
'Cukup lama aku mendiamkan dan menjauhinya... Hingga tiba akhirnya saat pengumuman kelulusan...
Aku tak menyangka jika saat itu juga dia telah menyiapkan kejutan untuk ku... Saat sebelum pengumuman di umumkan... Dia menyatakan perasaan dan keseriusannya padaku...
Dia melamar ku... Ya... Melamar seorang gadis yang bahkan belum mengetahui hasil ujiannya...
Aku terpaku... Aku merasa sangat terkejut... Bahagia.? Jelas... Sangat bahagia...
Perempuan mana yang tak bahagia saat di lamar oleh kekasihnya... Karena hal itu membuat semua kemarahan dan kekecewaan ku sirna begitu saja...
Aku percaya pada kata-kata manisnya... Dia bilang jika tak menyukai teman perempuannya itu... Baginya dia hanyalah seorang adik tak lebih... Abi bahkan meyakinkan ku jika dia akan segera memberitahukan hubungan kami pada orang tuanya...
Hasil ujian pun di umumkan... Tentu saja aku berada di peringkat pertama di antara seluruh murid...
Aku bahkan mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ku ke kampus ternama di negeri ini...
Aku bangga pada diriku... Aku yakin jika kelak aku akan menjadi seseorang yang membanggakan juga bagi kedua orang tuaku...
Hari itu kami menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman kami... Kami makan bersama dan menghabiskan masa kebersamaan kami untuk terakhir kalinya...
Tanpa terasa malam menjelang... Saat itu kami semua di undang ke rumah Abi... Orang tuanya sedang dinas keluar negeri... Hingga dia pun mengadakan pesta khusus untuk merayakan kelulusan kami semua...
Malam itu aku ijin pada orang tua ku jika akan mengikuti pesta kelulusan... Tentu saja orang tuaku mengijinkan ku...
Terlebih karena mereka tau jika aku sudah membuat mereka bangga dengan mendapatkan beasiswa di Universitas ternama...
Aku datang dengan gaun yang di berikan Abi untukku... Gaun dengan warna merah muda...
Cantik... Itulah kata yang mungkin kini dapat menggambarkan diriku... Semua mata memandang kearah kami...
Meskipun terkesan seperti pesta resmi namun sebenarnya tidak... Abi hanya ingin menjadikan ku Putri seperti dalam kisah dongeng malam itu...
Namun tanpa sengaja salah seorang teman menumpahkan minumannya di bagian punggung gaun yang ku kenakan...
Akhirnya Abi menyuruh ku untuk membersihkannya di dalam kamarnya... Dan dia menyiapkan gaun baru untuk ku...
Aku terima itu dengan senang hati... Namun saat akan melepaskan resleting pada bagian punggung aku merasa sangat kesusahan...
Hingga sebuah tangan membantuku... Aku terkejut... Abi.. dialah yang membantu ku membuka resleting pada gaun yang masih ku kenakan kini...
Kami terdiam beberapa saat... Sempat terjadi kecanggungan diantara kami... Namun dengan cepat Abi meminta maaf dan berkata hanya ingin membantu ku...
Aku mengangguk mengerti... Detik berikutnya dia menunjukkan sebuah kalung dengan liontin huruf A... Tentu saja itu inisial nama Abi...
Aku tersenyum... Aku sangat bahagia terlebih saat dia mengalungkannya ke leher ku...
"Ini bukti keseriusan ku.. Kini aku telah mengikat mu dengan inisial nama ku.." kata Abi dan tersenyum kearah ku...
Aku tersipu... Pipi ku merona menunjukkan rasa bahagia yang tak terhingga mendengar kata-katanya...
Dia mengangkat dagu ku... Membuat mata kami saling bertatapan... Degupan jantung ku tak menentu...
Terlebih saat Abi mulai mendekatkan wajahnya padaku... Aku dapat merasakan deru nafasnya yang hangat... Bahkan aku kini dapat mendengarkan degupan jantungnya yang tak kalah hebat dari degupan jantung ku...
"Aku mencintaimu Sasa.." lirihnya...
"A--aku juga mencintai mu.." kataku..
__ADS_1
Detik berikutnya bibir kami sudah saling bertaut satu sama lain... Dapat ku rasakan sesuatu yang selama ini belum pernah aku rasakan sebelumnya...
Ya ini adalah ciuman pertama ku... Dan kulakukan juga dengan cinta pertama ku...
Tapi entah iblis apa yang merasuki kami berdua saat itu... Ciuman itu justru kian memanas... Aku yang bahkan lupa jika saat itu resleting gaun ku tengah terbuka membuat gaun yang ku kenakan melonggar..
Hal itu tentu saja membuat dada ku sedikit terekspos... Aku hanya mampu memejamkan mataku karena merasa begitu gugup untuk ciuman yang tengah ku rasakan kini...
Namun aku dapat merasakan jika perlahan Abi memutar tubuhku dan mendorong ku hingga tertidur diatas ranjangnya...
Saat itu tubuhku rasanya hanya mampu menerima setiap perlakuan manis darinya...
Aku ingin membuka mataku namun rasanya aku tak sanggup... Tubuhku tak dapat menolak atas apa yang Abi lakukan padaku...
Perlahan dia menurunkan gaun yang kupakai... Aku dapat merasakannya.. Tanpa melepaskan ciumannya dariku....
Perlahan ciumannya berpindah dari bibirku hinggap ke leher ku....
Kenapa rasanya... Tak dapat ku gambarkan lagi... Aku merasa geli namun ada rasa nikmat juga...
Meskipun tak melihat dengan jelas namun aku dapat merasakan kulit kami yang kini saling bersentuhan...
Perlahan dia mendekatkan bibirnya pada ku... Dia kembali mencium ku sekilas dan berbisik padaku...
"Sasa, aku sangat mencintaimu.."
Pada akhirnya aku jatuh ke dalam genggamannya... Kami tak dapat menolak rayuan setan itu...
Tanpa terasa air mataku mengalir... Mataku terbuka karena tak dapat menahan rasa sakit itu...
"Sakit.." lirihku sambil menatapnya sendu... Aku dapat melihat raut wajahnya yang bersalah... Dia diam beberapa saat sambil mengecup bibirku...
Setelah itu dapat ku rasakan dia mulai melakukannya lagi...
Rasa lelah kini menghinggapi kami berdua...
Hingga sebuah dering telepon menyadarkan kami berdua... Aku tersadar saat melihat ponsel ku yang berdering menunjukkan panggilan dari ibuku...
Aku bangun dan mendorong tubuh Abi... Dimana aku dapat melihat sprei ranjang itu yang kini di penuhi dengan cairan berwarna merah muda...
Aku tersadar saat itu juga jika aku telah melakukan sebuah kesalahan besar... Aku menarik selimut disana dan menangis tersedu...
Abi yang kini juga menyadarinya pun meminta maaf padaku... Dia terlihat sangat takut saat aku menangis tak henti-hentinya...
"Maafkan aku Sa.. aku.. aku benar-benar khilaf.." kata Abi berusaha memohon maaf padaku...
"Hiks...hiks... kenapa Bi.. aku takut Bi.." kataku dengan sesenggukan... Aku merasa benar-benar takut saat itu... Aku takut jika sampai hal terburuk itu terjadi padaku...
Abi memelukku... Dia berusaha menenangkan ku...
"Aku berjanji akan bertanggung jawab Sa... Bukankah aku juga sudah melamar mu.. aku janji kita akan segera bersama Sa.." kata Abi meyakinkan ku lagi...
Setengah jam dalam pelukan Abi membuatku lebih tenang... Namun telepon dari orang tua ku membuatku terkejut lagi...
"Tenang Sa... Angkat teleponnya dan jawab dengan tenang seperti biasanya..." Kata Abi padaku...
Aku pun mengikuti kata-katanya.. Akhirnya malam itu aku tak pulang ke rumah... Rasanya aku terlalu takut untuk pulang dengan keadaan ku yang seperti ini...
__ADS_1
Aku beralasan pada orang tua ku jika menginap di rumah Bella teman ku... Karena memang malam itu kondisinya sedang hujan deras sehingga tak memungkinkan untukku pulang...
Orang tua ku percaya dan mengijinkannya... Setelah menutup telepon aku kembali terisak... Kini aku sadar jika aku telah kehilangan kesucian ku... Aku merasa sangat malu...
Abi yang baru saja datang melihat ku dengan khawatir...
"Sa, kenapa kamu menangis lagi.." tanyanya...
"Aku takut Bi.. sangat takut.." kataku... Dia hanya memelukku dan mengusap lembut kepalaku...
"Aku janji Sa akan bertanggung jawab.." katanya meyakinkanku...
Usai pesta dan semua orang pulang Abi menemaniku dan memelukku di atas ranjangnya... Dia juga sudah mengganti sprei yang kotor tadi agar aku tidak merasa takut terus menerus...
Aku bersandar pada dada bidangnya... Dia terus mengusap kepala ku lembut dan sesekali mencium keningku...
"Maafkan aku Sa... Aku janji tak akan meninggalkan mu..." Katanya... Aku merasa lebih tenang sekarang... Terlebih dia berkata jika akan segera memberitahukan hubungan kami pada orangtuanya saat mereka pulang dari luar negeri...
Malam itu aku tidur dalam pelukannya...
Hingga saat dimana hal yang paling aku takutkan benar-benar terjadi...
Hari itu adalah hari dimana aku mengikuti ujian untuk masuk ke universitas tempat ku mendapat beasiswa...
Aku mengambil jurusan Manajemen Bisnis... Namun di tengah-tengah ujian aku merasakan sangat mual...
Perutku rasanya seperti diaduk hingga aku tak kuasa untuk menahannya... Aku pamit ke toilet tanpa menyelesaikan ujiannya... Aku tak dapat lagi menahan rasa mualnya hingga membuat ku mengabaikan ujian itu...
Aku berlari ke toilet dan memuntahkan seluruh isi perut ku... Rasanya benar-benar tak nyaman... Bahkan tiba-tiba kepala ku rasanya sangat berat hingga akhirnya semuanya menjadi gelap...
Abi menjemput ku usai mendapatkan kabar dari salah satu temanku yang ikut ujian juga...
Abi menemui ku di ruang kesehatan kampus itu... Dia terlihat begitu khawatir..
"Bi aku takut.." lirihku...
"Ssstt tenang Sa... Besok kita coba cek yaa.." katanya perlahan...
Keesokan paginya Abi menjemput ku di rumah orangtuaku seperti biasanya... Ya... Orang tua ku tau kami berpacaran sejak kelas satu SMA...
Abi membawa ku kerumahnya yang tengah sepi... Karena lagi-lagi orang tuanya tengah pergi dinas...
Abi memberikan ku alat tes kehamilan yang di belinya secara online... Menurut buku yang ku baca jika tes kehamilan paling baik di lakukan pagi hari saat buang air kecil untuk pertama kalinya...
Dan aku dengan sengaja tidak buang air kecil sejak tadi agar dapat melakukan tes itu...
Aku melakukannya... Menunggu garis yang muncul pada benda itu berjumlah berapa..
"Sa... Udah belum..?" Abi mengetuk pintu... Aku keluar dari toilet kamarnya dengan langkah gontai... Duniaku rasanya benar-benar runtuh...
"Sa... Ka--kamu hamil.?" Tanya Abi lagi setelah melihat dua garis merah pada benda itu... Ya garis yang menandakan jika kini tengah ada kehidupan lain di dalam rahim ku...
Abi mengusap dahinya kasar... Dia terlihat sangat frustasi... Sedangkan aku, aku hanya mampu terduduk dan menangis...
Aku sangat menyesali apa yang kini telah terjadi... Dada ku terasa sangat sesak... Aku tak tahu lagi harus berbuat apa...
Abi membawa ku duduk di ujung ranjangnya... Dia berkali-kali meminta maaf padaku... Dia benar-benar tak menyangka jika apa yang kami lakukan saat itu kini membuat sebuah kehidupan baru di dalam perutku..
__ADS_1
Dia berkata padaku jika seminggu lagi orang tuanya kembali... Dan kami akan menemuinya bersama serta menceritakan semua yang terjadi dan meminta restu untuk menikah...
Aku percaya padanya... Ya.. tentu saja aku percaya... Karena aku yakin dia sangat mencintai ku...