
Wajah Abi memerah padam... Dia terlihat begitu marah mendengar jawaban dari Reta...
"Sa, apa kau yakin...? Apa kau benar-benar sanggup..?" Tanya Abi lagi berusaha tenang...
"Jangan bertanya lagi... Bukankah kau tahu jika aku sudah sangat membenci mu atas semua yang kau lakukan dulu.." kata Reta kembali mengingatkan semua perbuatan Abi di masa lalu...
"Hah... Baiklah Sa... Kau akan lihat seperti apa kemarahan ku yang sebenarnya... Dan kau Niel kau akan menyesal karena telah merebut milikku yang berharga... Camkan itu..." Tukas Abi lalu pergi meninggalkan mereka berdua...
Reta dan Daniel saling menatap satu sama lain... Rasanya mereka masih tak dapat percaya jika kini mereka berdua kembali bersama...
Daniel merengkuh Reta ke dalam pelukannya... Hatinya menghangat, dia yang sangat takut kehilangan wanitanya itu kini merasa bahagia karena mampu meyakinkannya dengan cinta yang dimilikinya...
"Din, Reta kenapa sih gak makan siang... Emang ya tuh anak.." omel Yuni yang sedang berjalan bersama memasuki pantry...
"Retaaaaa...." Suara Yuni menggelegar mengagetkan Reta dan Daniel yang tengah berpelukan...
Seperti ketahuan mencuri saja mereka berdua segera melepaskan pelukan dan saling memunggungi...
"Astaga.." kaget kedua orang itu saat sempat melihat Daniel dan Reta berpelukan namun langsung saling melepaskan...
"Ma-maaf pak... Saya gak tahu kalau bapak sama Reta lagi..." Yuni menggantungkan kalimatnya...
Daniel berdehem...
__ADS_1
"Ekhem... Ini bukan seperti itu... Saya tadi hanya menemui Reta untuk menanyakan mengenai perencanaan penjualan bulan depan.." terang Daniel...
"O...oh..." Kedua wanita itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil...
"Kalau begitu saya pergi dulu, silakan kalian lanjutkan keperluan kalian.." kata Daniel lalu pergi dari sana...
"Retaaaaa...." Teriak mbak Yuni heboh...
"Astaga... Apaan sih mbak.." jawab Reta terkejut dengan Yuni dan Dina yang tiba-tiba memeluknya...
"Lo harus cerita sama kita gimana bisa kalian tadi..."
"Mbak... A-apaan sih... aku gak ngapa-ngapain kok sama pak Niel.." elak Reta... Namun pipinya yang merona tak dapat dia sembunyikan...
"Ta, cerita dong ke kita..." Kata Dina dengan semangatnya...
"A-apaan sih mbak... Di bilang tadi pak Niel cuma bahas soal kerjaan kok.." jawab Reta berusaha mengelak lagi...
"Bahas soal kerjaan kok pelukan.." ledek Yuni sambil terkikik dengan Dina...
Wajah Reta semakin merona... Dia terlihat sangat malu karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya itu...
"Ayo dong ceritain.." pinta kedua orang itu yang akhirnya membuat Reta duduk bersama mereka sambil menceritakan kejadian yang dia dan Daniel alami tadi...
__ADS_1
Tiga hari sudah kejadian di pantry itu berlalu... Namun Dina dan Yuni masih saja menggunakannya untuk menggoda Reta di sela-sela waktu bercanda mereka...
Pagi ini semua orang dirundung kesedihan... Kabar duka datang bertepatan dengan launchingnya produk terbaru perusahaan Daniel...
Produk kecantikan yang dia kerjakan bersama dengan Abi... Produk yang mampu menembus pasaran dan terjual melejit karena strategi marketing yang di buat Reta...
Namun hari ini yang harusnya jadi hari bahagia untuk Daniel justru menjadi hari paling berduka untuknya...
Papah Daniel secara tiba-tiba kambuh penyakit jantungnya hingga menyebabkan beliau tutup usia pagi itu juga...
Seluruh karyawan yang mendengar kabar itupun merasa sangat terkejut sekaligus berduka...
Terlebih Reta yang kini terduduk lemas di kursi tunggu yang ada di lobby...
"Ta, ini bukan salah Lo.."
Mungkinkah semua ini karena ku.... Apakah ini semua salah ku... Aku terus bertanya dalam hati kecilku... Apakah ini semua karena dia kembali padaku... Ataukah karena aku memang membawa kesialan untuk orang-orang di sekitarku...
Tubuh ini rasanya begitu lemah... Aku seperti tak percaya akan apa yang terjadi saat ini... Aku bagus merasa ketakutan... Aku begitu merasa menyesal...
Apa yang harus aku lakukan saat ini... Haruskah aku melepaskan segalanya dan kembali lagi sebelum semuanya makin sulit... Ataukah aku harus tetap bertahan dan melanjutkan semuanya meskipun harus mengorbankan segalanya juga...
Ohhh.... Tolonglah aku... Rasanya aku seperti tak sanggup lagi kini... Rasanya aku begitu bimbang hingga tak tahu kini harus bagaimana dan berbuat apa... Akankah semuanya dapat kamu lalui dengan baik-baik saja....
__ADS_1