Cintai Aku Sahabat Kecilku

Cintai Aku Sahabat Kecilku
Eps 30


__ADS_3

Selamat Membaca 😍


Mentari menjelang siang menyoroti pelataran hospital, cahayanya menyelinap di sela dedaunan tanaman hias yang rindang. Bunyi sepatu pantofel yang berbenturan dengan lantai di sepanjang koridor rumah sakit, membawa tubuh jangkung penuh kharismatik itu memasuki ruang tunggu ICU.


"Welome, Sir!" pekik seseorang berwajah teduh berkarakter dari jarak lima meter seraya membungkukkan badannya, samar, pertanda hormat, dan hanya dijawab dengan anggukan samar juga. Berlanjut lagi dengan orang berkharakter lainnya di beberapa titik sudut yang ia lewati. Mereka tidak lain adalah petugas tim Gerakan Satu Malam yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di sekitar area rumah sakit demi keselamatan calon isteri dikretur generasi ke dua.


Langkah pastinya semakin lebar. Sama sekali tidak terusik dengan derit ponsel yang mengusik sepanjang langkah. Sesekali ia memiringkan tangan ke samping dan mata elang miliknya siap melirik benda yang melingkar di pergelangan sana.


Seakan tidak rela waktunya terlewatkan begitu saja walau sedetik. Aura kewibawaan tetap terpancar seri dari wajahnya yang teduh, meski suasana hatinya sedang tidak bersahabat. Tampak dari langkah lebarnya yang menaruh harapan agar segera bebas dari masalah yang membelenggu.


"Lakukan sesuai perintah." titahnya datar pada seseorang di dalam sambungan jarak jauh yang terpaksa ia respon lantaran deritnya terlalu menuntut. Sejenak kemudian, benda gawai tersebut sengaja di non aktifkan setelah berhasil diputuskan begitu saja, seiring dengan gurat membunuh yang menguar nyata di wajah dinginnya.


Langkah lebarnya membawa ia semakin dekat pada tujuan. Namun langkahnya mendadak terhenti manakala dari kejauhan sorot matanya disuguhi pemandangan yang cukup mengejutkan sekaligus meluluhlantakkan naluri insaninya yang boleh dibilang baru akan menetral, setelah wanita yang ia kasihi mengalami peristiwa tragis dan berujung kritis. Pemandangan apa itu? Tampak dua orang pria beda fase tengah berupaya meredam amarah seorang wanita paruh baya yang kelihatan emosinya meledak-ledak. Wanita itu mengamuk histeris seakan lupa kalau dirinya tengah berada di tempat umum. Ia benar-benar menunjukkan sisi lain yang berbeda dari kesehariannya yang ramah dan penyabar. Ia adalah mama Nadine, sedangkan dua pria yang mengengahi itu tidak lain adalah Papa Haikal, dan juga Danang.


"Di mana anak itu, Pa?" Gema suara mama Nadine khas orang sedang marah.


"Anak? Siapa, ma?" Papa Haikal yang kebingungan balik bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan si pengacau hidup puteriku itu!" cetus wanita paruh baya yang selama ini terkenal paling sabar, penyayang, dan tidak pernah terlihat amarah di matanya.


"Gara-gara pertunangan itu, Puteriku akhirnya menderita begini."


"Maksudnya Diego? Dia tidak salah, Ma."


" Lalu siapa? Kalau bukan kerena bertunangan dengannya, mana mungkin puteriku bisa celaka seperti ini! Mama akan menuntutnya jika terjadi apa-apa pada Karin!" pekiknya penuh derai air mata. Ya, emosi wanita itu kelihatan begitu labil hingga tampak tubuhnya ikut berguncang hebat di sela Isak tangis yang kian menjadi.


"Mama, tenang. Putri kita akan baik-baik saja, oke." Papa Haikal mecoba menenangkan, "Anak itu bukan penyebab kecelakaan Puteri kita, percayalah." lanjutnya kokoh.


"Bohong! Ini semua gara-gara dia mempunyai pacar bodong di luar sana." membanting keras sebotol kemasan air mineral ke atas kursi panjang yang didudukinya, "Wanita berhati iblis itu menyerang puteri kita secara membabi buta karena ingin membatalkan pertunangan mereka."


"Diegolah punca dari masalah ini. Anak itu wajib bertanggung jawab atas nyawa Puteri kita!" pekiknya lepas kontrol.


"Psstt! Tahan amarah, Ma. Tidak baik menuduh anak orang sembarangan." Papa Haikal dengan nada paling rendah masih terus berusaha meredam, "Lagipula mana mungkin Digo melakukan semua itu secara sengaja. Toh! Fans maniak itu bisa saja menimpa ke siapa saja." jelas pria paruh baya itu membelai sang isteri lalu sigap membawanya ke dalam pelukan menenangkan.


"Kalau tahu kejadiannya bakal begini, mana mau mama menerima lamaran keluarga kayangan itu." cetusnya menyesal.


"Apa gunanya hidup serba terpenuhi, kalau di luar sana punya banyak musuh yang sedang mengancam? Pokoknya mama tidak sudi Puteri kita menjadi bagian dari keluarga mereka. Mama ingin pertunangan mereka segera dibatalkan saja."


"Hushy! Jangan menghukum demikian, Ma. Istighfar! Apa salah mereka, coba? Malah seharusnya kitapun ikut menaruh rasa peduli kepada Diego yang sudah seperti putera kita, anak itu hanya punya satu hal, yaitu kelebihan pesona. Tapi, dia tidak pernah meminta untuk digilai oleh wanita manapun?" bujuk Papa Haikal penuh kesabaran.


Mendengar hal itu, Diego merasa hatinya benar-benar trenyuh! Jiwanya seakan tertusuk duri tak kasat mata, lalu lukanya cukup dalam. Rasa bersalah kian menyelimuti relung hatinya. Separah itukah kelebihan pesona yang tertanam dalam dirinya, hingga tanpa ia sadari telah menebar aura negatif bagi para wanita hingga memicu tindakan nekad bagi sebagiannya seperti Elyca, lalu berbuah petaka bagi orang-orang yang ia cintai? Diam-diam dalam hatinya membenarkan ucapan paman Haikal, toh dirinya tidak pernah meminta untuk dicintai oleh wanita seperti Elyca, apalagi digilai sedemikian rupa.


"Aku tidak pernah memberi ruang dan kesempatan kepada wanita seperti Elyca untuk masuk dalam hidupku," gumamnya marah, pertanda dari rahangnya yang kian mengeras.


Akan tetapi di lubuk hati yang terdalam, ia malah berharap agar dirinya dicintai oleh gadis seperti Karin, seperti dirinya menyayangi dan mencintai gadis itu dengan sangat tulus. Egoiskah dia jika meninginkan untuk tetap memperjuang posisi gadis cantik tak berdosa itu agar, tetap menjadi bagian dari hidupnya, bahkan selamanya?


"Maaf, Bi, aku hanya pecinta yang memiliki keterbatasan dan tidak punya kekuatan super untuk melidungi puterimu," menatap nelangsa, "Tapi akan kupastikan setelah ini, tidak ada siapapun yang berani menyakiti Puterimu," ikut mengepalkan kedua tinjunya demi menutupi rasa hati yang kian resah. Seakan dendam itu kian membara.


"Bibi jangan buru-buru mengambil keputusan ini. Toh! Karin juga baru sadar, kan? Jadi biarlah kita selesaikan masalah ini baik-baik agar tidak melebar." terdengar suara lain yang berpendapat, "Aku khawatir Karin akan lebih terluka jika mengetahui semua ini." kali ini Danang yang angkat bicara, membuat sang bibi yang tadinya membabi buta, sedikit mulai melunak, namun Isak tangisnya yang memilukan masih juga belum mereda.


Diego yang berdiri tidak jauh dari sana, merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Seakan ada torehan baru di hatinya yang tengah gundah gulana, dan luka yang tertoreh itu, kini kian menganga. Namun sejenak semuanya seakan bisa ia tepis begitu saja manakala mendapati kenyataan bahwa gadis pujaannya telahpun melewati masa kritisnya, "Jadi Karin sudah sadar?" gumamnya haru.


Tanpa bisa menahan rasa bahagia yang menyelimuti, Diego lantas membanting langkah lebarnya demi bisa bertemu dengan orang yang paling ia cintai.


"Have a nice day, Aunty! Apa aku bisa menemui Karin, Bi?" tanyanya santun. Gema suara maskulin miliknya, membuat ketiga orang dekat Karin itu sontak melemparkan pandangan ke arahnya dengan ekspresi menegang dan rasa yang berbeda-beda. Dalam hitungan detik ke sepuluhpun ketiganya masih sukses mematung.


"Bagaimana kabar Karin? Boleh aku memastikannya sendiri? Aku ingin menemuinya sekarang juga." tambahnya lagi membuyarkan suasana. Siap membentuk langkah lebar, namun sejenak kemudian langkahnya terhenti begitu saja menakala mendengar sentakan keras yang berasal dari suara mama Nadine.


"Berhenti!" pekiknya garang, "Kau tidak boleh menemuinya." sorotnya tajam.


"Please Aunty! Jangan menghakimiku seperti ini." merapatkan kedua telapak tangannya penuh permohonan maaf, "Aku harus bicara pada Karin." tambahnya penuh harap.


"Apa kau masih punya nyali untuk itu?" menatap tajam, "Setelah semua kejadian naas yang menimpa Puteriku ini, hah?"


"Maafkan aku, Bibi Nadine. Ya, aku mengakui kesalahanku." menatap dalam mata sembab seorang ibu yang hatinya sedang terluka bak singa betina yang tengah mengamuk. Ada perasaan tidak tega di sana, namun dirinya juga terpaksa harus mempertahankan haknya demi bisa bertemu dengan si penjaga hati yang sedang membutuhkan dirinya di sana, "Tapi aku dan Karin saling membutuhkan, Bibi," pintanya memelas.


"Omong kosong apa itu? Plakkk!" satu tamparan keras mendarat ke pipi pemuda tersebut hingga pipinya memanas, "Beraninya kau, mendekati Puteriku!" tak terasa kelopak redupnya itupun ikut memanas. Pertahanan pemuda itu roboh seketika.


Danang yang sedari tadi hanya mengamati, kali ini merasa perlu untuk meleraikan, "Bibi, tenanglah." merangkul pundak wanita yang benar-benar telah lepas kontrol itu.


"Mama, biarkan saja dia menyelesaikan masalahnya," Papa Haikal yang merasa peduli ikut menimpali, "Please, maklumi dia." namun sang ibu yang sudah terlanjur kecewa dengan pemuda itu, tetap kukuh dengan pendiriannya.


"Dengar satu hal, anak muda! Segala bentuk kecukupan yang anda dan keluarga anda miliki tidak sebanding dengan nyawa Puteriku!"


"Mulai saat ini, anda tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Puteriku,"


"Pergilah!"


"Bibi, Bibi, Bibi Nadine..., Bi..., kumohon jangan berkata demikian, aku minta maaf ata kesalahanku, dan aku berjanji akan bertanggungjawab atas masalah yang menimpa Puterimu."


"Tidak ada perubahan pada keputusanku, pergilah!"


"Bibi, tolong jangan menghukumku, kau harus percaya kepadaku bahwa aku tidak perah berhubungan apapun dengan wanita selain Karin!" pekiknya keras mengikuti punggung wanita kukuh yang kian menjauh memasuki ruang ICU, "Bibi! Aku akan menunggu restu darimu! Hingga kau benar-benar merestuiku!" Pemuda itu tergugu menerima perlakuan calon mertuanya yang terlanjur kukuh dengan pendiriannya.


Ada luka yang tergores kian menganga tanpa mau kompromi dengan situasi. Sakit. Juga memilukan!


Diego kini sudah tersungkur di lantai. Pemuda itu tampak tak kuasa menahan air matanya yang kian membanjir. Rasa rindunya pada sang gadis kian menggebu hingga mengalahkan rasa sakit yang ditoreh oleh ucapan calon mertuanya. Hatinya sedang membeku. Jiwanya seakan remuk ditimpa gundukan rasa kecewa yang mendalam. Lalu raganya? Sudah tidak bertenaga lagi. Lemas, demikian yang dirasakan olehnya.


"Bersabarlah! Percayalah, bahwa Tanteku hanya sedang melampiaskan amarah sesaatnya kepadamu. Sesungguhnya ia tidak sampai hati membiarkan cinta Puterinya kandas di tengah jalan." Danang mengulurkan tangannya kepada Diego dan membantu Pemuda itu bangkit dari posisi terjerembab, lalu membawanya duduk dan bersandar di kursi panjang.


Danang mengambil posisi duduk di sebelahnya, "Beri ia waktu untuk mencerna semua kejadian saat ini." menatap Diego penuh pemakluman, "Aku harap kau mengerti itu." tambahnya seraya menepuk pundaknya.


"Terima kasih," hanya itu yang keluar dari mulut Diego sembari mengangguk pelan sebelum akhirnya ia pamit pergi untuk urusan pribadi lainnya.


Hingga menjelang malam pun, Diego masih betah menunggu di kursi ruang tunggu. Hatinya sudah tidak sabar lagi untuk segera bertemu dengan Karin. Meskipun mama Nadine telah melarangnya untuk tidak menemui gadis itu lagi, namun ia tetap bersikeras dan berharap secepatnya bisa mendapat izin dari calon ibu mertuanya itu. Karena hanya itu keinginan satu-satunya sekarang. Tidak ada yang lebih penting selain bertemu dan memadu hati dengan pujaan hatinya.


'Aku harus bisa meyakinkan bibi Nadine agar beliau tetap mengizinkanku untuk menemui Karin.Aku akan bertanggungjawab atas diri Karin.Apapun yang terjadi meski diriku ditolak sekalipun.' Batinnya lirih.


"Bersabarlah, nak. Serahkan semuanya pada sang Khalik. Paman yakin, kau pasti bisa melewati hari tersulit ini." Papa Haikal yang baru akan pergi ke ruang ICU yang lain untuk menjenguk Oma Hasnah yang juga masih terbaring lemah, "Paman tinggal sebentar, Oma sedang membutuhkan kehadiran Paman di sana." lanjutnya seraya bersiap melangkah.


"Baik, terima kasih, Paman." balas Diego pasrah.

__ADS_1


Tanpa sadar, kini Diego merasa seperti ada kekuatan baru yang sedang berbicara kepadanya agar segera mendatangi Karin di dalam sana. Rasa campur aduk bergemuruh menjadi satu di sanubarinya. Bola matanya terpejam seolah ikut merasakan debaran jantung yang muncul secara tiba-tiba. Tarikan napas dalam kemudian dihembuskan entah yang keberapa kali dilakukannya.


'Tuhan! Tolong aku..' Gumamnya pelan.


Sementara itu, di dalam ruangan ICU, Mama Nadine yang sudah masuk ke dalam untuk menemani puteri tercintanya,


"Ma ma."


"Iya sayang, katakanlah! Mama mendengarkanmu."Usap lembut jemari sang mama dipipi cantik puterinya.


"Diego di luar kan ma...Suruhlah dia masuk." Pintanya pelan.


"Tidak sayang, dia belum kemari."Jawab sang mama berkilah.


"Tidak ma, dia pasti ada di luar. Aku harus bertemu dengannya." ucapnya meyakinkan.


"Sayang, kau butuh istirahat nak. Cukup dulu kunjungan hari ini. Besok saja kita lanjut lagi, ya." bujuk mama Nadine tidak mengizinkan, namun bisa dipastikan tidak berhasil, karena Karin tampak begitu ngotot, tak mau dibantah.


"Mama, aku merasakan kehadirannya disini. Tidak baik membiarkan orang pulang begitu saja. Dia pasti sedang menunggu mama keluar dari sini. Aku baru akan istirahat setelah bertemu dengannya." tandasnya tidak menyerah.


Mama Nadine menatap sendu kewajah puterinya.Menarik napas dalam kemudian dihempasnya pelan. Melampiaskan kekecewaannya terhadap pemuda itu namun kekhawatiran akan keadaan puterinya jauh lebih besar.Seketika sang mama mengangguk pelan dan segera beranjak dari sana tanpa memberikan perlawanan lanjutan kepada puterinya.


Mama Nadine pun bergegas keluar ruangan untuk memastikan keberadaan pemuda bersangkutan di luar sana. Benar seperti yang diperkirakan Puterinya, pemuda itu memang sedang menunggu kemunculan dirinya demi memberi restu. Meski amarah masih berhasil menutupi rasa kagetnya, dan awalnya ragu namun akhirnya ia mengerti akan pentingnya pemuda itu bagi anaknya.


Saat ini posisinya mematung di depan pemuda yang tampak bersandar pada sandaran kursi, wajahnya menengadah ke atas dengan mata yang memejam. Kedua lengannya dilipatkan ke dadanya. Tampaknya ia belum menyadari kehadiran mama Nadine di depannya.


"Ehmm!" satu deheman berhasil membuat sang pemuda membeliak dan sukses mematung.


Sejenak kemudian, iapun bersuara, "Jika bukan namamu yang disebut puteriku di awal kesadarannya, aku tidak akan sudi memberimu kesempatan ini. Lekas selesaikan masalahmu, dan cepatlah pergi dari sini." ucapnya penuh penekanan. Kilatan amarah yang jelas tidak bisa dipungkiri, masih belum bisa tawar begitu saja.


Diego melangkah cepat meraih gagang pintu ruang ICU, tentunya setelah mengucapkan ribuan terima kasih kepada wanita paruh baya itu. Membawa sepotong hati yang luka. Namun ia tetap tegak berdiri dan tidak ingin terlihat rapuh. Apalagi saat ia memperoleh restu untuk bertemu dengan gadis pujaannya yang kini sedang membutuhkan dukungan dan perhatian khusus dari orang-orang terdekat, tidak terkecuali dirinya.


Ceklek


Menoleh kearah pembaringan.


Gadis itu terlihat sedang memejamkan matanya yang cantik.Seolah tidak ingin memberi kesempatan kepadanya untuk menatap walau sedetikpun.Diego berjalan mendekati penuh hati-hati.


Menatap intens kepada sosok yang sangat dirindukannya itu tanpa berkedip sedikitpun.Sorot mata itu memaksanya untuk meneliti setiap inci tubuh yang terbalut oleh perban yang baru diganti.


Gemuruh semua rasa bercampur aduk menjadi satu.Rasa cinta,sayang,sedih, bahagia,rindu,haru,dan juga bersalah meliputi sekujur jiwa dan raganya naik hingga keubun-ubun.Ironis seakan memicingkan dirinya sendiri lantaran tidak bisa melindungi wanita yang seharusnya ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya.


Kenyataan yang terpampang saat ini seakan membenarkan semua ucapan sinis mama Nadine yang meragukan kemampuannya untuk melindungi puteri tercintanya.


Air mata kini berhasil meluluh lantakkan semua pertahanan yang dimilikinya. Yang ada hanyalah sisi kelemahan yang jelas terpampang diwajah seorang Diego Hedy Dzul Fahmi.


"Kau sudah datang?" Tanya gadis itu tanpa membuka kelopak matanya.


Pertanyaan itu seketika membuatnya terkesiap,"A_aku.I_iya aku baru saja datang."Jawabnya gagap.


"Duduklah!" Titahnya dengan mata yang masih terpejam.


Mengambil posisi duduk.Jemarinya hati-hati meraba pucuk kepala yang terbalut dengan perban.Gadis itupun membuka kelopak matanya menatap kearah pemuda yang telah lebih dulu menatapnya.Intens! Keduanya saling beradu cukup lama seakan menjelaskan kerinduan yang tersirat penuh arti dibalik sorot keduanya meminta untuk segera diobati.Mata sendu dan sayu itu akhirnya memilih untuk menyudahinya terlebih dahulu.


Diego menatap dengan senyum harunya.


"Sayang, tolong jangan menyuruhku membuat pilihan.Apa kau meragukan perasaanku padamu hmm? Bisiknya pelan ke kuping gadis itu dengan bulir air mata yang siap lolos.


"Aku tidak meragukanmu.Aku hanya menyuruhmu untuk memilih."Ucapnya lemah namun datar.


"Lalu untuk apa aku memilih kalau hatiku saja tetap utuh untukmu sayang?"


"Sakitku sekujur badanku ini sudah sangat parah.Jadi tolong jangan memperparah lagi dengan menyiksa hatiku.Apa kau tahu wanita__"


"Psssstttt! Hentikan sayang.Tolong jangan membebani pikiranmu dengan hal yang tidak seharusnya kau pikirkan.Kau tahu sayang,cuma kau satu-satunya wanita yang ada di hidupku.Aku serius!" Sanggahnya pelan sembari menyentuh bibir polos gadis itu dengan jemarinya,"Tatap aku! Apa kau tidak melihat cinta yang besar dibalik sorot mataku ini hmm sayang?Lanjutnya membelai pipi gadis itu dengan lembut.


Ditatapnya lama pipi mulus yang tergores samar itu.Hatinya benar-benar sakit mengingat pernyataan David soal tamparan tangan Elyca mengenai pipi pujaannya itu.Meskipun bekasnya telah menghilang disana namun luka dihati Diego tidak akan hilang seumur hidupnya.


'Maafkan aku tidak bisa melindungimu saat itu.Aku berjanji setelah ini akan kubereskan dia.' Batinnya dengan air mata yang tumpah ruah.


"Lekas sembuh ya sayang,aku cinta,aku sayang kepadamu."Mengecup singkat bibir itu dengan kasih sayang dan kelembutan.


Diego membelai lembut wajah yang perlahan mulai terlelap.Masih ada sisa air mata yang membasahi mata sendu itu.Berharap ketika bangun nanti tidak ada lagi air mata dan kesedihan yang mengiringi hidupnya dan juga perjalanan takdir mereka.


Sang surya menaikkan cahayanya tepat diubun-ubun.


Diego masih menatap mata cantik yang terlelap itu.Satu belaian mendarat di pipi gadis itu sesaat sebelum ia memutuskan untuk keluar dari ruangan menemui papa Haikal dan mama Nadine.


"Paman,bibi,sebelumnya aku mohon...Maafkanlah jika aku lancang_"Ucapan Diego tertahan seraya menatap ragu ke mata mama Nadine yang menyorotinya tanpa henti.


Hening.....


"Ehm..Ada apa nak? "Ucap papa Haikal membelah hening,"Katakan saja,jangan sungkan."Lanjutnya mempersilahkan.


"Begini paman,bibi..Aku berniat meminta izin kepada kalian agar kita bisa membawa Karin ke Singapura untuk melakukan pengobatan lebih lanjut.Walau bagaimanapun aku bertanggungjawab atas kekacauan ini.Jika memang kalian tidak menginginkanku sebagai bakal menantu di keluarga ini maka aku ikhlas_."Ucapannya terhenti lantaran tenggorokannya nyaris tercekat meminta disiram dengan tegukan air.


Sesaat dengan susah payah ia menelan salivanya,"Karena aku juga ingin sekali melihat kalian tersenyum kembali seperti dulu.Terutama Karin harus bahagia, maka aku juga akan sangat bahagia.Maka dari itu aku akan memastikan sendiri bahwa Karin dalam keadaan baik-baik saja dan aku berjanji akan mengembalikan puteri kalian setelah semua pengobatannya selesai."Jelas Diego pelan dengan bahasa yang teratur.


Papa Haikal terdiam menatap kosong ke langit-langit ruang tunggu.Sementara mama Nadine masih tetap menyoroti mata pemuda itu dengan tatapan yang sulit dibaca.


"Izinkan aku untuk kali ini saja.Setelah itu aku tidak akan meminta sesuatu lagi dari kalian bi."Lanjut Diego menatap sendu ke wajah wanita yang masih menyorotinya itu.Ada baluran berkaca yang masih terbendung dipulupuk mata tajam wanita anggun yang telah melahirkan gadis cantik pujaannya itu.


"Ehm..Biarkan paman dan bibi berembuk bersama opa dan kakakmu Adhytama dulu ya nak.Setelah itu barulah kita membuat keputusan besar ini secara bersama- sama." Ucap papa Haikal setelah lama termenung.


"Baiklah paman.Aku siap menunggu keputusan apapun dari paman dan bibi."Jawabnya memasrahkan diri.Namun dalam hatinya memohon dan berharap ada secuil rasa dari mama Nadine sebagai penerimaan terhadap dirinya.


•••


Sepulang dari menjenguk Karin di rumah sakit Danang sengaja memilih untuk mendatangi cafe langganannya.Sekedar untuk mencari ketenangan melalui nikmatnya racikan kopi hitam kesukaannya.


Suasana cafe yang lengang membuatnya leluasa larut dalam ketenangan.

__ADS_1


Hanya sesekali terlihat beberapa orang yang datang membuat pesanan dan langsung beranjak pergi dari sana.


Pikirannya bergelayut memikirkan ucapan papa Imran dan mama Andin yang dilontarkan semalam.Sewaktu mereka sedang beristirahat di kamar Danang.


Pasangan paruh baya itu sengaja mendatangi kamar sang anak agar bisa leluasa membahas masalah perjodohan dirinya dengan seorang wanita yang belum pernah dijumpainya.


“Danang,papa rasa sudah saatnya kau pulang ke Indonesia untuk mengurus usaha keluarga kita.”


“Oh,papa..Kenapa buru-buru begini pa?Bukannya papa sendiri yang bilang aku bisa melakukan tanggungjawab itu setelah aku menikah.Sekarang ini calon isteri saja aku belum punya pa.”Sanggah Danang tersenyum sopan.


“Ya, itulah sebabnya kenapa papamu memintamu untuk pulang nak.Waktu kita akan terbuang sia-sia jika kau bertahan di sini.Kami rasa ada baiknya kau pulang dan menikah dengan anak sahabat papa disana.”Timpal sang mama.


“Dia anak kolega bisnis papa.Dia juga anak sahabat baik papa.Jadi papa tahu seperti apa latar belakang keluarga itu.Oma juga mengenal mereka dengan baik.”Jelas sang papa.


“Pa pa,mama..Kenapa terburu-buru sih.Aku belum siap untuk menikah.” Bantahnya menolak.


“Tapi kau harus mau nak! Ini menyangkut kesehatan oma mu.Jika kau menolak maka kau akan menyakiti hati oma.Kau tahu sendiri kan bagaimana keadaan omamu sekarang.”Ucap sang mama mengarahkan.


“Mama dan papa jangan berpikir yang bukan-bukan.Omaku akan baik-baik saja.Karin kan yang punya janji sama oma.Bukan aku lho!”


“Kata siapa kau tidak nak?Justeru kaulah inti dari awal kesepakatan ini.Kaulah penerus yang ditunjuk langsung oleh omamu untuk melanjutkan usaha beliau di sana.Karin itu perannya sebagai penyatu warisan Adhytama Star Group sesuai keinginan oma.Dan itu jika memang dia menikah denganmu.Tapi jika tidak maka kalian akan berjalan dengan usaha sendiri-sendiri."Jelas papa Imran panjang lebar.


“Sayang,Oma itu ingin sekali melihat cucu-cucunya bahagia di akhir usianya.Adit dan Dimas sudah berhasil membuat Oma sediki lega.Sekarang giliran kau dan Karin.Berhubung Karin masih dalam keadaan sakit maka kaulah satu-satunya yang bisa menyelamatkan keadaan ini.”Ucap mama Andin sembari membelai bahu sang anak,”Maka Menikahlah nak! Cinta itu bisa tumbuh setelah kalian menikah dan hidup bersama.”Lanjutnya meyakinkan.


“Papa dan mama dulu juga menikah di atas perjodohan orang tua.Tapi kami bahagia lho nak!”Timpal sang papa sambil tersenyum.


Hening.......


“Jika kau masih menolak juga maka papa terpaksa menyerahkan kembali semua tanggungjawab ini kepada oma agar beliau bisa menunjuk kembali orang lain sebagai penerus Adhytama Star Group.Karena papa tidak ingin merusak kepercayaan keluarga Adhytama Setiawan yang sudah mendarah daging diberikan kepada kita.”Sergah sang papa pura-pura menyerah.


Danang menarik napas yang tercekat,“Ja_jangan papa! Oke.Baiklah aku terima. Jika oma tahu aku menolaknya maka pasti oma akan membenciku.Aku sangat sayang kepada oma.Jadi biar aku terima perjodohan ini.Hhhkk! “Ucap Danang pasrah.


"Oh..Terimakasih sayang.Kau buat mama dan papa terharu." Ucap sang mama memeluk sang anak sembari melirik kearah papa Imran.Keduanya saling mengedipkan mata dengan senyum penuh kemenangan.


Danang menarik napas dalam dan menghempas kasar.Membuang pandangan ke sembarang arah.


Hatinya benar-benar kacau.Mungkin sudah saatnya ia harus berpikir serius soal perjodohan itu.Meskipun hatinya berat dan terpaksa menerimanya.


Di depan cafe terlihat dua orang wanita muda dengan lenggok khasnya berjalan mendekati dan mengambil posisi aman di meja yang bersebelahan dengan pemuda itu.


Danang yang asyik menikmati kopinya dalam kesendirian menatap intens kepada kedua gadis itu secara bergantian.Keduanya larut dalam cerita yang penuh candaan.


Sebuah pemandangan yang tidak luput dari perhatian Danang.Kedua gadis itu tampak antusias memilih menu kopi yang dinginkan sembari melontarkan berbagai macam percakapan ringan namun jelas terdengar di kuping pemuda itu.


“Kudengar cafe ini punya racikan kopi ternikmat di kota ini Lian.”Seru gadis disamping seseorang yang dipanggil Lian itu.


“Oh ya,baguslah! Tidak sia-sia kita jalan kaki sampai ke sini Salsa.”Balas gadis yang disapa Lian.


“Separah itu ya bad mood kamu sampai memaksa kita harus berjalan kaki di sepanjang trotoar saat siang bolong begini?” Tanya gadis yang bernama Salsa kepada Lian dengan wajah gerahnya.


“Iya lah Sa! Guna apa gue kuliah jauh-jauh ke luar negeri sampai mendapat gelar Mis di kampus gue kalau ujung-ujungnya hanya berakhir di perjodohan ini?Udah kayak nggak laku aja guenya!” Sergah Lian tidak terima dengan nasibnya sendiri.


“Ahaha..Nikmati saja neng! Ambil hikmahnya.Siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan sesuatu dibalik semua ini dan jalan terbaik buat lu lewat perjodohan itu.”


Hallaaahh! Hari gini masih percaya begituan.Kalau bukan karena keadaan bokap gue yang lagi sekarat,mana mungkin gue mau terima perjodohan sialan ini! Mending gue kawin ama kakek lu daripada nikah sama orang yang nggak dikenal samasekali. ”Umpatnya kesal.


“Eitt! Nggak boleh ngomong gitu.Ntar disambar geledek baru tau rasa. Ahaha...Kakek gue memang single, genitnya juga selangit, tapi mana mau dia sama cewe manja yang suka nangis kayak lu.”


“Haaish! Bodo akh! Pokoknya gue hanya mau terima perjodohan ini asalkan kharakter pria tersebut sama persis seperti si anak sialan itu!” Ucapnya cemberut.


“Apa?? Anak siapa? Sejak kapan lu cintanya sama anak-anak, nona Lian yang paling cantik? Gila_”


“Eh! Siapa yang bilang anak-anak nona Salsa? Lu yang asal.Maksudku kliennya papa yang baru kita temui pagi tadi.”Jelas Lian.


“Oh kirain! Ya,ya,gue setuju.Duh!Beruntungnya gadis yang bisa memiliki dia_”


“Oii! Pikirin nasib gue dulu dong! Jangan lamunin gadis beruntung itu.”


“Eh! I_iyaaa..Aku minta maaf..Lagian imajinasi lu juga ketinggian neng! Mana ada di dunia ini dua orang yang memiliki kharakter yang sama persis? Kembar aja nggak mungkin!”


Drrrrrrttttt drrrrttttt drrrrrttt


Bunyi ponsel Danang mengagetkan semua yang ada di dalam ruangan tersebut tidak terkecuali kedua gadis yang lagi serius membahas perjodohan itu.


Danang mengangkat ponselnya tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh kedua gadis yang berada dimeja sebelahnya.


Salah seorang darinya yang bernama Salsa menatap intens dengan ekspresi terpukaunya...”Waahhh...!!”Sedangkan yang bernama Lian terlihat hanya memicingkan mata seakan sedang mengingat-ingat sesuatu.


Hallo pa


Aku masih di jalan.


Iya pa aku segera ke sana.Tunggulah limabelas menit lagi.


Tut Tut Tut Tut


Memutuskan sambungan.


Wajahnya seketika berubah datar dan dingin.Menyungging bibirnya miring.


Mata elang itu tiba-tiba menyala.


Menarik napas dalam dan mendengus kecil sembari mengedikkan bahu.Berdiri dengan aba-aba siap beranjak tanpa menghiraukan tatapan sekelilingnya.


‘Kenapa dunia ini sarat dengan yang namanya perjodohan sialan itu?’


Gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh kedua gadis yang tatap melongo mengekori punggungnya dengan rasa yang berbeda.


••••


Bersambung....

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2