
Zahira termenung di
dalam kamarnya, dia baru saja membersihkan diri. Sekarang, matanya beralih pada foto yang tertempel di kaca. Juga surat yang tersimpan di laci meja hias. Pikirannya melayang pada tujuan awalnya mau bekerja dengan Kenzo.
Lalu, disinilah ia sekarang. Menekan bel apartemen bos nya itu dan menunggu sipemilik untuk membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, Zahira reflek mundur selangkah. Entah karena apa, tapi Kenzo yang melihat gerakan itu hanya memasang wajah datar. Dia diam saja, menunggu Zahira yang yang perlahan menatap matanya. Kenzo bahkan bisa melihat dengan jelas bahwa gadis didepannya ini berusaha menahan kemarahan terpendamnya dengan memasang wajah tenangnya.
"Kita harus bicara."
Kenzo tidak menjawab, dia membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan Zahira masuk.
"Apa maksud perkataanmu tadi? Bukankah aku setuju bekerja denganmu hanya sebagai asisten, selain itu kamu berjanji untuk membantuku."
Kata Zahira saat mereka sudah duduk tenang di ruang tamu. Tampaknya Kenzo belum mau menjawab, dia masih menunggu.
"Aku tidak berniat menjadi bagian dari permainanmu, Apapun tujuanmu memanfaatkan situasi, Aku tidak ingin ada ikatan apapun meski itu hanya status diatas kertas." Lanjut Zahira, masih dengan wajah dan nada bicara yang terjaga.
Kenzo menatapnya cukup lama sebelum bangkit berjalan ke dapur dan mengambil dua buah minuman kaleng. Meletakkannya satu di depan Zahira dan membukanya langsung untuk dirinya sendiri sambil kembali duduk. Ia tersenyum sekilas sebelum bicara.
"Kamu cukup pintar dan dingin menanggapi ucapanku. Tapi bukankah kamu tahu aku tidak suka ditolak?"
"Apa peduliku,"
Kenzo terkekeh mendengar nada ketus dan jawaban berani dari asistennya itu. Berbeda dengan Zahira yang mati-matian menahan emosi.
"Apa yang membuatmu menolak tawaranku sementara banyak diluar sana yang menginginkan posisimu?"
Zahira tidak menjawab. Bukan hal itu yang ingin ia dengar keluar dari mulut pria di hadapannya itu.
__ADS_1
"Pemilik Adira memiliki seorang putri, dan aku dipaksa menikah dengannya. Aku menolak tentu saja. Orang tua kami bersahabat, dan Adira baru saja menandatangi kerjasama dengan perusahaanku. Tentu saja, aku membantu finansial mereka atas permintaan ayahku. Tidak masalah untuk kerja sama, tapi menikahi anaknya akan membuatku muntah setiap hari. Aku juga sudah menyelidiki perusahaan itu, hal apa yang ingin kamu ketahui sebenarnya? Aku akan mencarinya asalkan kamu bisa membantuku juga. "
Zahira tahu itu bukan penawaran, melainkan hal yang akan dipaksakan kepadanya untuk dilakukan. Apakah pantas, usaha menemukan orang tua yang sudah membuangnya di tukar dengan kehidupannya?
"Jangan banyak berfikir, toh kamu tidak punya pilihan. "
"Jadi_sejak awal kamu menyuruhku menjadi asisten hanya kedok untuk menyuruhku menjadi pasangan pura-pura? karena tidak mau dijodohkan? " Tanya Zahira dengan nada mencemooh. Ia kesal luar biasa karena dipermainkan.
"Tidak juga,"
"Apa maksudmu dengan tidak juga! Jangan bermain-main dengan hidupmu sendiri. Apa susahnya memilih pilihan ayahmu lalu menikah. kenapa harus melibatkanku? Aku tidak mau! Aku bisa mencari cara lain untuk masalahku tampa harus mengikuti permainanmu."
"Kenpa terburu-buru? "
Kenzo tersenyum manis kali ini, benar-benar memasang wajah malaikat yang tidak berdosa. Zania bahkan sampai mengutuk dalam hati melihat cepatnya ekspresi pria didepannya ini berubah.
"Kamu sangat tidak asik, Apa yang bagus dari sebuah perjodohan? Selama ini aku tidak tertarik dengan wanita manapun tapi diminta untuk menikah."
Kenzo tertawa kencang kali ini. Benar-benar tsrtawa lepas, bukan dibuat-buat seperti biasanya membut Zahira menrengut kesal. Apa yang lucu dari pertanyaannya?
"Kamu mau membantuku membuktikan aku gay atau tidak? Kebetulan malam ini aku sedang dalam kondisi baik. Ini akan jadi pertama kali untuk kita. "
Zahira total kesal luar biasa, dia meraih minuman kaleng dan melemparnya tepat sasaran. Namun sayangnya, Kenzo cukup gesit untuk menangkap kaleng itu tampa melukainya.
Zahira segera bangkit, ia merasa tidak ada gunanya bicara dengan pria seperti ini. Namun sebelum benar-benar melangkah keluar, pergelangan tangannya di tahan dan Kenzo memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di atas kepalanya.
"Sangat menyenangkan bermain denganmu. Kamu orang pertama yang membuatku tertarik. Perkataanku serius, perjodohan bukan satu-satunya alasan. Mau tidak mau_kamu akan tetap ada dilingkaranku sekarang."
Zahira terhenyak, dia menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian, dengan kemampun bela dirinya, ia memutar tangan yang melingkari lehernya dan memutar tangan itu untuk memelintir, tapi sayangnya tenaga Kenzo jauh lebih kuat dan tentu saja dia juga menguasai bela diri. Serangan Zahira tidak ada apa-apanya bagi pria tinggi itu. Dia berhasil melepaskan diri dengan mudah.
__ADS_1
Zahira Menatapnya nyalang. Dia belum pernah dipermainkan seperti ini sebelumnya. Sikap acuh dan dingin selama ini hilang jika sudah berurusan dengan bosnya ini.
Akhirnya karena kesal, Zahira melayangkan serangan-serangan. Dimana yang satu menyerang dan yang satu lagi hanya menghindar dengan santai. Beberapa barang mahal yang dipajang disana terkena tendangan Zahira sehingga hancur tidak berbentuk lagi. Setiap ada barang yang jatuh, Kenzo hanya akan terkekeh saja. Seolah itu bukan aoa-apa. Serangan Zahira berhenti setelah bunyi bel mengalihkan perhatian mereka.
Zahira berjalan kesofa mengambil kaleng minuman yang sempat ia lempar tadi dan meminumnya saat Kenzo berjalan ke arah pintu.
Zahira nyaris saja tersedak saat Kenzo kembali dengan seorang wanita paruh baya disampingnya. Keduanya saling melempar pandang dengan bingung.
"Ibu, Kenalkan dia adalah Zahira. Calon menantumu "
Kali ini Zahira benar-benar tersedak. Bagaimana dengan santainya Kenzo mengatakan hal itu pada ibunya.
"Ibu kesini karena diminta ayahmu untuk membujukmu agar setuju menikahi anak temannya. Tapi ternyata kamu sudah memiliki pilihan sendiri?"
"Tidak! "
Ibu Kenzo menatapnya dengan pandangan bertanya. Membuat Zahira gugup ditempatnya. Kenzo malah terlihat seperti menikmati keadaan.
"Apa yang tidak? " Tanya ibu Kenzo.
"Saya__"
"Dia hanya gugup saat ibu mengatakan akan membujukku, wanita mana yang mau kekasihnya dijodohkan? Benar kan, Sayang? "
Kenzo dengan mulut manisnya. Zahira tidak bisa menyangkal, ia seperti tidak tega mengatakan kebohongan anaknya yang akan menyakiti hatinya. Ibu Kenzo tersenyum, ia mendekati Zahira dan memeluknya.
"Tenang saja sayang, Ibu yang akan membujuk ayah Kenzo. Yang ia inginkan hanya keturunan penerus dari Kenzo, karena anak kakaknya semua perempuan. Penerus kekuasaan tertinggi harus laki-laki dimatanya. Ibu harap kamu memahami ini. jadi jangan kuatirkan apapun, melihat anakku memiliki pasangan saja ibu sangat bahagia. "
Lalu, apa lagi yang bisa dikatakan Zahira. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Akhirnya dengan terpaksa ia tersenyum.
__ADS_1
Kenzo tampak puas ditempatnya, Zahira yang frustasi di dekapan ibunya hanya bisa menahan diri. Entah kenapa melihat hal itu membuatnya sangat senang.
"Permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai."