Crazy Daddy

Crazy Daddy
kenakalan arnon


__ADS_3

"Noe!.. tunggu jangan tinggalkan aku..."


Arnold berlari menyusul Arnon yang terus berlari mengelilingi taman


Mereka sekarang tengah lari pagi dimana elija dan juga Anon ikut hanya saja mereka sedang duduk sembari memperhatikan si kembar


"Hah.. hah... Hah..." Arnold menyeka keringat di keningnya ia berhenti dan memperhatikan arnon yang masih berlari


Arnon berhenti saat ia tidak mendengar suara teriakan kembarannya


"Kenapa berhenti?..." Nafas Arnon memburu ia juga cape sama seperti Arnold


"Capek..." Arnon mendekat pada Arnold ia melipat kedua tangan di depan dadanya


"Kau tidak ingin punya tubuh kekar?..." Arnon bertanya lalu Arnold menggeleng ia ingin punya tubuh kekar


"Aku ingin perutku berbentuk..." Ujar Arnold memegang perut buncitnya


Arnon tertawa ia tau pikiran Arnold


Setelah Arnold bodohi Arnon tentang eskalator yang menjadi kalkulator maka hari ini Arnon akan membohongi Arnold


"Kau ingin bentuk apa?..." Tanya Arnon menuntun Arnold duduk di tepi jalan


Arnold sedikit berfikir tidak ia tidak berfikir karena nyatanya ia suka bentuk hati


"Tapi aku hanya pernah lihat bentuk kotak saja... Dan itu pun milik papi..."


Arnon menyunggingkan senyumannya ia semakin semangat untuk membodohi orang bodoh di hadapannya


"Kau suka bentuk love bukan?... Aku bisa membantumu mendapatkan bentuk itu..." Arnold mengerjapkan matanya lucu dan pada dasarnya ia memang percaya Arnon


"Kemarin aku lihat film... Dan perut kekarnya berbentuk love..."


Arnold menjatuhkan rahangnya ia kaget sekaligus kagum itu bentuk yang ia sukai


"Benarkah?..." Arnon mengangguk ternyata kembarannya memang bodoh


"Iya dan caranya sangat mudah..."


"Bagaimana?..." Arnon berdiri ia melirik sekitar dan mendekat pada tong sampah mengambil bekas air mineral


"Memintalah pada orang-orang disini maka kamu akan mendapatkan love..." Arnold mengambil botol tersebut


"Tapi kita tidak boleh menjadi pengemis..." Arnon menghela nafasnya


"Tapi niatmu berbeda..." Arnold mengangguk paham ia melirik orang tuanya yang duduk membelakangi nya


"Jangan minta pada mami dan papi..." Ujar Arnon takut rencananya hancur


"Baiklah..." Arnold berjalan ke tengah jalan mulai meminta minta sepeti yang Arnon perintahkan


Arnon yang melihatnya hanya tertawa terbahak-bahak membuat anon menoleh


Arnon mengentikan tawanya ini sudah cukup ia mulai kasihan pada Arnold


Saat Arnon hendak melangkah untuk menghampiri Arnold suara anon membuatnya panas dingin


"Kenapa dengan Noel?..."


Arnon menoleh ia cengengesan "entah sepertinya Noel kekurangan uang..." Terbanting sudah harga diri anon oleh perkataan Arnon bagaimana bisa anaknya kekurangan uang

__ADS_1


"Noel!..." Panggil anon "kemari..." Arnold menurut ia menghampiri anon da juga Arnon


"Ya papi?..." Anon mengusap kasar wajahnya


"Apa yang kamu lakukan?!..." Arnold kaget dengan bentakan anon ia takut dan mulai menangis


"Tapi Noe yang suruh..." Arnon kaget ia memberi tatapan tajam pada Arnold


"Tidak! Aku tidak suruh apapun!"


Arnold memegang tangan Arnon dan menggoyangkan-goyangkannya


"Noe cepat jujur pada papi... Aku takut..." Arnon melepas pegangan tangan Arnold


"Haah... Maaf papi... Ini hanya prank..." Ujar Arnon dengan wajah tanpa dosanya


"Kenapa kamu menyuruh Noel mengemis?..."


Arnon menatap Arnold lalu menatap anon dengan wajah malasnya


"Apa papi tuli?... Aku bilang itu hanya bercanda..."


Jika itu bukan anaknya mungkin tangan anon sudah mendarat mulus di telingan Arnon


"Lain kali jangan seperti ini la--"


HACIMM!


Arnon dan Arnold melirik elija yang bersin dengan kerasnya


"Mami!..." Arnon langsung lari diikuti Arnold


"Mami tida apa-apa?..." Tanya Arnold yang baru sampai dengan ngos-ngosan


"Tidak mami hanya bersin saja..." Arnon mengangguk paham begitu pula Arnold yang langsung memeluk kaki elija


"Apakah kalian buat masalah?..." Si kembar menggeleng ribut mereka tidak merasa membuat masalah


"Tapi papi memarahi Noel..." Ujar Arnon dengan wajah kesalnya


"Papi tidak akan marah tanpa sebab... Jadi kalian buat masalah apa?..."


Anon yang baru tiba langsung duduk di samping elija merangkul sang istri dengan penuh cinta


"Tidak ada apa-apa... Anak-anak memang suka nakal... Sebaiknya kita pulang gak baik terlalu lama di luar nanti kamu sakit..." Elija mengangguk ia memang sedang ingin rebahan di rumah


Saat di mobil hanya elija dan anon yang mengobrol sedangkan si kembar hanya diam


"Noe... Kenapa perutku masih besar?..." Arnon melirik perut kembarannya ternyata memang besar Sama seperti punyanya


"Usahamu kurang... Dan salahkan papi yang datang merusak usahamu..."


"Noe kenapa kau sangat benci pada papi?..?"


"Karena dia bisa tahu apa yang aku pikirkan dan itulah mengapa rencana ku selalu gagal..."


*


Rykel menatap surat di atas mejanya warnanya pink dan ada tulisan "Ariestya" sepertinya itu nama perempuan


"Bukalah... Aku menunggumu untuk membuka itu..." Ujar Bryn memandang surat yang Rykel pegang

__ADS_1


"Siapa Ariestya?..." Tanya Rykel sembari mengangkat surat tersebut


"Dia anak biasa hanya saja punya wajah cantik dan imut..." Rykel mengangguk paham


Aku suka kamu mau gak jadi pendamping hidup aku?


Dari Ariestya si cantik dan imut uang di sukai banyak lelaki di sekolah ini


'Apa-apaan ini?!! Terima saja kalian sama-sama aneh!!'


Rykel dengar tawa menyebalkan Baran itu sangat menjengkelkan Rykel sangat ingin menjambak Baran jika bisa :v


"Woah.. tulisannya sangat jelek..." Ujar Bryn melihat surat itu dengan wajah jijik


"Bukannya kau suka padanya?... Bahkan kau bilang ia cantik dan imut..." Ujar Rykel menatap Bryn


"Tidak aku tidak suka padanya ia cengeng..."


'lihatlah kau dan wanita itu punya kesamaan!! Cengeng!!'


Rykel ingin berteriak agar Baran diam dan tidak berteriak tapi apa daya ia hanya bisa diam sembari mendengarkan tawa itu


"Rykel bagaimana kau akan membalas surat itu?..." Tanya Bryn sembari menyodorkan suratnya


'ya aku menerimamu marilah kita menikah!! Ffttt..'


"Argh!... Baran..."


"Baran?.." Rykel menghela nafasnya Baran sangat menyebalkan ia menoleh pada Bryn yang bertanya


"Bukan apa-apa ia hanya teman yang menyebalkan..." Bryn mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak mengerti


"Buang saja aku tidak akan membalasnya..." Bryn kaget ia yang tidak pernah di tembak wanita tentu kaget dengan penolakan Rykel


"Kenapa?..."


Rykel jengkel dengan Baran yang terus mengoloknya kenapa sangat berisik tidak seperti Bean biasanya


"Aku tidak suka padanya..."


"Apa?! Tapi dia suka padamu..."


Rykel ingin menangis ia tidak mau menjawabnya kenapa pemikiran anak di hadapannya ini sangat dangkal


Baran keluarlah tolong aku


"Kenapa kau memaksa?!! Aku tidak suka padanya!! Siapa kau sehingga harus memerintahku?!! Ingin ku lenyapkan?!!"


"Ti-tidak... Rykel maaf aku tidak bermaksud..."


Baran menahan tawanya ternyata menakuti memang mengasikan apalagi mengolok Rykel


Rykel mengerjapkan matanya ia kesal bagaimana bisa Baran keluar dengan tampang dingin seperti itu


Itu hanya akan membuat Bryn ketakutan tadinya ia tidak bermaksud memanggil Baran tapi siapa sangka Baran keluar


"Rykel... Maaf..."


Rykel melirik Bryn "tida apa... Maaf karena menakutimu..." Rykel mengambil surat tersebut meremasnya menjadi bola dan melempar ke tong sampah kecil di depan kelas


"Sudah... Mari kita kerjakan soalnya..." Bryn mengangguk dan mulai mengerjakan soal yang guru berikan

__ADS_1


__ADS_2