
Reta masuk kerja kembali keesokan harinya... Namun banyak karyawan yang memandangnya dengan tatapan tak suka...
Bahkan banyak yang berbisik tak menyenangkan...
Nadia menghampiri Reta dengan wajah angkuhnya...
"Sini Lo..." Nadia menyeret Reta menuju lorong kantor yang sepi...
"Puas Lo sekarang... Dasar pembawa sial lo.." teriak Nadia marah...
"Nad, Lo apa-apaan sih... Apa maksud Lo..?" Tanya Reta tak mengerti...
"Gara-gara Lo pak Niel jadi kena masalah... Emang pembawa sial tahu gak sih Lo..." Marah Nadia...
"Maksud Lo apa sih Nad..." Reta benar-benar tak mengerti dengan perkataan Nadia saat ini...
Dia bahkan baru masuk lagi setelah mengetahui hal kemarin... Tapi kenapa tiba-tiba dia di salahkan...
"Asal Lo tau yaa... Pak Niel kehilangan dua rekan bisnisnya yang udah lama kerjasama... Belum lagi tender-tender besar yang hilang... Juga tender-tender baru yang gagal di dapetin..."
"Lalu pabrik pak Hendro, orang tua pak Niel... Mengalami kebakaran juga kan... Bahkan beliau sampai kena serangan jantung... Itu semua karena Lo..." Teriak Nadia sambil menunjuk Reta...
"Kenapa bisa karena gue..?" Tanya Reta tak terima...
"Lo lupa... Dulu waktu Lo jadian sama Abiansyah dia gagal ikut lomba basket karena jatuh dari motor sama Lo..." Ingatan Reta kembali pada masa lalunya...
Benar, saat itu harusnya Abi bisa mengikuti lomba basket antar sekolah namun karena pergi bersama Reta hingga membuat mereka jatuh dari motor dan membuat kaki Abi terkilir...
"Apa Lo lupa juga gara-gara jalan sama Lo juga dulu Abi dipukulin sama anak sekolah lain... Karena Lo nyenggol cewek anak sekolah itu pas naik motor..." Kata Nadia mengingatkan lagi...
__ADS_1
Tidak, Reta tidak melupakan sama sekali hal terkecil apapun tentang Abi...
Tapi apa salahnya kini hingga Nadia mengatainya seperti itu...
"Dan sekarang karena mau nikah sama Lo juga pak Niel jadi kena sial..." Tajam Nadia dengan memicingkan matanya...
Reta terkesiap... Nafasnya tertahan... Udara di sekitarnya seperti tak mengalir dengan lancar... Kata-kata Nadia mampu menampar Reta dan membuatnya menyadari apa maksud dari perkataan Nadia tadi...
"Dasar pembawa sial lo..." Maki Nadia lagi dan pergi meninggalkan Reta dengan segera...
Reta terjatuh di lantai... Kakinya terasa sangat lemas... Dia terus memikirkan perkataan Nadia... Apa benar semua yang di alami Daniel kini karena dirinya...
"Apa aku memang bawa sial..." Gumam Reta dengan matanya yang sudah basah...
Siang harinya saat berada di toilet kantor dia mendengar beberapa karyawati yang tengah membicarakannya...
"Hah kok bisa..?"
"Iya jangan sembarangan sebar gosip Lo.. Kalau tau pak bos bisa di depak Lo ntar...
"Gue gak sebar gosip... Tapi faktanya tau... Katanya yah, dulu waktu SMA Reta itu punya pacar... Trs tiap mau ada acara penting pasti gagal terus semenjak pacaran sama Reta..."
"Hah serius Lo..? Itu laki yang hamilin dia juga bukan..?"
"Kabarnya sih tuh laki ninggalin Reta karena tahu dia hamil..."
"Kasian banget ya dia..."
"Kok Lo kasian sih..."
__ADS_1
"Iyalah orang dia di tinggal lakinya pas udah hamil..."
"Heh emang yakin tuh anak pacarnya dia... Secara kalau cewek udah gak suci lagi kan bisa ngelakuin sama siapa aja... Siapa tahu dia hamil sama laki lain terus di akuin ke pacarnya... Iya gak.."
"Masa sih dia kaya gitu... Kayanya dia bukan cewek yang kaya gitu deh..."
"Ya kan kita gak bisa lihat orang dari covernya aja... Buktinya Nadia yang temennya Reta dari mereka sekolah pun ternyata juga benci kan ke Reta..."
"Iya... Denger-denger itu karena dari dulu Reta selalu rebut apapun punya Nadia..."
"Ihh ngeri yaa... Mending kita jangan deket-deket deh sama dia..."
"Iya... Gue juga ogah kena sial kalau Deket dia..."
"Semoga aja pak Niel batalin pernikahan itu... Gue takut kita bakal kena imbas kesialannya juga.."
Reta terdiam mendengar semua perkataan teman-temannya tadi... Dia tertunduk menatap cincin di jari manisnya...
Cincin yang di berikan Daniel saat makan malam itu... Saat di mana keluarga mereka saling bertemu...
Bak tertampar dan dihujani ribuan paku... Hatiku begitu sakit mendengarkan percakapan orang-orang di sekitarku...
Semuanya menyalahkan ku untuk apa yang dia alami kini... Namun aku sendiri pun kini mulai berpikir jika mungkin apa yang mereka katakan memang benar...
Sekarang aku hanya mampu menangis saja... Aku tak tahu harus bercerita dan mengadu pada siapa kini... Aku takut jika memang benar aku membawa kesialan bagi siapapun yang ada di dekatku...
Haruskah aku mundur sekarang... Haruskah aku berhenti sekarang juga sebelum semuanya semakin menjadi sulit...
Apabila aku harus berhenti saat ini juga pasti akan ku lakukan... Aku tak ingin membuat semuanya semakin sulit dan rumit... Jika memang cara terbaik adalah melepaskan maka akan aku lakukan....
__ADS_1