
Satu Minggu sudah berlalu masa berkabung bagi Daniel dan keluarganya... Daniel sudah mulai kembali bekerja dan kembali pada semua kesibukannya...
Selama satu Minggu pula Daniel tak dapat menghubungi Reta, karena Reta masih terus menghindarinya...
Hari ini Daniel berniat menjemput Reta di rumah orangtuanya, karena hari ini juga semua karyawan mulai bekerja kembali...
Daniel telah menunggu Reta sejak pagi, dan untungnya Reta benar-benar datang kesana karena harus menitipkan Bian...
Ya hubungan antara Reta dan orang tuanya tak cukup merenggang karena masalah itu... Namun, Reta kini tak banyak bercerita pada kedua orangtuanya...
Mereka pun mengerti kenapa Reta sedikit berubah dan mereka tak mempermasalahkan hal itu...
Reta keluar dari rumah orangtuanya di sambut Daniel yang telah berdiri di samping mobilnya...
"Ayo kita berangkat bersama.." ajak Daniel pada Reta... Reta menerima ajakan Daniel, namun dia masih tetap diam dan belum membuka suaranya sedari tadi...
"Apa kau masih marah padaku Ta..?" Tanya Daniel untuk yang ke dua kalinya...
Reta menghela nafasnya...
"Aku tak marah padamu mas, aku hanya masih sedikit kecewa karena kau tak menceritakan semuanya terlebih dulu padaku saat setelah kamu mengetahui semuanya.." jawab Reta jujur...
"Ta, aku sudah katakan bukan... Aku hanya ingin kau mendengar langsung dari orang tuamu dulu... Maafkan aku jika memang membuatmu terluka..." Jawab Daniel lagi...
Reta pun mengangguk lemah...
"Ya mas, aku tahu maksud mu... Maafkan aku... Mungkin aku masih terlalu sensitif..." Balas Reta sambil menunduk...
Saat berhenti di lampu merah Daniel menggenggam kedua tangan Reta... Reta terkejut dan menatap kearah Daniel...
"Ta, ini bukan salah mu... Aku mengerti jika kamu kecewa... Aku juga mengerti jika kamu masih terluka... Tapi aku harap itu takkan mengubah perasaan kita.." kata Daniel dengan penuh harap... Dia lalu mengecup punggung tangan Reta...
Saat ini mereka berdua telah sampai di depan gedung kantor, namun Reta tak langsung turun...
"Mas, maafkan aku..." Lirih Reta kemudian keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantor...
Wajah Daniel nampak kebingungan mendengar perkataan Reta... Dia hanya takut jika Reta membencinya terlebih jika sampai Reta meninggalkannya...
Hari itu berjalan dengan baik... Siang harinya saat makan siang seperti biasa, Reta duduk bersama Dina juga Yuni sambil membicarakan acara makan malam yang akan diadakan lusa atas suksesnya peluncuran produk baru mereka yang seharusnya di lakukan Minggu lalu...
"Tolong berikan ini pada Bian..." Abi meletakkan paper bag berisi sebuah kado yang lumayan besar...
Reta tertegun... Bukan hanya Reta, Yuni dan Dina pun sama terkejutnya...
__ADS_1
"Maaf pak... Tapi untuk apa..?" Tanya Reta dengan formal...
"Hanya hadiah kecil agar Bian bisa mengingatku juga.." Abi meninggalkan meja Reta setelah tersenyum padanya...
Reta mengerjapkan matanya... Sebenarnya tak salah juga Abi memberikan hadiah untuk anaknya... Namun kenapa harus di jam dan kondisi seperti ini...
Tentu saja hal tersebut membuat karyawan yang lainnya mulai bergosip lagi...
"Ta, Lo lagi Deket sama pak Abi..?" Tanya Yuni begitu mereka sampai di ruangannya...
"Hhmm, mbak gue udah cerita kan sama Lo juga mbak Dina kalau gue udah berdamai sama masa lalu gue... Tapi bukan berarti dekat kembali.." jawab Reta jujur...
"Tapi kenapa dia kasih kado itu buat Bian..?" Tanya Yuni lagi...
"Yun, gimanapun juga pak Abi kan ayah biologisnya Bian... Jadi ya gak salahkan kalau pak Abi kasih hadiah buat Bian..." Yuni pun mengangguk...
Jadi untuk saat ini hanya Dina dan Yuni yang tahu mengenai siapa ayah biologis Bian... Karena saat Reta menitipkan Bian dia menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya itu...
Memang yang di katakan Dina ada benarnya juga... Namun Yuni merasa jika pak Abi punya maksud tertentu saat ini...
Reta pulang bersama dengan Daniel... Sedari tadi belum ada yang membuka suara mereka satupun...
Hingga Daniel mengajak Reta untuk mampir ke sebuah toko cake...
"Buat Bian Ta... Dia kan suka banget sama cake..." Jawab Daniel dan tersenyum...
Akhirnya Reta dan Daniel turun untuk membelikan cake kesukaan Bian...
Saat sudah membeli cake Daniel hendak meletakkan kotak cake itu pada kursi belakang mobil.. Saat itu juga mata Daniel terarah pada paper bag yang ada di sana...
"Itu dari Abi yaa.." tanya Daniel pada Reta dan di anggukinya...
"Itu untuk Bian juga..?" Tanya Daniel lagi...
"Iya mas... Kata Abi, dia cuma pengen Bian punya sesuatu yang bisa bikin Bian ingat dia.." jawab Reta jujur...
Daniel mengangguk... Kini suasana menjadi hening kembali... Reta pun hanya diam tanpa ingin berkata-kata...
Begitu sampai di rumah orangtuanya, Reta memberikan cake yang di belikan daniel... Namun paper bag dari Abi dia gantungkan di motornya...
Sepertinya Reta tak berniat memberi tahu orang tuanya perihal hadiah yang diberikan Abi untuk Bian...
Malam itu angin bertiup semilir... Membawa kesejukan juga ketenangan bagi siapapun yang merasakannya...
__ADS_1
Tapi tidak dengan Daniel... Dia memang terlihat tenang namun dalam hatinya begitu gusar... Dia merasa jika perlahan Reta telah membuka hatinya kembali untuk Abi...
Namun tidak dengan Reta... Dia terlihat benar-benar tenang dalam senyumannya...
Dia bahkan tak memikirkan apapun tentang Abi maupun Daniel... Yang ia pikirkan kini hanyalah bagaimana caranya dapat membantu Risa...
Kini Reta akan bersiap untuk tidur bersama Bian... Namun ponselnya berbunyi dan membuat Reta membuka pesan yang nampak pada notifikasi ponselnya...
Reta mengerutkan keningnya saat nama Risa lah yang tertera...
Risa
Sa, tolong ingatkan Abi untuk selalu meminum obatnya... Juga lusa dia harus kembali menjalani psikoterapi... Apa kau bisa menemaninya..?
Reta menghela nafasnya lagi... Dia masih terus berpikir apakah hal yang ia lakukan kini adalah sesuatu yang benar atau justru sebaliknya...
Reta akhirnya membuka room chatnya dengan Abi... Dia memberikan pesan pada Abi agar tak lupa untuk meminum obatnya dan berisitirahat..
Setelahnya Reta tidur bersama Bian... Mereka larut dalam keindahan mimpi masing-masing...
Di atas ranjang tidurnya Abi tersenyum bahagia usai membalas pesan dari Reta...
Dia berjalan dan menuju ke ujung kamarnya...
Dia memandangi sebuah manekin yang di pakaikan gaun yang dulu ia berikan untuk Reta saat pesta kelulusannya...
"Sa, hari ini hanya gaun mu ini yang menemani setiap tidur malam ku... Namun aku yakin jika malam-malam ku nantinya kamulah yang akan menemani ku.." kata Abi sambil menatap foto Reta yang dia tempelkan pada wajah manekin itu...
Abi mencium foto Reta yang tertempel pada manekin... Dia bahkan memeluk manekin itu seperti seolah olah sedang memeluk Reta...
Sedangkan di rumahnya Risa tengah menangis saat mendapati pesan dari Abi...
Abi ❤️
Terimakasih Sa... Jika nanti Sasa kembali padaku, aku tak akan pernah melupakan jasamu itu... Aku akan melakukan apapun yang kau minta nantinya jika aku dan Sasa kembali bersama...
Dadanya terasa sesak dan sakit... Dia tak menyangka jika pertunangan antara dia dan Abi hanya Abi anggap sebagai kesepakatan antar keluarga saja...
Abi bahkan tak pernah menanyakan perasaan Risa yang sebenarnya... Abi terus memaksa Risa masuk ke dalam lubang luka yang begitu dalam...
Risa ingin sekali melepaskan perasaannya terhadap Abi, namun tak semudah itu... Terlalu berat untuknya meninggalkan perasaan yang dia miliki bertahun tahun lamanya...
"Aku akan mempertaruhkan apapun demi kebahagiaan mu, meskipun kebahagiaan ku taruhannya..."
__ADS_1