
Selamat Membaca semoga suka 🙏😍
Adapun sorot mata Diego tertuju kepada Karin yang masih ditunjuk-tunjuk oleh Lian gadis yang ia kenal berdiri di samping Danang itu.
"Ganjen lu jadi cewe.Dekat-dekat sama milik orang!"Bentak Lian belum puas dengan makiannya.
Meski begitu Diego tidak peduli dengan ucapan Lian maupun sosok Danang yang masih menarik lengan Lian agar menjauh dari Karin.
Diego hanya fokus kepada isterinya seorang.
"Karin,kenapa kau ada di sini hmm sayang?"Ucap Diego dengan wajah panik sembari mendekap erat tubuh mungil isterinya.
Mendaratkan ciuman berkali-kali ke pucuk kepalanya.
"Aku mencarimu ke mana-mana sayang."Lanjutnya seraya menangkup kepala isterinya dengan kedua tangan kekar miliknya kemudian mengecup lembut kening gadis itu.
Sesaat ia menoleh ke arah Lian yang terpana melihat seseorang yang ia kenal di depan mata.
"Ada apa ini?"Ucapnya kesal sembari menyorotkan tatapan gemuruh ke arah Danang dan Lian secara bergantian.
"Apa isteriku bersalah kepadamu wahai Puteri Carnelian Sanjaya?"Bentak Diego meninggi melotot tajam ke arah Lian.
Sorot mata elangnya menggelap pertanda murka.
Deg
Puteri Carnelian terperangah melihat kehadiran Diego dan membuatnya terbelalak tidak berkedip.
"Katakan!Seberapa besar kesalahan isteriku sampai kau memaki-makinya dengan kata kasar hah?"Seru Diego masih geram.
"Dy! Ini hanya salah paham.Maafkan aku."Ulas Lian menautkan kedua tangannya memohon maaf.
"Sebaiknya kau pastikan dulu sebelum kau menyerang seseorang."Ucap Diego datar namun penuh penekanan.
Karena terlalu panik akhirnya tanpa sadar Lian segera merangkul tubuh Diego yang masih murka sembari meminta maaf berkali-kali.
"Jauhkan tanganmu dariku!"Seru Diego kasar.
Sementara Danang..
Deg
Pemuda itu mematung mendengar nama calon isterinya disebut jelas oleh Diego.Dan Lian juga merespon ucapan Diego sembari memeluk tubuh pemuda itu.
'Apa itu pertanda mereka berdua saling mengenal?' Batin Danang penasaran.
Lalu Karin..
Gadis ini hanya melongo dengan bibir membentuk huruf 'O' manakala mendengar nama Puteri Carnelian disebut kembali oleh suaminya setelah sebelumnya ia pernah mendengar dari mulut Elyca di ruang 'Diego Spirit' waktu itu.
Melihat pemandangan demikian akhirnya Karin memilih mengambil langkah menjauh dari ketiga orang di hadapannya itu.
__ADS_1
"Ka_Karin!"Pekik Diego dan Danang nyaris bersamaan.
Namun yang dipanggil sudah terlanjur menjauh.Diego berusaha menyusul isterinya itu sesaat setelah ia menatap tajam ke arah Danang dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Danang frustrasi.Pemuda itu memutar bola matanya mendengus kesal dan menyisir kasar rambutnya kemudian segera berlalu ke ruang owner tanpa mempedulikan Lian yang mematung di tempat itu.
Hingga akhirnya gadis itu memilih pergi dari sana menerobos senja yang mulai pergi meninggalkan bumi sambil menangis tanpa menemui Danang terlebih dahulu ataupun meminta penjelasan darinya.
•••
Di kamar VIP...Karin duduk berselonjor di kursi sembari memeluk kedua lututnya.Wanita itu duduk mematung dan tenggelam dengan perasaannya sendiri.Diego yang baru saja masuk ke dalam kamar melangkah mendekati isterinya.Lalu mengambil posisi duduk di sampingnya.
Hening...
"Hari sudah gelap.Mandilah dulu."Ucap Diego pelan sembari menarik lembut lengan isterinya.
Karin menurutinya tanpa berkata apa-apa.
Di kamar mandi gadis itu memilih lama-lama berendam di air hangat hingga ia merasa dunianya menjadi gelap di sana.
Diego yang dari tadi sabar menunggu sang isteri kini kesetiaannya mulai goyah.Ia berusaha mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban dari dalam.Kemudian jemarinya mencoba memutar gagang ternyata pintunya tidak dikunci oleh isterinya.
ceklek
Diego memandang isterinya yang terlelap manis di dalam bathub yang airnya mulai dingin.
"Sayang,bangulah!"Ucap Diego sembari memercikkan air ke muka sang isteri.Namun gadis itu masih belum merespon.
"Karin?"Ucap Diego meraba kening dan tubuh isterinya namun tetap tiada respon.
Matanya berkabut menatap wanitanya.
Dengan sigap ia mengangkat tubuh isterinya lalu memindahkan ke kasur sembari mengeringkan tubuh tersebut lalu mengenakan bathrobe ke tubuh polos isterinya.
Diego bangkit meraih ponsel miliknya dan mengutak-atik sesuatu di sana lalu terdengar seseorang menyambungkan panggilan dari seberang.
Hallo
^^^Tolong hubungi dokter^^^
^^^secepatnya.Isteriku pingsan.^^^
Baiklah
~Memutuskan sambungan
Seseorang di seberang sana ternyata adalah Danang.Pemuda yang masih berada di ruang owner itu menatap sendu ke langit-langit ruangan sesaat setelah ia berhasil menghubungi dokter andalan di sekitar hotel.
Hatinya berkecamuk.Perasaan bersalah mulai menghantui dirinya.Di satu sisi ia merasa memiliki Karin sebagai sahabat, sepupu dan juga wanita yang pernah mengisi relung hatinya.
Ini merupakan satu paket lengkap yang tidak bisa ia buang begitu saja manakala ia berhadapan dengan gadis itu.Seperti ada dorongan magnet yang membawanya harus merasakan sesuatu yang luar biasa indahnya ketika ia berhasil mendekati gadis itu.
__ADS_1
Mengusik,menjaili dan memeluk tubuh mungil itu dalam versi yang berbeda dari penilaian semua mata yang memandang. Baginya bertemu dengan Karin tanpa memeluk,mengusik itu ibarat mobil tanpa bensin yang tidak bisa seiring sejalan.
Sedangkan di sisi yang lain sudah ada Diego dan Lian yang memandang perlakuannya terhadap Karin dari versi yang berbeda.Kedua orang tersebut tidak akan pernah memahami hati jenis apa yang ia miliki ketika sedang berhadapan dengan Karin.
Lian yang cemburuan dan Diego yang rada posesif.Keduanya sama-sama memiliki sisi sensitif yang sangat sulit untuk mentolerir pasangannya berinteraksi.
'Salahkah perasaanku ini ?' Batinnya lirih.
Matanya berkabut seraya menghela napas kasar.
Lalu siapa yang paling bersalah di sini,Danangkah,Karin dan Liankah atau bahkan Diegokah?Yang jelas mereka berempat larut dalam pikiran yang masing-masing menurut mereka benar.
Dan sekarang Karin tiba-tiba saja pingsan.Perasaan khawatir dan takut memaksa dirinya ingin sekali menjenguk dan melihat keadaan gadis itu namun untuk saat ini ia tidak punya nyali sama sekali untuk berhadapan langsung dengan Diego.
'Argh!' Pekiknya frustrasi.
•••
Kembali ke kamar VIP,Diego cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap isterinya.
"Dokter,bagaimana keadaan isteri saya?"Tanya Diego kepada dokter wanita yang baru saja memeriksa kondisi Karin.
"Sepertinya isteri anda mengalami beban pikiran akibat ketakutan masa lalu yang menyebabkan stres.Disarankan agar tetap menjaga mood isteri anda serta jaga pola makan dan jam istirahatnya agar ia tidak sering mengalami hal demikian."Jelas dokter tersebut.
Kemudian sang dokter meninggalkan beberapa jenis obat sesuai resep agar dikonsumsi oleh pasien sebelum ia pamit untuk beranjak.
Diego memandang sendu ke arah sang isteri yang matanya masih memejam.Entah ujian apalagi yang harus ia hadapi yang jelas ia merasa benar-benar tertekan dengan hal semacam ini. Memikirkan kondisi Karin yang membuat keningnya ikut berkerut.
'Apa yang membuat isteriku tertekan seperti ini?Padahal sejak pagi ia kelihatan baik-baik saja.Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka bertiga tadi,lalu kenapa Lian ada di sana bersama mereka?' Batinnya bingung.
Gadis bernama Lian yang melakukan hubungan kerjasama dengan dirinya itu kini tiba-tiba berada di hotel ini dan menyerang isterinya.
Otaknya mencoba mencerna sesuatu.Ingatannya memaksa kembali ke masa lalu tiga bulan silam di mana malam itu Danang mengaku kepadanya bahwa ia dijodohkan oleh keluarganya dengan seorang gadis cantik anak dari kolega bisnis sang papa.
'Apa gadis yang dimaksudkan Danang waktu itu adalah Lian?' Batinnya kembali menebak.
Diego beropini jika memang demikian berarti Lian adalah calon isteri Danang.Dan itu berarti ada kemungkinan kehadiran isterinya di ruang owner tadi telah membuat Lian cemburu.Tapi kejadian apa yang membuatnya seganas tadi terhadap isterinya.
Sekali lagi Diego berpikir keras.Mencerna sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Ya,bukan tidak mungkin jika gadis itu merasakan hal demikian andaikata tadi ia benar-benar melihat Danang dan isterinya bertingkah konyol ketika saling berhadapan.
Kedua sahabat itu memang suka peluk-pelukan,colek-colekan, atau bahkan aksi cium-ciuman kening.Dan hal ini juga pernah membuatnya merasakan hal yang sama ketika berada di posisi Lian.
Cemburu..dan ingin menerkam lawannya..Itu saja..
•••
Bersambung...
*****
__ADS_1
Terima kasih teman-teman sudah mampir di karyaku..Semoga suka.Terima kasih atas jejak-jejaknya..semoga kita semua diberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah..aamiin..
Salam Lanjut dan tinggalkan jejaknya lagi..🙏🙏🙏🤗🤗🤗