
Violet berjalan menuju ruang kerja Dave ini sudah malam dan ia belum juga selesai dengan pekerjaannya untung saja Rykel sudah tidur
Ceklek
Violet membuka pintu tanpa mengetuk ia melihat Dave yang tengah memunggunginya menatap botol kecil berisikan mata?!
"Dave?..."
Dave kaget ia langsung berdiri menyembunyikan botolnya
"Sayang?... Kau sedang apa disini?..."
"Apa yang ada di belakangmu?... Kamu menyembunyikannya sesuatu?..."
Violet mendekat mengambil kasar botol ditangan Dave
"Astaga!... Mata? Ini mata siapa?!..." Violet membuang botol tersebut baunya sangat busuk
"Apakah kamu tidak mau mendengar penjelasan ku dulu?..." Tanya Dave menangkup kedua pipi Violet
Violet menggeleng ia tahu jika organ tersebut seharusnya ia dapatkan setelah membunuh korbannya di ruang bawah tanah
Violet berbalik berjalan menuju ruang bawah tanah tapi tidak ada apapun disana bahkan koleksi organ tubuh pun tidak ada
Bau hanyir saja Violet tidak menciumnya apakah ia telah salah sangka pada Dave
"Sayang?..." Dave memeluk Violet dari belakang
"Mau mendengar penjelasan ku?..." Violet berbalik ia menatap Dave dengan wajah cemas
"Itu botol lama... Aku memandanginya karena aku teringat masa lalu..." Dave mengelus kepala Violet
"Kamu ingin kembali seperti dulu?..." Tanya Violet tergesa-gesa takut hal tersebut benar-benar terjadi
"Tidak. Aku hanya berfikir mengapa aku seperti itu... Bodoh bukan?... Aku mencintaimu sayang..." Kenapa terasa ganjil di telinga Violet apakah karena takut Violet merasa bahwa perkataan Dave sedikit berbeda
"Sudah makan?" Tanya Dave dibalas gelengan oleh Violet
"Sebaiknya sekarang kita makan karena nanti malam kamu harus mengeluarkan banyak tenaga..."
Violet menaikan satu halisnya memangnya nanti malam ada apa
Shit. Violet mengerti dan memang sudah lama mereka tidak melakukannya tentu saja Dave membutuhkannya itu memang kebutuhan suami dan istri
*
Violet lelah Dave terus menghantamnya ucapan Violet seolah Dave tak mendengarnya
Dave semakin bruntal ini seperti bukan Dave
Bercinta malam ini tidak memuaskan bagi Violet karena Dave seolah sedang melampiaskan amarahnya
Hentakan terakhir membuat geraman rendah Dave terdengar ditelinga Violet
"Tidurlah kamu pasti lelah..." Dave mencium kening Violet dan rasanya asin
__ADS_1
"Dave?..." Violet heran mengapa Dave tak membawanya ke dalam dekapannya
"Hm?" Violet mendekat ia memeluk Dave menjadikan dada Dave sebagai bantalan tentu Dave terkejut
"Kamu marah?... Maaf karena telah menuduhmu yang tidak-tidak..."
Dave mengeratkan pelukannya dan Violet suka. Itu
"Siapa yang marah?... Aku tidak marah padamu sayang..." Violet sedikit mendongak
"Tapi kamu barusan sangat kasar... Bahkan setelahnya kamu gak peluk aku... Kamu pasti marah kan?..."
Betapa menggemaskannya Violet membuat Dave semakin mencintainya
Cup
"Maaf aku yang bodoh telah membuatmu tidak nyaman..."
"Kalo Dave marah Dave bilang aja... Biar aku tidak mengulangi kesalahanku lagi...."
Begitu menggemaskannya Violet membuat Dave sangat ingin menerkam Violet lagi
"Aku ingin memberimu pilihan tapi aku yakin kamu tidak akan bisa memberikan jawabannya..."
Violet mengerutkan keningnya sesulit apa pertanyaannya hingga Violet tidak bisa menjawabnya apakah memilih antara ayah atau anak?
"Diantara mata dan juga organ dalam kamu akan memilih yang mana?..."
Pertanyaan apa itu apakah ini semacam ujian menjadi istri mantan psikopat
"Mata" Dave tersenyum ternyata pilihannya tidak salah dan ia bingung kapan ia akan memberikan hadiah tersebut pada Violet padahal hadiahnya sudah ada di ruang kerja dengan botol kecil sebagai wadahnya
*
Anon pulang ini tengah malam pasti istri dan anaknya tengah tertidur
Anon membuka pintu ia kaget saat si kembar tengah berdiri di depan pintu
"Pa--" saat Arnold hendak menghampiri anon tiba-tiba arnon menarik tangan Arnold
"Noel kamu tidak lupa kan?..." Tanya arnon dengan wajah sedikit marah
"Tapi aku kangen papi..." Lirih Arnold dengan wajah sedihnya
"Kamu ingin aku pukul?" Arnold menggeleng cepat
"Anak-anak kalian sedang apa?..." Anon mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya
Arnon melipat kedua tangannya wajahnya angkuh dan Arnold hanya menunduk takut
"Siapa kamu?..." Anon mengerutkan keningnya sepertinya anaknya sedikit aneh tidak lebih tepatnya sepertinya arnon sedikit aneh
"Kita tidak mengenal kamu benarkan Noel?..." Arnold mengangguk mengiyakan padahal tadi ia akan memanggil dan memeluk anon
"Apakah kamu tidak tahu jika anak kecil akan lupa pada papinya jika ditinggalkan begitu lama?..." Arnon menatap tajam anon yang tak kuat menahan tawanya
__ADS_1
"Noel usir dia dari rumah..." Perintah arnon yang langsung Arnold turuti
"Papi pergilah... Noel dan Noe sedang hilang ingatan jadi kami tidak tahu papi siapa..."
Arnon mengangguk lucu mengiyakan lalu detik berikutnya ia berjalan mendekati Arnold dan menyentil kepala Arnold
"Noel bodoh! Jangan sebut papi! Nanti dia tahu kalau kita lagi akting..."
Arnold sudah berlinang air mata ia memegangi jidatnya yang disentil oleh arnon
"Sebenarnya untuk apa kalian berakting seperti ini?..." Tanya anon penasaran
"Karena papi sudah tidak mencintai mami buktinya papi selalu meninggalkan mami!" Itu yang arnon katakan
"Noe jangan berbicara kasar pada papi nanti kamu bisa berdosa.."
Arnon mengerutkan keningnya kembarannya memang sangat bodoh
"Aku tidak akan berdosa karena aku adalah jagoan kamu yang berdosa karena selalu menangis terus dan nanti kamu akan diculik oleh paman tua dan dijual untuk dijadikan tumbal nanti kamu akan ma--"
"Noe..." Panggil Anon dan arnon menoleh
"Ya papi?" Anon menghela nafasnya
"Dari mana kamu tau hal seperti itu?..." Arnon seperti tengah berfikir lalu ia mengangguk
"Film kemarin malam... Karena aku terbangun saat tidur jadi aku menonton film..." Kemana elija mengapa ia membiarkan anak-anak menonton film dewasa seperti itu
"Dimana mami?" Arnon menggeleng
"Kamu orang asing untuk apa bertanya dimana mami?" Jika bukan anaknya mungkin anon akan menyentil kepalanya
Anon melirik Arnold yang tengah menahan tangisannya ia tidak boleh menangis nanti ia bisa-bisa diculik om tua lalu dijual dan dijadikan tumbal
"Noel?... Dimana mami?..."
"Di kamar... Mami sedang tidak enak badan..." Anon langsung berdiri dan berjalan mencari elija
"Kenapa kamu beritahu papi?" Arnold takut pada arnon ia juga lupa telah memberi tahu keberadaan elija pada anon
"Kekuatan papi sangat besar aku tidak bisa melawannya mungkin papi jelmaan manusia laba-laba..." Arnold mengatakan film yang ia tonton tadi pagi
"Mungkin benar... Kita harus selamatkan mami..." Mereka berdua menyusul anon
Dan yang paling menyebalkan adalah tangga karena tubuh mereka yang mungil membuat mereka harus saling bantu untuk bisa naik ke lantai dua
"Noe apakah kamu bisa minta papi membuat kalkulator agar kita bisa ke atas dengan cepat..." Arnon sibuk mengangkat Arnold
"A-aku akan mencobanya.." Arnold sangat berat membuat arnon harus sekuat tenaga membantu Arnold yang ingin langsung menaiki dua anak tangga ingin cepat sampai katanya
"Tapi apakah ada kalkulator bergerak?... Aku tidak pernah melihatnya..." Arnold mengangguk dengan percaya diri
"Jika kalkulator untuk naik ke atas lalu apa itu eskalator?..." Tanya arnon karena ia lupa fungsi kedua nama tersebut
"Noe bodoh eskalator untung menghitung..." Arnon mengangguk paham dan membantu Arnold menaiki dua tangga lagi
__ADS_1
Sepertinya pengetahuan Arnold jauh lebih tinggi daripada arnon