
Selamat Membaca 🙏😍
Karin yang baru pulang dari pusat perbelanjaan, memilih singgah sebentar di rumah sang mama. Gadis itu melangkah masuk sembari bersiul ria. Terlihat dirinya sengaja menemui bibi Ira dan juga dua pembantu lainnya, bibi Irna dan bibi Mina sedang bercengkrama ria sambil membersihkan sayur mayur yang akan dimasak untuk menu makan siang nanti.
Terlihat bibi Mina sedang menyeduhkan secangkir kopi hitam. Sepertinya itu sudah menjadi aktivitas rutin bagi seorang bi Mina setiap kali Karin menyambanginya.Entah siapa yang akan meminumnya,Karin tidak terlalu ambil pusing.
Yang penting Karin tahu persis bahwa sang papa tercinta tidak pernah lagi mengonsumsi minuman berkafein sejak satu tahun yang lalu semenjak beliau di vonis menderita penyakit lambung akut oleh dokter spesialis gastroenterologi.
Papa Haikal tidak dibenarkan untuk mengonsumsi kopi karena akan berakibat fatal bagi kesehatan beliau.Itu sebabnya mama Nadine melarang keras kepada para pembantunya untuk tidak menyeduhkan semua jenis kopi kepada sang suami tercinta.
"Bibi..,"sapanya lembut.
Ada rona bahagia di wajahnya melihat kedekatan ketiga pembatu mama Nadine yang sangat akur.
"Eh,ya nona,"jawab bi Mina.Pembantu yang paling agresif
"Apa bibi tahu di mana papa dan mama?"tanyanya ingin tahu.
Pandangannya mengitar ke sekeliling.
"Tuan dan nyonya baru saja keluar,"jawab bibi Ira.Pembantu senior.
"Sepertinya ada urusan penting,"timpal bi Irna pembantu termuda.
Karin meraih gelas kosong di atas meja makan,"Nanti mama dan papa pulang tolong disampaikan bi,"menuangkan air putih ke dalamnya,"katakan saja aku ke rumah opa,"sambil meneguk isi dari gelas yang telah dituangnya.
"Nona Karin,apa tidak sebaiknya bertahan di sini sampai sore?"pinta bibi Ira dengan suara memelas.
Karin tersenyum sambil merangkul bahu wanita yang sudah seperti orangtuanya itu,"Hari ini aku ada acara bersama Hany," sembari melirik arloji ditangannya.
"Sesekali temanilah tuan muda di sini nak,"Ira dengan nada sedikit berbisik sambil melirik sekeliling.
Karin mengernyitkan matanya,"Apa Diego yang bibi maksud?"tanyanya sembari menatap bingung ke arah bibi Ira.
Sudah bukan hal baru ketika nama tuan muda disebut.Pikiran gadis itu langsung tertuju kepada Diego karena belakangan ini memang Diegolah yang kerap mengunjungi rumah mereka.
Berhubung kakak Tama yang setelah menikah dengan kakak ipar Farah lebih memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri.Sedangkan Danang yang lokasi rumahnya lebih dekat dengan rumah opa Jery mana mungkin pagi-pagi buta sudah menyambangi rumah papa Haikal jika tidak ada urusan penting.Apalagi setiap hari seperti yang dijelaskan oleh bi Ira.
Bibi Ira mengangguk pasti," Ya nona,setiap waktu senggang dia akan kemari mencari sesuatu di sana,"sambil menunjukkan secangkir kopi yang baru terseduh oleh bi Mina diletakkan di atas meja mini bar.
"Bahkan tuan muda rela berlama-lama sendirian di sana kalau tuan dan nyonya belum juga pulang,"lanjutnya iba.
Perasaan ingin tahu yang besar tiba-tiba muncul menyelimuti hati gadis yang sedang menatap kosong ke arah yang ditunjukkan oleh bibi Ira.
'Mengapa Diego kerap kemari padahal denganku saja dia begitu acuh?' bisik hati kecilnya lirih.
"Terus apa yang dia lakukan selain minum kopi bi?"tanyanya pelan menatap lembut ke mata bi Ira mencari kepastian di sana.
"Kebanyakan tuan muda hanya berselancar di ponselnya,"jawab bi Ira serius.
"Sesekali pergi ke taman belakang memberi makan ikan di kolam,"lanjutnya lagi,"Terkadang juga ikut paman Usman merawat burung beo kesayangannya itu,"lanjutnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kasihan dia nona,"dengan ekspresi sedihnya membuat Karin rada terbawa perasaan.
"Ehm.. Biarkan saja bi,"jawabnya mengalihkan pandangan,"Dia bukan temanku."Ucapnya sembari menelan salivanya,berat.
Matanya tiba-tiba sendu,"Untuk apa aku menemaninya,"lanjutnya sembari beranjak meletakkan gelas bekasnya ke tempat cucian piring.
Bibi Ira terlihat menarik napas dalam sembari matanya bergerak mengikuti ke mana arah puteri majikannya melangkah.
"Sepertinya dia terlihat serius nak," ucapnya pelan sambil berlalu membawa potongan brokoli untuk dicuci.
Ucapan terakhir wanita paruh baya itu sukses meninggalkan tanya di kening gadis yang sedang berbalik menatapnya bingung.
Sementara bibi Ira segera mengalihkan pandangan ke lain arah sesaat setelah menyadari dirinya sedang disorot oleh netra gadis itu.
__ADS_1
••
Di perjalanan Karin masih teringat akan ucapan bibi Ira tentang Diego yang selalu datang ke rumahnya.Tidak peduli rumah itu berpenghuni ataupun tidak.
Diego tetap saja mendatanginya sambil melakukan aktivitas yang menurutnya tidak terlalu berlebihan.Hanya sekedar duduk minum kopi sambil berselancar di ponsel miliknya,memberi makan ikan di kolam belakang rumah,membantu paman Usman si penjaga taman merawat burung beo miliknya.
Padahal masih banyak aktivitas lain yang lebih seru dan kekinian di tempat umum selain di rumah apalagi rumah Karin yang terbilang sepi dari segala macam aktivitas kecuali aktivitas para pembantu yang merawat dan menjaga rumah serta fasilitas milik majikannya.
Dan satu lagi poin pentingnya adalah sebenarnya di rumah elit milik Diego itu sudah lengkap dengan segala fasilitas modern yang cocok digunakan untuk bersantai.Seperti contoh,di rumah itu ada ruang multimedia dan juga ada ruang multi fungsi.
Ada ruang gym,ada kolam renang,ada mini bar,ada perpustakaan dan macam-macam ruangan khusus lainnya.Sungguh Diego di sana tidak kekurangan satu apapun.Baik dari segi fasilitas, pelayanan,maupun perhatian atau bahkan kasih sayang sekalipun.
Jika ditilik dari sisi latar belakangnya Diego punya kedua orangtua yang sangat mencintainya.Dia punya Kakak David Hady,laki-laki tertua yang sudah memiliki dua anak laki-laki yang lucu.
Dia juga punya kakak Heny yang memiliki seorang puteri yang cantik,Dan dia juga punya kakak Hany yang sebentar lagi juga akan menikah.
Dia memiliki keluarga besar yang sangat mencintainya.Lalu apa sebenarnya yang dicari pemuda itu.Lalu mengapa rumah papa Haikal yang dijadikan tempat persinggahan sementaranya?
Benar apa yang diucapkan bibi Ira.Ketika Karin ingin beranjak keluar dari rumahnya menuju mobil yang ditumpanginya di mana paman Rul supir opa Jery sebagai pengemudi sudah menunggu di sana.Ia berpapasan dengan Diego yang baru saja masuk dari depan pintu ruang tamu.Hanya ada sapaan ringan yang keluar dari mulutnya.
"Pagi nona."
"Pagi,"balasnya singkat.
Selanjutnya tidak ada pembicaraan lanjutan yang membuat hatinya makin tertanya-tanya.
'Ada apa dengan dia?' batinnya.
Begitu banyak pertanyaan yang bergelayut di benaknya namun tak satupun yang berhasil ia jawab.
Dan di saat yang bersamaan, barulah ia tersadar kalau Hari ini Hany ingin berkunjung ke rumah Karin setelah pertemuan terakhir mereka di acara pernikahan kakak Adhytama bulan lalu. Itu sebabnya ia berbelanja ke pusat perbelanjaan dan membeli begitu banyak bahan baku untuk dimasak.
Saat dirinya baru pulang dari kediaman orangtua kakak iparnya Farah waktu itu, ia belum sempat bertemu langsung dengan Hany. Karin hanya bisa meminta tolong kepada bibi Ira untuk mengantarkan oleh-oleh paketan buah strawberry segar yang ia petik langsung dari kebun milik om Farhan.
Dan hari ini perasaan rindu dua sahabat itu sudah tidak bisa terbendung lagi.Mereka sepakat untuk berkumpul di rumah opa Jery karena mereka ingin belajar sesuatu dari oma Hasnah.
Drrrrrrtttttttt
Pesan wa masuk ~
Karin aku on the way.
Ok cepatlah! Aku Juga akan sampai sebentar lagi.
Baiklah.
~ Menutup ponsel
•••
Kediaman Opa Jerry
Karin dibantu oleh pembantu yang mengangkut barang bawaan yang ia beli pusat perbelanjaan tadi. Terlihat begitu banyak bahan baku makanan dan cemilan yang dibeli olehnya.
Selain itu terlihat juga beberapa bahan dasar kue chiffon cake, dan juga termasuk royal truffle dan bomboloni yang sudah jadi dengan aneka rasa selai yang sengaja ia beli di pusat kue mewah terbesar 'Lady bonbon cake' tadi.
"Bibi tolong bersihkan semuanya,"pintanya sambil tersenyum.
"Baik nona,apa perlu bibi bantu untuk memasaknya?"tanyanya sopan.
"Tidak perlu bi,cukup Hany yang membantuku nanti,"jawabnya menolak tawaran bibi Rani.
"Baik nona,"jawabnya sopan sambil berlalu kemudian kembali lagi seolah ada yang terlupakan,"Maaf nona,bibi cuma mau bilang kalau mas Danang ada di kamar tamu,"jelas bibi Rani dengan sopan.
"Oh ya,baiklah bi,aku ke kamar dulu,"ucap Karin sembari menyodorkan kantong bomboloni kepada bibi Rani,"jika Hany tiba di sini suruh saja dia menyusul ke atas,"lanjutnya dan siap beranjak.Diikuti anggukan dari bi Rani.
__ADS_1
Saat kakinya hendak mencapai anak tangga pertama tiba-tiba suara opa Jerry menggelegar dari arah ruang keluarga.
"Kamu sudah pulang,sayang?"serbu proa renta itu sembari menatap wajah cucu kesayangannya dari jauh.
"Ya opa,aku baru saja sampai,"melangkah mendekati pria lanjut usia itu.
Lalu menyambut uluran tangan beliau kemudian menciumnya sopan,"Apa oma sedang istirahat opa?"lanjutnya ingin tahu.
" Ya,nak.Oma sedang di kamar,"uapnya mengelus lembut kepala sang cucunya.
Setelah pamit kepada opa Jery,Karin melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua.Langkahnya berhenti pas di pintu ruang tamu.
Tok tok tok
Cukup lama menunggu namun tidak ada jawaban.Tangannya memutar gagang pintu.
Ceklek
Pintu terbuka.Sedikit melongok ke dalam kamar.Terlihat Danang tertidur di atas ranjang dengan posisi telungkup.
Tanpa pikir panjang ia menyerobot masuk ke dalamnya.Sudah menjadi hal lumrah.Baginya Danang adalah sepupu,sahabat,dan juga rekan yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Bangunlah!"ucapnya menepuk-nepuk punggung pemuda yang sedang tertidur pulas itu,"Kau pulas sekali,"celetuknya sembari menarik tubuh pemuda itu ke posisi telentang namun Danang terlalu berat untuk diubah posisinya,"Kau berat sekali! Apa kau begadang semalaman?"gerutunya sambil memijat punggung pemuda yang masih tertidur itu.
"Aku mengantuk!"suara Danang terdengar berat.
Kemudian menenggelamkan wajahnya ke bantal.
"Ayolah!Hany akan kemari."Menggoyang tubuh Danang membuat pemuda itu seketika menggeliat,"Lalu apa hubungannya dengan diriku?"tanyanya sembari menarik bantal dan kembali untuk memejamkan kelopak matanya.
Karin menarik napas dalam,"Ck!Aku akan membuatkan sesuatu untuk kita semua," ucapnya pelan lalu menjauhkan tangannya dari bahu Danang.
Gadis itu terlihat pasrah dengan usahanya yang sia-sia.
Hening...
"Ehm...Duluanlah!"Danang bangkit ke posisi duduk,"Aku akan menyusul sebentar lagi,"ucapnya seraya melangkah malas menuju ke kamar mandi.
Karin duduk bersila sambil menopang dagu di atas ranjang sembari menunggu Danang keluar dari kamar mandi.Wajah ovalnya terlihat begitu gembira karena Danang mau diajak berkumpul bersama Hany.Hari ini ia ingin sekali memberikan sesuatu yang sangat spesial kepada kedua sahabatnya itu.
Danang datang hari ini atas permintaan Karin setelah melewati beberapa trik bujukan.
Sebenarnya Danang ingin segera mengiakan permintaan gadis itu.Akan tetapi semenjak ia menyatakan perasaannya kepada gadis itu,kini ia memilih menjaga jarak lantaran khawatir Karin akan berpikiran macam-macam tentang dirinya.
"Keluarlah!Aku ingin ganti baju,"seru Danang yang sedari tadi mengamati dirinya tanpa kedip.
Lantaran bahagianya sampai ia tidak menyadari kalau Danang sudah keluar dari kamar mandi sejak lima menit yang lalu.
Karin masih tetap tersenyum dan diam di tempat tanpa menggubris seruan Danang.
"Kau yang menyuruhku cepatkan?Keluarlah!"Pintanya kesal,"Atau aku akan membuka bajuku sekarang juga,"serangnya mengancam sambil menarik ujung bajunya ke atas menampakkan sebagian otot perutnya yang kekar.
"No! Stop! Stop!"pekik Karin keras.
Karin melompat turun dari ranjang sembari menutup kedua kelopak mata dengan jemarinya,"Baiklah aku akan keluar," ucapnya sembari berdecak kesal sambil berlalu dengan wajah yang memerah.
Danang tersenyum kecil mendapati rona merah di wajah gadis itu. Menggeleng-gelengkan kepalanya yang tidak bingung.Ada ketenangan tersendiri manakala ia berhasil menggoda gadis yang begitu ia kagumi.
•••
Bersambung.......
...**...
Terima Kasih atas jejak dan komennya. 🤩🤩🤩😍😍😍
__ADS_1