
Zania berjalan dilorong rumah sakit, sebelah tangannya digenggam erat oleh Kenzo. Keduanya berhenti disebuah ruang rawat intensif. Kenzo dan Zahira masuk kedalam. Perawat menunjukkan ruang rawat khusus VIP yang memiliki ruang tunggu khusus. Karena pintunya transparan, mereka bisa melihat seorang pria yang tampak jauh lebih tua dari umurnya terbaring disana dengan segala alat medis terpasang ditubuhnya. Istrinya yang bernama Mutia menatapnya dengan sendu sambil menggenggam tangannya. Zahira mengeratkan genggamannya ditangan Kenzo. Dia seperti menahan semua gejolak emosinya. Ayahnya dalam kondisi kritis setelah tubuhnya tidak mampu lagi menahan efek racun dan mengalami serangan jantung juga kematian syaraf sementara. Sementara ibunya memgalami efek ringan seperti tremor, beberapa kali pingsan dan muntah. Namun karena perawatan yang baik dia berhasil melawan efek racunnya.
"Ayo pulang..." Kata Zahira, ia dengan cepat berbalik saat sang ibu menoleh kearah mereka. secepat kilat ia menarik tangan Kenzo untuk mengikutinya.
Sesampainya diluar, ia langsung berbalik dan memeluk Kenzo dengan erat. Menumpahkan semua emosinya dengan tangisan. Kenzo membalas pelukannya dan mengelus kepalanya. Beberapa pengunjung disana tampak tertarik melihat adegan mereka karena mengenali Kenzo. Selain itu Kenzo memang selalu menarik perhatian dimanapun ia berada karena parasnya dan karisma yang tidak bisa ditolak.
Kenzo yang mulai tidak nyaman dengan tatapan orang-orang melepaskan pelukannya dan langsung menggendong Zahira bridal. Zahira yang terkejut melebarkan matanya yang masih mengeluarkan air mata.
"Kita pulang, Kamu bisa terus menangis dan memelukku. Disini sama sekali tidak nyaman. " bisik Kenzo dengan senyum menawan. Hal yang baru pertama kali dilihat Zahira selama mengenalnya.
Zahira yang merasa sangat malu menyembunyikan wajahnya dan menggerutu pelan. Membuat Kenzo terkekeh gemas.
"Gadis tulang besi bisa juga malu? " godanya.
"Diamlah dan cepat jalan!" ketus Zahira meskipun nadanya lebih seperti sedang merajuk.
"Kenapa kamu jadi manis begini? " Kata Kenzo semakin menggodanya.
Zahira mengangkat kepalanya dan melayangkan tatapan kesalnya. Tidak sadar bahwa mereka sudah sampai parkiran dan supirnya sudah membukakan pintu.
"Kenapa? "
"Turunkan aku. " kata Zahira.
Kenzo mengangguk saja dan menurunkannya, namun bukan dilantai melainkan langsung memasukkannya kedalam mobil sebelum menyusul duduk disampingnya.
"Kapan kamu akan berani menemui mereka?"
Zahira tidak menjawab, dia membuang pandangannya keluar jendela mobil. Dia bukannya tidak ingin menjawab, bahkan dia sendiri tidak tahu jawabannya. Kapan ia memiliki keberanian menemui orang tua kandungnya.
"Kira-kira... kapan ayahku akan sadar? Bagaimana... bagaimana kalau dia pergi? Aku bahkan belum pernah berbicara padanya." Katanya dengan suara yang pelan, nyaris tak terdengar karena ia seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Kenzo menoleh padanya, dia mendengrnya namun tidak ingin menjawabnya. Dia tahu Zahira tidak membutuhkan jawaban dari pertanyaannya. Dia hanya ingin mengeluarkan isi hatinya. Dia membutuhkan orang yang mendengarnya tampa protes
"Kepemimpinan Adira dalam bahaya. Perusahaan ayahmu tidak memiliki seorang pemimpin. Ayahmu tidak pernah mwmiliki wakil. Semua pemilik saham memiliki kandidat masing-masing. Apa yang akan kamu lakukan? " Tanya Kenzo mengalihkan perhatian.
"Hmm... Lalu siapa kandidatmu? " Tanya Zahira acuh tak acuh.
"Pastinya bukan kamu meskipun kamu pewaris tunggal. Kamu akan tetap dalam jangkauanku." jawab Kenzo.
Zahira tertawa sinis.
"Kamu pikir aku berfikiran untuk mengambil kekuasaan? Aku tidak minat tenang saja. Sama tidak minatnya berada didalam jangkauanmu. " Jawab Zania dengan nada datar.
"Benarkah? Tidak tertarik padaku, Hmm??"
__ADS_1
Zahira menoleh padanya, menatap aneh wajah Kenzo yang tampak menyebalkan dengan aura penuh godaan untuknya.
"Jangan terlalu percaya diri tuan, Jadi siapa yang akan kamu letakkan disana menggantikan ayahku sementara? " Tanya Zahira kembali serius.
"Untuk saat ini aku tidak tahu, Sementara aku akan menyuruh Tomi memimpin."
"Siapa Tomi? " Tanya Zahira penasaran.
Kenzo kembali menoleh padanya dan menyeringai.
"Peliharaanku yang paling setia. Sedang berada dibawah bayang-bayang ayahku sebagai salah satu mata-mata."
Zahira kembali menatapnya, Mereka saling menatap dengan ekspresi yang berbeda. Zahira tidak menyangka bahwa hubungan Kenzo dengan ayahnya separah itu sampai menempatkan mata-mata diperusahaan ayahnya sendiri.
"Jangan berfikir macam-macam dengan otak kecilmu. " Kata Kenzo lalu menyentil keningnya. Membuat Zahira meringis sekaligus merengut sebal.
"Kamu jadi suka tampil imut didepanku. Mau kunikahi secepatnya ya? " Goda Kenzo.
"Dalam mimpimu! " sembur Zahira ketus.
Kenzo tertawa renyah, membuat Zahira terpaku pada wajah itu. Kenzo jarang tertawa, kalaupun tertawa selalu tertawa sinis penuh cibiran yang keluar dari mulutnya, bukan tawa murni karena memang merasa ada yang lucu.
Kenzo berhenti tertawa, dia menatap mata Zahira yang sedang mentapnya juga. Sebelah tangnnya terangkat dan membelai pipinya dengan lembut.
Suara sang supir menyadarkan keduanya. Zahira langsung merona parah dan cepat-cepat keluar. Berjalan cepat-cepat masuk kedalam lift menuju apartemennya. Kenzo menatap tajam sang supir yang tampak salah tingkah dihadapannya. Kenzo kesal karena dia mengganggu momen bahagianya.
.
Zahira termenung didepan balkon kamarnya. Dia sedang merenungi hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini. Rasanya baru kemarin dia masih bekerja dibutik kakak iparnya Kenzo. Tapi sekarang bahkan dia sudah menemukan orang tuanya. Semuanya karena seorang pria bernama Kenzo. Pria yang masuk kedalam kehidupannya dan mengubah segala pandangannya tentang dunia selama ini.
Segelas teh yang sudah mulai dingin ditangannya ditatap tampa minat lagi. Dia jadi teringat Wewen yang mungkin masih berkutat dengan Anton mengungkap kasus yang mereka kerjakan diam-diam. Padahal ia sudah berjanji akan membantu. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelah membawa Dona keluar dari dunia kelamnya, Kenzo selalu mengawasinya dan tidak akan membiarkannya berada pada situasi seperti itu lagi.
Memgingat pria itu, Zahira tersenyum sendiri. Selama ini ia adalah wanita yang paling keras kepala dan tidak suka diatur. Ibu pantinya dulu selalu memgeluh mengenai sifatnya yang sulit sekali diajak kerjasama. Tapi Kenzo sepertinya dengan mudah mematahkan pertahanannya selama ini. Sikap dingin dan cuek yang ia pertahankan karena tidak ingin terlihat lemah, sifat yang sebenarnya sudah mendarah daging itu dengan mudah dikalahkan dengan perintah otoriter dan seenaknya pria itu.
Zahira berbalik ketika suara ponselnya terdengar dari dalam kamarnya. Ia menghela nafasnya saat nama Kenzo tertera dilayar.
"Halo... "
"Kenapa kamu mengabaikan pesanku sedari tadi?"
Zahira mengernyit dan menjauhkan ponselnya untuk memeriksa berapa banyak notifikasi pesan yang masuk di layar paling atas ponselnya.
"Ah... maaf. Aku tidak memegang ponselku sedari tadi. Memangnya kenapa? dan kenapa bising sekali. Kamu dimana sih? "
"Sedang menunggu mangsaku. Aku hanya memastikan kamu tetap aman dirumah. Jangan keluar kecuali dengan sepengetahuanku dan dengan pengawalmu. "
__ADS_1
Zahira tidak menjawab. Sebenarnya dia memikirkan tentang kalimat pertama dari jawaban pria yang menelfonnya itu.
"Kenapa diam? "
Zahira menghela nafasnya, entah kenapa dia sedikit kesal.
"Kenapa aku harus memberitahumu kemana aku pergi sementara kamu tidak memberitahuku dimana kamu berada?!"
Tampa menunggu jawaban Kenzo dia mematikan sambungan dan melempar asal ponselnya diatas kasur. Memilih keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Ia lapar dan ingin memasak makan malamnya.
Sementara itu ditempat lain, disebuah acara pelelangan yang berubah menjadi baku hantam, Kenzo mengernyit memandang ponselnya dengan kesal.
"Berani sekali dia. Ck! "
Kenzo masih duduk tenang dikursinya ketika anak buahnya sedang membuat kekacauan didepannya. Sadam berdiri disudut ruangan yang minim cahaya mengawasi dengan diam sambil bermain game.
Dua anak buahnya mendorong seorang pria yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya sampai tersungkur dibawah kakinya. pria itu mendongak dan memandang Kenzo yang menatapnya dengan aura mengerikan.
"Katakan padaku, siapa lagi yang terlibat dalam bisnis kotormu? " Tanya Kenzo datar.
"Ti... tidak ada. Aku bermain sendiri. " jawab pria itu dengan gusar.
Kemudian teriakannya menggema diantara kesunyian yang tercipta setelah kerusuhan yang terjadi berhasil dihentikan. Kedua anak buah Kenzo tadi memijak kedua kakinya yang sedang tersungkur itu.
"Katakan atau kau kehilangan kedua kakimu. " desis Kenzo tidak sabaran.
"Aku... aku... tidak bisa. Mereka lebih mengerikan darimu. Mereka akan menghabisiku dan keluargaku. "
Kenzo menyeringai setan. Dia bangkit berdiri dan dengan santainya memijak kelima jari pria itu dengan sepatunya hingga terdengar bunyi teriakan kesakitan. Kenzo tidak berhenti, dia memindahkan kakinya kepergelangan tangan pria itu dan memijaknya dengan kuat.
"To.. tolong! Aku... aku akan katakan! Akan katakan! " ucap pria itu ditengah rasa sakitnya. kedua kakinya tidak bisa ia gerakkan dan kini sebelah tangannya terasa hancur.
Kenzo tersenyum mengerikan sebelum berjongkok, memandang keji mata yang sudah meneteskan air mata kesakitan itu, mencengkram rambutnya dan menjambaknya keras.
"Berani sekali kamu menggunakan namaku untuk bisnis kotormu. Sebutkan dua nama itu maka lehermu selamat. " ujar Kenzo.
"Ko... komisaris kepolisian Robi siagian dan jaksa Abigai. "
Mendengar itu Kenzo melirik Sadam yang sekarang berjalan kearahnya dengan masker dan kacamata untuk menutupi wajahnya.
"Lawanku lumayan juga. Bukankah akan jadi sangat mengasikkan? "
Ucapan itu ditujukan kepada Sadam yang mulai tampak tertarik. Mereka yang suka tantangan dan suka bermain-main tentu saja mendengar dua nama itu menjadi sangat tertarik. Mempermainkan orang dalam pemerintahan belum pernah mereka lakukan. Mereka pastinya dengan sangat semangat akan membongkar sedikit demi sedikit kebusukan mereka.
Sadam tersenyum senang sebelum pergi dari sana. Kenzo menyusulnya setelah menginjak sebelah tangan pria itu yang kembali berteriak. Meninggalkannya bersama orang-orangnya yang tentu saja akan membereskan kekacauan yang terjadi disana.
__ADS_1