
Zahira sedang mengikat tali tambang di pagar balkon kamarnya yang memungkinkannya untuk turun menuju balkon tetangganya di lantai bawah. Zahira sudah tahu siapa pemilik unit dibawanya, dan meminta tolong padanya untuk membantunya keluar. Seorang wanita kutu buku yang dengan sedikit bujukan mau membantunya. Zahira beralasan dia sedang di kurung oleh orang tuanya karena ia akan dijodohkan, tentu saja wanita itu merasa iba dan dengan suka rela membantunya.
Kini, ia bersiap turun, dengan berpegangan pada tali yang dibuat seaman mungkin. Berbekal ketangkasan bela diri dan tubuhnya yang biasa berolahraga, ia berhasil turun meskipun mengalami sedikit lecet di kakinya yang tergores saat menapakkan kaki di pagar pembatas balkon.
"Syukurlah kamu berhasil, aku sungguh takut kamu tadi jatuh. Kamu berada dilantai tertinggi gedung ini, jika jatuh sudah pasti mati. " kata wanita itu dengan raut cemas.
"Terimakasih, Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. " kata Zahira berterimakasih. Dia segera melepaskan tali pengaman dipinggangnya dan pamit dari sana.
Dia memilih tidak melewati lift karena akan mudah diketahui oleh bodyguardnya yang selalu memantau cctv. Meskipun tangga darurat juga memiliki cctv, setidaknya ia bisa menyembunyikan wajahnya dengan topi dan hodi jaket yang dipakainya. Lorong tangga yang minim cahaya akan membantunya. Meskipun tentu saja dia harus menyiapkan tenaga ekstra karena dia harus melewati belasan lantai.
Sesampainya dilantai dasar, Zahira memilih melewati daerah yang tidak terlihat oleh cctv. Mengendap-endap diantara mobil dan hampir saja berpapasan dengan satpam yang sedang berpatroli. Kenapa dia juga harus menghindari satpam? karena Kenzo memerintahkan mereka untuk mengawasinya juga jika ia berhasil kabur dari dua bodyguadnya. Sungguh suatu hal yang berlebihan, tapi itulah yang dilakukan pria itu padanya.
Zahira berhasil keluar dari gerbang dan segera masuk kedalam taksi yang sudah sedari tadi dipesannya. Zahira segera menyebutkan alamat tujuannya. Menyeka keringat diwajahnya dan berusaha mengatur nafasnya. Zahira segera mematikan ponselnya begitu sadar bahwa mereka bisa melacak keberadaanya lewat ponselnya. Zahira menggerutu didalam hati karena baru sadar. Sudah pasti sekarang mereka sadar bahwa dia kabur dan sinyal ponselnya menghilang diluar gerbang apartemen. harusnya ia mematikan ponselnya sedari tadi. Namun itu juga bukan pilihan yang tepat karena Zahira sadar, jika ponselnya mati dua orang itu akan segera mendatangi kamarnya dan melapor pada Kenzo.
"Kenapa berhenti disini? " Tanya Zahira mengernyit bingung, karena sang supir taksi berhenti di sebuah bangunan tua yang terlihat sudah sangat usang.
"Ini alamat yang anda tuju, nona. " kata supir itu dengan nada bingung.
"Ooh, maaf. bisakah anda menunggu disini sampai saya keluar? Saya akan membayar lebih untuk itu."
Supir itu tampak berfikir sejenak sebelum mengngguk setuju. Zahira segera keluar dan berjalan dengan ragu memasuki gerbang tua yang sudah reot itu.
memasuki halaman depan, barulah Zahira mengerti tempat apa ini. Bangunan ini digunakan untuk kegiatan ilegal. Banyak mobil terparkir diluar yang tidak terlihat dari luar.
Saat masuk kedalam, Zahira berpapasan dengan orang-orang yang lalu lalang melewati sebuah pintu. Zahira ikut memasuki pintu itu dan saat itulah ia terkejut. Ternyata tempat ini adalah arena tinju ilegal yang digunakan untuk ajang taruhan perjudian. Sorak sorai memenuhi gendang telinganya. Ia mengedarkan pandangannya mencari orang yang dicarinya. Lama ia berkeliling namun tidak menemukannya.
Zahira memilih duduk di kursi penonton. Memperhatikan ring yang baru saja dimasuki oleh dua orang yang akan bertarung. Saat itulah ia melihat Dona, wanita yang dicarinya, sedang menaiki arena dan memegang papan ronde.
Zahira terpaksa menyaksikan pertarungan itu samapi selesai. Setelah ronde terakhir, barulah Dona terlihat pergi dari sana menuju sebuah pintu kecil. Zahira mengikutinya, namun baru saja memasuki ruangan itu, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tidak manusiawi sama sekali.
Dona baru saja di tampar seorang wanita lain dan dimaki-maki didepan wajahnya. Banyak orang disana hanya melihat mereka dengan pandangan bosan. Saat wanita yang tadi menampar Dona melihatnya, Zahira tahu dia harus segera waspada.
"Siapa kamu? berani masuk kesini? "
Tanya wanita itu dengan pandangn yang meneliti penampilah zahira. Ia mendorong Dona sampai terjerembab dan menghampirinya dengan gaya angkuhnya.
"Aku punya urusan dengan wanita itu. "
Kata Zahira menunjuk Dona dengan matanya.
Wanita itu tertawa terbahak-bahak, berdiri di depan Zahira dan mencengkram dagunya dengan tangannya yang berkuku panjang. Zahira masih diam saja, dia hanya melayangkan tatapan datar tampa rasa takut sedikitpun.
__ADS_1
"Sangat menarik, Aku suka karaktermu. "
"Kamu boleh membawanya setelah dia membawakanku barang bagus. Atau... kamu barang bagusnya? "
Kali ini Zahira yang tertawa, dia menepih tangan wanita itu dengan kasar sebelum melayangkan tendangan diperut wanita itu sampai ia tersungkur. Membuat beberapa orang disana berdiri dan waspada.
Zahira segera meraih lengan Dona dan menyeretnya pergi dari sana. Namun baru saja mereka mencapai pintu, seorang laki-laki meraih lengan Zahira dan melayangkan tinju yang berhasil ditahannya. Ia balik menyerang dengan tendangan yang mengenai dada pria itu, sehingga pria itu tersungkur kelantai. Dengan cepat Zahira segera menyeret Dona dan berlari dari sana. Ia mengaktifkan ponselnya segera dan menelfon Wewen. Tampa sadar, ia juga memberitahu Keberadaannya kepada Kenzo.
"Segera jalan pak! " ucap Zahira setelah mereka masuk kedalam taksi, Zahira masih menempelkan ponselnya ditelinga, namun yang ditelfon tidak juga mengangkatnya.
"Ish! Kemana sih dia?!" kesal Zahira.
Ia melirik Dona yang sedari tadi terdiam dengan sudut bibir yang membiru. Bekas darah yang mengering juga ada disana, penampilannya sungguh berantakan.
"Miris sekali hidupmu setelah keluar, ya? Untuk apa kamu ada disana dan diperlakukan seperti sampah? " ujar Zahira tidak peduli wanita disampingnya lebih tua darinya.
"Dari mana kamu tahu aku disana? "
"Aku menemui temanku disana, tapi ternyata aku menemukan kejutan besar. Bukankah saat datang pertama kali setelah pergi kamu bilang bekerja sebagai asisten artis? Benar-benar, Ibu tuminah bisa menangis melihatmu." bohongnya.
"Tolong jangan memberitahunya. "
"Aku tidak bodoh juga. " Sahut Zahira cepat.
"Dari mana saja kamu? "
"Maaf za... panggilan alam. "
"Aku punya hadiah untukmu, aku harap kamu tidak kemana-mana. "
Usai bicara begitu Zahira segera memutus sambungan. Dia menatap ponsel itu lama, pikirannya berkecamuk. Ia yakin Kenzo sedang menyuruh bodyguardnya untuk mencari keberadaannya saat ini.
"Aku dalam masalah besar. " gumam Zahira.
"Keluar dari pekerjaan kotormu disana, jangan sampai besok aku malah mendengar kabarmu dipenjara. " Kata Zahira lagi tampa menoleh.
"Tidak bisa, mereka akan menemukanku dan membunuhku kalau aku tidak bisa memenuhi permintaan mereka. "
Zahira berdecak, ia melirik sekilas sebelum mulai mengarang bebas. Bertemu dengan orang yang selalu membuatnya naik darah saat dipanti dulu dalam situasi berbeda membuatnya canggung luar biasa.
"Tinggal dengan temanku sementara waktu, dia seorang detektif swasta, tapi tenang saja, dia tidak akan melaporkanmu ke polisi. Aku bisa jamin itu. "
__ADS_1
"Dilaporkan juga tidak apa, Aku pikir penjara lebih baik. "
Mendengar perkataan Dona dengan nada putus asa seperti itu membuat Zahira menatapnya sesaat sebelum tersadar mereka sudah sampai didepan sebuah rumah. Tidak terlalu mewah, tapi juga tidak kecil. Rumah milik Wewen dan keluarganya tentu saja.
Wewen segera menyambut mereka didepan pintu, Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Zahira tahu dia harus kembali secepatnya sebelum Kenzo lebih marah lagi.
"Jam 12 malam demi Tuhan Za!"
Itu adalah hal pertama yang diucapkan Wewen ketika mereka sampai dihadapannya.
Zahira berdecak kecil, dia tahu Wewen sedikit banyaknya sedang bersandiwara saat melihat siapa yang datang bersamanya.
"Aku harus kembali, Aku tidak bisa mengajaknya bersamaku karena alasan tertentu. Selain itu dia aman bersembunyi disini, Jadi bisakah kamu menolongku? "
Zahira dan Wewen tentu saja sedang berpura-pura. Wewen melihat keadaan Dona yang sangat kacau sebelum mengangguk.
"Ibu dan adikku sudah tidur, kalian bisa segera istirahat dikamar tamu."
"Hanya dia, Namanya Dona omong-omong. Aku harus kembali."
Kata Zahira.
"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian, aku akan mengantarmu. "
Kata Wewen, Ia segera akan mengantar Dona kedalam dulu sebelum sebuah suara mengintruksi.
"Nona Zahira..."
Zahira tahu cepat atau lambat mereka akan datang, dia menghembuskan nafasnya sebelum berbalik. Masalahnya bukan hanya dua bodyguarnya yang ada disana, melainkan orang yang membayar mereka juga. Berdiri disana dengan wajah dinginnya. Menatap tajam kedalam mata Zahira yang saat ini berdiri mematung.
"Apa aku harus mematahkan tulangnya terlebih dahulu sebelum mencabut jantungnya? "
Zahira menelan ludahnya gugup saat nada rendah itu sampai ditelinganya, begitu Kenzo akan berjalan melewatinya menuju Wewen, Zahira segera mencengkram lengannya. Mencoba menghentikan apapun yang akan dilakukan pria ini.
"Ini pilihanku, Aku yang meminta tolong. Aku bukan sengaja menemuinya! Kumohon kali ini... kali ini saja. Aku akan jelaskan nanti! " kata Zahira memohon, seumur-umur baru kali ini dia memohon kepada seseorang.
Kenzo meraih tangan yang tadi mencengkram lengannya dan mengangkatnya tepat didepan matanya. Melihat ada bekas memar akibat perkelahian. Zahira yang sadar apa yang dilihat Kenzo segera menarik tangannya.
Tampa berkata lagi ia meraih pergelangan tangan Zahira dan menariknya pergi menuju mobilnya.
"Dua pukulan sebagai hadiah. "
__ADS_1
Katanya sambil lalu.
Tidak lama terdengar erangan Wewen dan pekikan tertahan Dona. Zahira ingin menoleh tapi segera ditarik dan dimasukkan kedalam mobil. Dari dalam mobil Zahira bisa melihat Wewen sudah tersungkur menahan sakit. Zahira hanya bisa mengucapkan maaf didalam hati. Dia cukup lega Kenzo mau mendengarkannya dan tidak mencelakai Wewen.