan melangkah penuh hati-hati membawa turun hingga ke permukaan lantai.Tindakan yang tidak luput dari penglihatan pasangan besan yang tengah duduk menanti kehadiran mereka.
"Mereka sangat bahagia Nad,"bisik mama Cyntia seraya melirik ke arah mama Nadine yang masih belum mau beralih memandang anak dan menantunya.
Mama Nadine mengangguk,"Padahal aku pernah memarahinya,"ulasnya pelan,"dan kau tahu puan,bahkan aku berniat untuk memisahkan mereka."lanjutnya mulai menerawang,dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Aku mengerti perasaanmu puan," menggenggam tangan Nadine,"bahkan jika aku diposisimu,maka aku juga akan memgambil keputusan demikian."lanjutnya mempertegas.
"Siapa yang rela melihat nyawa puterinya terancam bahaya."timpal kedua wanita paruh baya itu secara bersamaan dengan ekspresi serupa yaitu bergidik ngilu.
Di sisi yang lain papa Fahmi menyikut bahu papa Haikal,"Aku pikir waktu itu puteriku bakal menolak puteramu,"ucapnya semringah,"nyatanya puteriku itu sangat dewasa dan pemaaf."lanjut papa Fahmi seraya melirik sahabat sejatinya.
"Ya,itu karena puteraku sangat pandai mengambil hati puterimu,"balas papa Haikal tertawa lebar,"persis seperti diriku." lanjutnya membanggakan diri membuat papa Fahmi ikut tertawa renyah.
"Joe,aku jadi tidak bisa membedakan mereka.Di mana anak dan di mana menantu."ucap papa Fahmi menggeleng serius.
"Aku bahkan tidak bisa membedakan di mana Joe Haikal Joefani dan di mana Tun Fahmi Tun Fatih."balas papa Haikal membuat keduanya kembali tertawa lebar.
"Apa papa dan mama menertawai aku?" ucap Karin yang kian mendekat ke kursi kosong sementara Diego masih setia menggandengnya.Pria itu baru mengambil posisi duduk di sebelahnya setelah memastikan sang isteri benar-benar telah duduk di kursi.
"Tidak puteriku,itu cuma perasaanmu saja." ucap papa Fahmi tersenyum kecil.
__ADS_1
"Hehe,papa.Maaf aku hanya merasa saja."balas Karin tersipu karena yang menjawab adalah ayah mertuanya,diikuti anggukan sang mertua.
"Sejak kapan puteri papa ini mulai berubah sensitif,hmm?"timpal papa Haikal memicingkan mata menggoda sang anak padahal ia paham sesungguhnya bawaan puterinya yang sedang hamil memang rada sensitif.
"Sejak saat ini pa,hehe."balas Karin tertawa lagi.
"Ah,papa berdua macam belum pernah merasa dikerjai oleh bawaan ibu hamil saja."tambah mama Cyntia tertawa usil.
"Woo...Mama buka kartu."pekik papa Fahmi riang dan mama Cyntia tertawa geli.
"Coba kita tanya mama Nadine,waktu mengandung Karin apa mama juga sangat sensitif?"Mama Cyntia memancing.
"Emm...,kalau mama dulu lebih ke..."bepikir sejenak.
"Manja."Papa Haikal memotong.
"Ah,ya.Manja,dan banyak maunya,duh!Sayang,sampai pusing sendiri sih papamu." jelas mama Nadine membuat semua yang tengah menikmati sarapan ikut tertawa riang.
"Ah,ya betul,"menjentik jemarinya,
Diego yang sedari tadi hanya menyimak, tidak sempat bersuara lantaran asyik cengar-cengir mendengar celoteh langka keempat orangtua hebat yang telah melahirkan dirinya dan juga belahan jiwanya itu.
Satu kenyataan yang baru ia ketahui saat ini adalah isterinya yang gemar makan sate kerang itu diturunkan dari kebiasaan mama Nadine sewaktu hamil dulu.Menurut papa Haikal,tidak boleh sekalipun menu makan tanpa sate kerang,kalau tidak maka sang mama mogok makan.
Lalu kini bawaan manja dan banyak maunya itu telah menjadi bagian dari bawaan Karin yang membuat Diego kerap menepuk jidat.Karena memang Karin sering menjadi pemaksa ulung dan membuatnya terpaksa mencari makanan yang namanya sate kerang.
Menyadari kesamaan dengan sang mama Nadine,calon ayah itu kini melirik manis ke arah sang isteri seraya menaik turunkan alisnya menggoda sang isteri membuat si isteri mengunyah kasar dan membelalak kesal,mengerti akan maksud usikan suaminya.
"Lakukan apa saja sayang,aku pasti menurutinya,"ucap Diego setengah berbisik dan hanya Karin saja yang mendengarnya, "asalkan jangan kau paksa suamimu ini menjauh dan tidur di luar kamar."lanjutnya seraya menahan tawa geli dengan kelopak mata yang berair.
Karin ikut menyungging senyum kecutnya dan tidak bisa memungkiri akan bawaan bayi yang tengah tengah ia rasakan sekarang.
__ADS_1
"Ya,daripada nanti anakmu juga yang banyak liurnya.Kau juga yang sedih,maka menurutlah suamiku."celetuknya pelan diikuti tawa kecil dari suaminya.
"Boleh,sayang.Asalkan aku diizinkan untuk sering menjenguk anakku."bisik Diego rada mesum.
Karin tergelak.
•••
Di Pantai Kenangan,Karin dengan pakaian santainya tengah duduk santai di kursi sunshade seraya menikmati segelas jus buah segar.Kacamata hitam ikut betengger ria di ujung hidung bangirnya,topi pantai yang ringan ikut membingkai kepala dan dan rambut yang tergerai indah.Aura janin yang memancar di wajahnya menampilkan kecantikan dari dalam yang luar biasa bagi siapapun yang menatapnya.
Karin sangat cantik di pagi itu.Ditambah keindahan alami pantai yang membahana di seluruh alam Kenangan.Diego yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari ujung tepian tersenyum simpul memandang intens wajah sang isteri dengan tampilan yang santai namun sempurna meski hanya dengan make up tipis.
Senyumnya tiba-tiba memudar dan berubah menjadi tatapan bingung ke arah sang isteri.Seketika itu juga ia ingin sekali mendekati isterinya namun sengaja diurungkan mengingat dia perlu memberikan sedikit waktu untuk memastikan kenyataan apa yang sedang terjadi saat ini.
Seorang pemuda jangkung bertampang mix yang membawa alat selancarnya tengah mendekati isterinya seraya menyapa sangat akrab dan disambut oleh sang isteri dengan ekspresi yang sama. Sepertinya mereka saling mengenal dan sangat akrab.
"Hai Karin,"ucap pria itu seraya mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Hai,dan kau..,apa kau Falcano?"balas Karin masih menebak.
"Ya,tepat sekali.Apakabar Karin?"lanjut pria tersebut seraya mengambil posisi duduk di atas pasir karena memang pemuda itu baru akan mulai berselancar di atas ombak.
"Oh baik,bagaimana denganmu dan apa kegiatanmu sekarang?"
"Aku baik,sekarang aku sedang membantu di perusahaan papaku sebagai direktur keuangan di negara E."
Karin mengenal pemuda itu di kampus tempa ia berkuliah dulu.Mereka memang satu semester namun beda jurusan.Pemuda bernama lengkap Falcano W. yang ia kenal dengan nama panggilan Cano itu mengambil jurusan Ekonomi Internasional.
Akan tetapi kedekatan mereka lumayan baik karena keduanya sama-sama aktif dalam organisasi kampus yang sama dan membawa mereka pada kegiatan sosial kemanusiaan yang sama pula.
"Jadi kau sedang berlibur kemari?"
__ADS_1
•••••
Bersambung...