
Jimi tidak berhasil membawa Zahira saat itu, tentu saja ia mendapatkan amukan dari atasannya. Kenzo tidak ingin mengambil resiko meninggalkan kantor sampai Sadam benar-benar pulih. Meskipun ia beberapa kali menyembunyikan Sadam di dalam ruang rahasianya saat rapat, tetap saja ia memiliki kekawatiran jika pertahanannya di bobol. Karena menurut laporan orang-orangnya, tidak sedikit orang-orang Dursley atau ayahnya berkeliaran di sekitar perusahaannya. Bahkan selama empat hari ini ia tidur di dalam kantornya.
Sadam sendiri sudah bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, ia sudah bisa berjalan sendirian ke kamar mandi. Impusnya juga sudah di cabut. Hanya saja dokter Yuan menyarankannya untuk tetap istirahat dalam tiga hari ke depan untuk memulihkan kondisinya.
Sudah empat hari juga Zahira tidak menemui Kenzo. Sejak masalah perusahaannya diselesaikan Kenzo, Zahira enggan untuk bertemu. Meskipun ia sangat rindu, ada ego yang besar karena kemarahannya. Ia juga kecewa pada dirinya sendiri yang tidak becus menyelesaikan masalah kecil seperti itu sehingga Kenzo segera turun tangan. Ada kehilangan kepercayaan diri yang besar dalam dirinya. Tomi yang melihat Zahira tidak seperti dia yang biasanya empat hari ini ikut kawatir. Dia rutin melaporkan keadaan Zahira saat di kantor ke pada Kenzo. Dimana Zahira lebih banyak diam dari biasanya.
Kenzo tahu ada yang salah dengan kekasihnya. Namun untuk saat ini ia lebih memilih fokus ke pada pengamanan Sadam terlebih dahulu. Ia juga tidak tahan dengan keadaan ini namun ia memilih untuk membiarkan terlebih dahulu. Bahkan semua pesan dan panggilannya tidak pernah di jawab. Kenzo merasa frustasi namun tak bisa melakukn apa-apa. Zahira bukan wanita yang gampang di hadapi.
Zahira sedang makan siang dengan Tomi saat beberapa laki-laki masuk dan duduk di sekitar mereka. Melihat gerak-gerik mereka Zahira sudah hapal mereka bukanlah orang baik-baik. Para pengawalnya tentu saja tidak tinggal diam. Mereka mengelilingi meja Zahira dan Tomi dengan gerakan ringan agar tak menarik pengunjung restoran yang lain.
"Lanjutkan saja makan anda Nona, kami akan menjaga anda," kata pemimpin pengwalnya.
Zahira tentu saja mulai tidak berselera. Ia menatap Tomi yang tampak sedang mengetik pesan. Zahira tahu apa yang sedang ia lakukan namun membiarkannya. Apalagi kalau bukan memberitahu atasan aslinya.
"Tuan Kenzo sedang dalam perjalanan kemari," gumamnya.
"Dia harus menjaga Sadam, bisa jadi ini hanya pengalihan," jawab Zahira.
"Itu bisa jadi, tentu saja tuan sudah memprediksinya Nona, karena itu tuan Sadam ikut bersamanya dan di jaga ketat di dalam mobil."
Zahira melirik pemimpin pengawalnya yang tadi menjawabnya. Suasana cukup tegang di sana apalagi para pengunjung sudah melihat-lihat mereka dengan aneh.
"Ayo pergi," kata Zahira.
Saat ia bangkit, seluruh orang yang tadi duduk di dekat mereka juga bangkit. Zahira melirik kanan dan kirinya dengan waspada. Ada banyak anak-anak dan orang tua di sekitar mereka. Zahira tidak bisa membuat kekacauan disini. Maka dengan tenang ia kembali duduk. Dengan begitu semua laki-laki tadi kembali duduk. Jumlah mereka tentu saja lebih banyak dua kali lipat dari jumlah pengawalnya. Namun bukan itu masalahnya, Zahira tidak bisa menghancurkan tempat usaha orang lain dan membahayakan pengunjung disini.
Ponselnya bergetar, ia melirik si penelpon. Kenzo menghubunginya. Merutuk dalam hati karena dalam kondisi saat ini ia tidak bisa mengabaikannya.
__ADS_1
"Berdiri."
Zahira menoleh ke samping kanannya di mana arah pintu keluar berada. Dapat ia lihat Kenzo sudah berdiri di luar pintu. Zahira berdiri, namun kali ini mereka tidak mengikutinya. Tomi ikut berdiri di depan Zahira, secara otomatis seluruh pengawalnya berada di kiri, kanan dan belakangnya sebagai tameng.
Saat ia mulai berjalan atas panduan Tomi, barulah mereka mulai bergerak, tampa aba-aba langsung menyerang mereka membabi buta. Bangku-bangku terlempar dan jeritan pengunjung yang berlari keluar memenuhi restoran itu.
Tomi dan para pengawalnya sudah terpecah, saat perhatiannya teralih pada ibu hamil di pojok Zahira terkena sayatan pisau di lengan kirinya. Ia meringis dan melayangkan tendangan ke perut penyerangnya. Seorang lelaki membekapnya dari belakang dan berusaha menyuntikkan sesuatu ke lehernya sebelum tangan kekar seseorang mencengkram tangan lelaki itu dan memelintirnya sehingga Zahira terlepas.
Zahira bisa melihat Kenzo dengan wajah murka menghajar lelaki itu dan berakhir melemparnya dengab kursi. Sirinai polisi terdengar dari jauh, mendengar itu penyerang mereka yang masih bisa berdiri segera berlari. Namun orang-orang Kenzo segera menangkap mereka dan mengumpulkannya dalam satu lingkaran.
"Tom ... urus mereka dan para polisi yang akan datang," perintah Kenzo sebelum memapah Zahira yang tangannya sudah di lilit dengan jas miliknya.
Sesampainya di pintu restoran Kenzo di kejutkan dengan orang-orang yang harusnya menjaga Sadam terlihat luka-luka bekas perkelahian. Dengan cepat ia memapah Zahira ke mobil dan menatap salah satu yang bertanggung jawab di antara mereka.
"Kami di serang oleh beberapa orang yang datang entah dari mana, mereka berusaha membuka mobil__"
Kata-kata pengawal itu terputus saat pintu mobil menjeblak terbuka. Kepala Sadam muncul dari sana dengan kerlingan jenakanya. Tentu saja hal itu membuat Kenzo lega, wajah tegangnya segera melunak.
"Zero 1!" kata Kenzo dingin menatap kaca spion dimana ada pantulan wajah pengawalnya di sana.
Pengawal itu tampak menyalakan alat komunikasi di telinganya dan mengulang apa yang di sebutkan oleh Kenzo. Zahira tidak mengerti, namun ia memilih diam. Perih di tangannya membuat ia malas berfikir. Bahkan Sadam tampak bingung dengan kode yang di ucapkan Kenzo.
Dalam waktu 30 menit, mereka sampai di sebuah wilayah yang sedikit terisolasi dari kota. Sebuah tempat yang di kelilingi pagar beton tinggi. Zahira bahkan tidak tahu di mana ujungnya karena melingkar ke belakang sepanjang jauh mata memandang.
Salah seorang pengawal di mobil depan keluar dan seperti menekan kode pada pintu. Pintu pagar beton terbuka perlahan, mereka semua masuk ke dalam. Saat pintu kembali tertutup, barulah Zahira menyadari mereka memasuki kawasan yang terlihat seperti area latihan bagi tentara. Bahkan ada beberapa yang sedang latihan memanah dan menembak.
Mobil berhenti di di depan sebuah bangunan mewah berbentuk piramida yang terdiri dari dua lantai. Ketika memasukinya, mereka langsung di sambut dengan berbagai arena latihan seni bela diri. Tentu saja Zahira sangat takjub, dia bahkan melupakan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Tempat apa ini? kenapa aku tidak pernah tahu?" ujar Sadam dengan wajah penasarannya.
"Tempatnya sudah di siapkan Tuan,"
Ketiganya menoleh saat seseorang datang dengan pakaian latihannya, menunduk memberi hormat kepada Kenzo.
"Bawa dokter Bram ke ruanganku, milikku terluka," datar dan dingin.
Orang itu menunduk dan segera pergi melaksanakan perintah. Para pengawal mereka yang tadi ikut bersama sudah berpencar. Hanya pemimpin pengawal yang biasa mengawasi Zahira yang mengikuti mereka ketika Kenzo membawa semuanya menunu lif dan turun ke lantai bawah.
Baru saja Zahira terkesima dengan apa yang ia lihat di atas tadi, ia kembali di kejutkan dengan apa yang ia lihat saat menyadari bahwa mereka berada di bawah tanah dengan bangunan luas berlapis-lapis. Tiap lantai memiliki satu lingkaran kosong di tengan dimana mereka bisa melihat ujung kedalaman bangunan ini.
Kenzo membimbing Zahira masuk ke dalam suatu ruangan yang seperti klinik. Mendudukkannya di kasur pasien dan mulai melepaskan lilitan jasnya, tepat saat seorang pria tua berpakaian dokter masuk.
"Obati dia dan jahit lukanya,"
dr.Bram segera melakukan perintahnya dalam diam. Tidak ingin banyak bicara karena ia sudah paham mengapa tuannya kesini dengan membawa seseorang yang terluka.
"Ini tempat apa?"
Akhirnya sadam bersuara, menanyakan pertanyaan yang juga ingin di katakan Zahira sedari tadi.
"Pusat SS Guard yang sebenarnya," jawab Kenzo singkat.
Keduanya melempar pandang penuh tanya kepada Kenzo.
"Jika di gedung perusahaanku adalah program otak robotnya, maka di sini adalah otak manusianya. Di sinilah orang-orangku di latih, mereka yang terpilih, ratusan orangku yang setia."
__ADS_1
Maka ketika dokter Bram sudah selesai dengan luka di lengan Zahira dan pengawal meninggalkan mereka bertiga, barulah Sadam terkekeh dengan wajah yang sulit di jabarkan. Antara takjub dan juga marah.
"Lihat, kan?" katanya pada Zahira yang juga menatapnya, "Dia punya banyak kaki, SIALAN!" umpat Sadam di akhir kalimatnya. Menatap Kenzo seakan ia ingin memukulnya.