
Sedari tadi tidak ada pembicaraan diantara mereka. Zahira bukan orang yang aktif, dia hanya menunggu. Nyatanya Kenzo sama sekali tidak bersuara. Didalam mobil hanya ada mereka berdua, Kenzo yang mengemudikan mobilnya sendiri. Sesampainya mereka di garasi apartemen, Kenzo segera turun diikuti Zahira yang berjalan dibelakangnya.
Setibanya di lift, barulah Zahira sadar bahwa Kenzo hanya memakai pakaian rumahnya berbalut jaket, dia juga hanya memakai sendal rumah yang tidak layak untuk bepergian. Hanya sendal tipis berbulu. Zahira memandang punggung didepannya dengan sedikit penasaran. Apakah tadi pria didepannya ini menghawatirkannya atau panik ia kabur sehingga terlihat tergesa-gesa keluar rumah?
Sesampainya di lantai atas, Kenzo menarik tangan Zahira memasuki apartemennya. Menyuruhnya duduk tampa kata diruang tamu dan meninggalnya. Beberapa menit ia kembali dengan kotak P3K ditangannya. Dalam diam dia membersihkan luka gores dan lebam dipunggung tangan Zahira dan memberikan betadine. Memasang plester pada luka terbuka di jari kelingkingnya.
"Kembali keapartemenmu dan segera istirahat."
Datar dan dingin. Usai bicara demikian Kenzo meninggalkannya menuju kamarnya.
Zahira yang bingung hanya menurutinya, ia melangkahkan kakinya keluar. Sesampainya di kamarnya, Zahira menatap tangannya yang tadi terluka. Pikirannya melayang pada sikap Kenzo yang sesikit aneh baginya. Biasanya Kenzo akan mengeluarkan kalimat sarkas atau ancaman-ancaman padanya. Dia juga pernah mengatakan akan membunuh pria lain yang ditemuinya, tapi dengan ajaibnya tadi dia dengan mudah membujuknya.
"Kenapa sih dengannya? "
Ditempat lain, Kenzo sedang berbaring diranjangnya. Memandang langit-langit kamarnya dengan kosong. pikirannya melayang kemana-mana. Memikirkan sikap dan betapa ia baru menyadari bahwa dia sangat bersikap aneh. Alih-alih marah, tadi hal yang ditakutkannya adalah Zahira yang terluka. Apa yang sedang ia lakukan sampai bisa terluka? Itulah pertanyaan dalam kepalanya.
Kenzo meraih ponselnya, Menelfon orang suruhannya untuk mencari tahu apa yang dilakukan Zahira di tempat yang ia datangi tadi.
"Bagaimana bisa aku jadi begini karena gadis anti sosial itu? Kenapa dia jadi memenuhi pikiranku? " bisiknya pada diri sendiri.
Meakipun ia jenius dalam berbisnis, masalah hati sepertinya bukan keahliannya sama sekali.
Zahira sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali. Selang berapa menit Kenzo datang dengan wajah yang tampak kelelahan dengan lingkar hitam dimatanya.
"Ada apa denganmu? "
Kenzo tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menyibukkan diri dengan berkas di mejanya. Zahira yang bingung akhirnya beinisiatif mendekat dan melihat wajah kusut itu dari dekat.
"Kembali ke mejamu."
"Aku tidak melakukan apapun, Kamu tidak punya jadwal pagi ini. Aku akan keluar saja belajar dengan Jimi. "
Mendengar nama Jimi membuat telinganya panas, ia membanting penanya diatas meja dan menatap Zahira tajam.
"Duduk dimejamu sekarang! Kalau mau belajar nanti saja denganku!" marahnya.
"Kekanakan sekali!" cibir Zahira sambil duduk dikursinya. "Aku mau kopi, mau kubuatkan? " tawar Zahira.
"Duduk dikursimu, Pesan saja kopinya dari sini."
Zahira total kesal.
__ADS_1
"Aku tidur saja kalau begitu! "
"Pergilah, pakai ruang istirahatku." jawab Kenzo cuek sambil memeriksa dan menandatangani berkas yang masih menumpuk.
Zahira melongo ditempatnya, dia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria disampingnya ini. Tidak membiarkannya bekerja malah dengan santai mengizinkannya tidur.
Jimi masuk dan membawa setumpuk berkas lagi, meletakkannya dimeja.
"Nah lihat, Jika aku belajar dengan Jimi aku bisa membantumu memeriksa berkas itu. Kau tidak akan sempat mengajariku. "
Kenzo tidak menggubrisnya, Jimi yang mendengarnya menggeleng dan menyilangkan tanda tidak setuju. Wajahnya saja sudah kelihatan takut.
"Jimi, Atur pertemuanku dengan Ayah 2 jam lagi. Carikan Zahira pakaian terbaik dan datangkan perias kesini. Juga belikan tas dan sepatu baru. Kamu pasti tahu seleraku kan, jagan sampai membuat kesalahan. "
"Baik tuan_kalau begitu saya permisi. "
Zahira yang bingung masih berdiri disana. Membuat Kenzo menatapnya bertanya.
"Kamu...akan mengajakku bertemu ayahmu? "
Tanya Zahira yang dijawab dengan anggukan.
"Duduk dan ceritakan apa yang kamu lakukan tadi malam." potong Kenzo.
"Kenapa jadi membahas yang lain. " protes Zahira dengan nada tidak seperti bisanya, suaranya pelan seperti sedang merajuk. Membuat Kenzo tersenyum padanya.
"Kamu yang berjanji padaku, ingat? "
Tentu saja Zahira ingat. Hanya saja ini bukan waktu yang pas, jelas sekali Kenzo mengalihkan pembicaraan.
"Aku yakin kamu sudah menyuruh orang mencari tahukan? " Sarkas Zahira.
"Tentu saja, Aku hanya ingin mendengar darimu langsung. " jawab Kenzo santai.
Zahira mendengus, menopang kepalanya di tangan, memperhatikan Kenzo yang tetap fokus pada pekerjaannya meski mereka sedang bicara.
"Aku disana karena seorang detektif meminta bantuanku, dan aku mendapatkan informasi dari mereka. kami hanya saling menguntungkan."
Kenzo terkekeh, ia memberikan atensi penuh sebelum berkata.
"Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu, kenapa masih meminta bantuan mereka dengan menukar keselamatanmu? orang yang kamu hadapi tadi malam adalah mafia, mereka memperdagangkan apapun termasuk manusia."
__ADS_1
"Aku tahu, "
"Kamu tahu tapi masih membahayakan dirimu dari pada memilih mempercayaiku? "
Jelas sekali Zahira melihat kekecewaan di wajahnya. Membuat perasaanya sedikit terganggu.
"Aku tahu kamu bisa melakukannya. Tapi aku lihat kamu bahkan tidak melakukan apapun kecuali menahanku seperti tahanan rumah. "
"Apa aku harus melapor padamu apa yang aku lakukan? aku bahkan lebih banyak tahu tentang rahasiamu dari pada kamu sendiri. Jadi duduk saja dan tunggu aku dengan tenang selagi aku menyelidiki dan menyelesaikannya. Aku akan membawamu pada orang tuamu, karena Kamu calon istriku, kamu akan menjadi tanggung jawabku. Mengerti? "
Zahira total blank. Kenapa nada dan cara Kenzo bicara padanya tidak seperti biasa. Tidak ada intimidasi, tidak ada kalimat sindiran? dia bahkan berbicara dengan lembut. Bagaimana Zahira tidak terkejut. Perlahan, dia bahkan bisa merasakan bahwa kedua pipinya terasa panas. Juga ada gejolak aneh di perutnya.
"A.. aku hanya asistenmu. "
kata Zahira mengingatkan.
"Bukankah aku sudah bilang kali lalu, kamu calon istriku. " jawab Kenzo tidak mau kalah.
"Pernikahan harus ada cinta, Kita tidak saling menyukai bagaima_"
"Aku menyukaimu, Aku jatuh cinta padamu. "
potong Kenzo, Zahira terdiam dengan wajah bodohnya. Seumur hidup ia tidak tahu apa itu menyukai dan disukai. Hal-hal seperti ini tidak tidak ada didalam pikirannya.
"Aku tidak peduli kamu suka atau tidak, bukankah aku pernah bilang kamu akan selalu berada dilingkaranku."
lanjut Kenzo.
"Tapi... Suka kamu bilang? karena itukah kamu jadi sangat posesif begini? "
Kenzo mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Membuat Zahira kesal.
"Tapi aku tidak memyukaimu."
"Bukankah aku tadi bilang tidak peduli. "
"Tapi kamu tidak bisa memaksa seseorang seperti ini! "
"Aku bisa dan aku mampu kalau kamu lupa. "
Zahira bungkam, dia bangkit dan menghentakkan kakinya pergi dari sana menuju kamar istirahat milik Kenzo. Membanting pintu saat menutupnya dengan keras. Kenzo tersenyum saja, memilih melanjutkan pekerjaannya. Didalam fikirannya, dia sudah menyusun rencana untuk membuat Zahira menyukainya. Dia juga terkekeh pelan menyadari betapa bodohnya ia memberitahu dengan gamblang tentang perasaan yang sebenarnya masih diragukannya. Apakah ia memang mencintai gadis itu? Atau masih dalam tahap tertarik?
__ADS_1