
"Ta ini semua bukan salah Lo..." Kata mbak Dina menguatkan...
Reta terdiam menatap kebawah... Dia merasa sangat terkejut dengan kabar duka yang datang secara mendadak pagi itu...
Akhirnya Reta, Rian, Dina, dan Yuni pergi ke rumah Daniel naik mobil Rian...
Sesampainya di rumah Daniel air mata turun secara bebas dari mata Reta... Reta mendengar tangis kesedihan dari mamah Daniel...
Reta berjalan dengan perlahan menuju ke ruang tamu rumah Daniel...
Dari halaman hingga dalam rumah telah di penuhi oleh para pelayat... Semuanya terlihat begitu berduka...
Reta melihat Daniel yang terduduk di samping jenazah sang papah... Dia tak menangis, namun Reta tahu jika pasti dia sedang sangat terluka saat ini...
"Tan-te..." Lirih Reta begitu sampai di depan mamah Daniel...
Mamah Daniel menghadap ke sumber suara dan menghambur memeluknya...
"Reta....papah Daniel...hiks...hiks..." Mamah Daniel memeluk Reta sambil menangis...
Reta pun turut dalam kedukaan itu... Reta memeluk mamah Daniel dengan erat...
Tak lama setelah semua karyawan Daniel datang, keluarga Abi pun turut datang...
Namun tak ada raut kesedihan dalam wajah mereka... Karena mamah Daniel lah kakak dari mamah Abi sehingga keluarga Abi tak merasa kehilangan...
__ADS_1
Terlebih selama ini hubungan diantara kedua keluarga itu tak sepenuhnya baik...
Maria, mamah Abi terlihat terkejut saat melihat sosok wanita yang duduk dan memeluk kakaknya...
"Perempuan ****** itu..." Gumamnya sambil meremas kedua tangannya...
Usai pemakaman siang itu keluarga Abi masih menunggu di rumah Daniel... Begitu juga dengan Reta...
Saat ini Reta dan mamah Daniel duduk berdua di kamar mamah Daniel...
"Ta, maafin mamah ya waktu itu mamah terpaksa lakuin semua itu demi keselamatan om Hendro..." Lirih mamah Daniel merasa bersalah..
"Gapapa Tante, aku sendiri kan yang minta Tante lakuin itu... Lagi pula ini semua salahku Tan..." Reta tertunduk dan menangis...
Mamah Daniel menggelengkan kepalanya....
"Maafin aku Tan... Ini salah ku..." Reta menangis tersedu... Mamah Daniel melihatnya dengan iba... Pasti lagi-lagi Reta menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa keluarganya...
"Kenapa ini harus salah kamu Ta... Om Hendro memang sudah sakit..." Kata mamah Daniel memberitahu...
Reta berlutut di kaki mamah Daniel dan menangis...
"Kalau aja aku gak menentang kemauan Abi pasti om Hendro masih baik-baik saja Tan..." Lirih Reta dengan penuh rasa bersalah...
"A-apa maksud kamu Ta..?" Tanya mamah Daniel yang belum mengerti...
__ADS_1
"Tiga hari yang lalu Abi meminta ku untuk kembali padanya Tan... Tapi karena mas Daniel yang mencegahku dan meyakinkan ku, aku akhirnya menolak Abi Tan.. lalu Dia mengancam mas Daniel akan melakukan hal yang sangat mengerikan.." lirih Reta takut...
"A-apa... Jadi ini semua karena..." Wajah mamah Daniel terlihat begitu tak percaya...
Reta hanya mampu menunduk menangis dengan rasa bersalahnya...
"Ternyata Abi benar-benar menuruni sifat gila ibunya.." gumam mamah Daniel pelan...
Mamah Daniel mengangkat tubuh Reta agar duduk di sampingnya lagi...
"Ta, kamu harus segera menikah dengan Daniel..." Kata mamah Daniel dengan menatap dalam kepada Reta...
Reta terkesiap dia membulatkan matanya tak mengerti...
"Ta-tapi Tan.."
"Ta, Abi sangat berbahaya... Dia seperti mamahnya... Mamah takut jika kalian tidak segera menikah maka dia akan melakukan hal lebih nekat lagi..."
Di ruangan bawah ternyata orang tua Reta sudah menunggu untuk bertemu Daniel juga mamahnya...
Namun ada yang terlihat canggung di antara kedua keluarga itu... Papah Abi terlihat sangat tak menyukai kehadiran bapak Reta...
Sedangkan mamah Abi melihat dengan penuh benci kepada ibu Reta...
Seperti sebuah rahasia yang terlalu dalam dan kelam membuat semuanya semakin terasa rumit... Rasa cinta bercampur benci yang membuat semuanya saling menyakiti satu sama lain tanpa perduli akan adanya hati yang semakin tersakiti...
__ADS_1
Mungkin setelah ini akan banyak terjadi sesuatu yang lebih mengerikan... Ataukah setelah ini semuanya akan semakin rumit lagi... Entahlah tidak ada yang dapat mengetahuinya...
Mungkinkah ada sebuah rahasia yang begitu mengejutkan semua orang... Ataukah ada sebuah kebenaran yang memang seharusnya di ungkapkan sejak awal....