Crazy Daddy

Crazy Daddy
akhir dari semuanya


__ADS_3

"Dengar!.. aku lebih tua satu menit darimu makanya jangan membantah dan cepat ke depan!..."


Arnold mendengus mereka mememg kembar bahkan wajah mereka sangat mirip tapi Arnon tidak seharusnya memerintah seenaknya


Mereka kini sudah menduduki bangku sekolah dasar dimana mereka sudah naik kelas enam


"Cepatlah..." Ujar Arnon dengan geram karena Arnold tidak juga bergerak dari kursinya


Pasalnya mereka tengah di absen dan di suruh mengisi soal matematika di depan kelas


Tentu Arnon tidak suka pelajaran ini berbeda dengan Arnold yang sepertinya suka akan pelajaran satu ini


Seharusnya Arnon yang kedepan dan mengisi soal di papan tulis tapi karena kebodoahn Arnon sudah mencapai titik dasar


Makanya ia menyuruh Arnold untuk menggantikannya toh guru tidak akan bisa membedakan wajah mereka


Arnold dengan wajah sedihnya maju ke depan dan mengisi semua soal di papan tulis jujur ini sangat mudah baginya dan soal tersebut semua sangat mudah


Sang guru memincingkan matanya "Tumben sekali kamu pintar Arnon..." Ujar sang guru mulai curiga


Karena Arnold murid teladan ia pasti bisa mengerjakan semuanya


Sang guru memperhatikan nametag di dada kiri Arnold


"Sejak kapan kamu berganti nama menjadi nama kembaranmu?..."


Arnold menelan ludahnya ia lupa melepas nametag nya sekarang ia harus bagaimana apalagi Arnon malah hanya diam saja di tempat


Arnold semakin gelisah saat guru tersebut semakin mendekat


"UFO lewat!!" Teriak Arnon sembari menunjuk ke luar kelas


Disana dengan kecepatan kilat Arnon bertukar posisi dengan Arnold


"Kamu jangan bohongi saya!!" Teriak guru tersebut pada Arnold yang bahkan bukan ia yang menipu guru tersebut melainkan kembarannya di depan


"Pak... Saya mau duduk boleh?..."


"Tunggu... Saya mau tanya sejak kapan kamu ganti nama menjadi... eh Arnon?..."


Sang guru terlihat bingung ia melirik Arnold lalu melirik Arnon silih berganti bingung dengan apa yang terjadi


Atau jangan-jangan ia sudah mulai rabun makanya salah membaca nametag


"Saya Arnon pak... Tidak pernah ganti nama..."


Seluruh murid seberusaha mungkin menahan tawa mereka apalagi dengan watadosnya Arnon kembali duduk di kursinya


"Baiklah pelajaran cukup sampai disini..." Sebelum pergi guru tersebut menoleh pada Arnon dan juga Arnold


Dengan lambaian tangan Arnon tersenyum senang melihat kepergian guru menyebalkan tersebut


"Aku tidak akan mau menggantikanmu lagi..." Ujar Arnold dengan nada kesal


"Baiklah jika ada seseorang yang mengganggumu... Jangan pernah meminta bantuan padaku..."


Arnold berdecak kesal ia terlalu lentur untuk sebagaian lelaki bahkan ia tidak pernah berkelahi


Ia takut sakit ia selalu menjaga kulitnya agar tetap lembut dan juga halus


Berbeda dengan Arnon yang kasar bahkan kulitnya pun sangat kasar tidak ada halus-halusnya


*

__ADS_1


"Eve hati-hati dijalan besok kita main di rumahmu dadah..." Evelyn melambaikan tangannya sungguh bersekolah membuatnya memiliki banyak teman


Evelyn menunggu di depan gerbang jemputannya belum juga datang itu membuatnya sedikit mendengus


"Eve?..." Evelyn menoleh itu adalah arnon


"Papi!" Teriak Evelyn lalu berlari memeluk Arnon


*


"Mana uangmu?... Cepatlah bayar aku ingin segera mengambil tugas.." bendahara di kelas tersebut semakin meninggikan suaranya disaat teman di hadapannya tidak mau membayar uang kas


"Ini juga demi masa depan kelas..." Lanjutnya dengan wajah kesal


"Grizelle... Besok saja... Aku tidak bawa uang lebih..."


Menghela nafas lalu memutar bola matanya malas berbalik dan duduk di kursinya


"Kerjakan essai satu sampai lima satu jam lagi kumpulkan bukunya..." Ujar ketua kelas dengan lantang dan disinilah kericuhan mulai terjadi


"Ayolah kawan apa kau tidak lihat essai tersebut beranak?... Ada a sampai f..."


"Inilah mengapa aku benci sekolah..."


"Jangan mengeluh saja cepat kerjakan... Nanti tidak dapat nilai..."


"Kau kerjakan ya? Nanti aku lihat... Bukan mencontek kok... Cuman lihat sedikit saja..."


"Hei hei! Kau makan permen?! Kenapa tidak membaginya? Cepat belah bagi dua!!.."


"Kenapa kalian sangat berisik? Aku ngantuk!! Berhentilah berteriak aku ingin tidur!"


"Bolpoin ku mana?!.. kau pasti curi kan?!.. hah? Apa?!... OH. Sejak kapan aku menyimpannya di telinga?..."


"gas keun att dude... Aya seblak batu teu?.."


Grizelle tersenyum ia suka keadaan kelas yang ricuh dan ia lebih suka kericuhan daripada keheningan di dalam kelas


Membuka bukunya lalu mulai menulis tugas yang guru berikan padanya


Tiba-tiba seseorang duduk di samping grizelle ya itu adalah teman kelas grizelle ah tidak lebih tepatnya seseorang yang tengah ingin dekat dengan grizelle


"Lapar gak? Mau aku beliin sesuatu?..."


Grizelle menggeleng dengan cepat wajahnya seketika menjadi jutek


"Pergi! Aku mau nulis!" Begitu jutek ucapan grizelle pada seseorang yang menyukainya


"Tapi aku mau terus sa--"


"Tuli?! Aku bilang pergi!"


Sang lelaki tersebut menganga tak percaya padahal ia sudah berusaha lembut


"Oke" ujarnya lalu meninggalkan grizelle


Padahal grizelle sangat ingin dekat dengan seseorang tapi apa daya ia selalu jual mahal seolah tak tersentuh dan tak layak berteman dengan orang bawah seperti mereka


Dan ada satu kejutan lagi bagi keluarga Regan yaitu Alena sekarang tengah mengandung anak keduanya


Tadinya Alena menolak untuk mempunyai anak lagi tapi karena Regan yang berusah sedikit cuek dan membiarkan alena akhirnya Alena mau untuk mempunyai anak lagi


*

__ADS_1


"Vey!..." Rykel mengetuk pintu kamar vykel yang terkunci dan vykel adalah orang yang tidak akan pernah mengunci pintu kamarnya terkecuali jika ada sesuatu di dalam sana


Ceklek


"Kau sedang apa?..." Tanya Rykel sembari melihat kamar vykel


"Tidak ada..." Rykel berdecih lalu masuk ke dalam kamar ia melihat kentang dan juga kabel data yang dimana kabel data tersebut menancap di ke dalam kentang


"Hehe. Aku sedang bereksperimen..." Rykel berbalik menoleh pada vykel yang tengah tersenyum padanya


Rykel duduk di atas ranjang vykel ia tidak sebodoh itu percaya dengan omongan adiknya ini


"Kau mencoba membodohi ku?... Kakak tau kau tidak se bodoh itu berbuat hal bodoh ini... Apa yang kau sembunyikan?..."


Vykel menundukkan kepalanya ia tau seberusaha apapun ia menyembunyikan sesuatu maka Rykel pasti akan mengetahuinya


"Vey?... Bicaralah..." Vykel menghela nafasnya ia memperlihatkan vas kecil dan bunga kecil yang sudah pecah tak terbentuk


"Aku tak sengaja memecahkannya... Aku takut mommy marah..."


Rykel tersenyum ia mendekat dan mengelus kepala vykel


"Itu pemikiran konyol... Mommy tidak akan marah--"


"Ya aku tahu mommy tidak akan marah... Tapi Daddy yang akan marah karena ini bunga kesukaan mommy..."


"Daddy tidak akan marah..." Bukan Rykel yang berucap itu adalah violet dimana ia sekarang tengah berjalan masuk dengan senyumannya


"Mommy?" Vykel menyembunyikan pecahan vas tersebut ke belakang tubuhnya


"Mommy tidak akan marah... Dan Daddy juga tidak akan marah... Tidak ada akan ada yang berani memarahi kamu mommy tidak akan beri izin..."


Violet meraih tangan mungil vykel mengambil serpihan tersebut lalu menyimpannya di atas laci


"Biarkan pelayan yang membersihkan nya..." Ujar violet sembari mengelus kepala vykel


Vykel memeluk violet ia merasa sangat bersalah karena telah memecahkan vas tersebut dan itu semakin membuatnya merasa bersalah disaat violet malah bersikap lebih lembut padanya


"Bersiaplah kita akan makan malam di luar... Rykel kamu juga bersiap sayang..." Rykel mengangguk lalu mengecup pipi violet dan kembali ke kamarnya


Violet melihat kenang di atas ranjang milik vykel


"Apa ini?... Logika dari mana ini?..." Vykel gelagapan tadinya ia hanya inginembodohi Rykel tapi gagal dan kini ia malu pada violet


"Mommy... Di sekolah ada lomba kebodohan... Dan aku tidak daftar hanya saja banyak yang mendaftar kan... Ahhh bukan maksudku di sekolah ada lomba memahat kentang... Maksudku lomba kentang... Ya itu kentang hahahaha mommy tau kentang? Ya itu lomba kentang hahah..."


Violet tersenyum ucapan vykel tidak masuk akal tapi itu cukup membuat senyumnnya mengembang


Dan inilah kehidupan manis yang violet alami bersama keluarga kecilnya akhirnya ia mendapatkan apa itu keharmonisan


Tidak sia-sia pengorbanan dan juga kesabaran violet untuk memiliki hidup yang menyenangkan bersama keluarganya


Walaupun masa lalunya begitu pahit begitu kejam tapi sekarang tidak baik menoleh ke belakang ia harus tetap pada pendiriannya untuk hidup bahagia


Tidak peduli sekejam apa Dave di masa lalu karena violet tahu apa yang terjadi di masa lalu adalah takdir yang Tuhan atur untuk membuahkan kebahagiaan bagi violet


Terima kasih buat para reader yang udah baca novel crazy Daddy sampai habis author berterima kasih banget dan disini author nyatakan bahwa novel crazy Daddy TAMAT YEEEE dan bagi kalian yang belum baca novel pertama dari novel ini jangan lupa mampir di novel POSESIF DADDY


Sekali lagi terima kasih yaaa maaf kalo endingnya tidak sesuai ekspektasi kalian


Di semua tokoh di dalam novel ini siapa yang mau author ceritakan sedikit kisahnya di extra chapter nanti?


SEE U ALL

__ADS_1


__ADS_2