Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Kehangatan kecil


__ADS_3

Pria tua yang sangat dihormati. Sangat dihargai dan tokoh yang namanya sangat berpengaruh dalam dunia politik di Indonesia. Selama ini dia berlindung dengan topeng kedermawanan dan kecintaan pada negara. Tidak ada yang tahu kecuali orang yang paling di percaya, bahwa dia hanyalah laki-laki tua yang penuh kotoran dalam hidupnya. Dia adalah sosok pedofil sesungguhnya. Predator gadis remaja dan mempengaruhi seluruh pria bejat dalam organisasi.


Namun, sepandai-pandainya seseorang menyimpan bangkai, suatu saat akan tercium juga. Sejauh apapun dia bersembunyi, akan ada masanya dia ditemukan.


Presiden sendiri bukanlah pedofil, dia hanya boneka partai yang harus melindungi nama mertuanya. Rasa frustasi menghinggapinya setiap hari saat ia tahu kebenarannya. Kebenaran dari busuknya organisasi Red wine yang sesungguhnya.


Ketua partai memiliki satu anak perempuan, melihat potensi seorang pria yang bisa ia atur sesuka hati, maka dia menjadikannya terikat penuh dengan menjadikannya menantu. Mau tidak mau dia harus melindungi nama keluarga mereka agar tidak tercemar.


Setelah di atur sedemikian rupa, dia menjadikan menantunya presiden. Dimana ilmu pemerintahan dan Ekonomi bukan keahliannya sama sekali. Jadi apapun keputusan mengenai negara yang besar ini, ketua partailah yang memutuskannya. Tentu saja berdasarkan untuk kepentingan mereka dan partai.


Peresiden tampak gusar, begitu juga dengan sang mertua yang memijit keningnya. Mereka sedang berada pada rumah pribadi milik presiden. Bersama sang istri yang mengetahui segala kebusukan ayahnya. Seorang istri sekaligus anak yang tidak bisa berbuat apapun.


"Bunuh dia" kata sang mertua.


Kedua suami istri itu melebarkan matanya. Sang anak menunduk dengan tangan terkepal sementara menantunya menatapnya.


"Ayah... kita harus memikirkan rencana matang. Kenzo tidaklah sama dengan ayahnya. Dia punya kekuatan sendiri."


"Maka dapatkan kelemahannya," sahutnya gusar.


Menantunya menggeleng lemah, "Dia melindunginya dengan baik. Istrinya tidak pernah terlihat lagi datang ke Adira. Ibunya juga tidak pernah terlihat."


"Sudah kamu coba ikuti?"


Menantunya mengangguk, "Orang kita dilumpuhkan oleh pasukan pengawalnya. Ingat mantan jendral yang anda perintahkan? bukankah mereka mengalahkannya dengan mudah?"


Prang!


Bunyi pot bunga menabrak dinding membuat menantunya meneguk ludah. Anaknya sudah gemetar ketakutan. Pak tua yang panik dan marah ini terlihat seperti anak yang tengah mainannya di ambil paksa.


"Temukan cara! dia memegang kelemahan kita! lakukan apapun untuk membunuh mereka!" bentaknya, lalu pergi dengan wajah merah padam.


"Pa... ap...apakah kalian akan seperti ini terus?" lirih sang ibu negara.


Suaminya menatapnya, dia juga frustasi. Semua rencananya terasa hancur begitu saja. Sejak awal, dia tidak ingin menjadi presiden. Dia hanya ingin sukses dan banyak uang. Dengan mengorbankan segalanya saat itu, dia menerima menjadi boneka sang mertua. Tapi kenyataan yang ia tahu setelah menikah membuatnya menyesali apa yang ia pilih.


Dengan wajah datar dia meninggalkan istrinya. Masuk ke dalam ruang kerjanya dan merenung disana. memikirkan langkah apa yang akan ia ambil.


.


Kenzo kembali ke markas, dia memeluk Zahira dengan erat. "Rindu sekali." suaranya teredam karena ia menenggelamkan kepalanya pada leher sang istri.


"Kamu baik-baik saja? apa ada yang terluka?" tanya Zahira setelah pelukannya di lepas.


Kenzo tersenyum dan mencium bibirnya penuh kasih sayang. Lalu berbaring dan menyandarkan kepalanya pada pangkuan sang istri.


"Aku oke, bagaimana dengan sikecil ini? apa dia mengganggumu?"


"Apa-apaan calon ayah ini? bagaimana bisa dia menuduh anakku? ckckckck!"


Lalu keduanya tertawa, Zahira mengelus rambut Kenzo dengan lembut. Dia juga rindu, tapi karena karakternya yang cuek, kerinduan itu tidak mengganggunya. Dia malah sibuk melihat-lihat seluruh isi tempat ini.


"Bagaimana Sadam?" tanya Zahira tiba-tiba. "Bukankah keluargamu juga dirumah sakit yang sama, apa masih belum ada tanda-tanda dia akan bangun?"


Kenzo baru teringat satu hal, karena dia baru menemui Zahira sejak misi penyelamatan itu, mereka memang jarang berkomunikasi karena Kenzo terlalu sibuk. Dipastikan dia lupa memberitahu Zahira tentang Sadam.


"Dimana Jey?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Ada bersama anak buahmu, sejak disini dia rajin ikut berlatih."


Kenzo bangun, dia mengusap lehernya lalu berdehem. Entah kenapa dia malah jadi gugup. Entah kemana identitas kejam dan dingin yang di sandangnya.


"Sayang... aku lupa." katanya. Zahira mengernyit sesaat, tahu ada sesuatu namun dia hanya menunggu Kenzo melanjutkan. "Sadam sudah sadar dua hari yang lalu, dia juga..." Kenzo mendongak saat Zahira bangun tiba-tiba. Menatapnya dengan wajah datar dan tangan terlipat.


"Oh... jadi tidak ada dari kalian yang ingat padaku. Bagus sekali, sementara dia sudah bangun, disini aku masih terus kawatir dan mendoakannya." Zahira menghembuskan nafas, menghilangkan kekesalannya, "Jadi dia juga ikut terlibat dalam misi kemarin?" lanjutnya dengan nada yang kembali tenang.


Kenzo bangkit dan memeluknya dengan senyum tipis di wajahnya. "Maaf, aku terlalu fokus pada masalah kemarin. Dia ada di pusat SS, kamu ingin kesana?"


"Aku boleh pergi?" tanya Zahira dengan nada sangsi.


"Tentu, denganku." Zahira terkekeh, dia sudah yakin Kenzo akan mengatakan hal itu.


"Ibu... ingin menjenguk kakak dan kakak iparmu. Bagaimana keadaan mereka? juga si kembar?"


Zahira ingat, terakhir kali bertemu sikembar dibrestoran, itu sudah lama sekali. Mereka tentu sudah bertambah besar.


"Semuanya sudah pulih, mereka hanya kurang asupan. Saat ini masih di jaga ketat di dalam rumah sakit."


"Banyak yang bertanya-tanya di media sosial, meskipun pemerintah berusaha menekan media, tapi mereka tidak bisa menekan pengguna sosial media. Banyak yang membahas kasus Red wine. Juga banyak yang mencurigai kamu karena nama ayahmu ada dalam daftar itu."


"Tidak masalah, perkataan mereka tidak akan berpengaruh apapun. Netizen hanyalah penonton, apa yang mereka tahu dari selembar kertas?"


Zahira mengangguk, setuju pada kalimat dengan makna ganda yang dikatakan suaminya.


.


Seluruh anggota yang terluka perlahan membaik. Meskipun masih dalam pemulihan. Mereka tetap memantau latihan anak-anak baru yang berjumlah 5 orang. Sengaja di siapkan oleh Endru karena permintaan Kenzo.


Ibu Kenzo dan Zahira memaksa ikut saat mereka akan ke rumah sakit. Namun Kenzo tidak mengizinkan mereka. Terlalu banyak yang dilindungi di perjalanan bisa membuat pertahanan menjadi lemah.


"Ibu, ini bukan hal yang bisa diperdebatkan. Saya mohon, mengertilah. Mereka akan pulang hari ini, setelah proses pemindahan, kita akan berkumpul dalam satu rumah. Itu akan mudah bagiku melindungi kalian. Hanya tunggu sampai sore ini."


"Sore ini?" ulang ibunya.


"Hmm, sore ini." jawab Kenzo. Dia terpaksa mengambil langkah ini karena tidak tega melihat ibunya. Selain itu, memang akan sulit jika mereka terpisah.


.


Kenzo dan Zahira sampai pada pusat SS guard. Dua tim berjaga diluar. Sementara satu tim menjadi bayangan. Memastikan Zahira aman lebih utama bagi Kenzo dari pada keluarganya di rumah sakit. Hal yang ironis jika dilihat dari mata orang luar. Karena dia hanya menempatkan satu tim untuk menjaga keluarganya dirumah sakit. Lagi pula keadaan rumah sakit yang ramai akan membuat musuh mereka berpikir dua kali jika ingin membuat keributan di rumah sakit. Hal itulah yang mendasari keputusan Kenzo ditengah banyaknya anak buahnya yang terluka.


"Huh?" Sadam memutar kursi rodanya. "Kalian datang?" sambut Sadam, tersenyum lebar pada Zahira yang menatapnya tajam. Namun lama-lama senyumnya hilang saat Zahira berjalan mendekat dengan wajah datarnya.


"Za...? yak jangan memukul... aw kenapa...aw aw aw iya iya maaf! maaf oke! maafkan aku."


Zahira berhenti memukul bahu dan menyentil keningnya setelah dia meminta maaf. Lalu dia kembali pada suaminya sambil mengelus perutnya. Entah kenapa setelah begitu aktif membuat perutnya sedikit kram.


"Kamu oke? kenapa? apa sakit?" tanya Kenzo bertubi-tubi.


Zahira menatap Kenzo yang kini berlutut di depannya, tangan besar itu mengelus perutnya dengan lembut. Memberikan kenyamanan sehingga dia merasa lebih baik.


"Aku rasa dia hanya menginginkan sentuhanmu, itu menjadi lebih baik sekarang." kata Zahira.


Kenzo mencium perut Zahira yang masih terlihat datar itu. Meskipun tahu bukan sentuhannya yang membuat istrinya menjadi lebih baik. Kenzo tetap melakukan hal seperti berinteraksi dengan calon anaknya. Karena emosi terkadang mempengaruhi kehamilan, Kenzo yang disela-sela kesibukannya membaca apapun mengenai kehamilan, memahami bahwa saat ini anaknya belum memiliki nyawa. Dia masih berupa seonggok daging. Tapi dia akan bersikap seoalah anaknya sudah bisa mendengarnya.


"Katakan kalau dia nakal, ayahnya akan datang membujuknya." kata Kenzo lembut, dia berdiri dan memeluk Zahira.

__ADS_1


"Ehem!" suara itu cukup keras untuk membuat pelukan mereka terurai. "Aku masih jomblo omong-omong. Bisakah kalian memahami perasaanku yang sedang cemburu ini?" protes Sadam. "Jadi..." dia bangun dan berjalan dengan normal, membuat Kenzo terkejut karena dia pikir Sadam masih lemah pasca bangun dari koma. "Ada keponakan di dalam sana?" tunjuk Sadam kearah perut Zahira.


"Ya, kami tahu saat kamu masih koma." jawab Zahira.


"Kalau begitu kita impas, kamu juga merahasiakan itu dariku."


"Apaan! aku kan tidak tahu kamu sudah sadar."


"Tetap saja, suamimu harusnya memberi tahuku. Aku akan jadi walinya, dia akan menjadikan dia penerusku."


"Penerusmu? enak saja, dia anakku. Dia akan menjadi penerusku di Adira."


"Adira katamu? aku akan membuat Adira bangkrut sehingga tidak perlu ada penerus!"


"Coba saja, aku akan mematahkan kakimu. Pergi cari gadis baik dan menikah. Dasar jomblo tua!"


"Jomlo tua katamu! Heh! aku katakan ya, aku tak akan menikah. Kalianlah yang harus membuat anak untukku."


"Kamu pikir kami pabrik anak!"


Kenzo menghela nafas, bagaimana bisa mereka membahas anak yang bahkan belum lahir. Selain itu, dia menjadi bingung akan perubahan mendadak istrinya. Sejak kapan dia mau meladeni dan ikut kekanakan begini? ternyata bawaan hamil itu sangat unik.


"Berhenti... apa kalian melupakan aku?" kata Kenzo dengan aura tak ingin dibantah. Dia menatap keduanya dengan serius.


"Aku akan memukulmu kalau kamu masih ingin merebut anakku!" ancam Zahira lalu memeluk lengan Kenzo.


Sadam sudah akan membalas tapi berhenti karena tatapan Kenzo yang sarat akan perintah.


"Jadi, apa yang kamu dapatkan sejak kemarin?" tanya Kenzo, perkataannya merubah suasana hangat tadi menjadi lebih serius dan dingin.


Sadam kembali duduk di kursi roda, seolah itu adalah kursi kesukaannya sekarang. Dia memerintahkan SS untuk menunjukkan rekaman rapat mereka dan apa yang mereka sedang kerjakan. Semua rekaman kebusukan mereka diputar secara bergantian.


"Kamu mencoba memoprovokasi mereka lagi?" tanya Kenzo.


Sadam hanya tersenyum, dia lalu memutar kursi rodanya kembali menghadap Kenzo. "Apa rencanamu?" tanyanya.


"Saat ini memindahkan seluruh keluargaku pada satu atap. Endru sedang mencari rumah yang cocok. Kita semua akan pindah kesana."


"Kenapa tidak kerumah orangtuaku saja?" tanya Zahira.


Kenzo mengelus kepalanya, "Tidak muat sayang, kita butuh rumah yang lebih besar. Kamar yang lebih banyak untuk menampung semua anggotaku juga. Kita butuh setidaknya mension dengan puluhan kamar."


"Aku akan tetap..."


"Terutama kamu, sampai keadaan aman, kamu akan berada disana juga. Keamananmu akan setingkat dengan Zahira, kamu lihat sendiri mereka menginginkan kematianmu." potong Sadam.


"Ah...rasanya aku ingin jadi target mereka terus agar kamu memperlakukan aku sebagai raja."


Perkatannya itu mendapat hadiah bentuk kasih sayang dari Kenzo. Di memukul belakang kepala Sadam pelan sebagai bentuk protes.


"Jangan bercanda mengenai nyawamu. Kamu sendiri yang bilang akan jadi wali anakku. Jadi tetaplah hidup sampai tua." kata Kenzo.


"Hmm, kamu juga harus menikah dan punya anak." tambah Zahira.


Sadam tertawa pelan, entah kenapa matanya terasa panas. Dia bangkit lalu memeluk Kenzo dengan erat. Kenzo yang memahaminya menepuk-nepuk pelan punggungnya. Dia tahu Sadam memeluknya hanya untuk menyembunyikan air matanya.


"Dasar cengeng!" ejek Kenzo.

__ADS_1


Mereka berakhir tertawa bersama. Terasa begitu hangat karena selama beberapa waktu terakhir selalu sangat serius dan nyaris tampa tawa.


__ADS_2