
Dursley menonton vidio yang didapatkan oleh asistennya. Terlihat tidak senang dengan apa yang ada disana. Selain itu, dia jadi teringat penyerangan saat mereka sedang melakukan transaksi kali lalu.
"Bom asap itu ... apa ulahnya?" gumamnya.
Tampaknya Dursley salah mengira, bahwa bukti tentang mereka, dia dan prakoso ada di tangan musuh yang tak akan pernah disangkanya.
"Jadi, di persidangan Muzakir selanjutnya mereka akan mengungkap bukti ini? Jaksa Gunawan?"
Asistennya hanya diam saja. Memperhatikan tuannya yang tampak berpikir keras. Bukti penting yang ada di tangannya, ternyata belum ia berikan pada Dursley.
"Kamu sudah menemukan dimana Muzakir?" tanya Dursley.
"Belum Tuan, tapi jika kita tidak menemukannya. Kemungkinan besar hanya dua orang yang mungkin menangkapnya."
"Benar, kalau bukan ditangan presiden, itu pasti Kenzo."
"Jika itu di tangan presiden, akan lebih mudah karena kita punya akses. Tapi kalau itu Kenzo ... anda harus memikirkan rencananya Tuan. Kenzo itu ...." Dursley menoleh, menatap asistennya yang tampak sangat aneh saat ini.
"Kenapa denganmu?"
Asistennya meliriknya sekilas lalu tersenyum. "Anda selama ini sangat tertarik padanya. Anda tahu yang saya maksud Tuan, Kenzo terlalu menarik untuk diungkap. Mengungkapkan dia kepermukaan akan memberi kepuasan tersendiri." jawabnya. Ada kilat ketidak sukaan dimatanya namun Dursley tidak menyadari itu.
"Heh! Kamu pikir semudah itu? Kenzo itu tidak bodoh dan lemah seperti ayahnya. Apalagi dengan Sadam di sisinya. Anak sialan itu selalu membuat susah kita."
"Anda benar, Sadam ini seperti bom waktu. Saya yakin dia masih punya banyak bukti ditangannya. Karena itu anda tidak menyerangnya bukan?"
"Sayangnya Prakoso tidak tahu itu."
Keduanya bertukar pandang sebelum tersenyum tipis satu sama lain. Seperti menemukan ide untuk keuntungan mereka sendiri.
.
Jaksa yang menyadari telah kehilangan dua bukti meremas rambutnya dengan frustasi. Dia memeriksa seluruh cctv di dalam rumahnya namun tidak jelas siapa pelakunya. Hanya bayangan gelap yang tertangkap di pintu depan. Orang yang mengambilnya dengan mudah menghindari kamera pengawas.
Dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Presiden. "Semoga dia punya salinannya." harapnya.
Sementara itu, Presiden yang baru saja akan berangkat ke luar kota menerima pesan itu. Tangannya menggenggam erat ponselnya hingga kukunya memutih. Namun sebisa mungkin dia mengendalikan ekspresinya.
Lalu, selang berapa lama dari pesan pertama. Ia kembali menerima pesan. Kali ini dari mertuanya. Sebuah kalimat ancaman yang membuat dia lebih kawatir lagi.
'Sadari posisimu kalau masih ingin tidur nyenyak.'
Kalimat itu jelas menunjukkan bahwa mertuanya tahu rencananya. "Bagaimana mungkin dia tahu?" bisiknya pada diri sendiri.
__ADS_1
Pemberitaan sejauh ini hanya dipenuhi oleh kasus Muzakir dan dugaan siapa saja yang terlibat. Sejenak presiden merenung, berpikir mengenai masa lalu dan masa depan yang akan ia hadapi. Bahkan dirinya kehilangan kepercayaan diri setelah merasa hanya bisa sejauh ini. Meskipun dengan jabatan orang nomor satu, faktanya ia hanya boneka. Orang nomor satu sesungguhnya adalah mertuanya.
.
Kenzo menemui Muzakir. Hari ini adalah jadwal sidangnya kembali. Namun karena dia menghilang, pengadilan menunda sidangnya. Tentu saja Kenzo tidak mau menunggu. Dia ingin semuanya berada pada tempat yang seharusnya. Maka disinilah dia sekarang, menemui Muzakir untuk menjalankan rencananya.
"Tidur nyenyak, Muzakir?" ejeknya kala pengawal menyeretnya keluar. Memasukkannya ke dalam suatu ruangan yang mirip dengan penjara.
"Ganti bajunya," suruh Kenzo.
Seseorang melempar baju padanya. Muzakir dengan ketakutan memakainya. Matanya menelusuri seluruh ruangan. Dimana ada kamera cctv, juga ada satu kamera perekam di hadapannya.
"Hubungi pengacaramu, katakan padanya untuk tetap melakukan sidang hari ini."
Endru memberikan sebuah ponsel dimana hanya ada satu nomor disana. Nomor pengacara Muzakir.
"Ka ... kamu akan membebaskan aku?"
Kenzo tersenyum dengan wajah datarnya, membuat bulu kuduk Muzakir merinding. Dia segera menelfon pengacaranya. Takut kalau-kalau kepalanya ditembak jika dia banyak bertanya.
"Halo, ini aku." Terdengar sahutan dari seberang, mata Muzakir bergerak menatap sepatu Kenzo, "Jangan banyak bertanya dulu, katakan pada hakim bahwa sidangku tidak perlu ditunda. Aku akan menyerahkan diri."
Ponsel di ambil paksa oleh Endru dan sambungan dimatikan.
"Ta ... tapi tidak ada bu ... bukti tentang transaksi itu." jawab Muzakir dengan gugup.
"Hanya lakukan yang aku perintahkan, Muzakir." desis Kenzo. Dengan cepat berbalik sebelum mengangguk pada Endru.
Endru dan sejumlah anggotanya akan mengawal Muzakir kembali ke dalam penjara. Tentunya hal ini sudah dipikirkan matang-matang. Melakukan penyamaran sebagai anggota polisi dan bekerja sama dengan polisi yang sudah dibayar. Anggota yang merupakan teman Endru dulu.
.
Kenzo kembali ke perusahaan bersama Gana, dengan cepat menuju ruang bawah tanah SS guard. Sadam yang sejak tadi ada di sana tersenyum menyambutnya.
"Kamu sudah sampai," sapa Sadam sekedarnya.
Kenzo tidak menjawab, dia fokus pada ponselnya. Membalas chat istrinya. Sesekali ia tersenyum dan terkekeh ringan. Membuat Sadam mencibir dan mengejeknya tampa suara.
"Muzakir sial sekali, bahkan pengacaranya. Orang ini benar-benar lintah tak tahu diri." gerutu Sadam, mengarah pada si pengacara.
Kenzo mengangkat kepalanya, memasukkan ponselnya dan fokus pada layar. "Apa yang terjadi?" tanyanya. Dia masih memproses apa yang di lihatnya.
"Apa lagi, pengacara itu berhianat. Aku baru saja meretas ponselnya dan lihat, dia mengirim pesan pada presiden."
__ADS_1
Kenzo tersenyum, "Simpan itu, ungkap saat-saat diperlukan." katanya. Dia menarik kursi lalu duduk dengan posisi santai. Seolah sebentar lagi akan menyaksikan pertunjukkan film.
Ponselnya bergetar, nama Endru berada pada panggilan. Dia segera memasang earphone dan mulai tersambung dengan seluruh anggita Tim yang menyamar disana.
"Masuklah lewat belakang, hindari banyak kontak dengan polisi."
Sadam meretas cctv ruang sidang. Dimana beberapa hakim dan jaksa sudah hadir. Termasuk jaksa Gunawan selaku penuntut umum. Pengacara Muzakir juga tampak masuk ke dalam ruangan. Jelas mereka terlihat terburu-buru karena semua berpikir akan ditunda karena selama ini Muzakir menghilang. Mereka tidak menyangka bahwa dia akan menyerahkan diri sendiri.
"Tampaknya beberapa dari mereka sudah mengira dia mati." celetuk Sadam.
"Sepertinya begitu." sahut Kenzo.
Beberapa menit berlalu, Endru menginformasikan bahwa mereka berhasil masuk dan akan segera menuju ruang sidang. Ketika Muzakir masuk, semua tampak tegang. Tuntutan mulai di bacakan seiring kasusnya yang berkembang.
Muzakir melirik Endru yang menatapnya datar. Lalu dengan penuh keyakinan dia mulai berbicara, memotong kala pengacaranya mulai melakukan pembelaan.
"Kasus ini ... bukan hanya aku dan Red wine. Anggota yang terlibat lebih dari itu. Tahun lalu, aku memiliki bukti bahwa kami melakukan transaksi gadis dibawah umur dengan orang yang sangat berpengaruh."
Semua tampak terkejut, kasus ini bukan hanya perdagangan senjata ilegal namun juga perdagangan manusia. Bahkan hakim yang sepertinya sudah dibayar tidak berkutik.
"Terdakwa, atas dasar apa anda mengatakan hal itu?" tanya hakim.
Ditempat lain, Sadam menyeringai. Dia jelas sudah menyiapkannya. Maka, dengan sekali enter, layar besar yang berada di ruang persidangan menyala. Memutar Vidio bagaimana Sadam saat itu merekam tindakan tidak senonoh Prakoso, Muzakir dan juga perwakilan ayah Kenzo.
Bukan hanya itu, Chat antara mereka juga di tunjukkan disana. Data korban, bukti transaksi dan nomor rekening pengirim dan penerima. Lalu, salah satu anggota tim Endru masuk dan menyerahkan beberapa berkas asli dari bukti itu. Termasuk flasdist berisi vidio.
"Ah ... jadi penasaran reaksi Prakoso. Aku harap dia senang. Dengan begini, kejaksaan tinggi akan mendata seluruh harta kekayaan, bukti tindak kejahatannya selama ini. Orang yang paling berpengaruh dalam pemerintahan ternyata hanyalah seorang pedofil sialan!" kata Sadam dengan wajah puas.
"Ini belum selesai, Presiden yang terhormat sama sekali tidak terlibat. Tidak ada namanya dalam transaksi." respon Kenzo.
"Tentu saja, namanya memang dijaga agar bersih karena dia seorang presiden. Tapi kita tahu dimana celah untuk menjatuhkannya."
"Meski itu benar, tapi tidak ada saksi selain Jey, juga tidak ada bukti kecuali kesaksian Jey bahwa ayahnya yang membunuh ibunya."
Keduanya saling bertukar pandang. Sama-sama berpikir untuk solusi kedepannya.
"Endru, sudah aman meninggalkan Muzakir. Hanya suruh mata-mata kita disana mengawasinya. Tugas kalian selesai, tarik mundur seluruh anggota tim." perintah Kenzo sebelum memutus sambungan.
"Kamu akan tetap disini?" tanya Kenzo.
"Aku lapar, ingin pulang. Aku bisa melanjutkannya dikamarku. Meskipun tidak efisien, tapi disana nyaman."
"Terserah!"
__ADS_1
Kenzo keluar duluan dan disambut oleh Gana dan Timnya. Setelah Sadam menyusul, mereka berjalan ke arah yang berbeda. Kenzo menuju kantornya dan Sadam pulang kerumah. Melanjutkan pengintaiannya. Sementara itu, Kenzo akan lembur karena berkas menumpuk yang perlu dia tanda tangani.