Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Pilihan


__ADS_3

Kenzo menatap Dursley dengan pandangan menyala, matanya sudah memerah karena amarah tertahan. Zahira melirik moncong senjata itu dengan sinis lalu terkekeh pelan. Dursley yang tidak menyangka reaksi Zahira yang tidak menunjukkan ketakutan sama sekali mengernyit heran. Begitu juga semua orang di sana kecuali Kenzo yang sudah mengutuk dalam hati karena dia bisa menebak apa yang akan dikatakan Zahira.


"Gadis yang malang," kata Zahira, menatap Dursley remeh. "Anakmu," lanjutnya dengan seringaian sinis.


"Aku bahkan tidak tertarik menjalin hubungan dengan calon menantu idamanmu, sayangnya ... dia yang memaksaku, aku bisa apa? jadi ancamanmu tidak berguna bagiku," kata Zahira, saat perhatian Dursley terganggu sesaat itulah Zahira melakukan serangan balik dimana dia memelintir tangannya ke belakang dan mengarahkan pistol yang sudah direbutnya ke kepala pria tua itu.


Semua anak buahnya langsung panik. Tidak bisa menyerang saat Zahira langsung menarik pelatuk.


"Harusnya kalau sudah bau tanah anda banyak beribadah dan berbuat baik, bukan malah mengancam seperti pengecut begini__" Zahira menendang Dursley hingga tersungkur dan menembak kakinya.


"Za!" jerit ibunya, menyeruak diantara bodyguarnya.


"Sebaiknya pergi dari sini sebelum dia melubangi kepalamu," ucap Kenzo remeh, Zahira masih menatap Dursley dan mengarahkan senjata ke padanya.


"Wanita sialan!" lirih Dursley yang berusaha bangkit di bantu beberapa pengawalnya.


"Ayo pergi dari sini," katanya kepada anak buahnya.


.


Kini setelah keadaan seperti semula, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Semuanya menatap Zahira dengan pandangan bertanya-tanya.


"Dari mana kamu belajar menembak?" tanya ibu Zahira.


"Tidak pernah," sahutnya singkat.


"Tidak ada catatan dia pernah belajar menembak, dia hanya belajar beberapa ilmu bela diri," kata Kenzo.


"Lalu tadi apa?" lanjut ibunya masih sangsi.


"Ibu ... jangan terlalu kawatir. Za tidak terlibat dengan geng manapun, Ok."


"Apa detektif itu yang mengajarimu?" tuduh Kenzo yang langsung mendapatkan decakan malas dari Zahira.


"Sama sekali tidak, tadi pertama kali aku memegang senjata. Kalau tembakanku tidak meleset artinya aku beruntung. Lagi pula masalahnya bukan hal itu, siapa Dursley itu? kenapa dia sangat menginginkanmu? kalau begitu pergi saja padanya jangan melibatkan aku ... dia hampir saja melubangi kepalaku," kata Zahira panjang lebar. Tidak peduli pada perubahan raut wajah Kenzo yang mulai tidak enak.


"Aku tidak tahu apa tujuannya, selain menjodohkanku dengan anaknya," kata Kenzo dengan nada kesal.


"Itu hanya alat, dia tidak punya anak laki-laki sebagai penerus. Ibu pikir dia ingin menjadikanmu penerus kepemimpinan organisasinya. Dia tidak ada bedanya dengan mafia. Ibu bisa lihat dia sangat tertarik padamu, dia ingin kamu menjadi seperti ayah dan kakakmu,"


"Lutfi ... Lutfi ikut organisasi itu juga?" itu adalah ibu Zahira yang bertanya.


"Hmm, Kak Lutfi tidak punya pilihan saat istri dan anaknya terancam. Dia terlalu takut untuk melawan, bagaimanapun ... saya harus menemui ayah dan bicara padanya. Saya harus tahu langkah mereka," kata Kenzo dan bangkit berdiri.


"Bagaimana Sadam?" Zahira ikut bangkit. Kenzo menatapnya kesal.


"Kenapa kamu kawatir sekali, kamu menyukainya?" Jika tidak ingat kedua ibu mereka ada di sana. Zahira sudah ingin mengucapkan kalimat kasar padanya.

__ADS_1


"Jawab saja ... jangan mengajakku berdebat," kata Zahira datar. Kenzo mendengus kasar, jelas sekali tidak suka.


"Tomi sudah membawanya ke rumah sakit,"


"Rumah sakit mana?"


"Jangan coba-coba menjenguknya!"


Zahira berdecak remeh.


"Berikan aku nomor Tomi kalau begitu," pinta Zahira tegas.


"Kamu ... benar-benar tidak mau mendengarkanku?" Kenzo mengatakannya dengan nada rendahnya, jelas sekali sudah semakin emosi.


Zahira menatapnya datar, dia sudah bisa melihat ke mana arah ini akan berakhir karena itu kali ini dia memilih melawan egoisme pria yang kini sudah berdiri di hadapannya.


"Aku bukan tahananmu, aku bukan kekasihmu, kita tidak pernah membicarakan apapun kecuali kamu yang selalu memutuskan sepihak. Aku mungkin mulai tertarik dan simpati setelah kamu menarikku ke dalam kehidupanmu. Tapi bukan bearti aku mencintaimu. Aku ... belum merasakan apapun. Aku ... tidak suka lagi masuk ke kehidupanmu dan terlibat dengan masalahmu. Aku perlu mengatakan hal itu pada Sadam yang memintaku selalu di sisimu. Dari awal kamu yang membuatku terlibat, menarikku dengan tipuan__"


"Zahira, ibu mohon berhenti!" potong ibunya tegas. Ibunya tahu anaknya hanya sedang tertekan dan emosi.


Zahira melirik ibunya dan ibu Kenzo sesaat sebelum meninggalkan mereka. Memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Zahira menarik nafasnya panjang sebelum masuk ke kamar mandi. Mencuci wajahnya dan menatap pantulan wajahnya di cermin.


Sementara di ruang tamu, Kenzo masih terpaku di tempatnya. Pandangan matanya kosong. Ibu Zahira minta maaf sebelum masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Ken ... Zahira pasti merasa tertekan," kata ibunya, dia memegang lengan Kenzo untuk menyadarkan putranya.


Zahira keluar dari kamarnya dengan pakaian bepergian. Melewati Kenzo dan ibunya begitu saja.


"Kamu mau kemana?" tanya Kenzo yang sudah mencengkram pergelangan tangannya.


"Keluar, aku butuh udara segar,"


"Ini sudah terlalu larut, kumohon kembali ke kamarmu," bujuk Kenzo.


Ibu Kenzo yang mengeri keadaan dan tidak ingin mengganggu segera masuk ke dalam kamar.


"Aku bisa gila," bisik Zahira sambil menghempaskan tangan Kenzo dan melankutkan langkahnya.


Zahira tidak bisa menyetir, selama ini dia selalu menggunakan taksi atau bus. Karena itu dia meminta salah satu bodyguard yang biasa bersamanya mengantarnya. Setelah mendapatkan anggukan dari Kenzo akhirnya dia menuruti Zahira.


Di perjalanan Zahira diam saja sambil memandang jalanan dengan lelah. Dia tidak punya tujuan pasti.


"Kamu punya nomor telepon Tomi?" tanya Zahira ke pada pengawalnya.


"Saya dilarang memberita__" Zahira tidak ingin menunggu dan langsung mencondongkan tubuhnya dan menyambar ponsel pengawalnya yag ia letakkan pada dasboard mobil.


"Sandi!" perintabnya.

__ADS_1


"Nona ...."


"Sandi, kalau tidak aku akan membuat kita dalam masalah," ancam Zahira yang akhirnya membuahkan hasil.


Setelah mendapatkan nomor telepon Tomi, Zahira segera menghubunginya. Awalnya tentu saja dia terkejut, namun akhirnya dengan sedikit paksaan ia memberitahukannya. Dan di sinilah akhirnya Zahira. Menatap datar tempat tidur pasien. Sadam sudah sadar dan tersenyum padanya.


"Katakan padaku apa rahasianya, aku yakin Kenzo bahkan belum tahu kebenaran sesungguhnya, Kan?" Zahira menatap Sadam awalnya sebelum ia menangkap ekspresi terkejut Tomi.


"Jadi kalian berdua juga tahu?" tebak Zahira.


"Aku harus tahu apa yang aku hadapi, mereka bahkan berani datang ke rumahku dan menodongkan pistol ke kepalaku." Baik Sadam danbTomi tampak terkejut.


"Kamu melawannya?" tanya Sadam dengan suara lemahnya.


"Menurutmu?"


Sadam terkekeh pelan di tengah menahan rasa sakit di kepalanya.


"Seperti dugaanku, cepat atau lambat si tua itu akan melakukannya. Tapi yang kamu hadapi tidak sesederhana itu. Aku menyelidiki mereka selama bertahun-tahun. Memperhatikan pergerakan mereka. Dursley mungkin terlihat kuat, tapi dia hanyalah pion. ada beberapa orang lagi yang sekuat dia. Mereka tergabung dalam organisasi mafia yang lebih besar dan tersebar di beberapa negara. Jangan bodoh, aku bahkan berpikir ribuan kali untuk memberitahu Kenzo karena dia akan melakukan hal yang sama denganmu." Zahira menatap Sadam dengan wajah datarnya.


"Apa ini juga bsrhubungan dengan yang diselidiki Wewen dan Anton?"


"Detektif itu? sedikit banyak, Ya!" jawab Sadam.


Zahira duduk di atas bangku yang ada di sana. Tomi menghampirinya dan memberikan flasdist yang diberikan Sadam tadi ke pada Zahira.


"Apa ini?" tanya Zahira, menatap Tomi meminta jawaban.


"Aku sudah melihat isinya, kamu harus menyerahkan itu pada Kenzo saat bertemu dengannya."


"Sedikit rahasia ayahnya yang selama ini aku simpan," jawab Sadam. Pria itu menutup matanya sejenak sebelum menatap Zahira.


"Tolong jangan pergi darinya, dia bisa jadi monster setelah melihat isi flasdist itu."


"Terlambat, aku tidak akan terlibat dengan kalian lagi. Karena itu aku datang padamu, aku tidak bisa berjanji," sahut Zahira tegas.


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah mengatakan__"


"Kenapa kamu jadi bodoh?" Zahira mengernyit bingung.


"Ap ... apa maksudmu?"


"Aku memintamu saat itu bukan bearti menyuruhmu meletakkan perasaanmu. Aku tidak peduli kamu menyukinya atau tidak. Tapi Kenzo bukan orang dengan kepribadian yang ... dengan kata lain, dia akan menjadi kejam dan gila saat orang yang di percayainya menghianatinya. Pergi darinya sama saja baginya, sekarang dia mungkin membiarkanmu. Tapi setelah dia menetapkan waktu, dia akan mengikatmu lebih erat lagi," kata Sadam.


Zahira yang akhirnya mengerti maksud perkataan Sadam menjadi gusar sendiri.

__ADS_1


Apa aku sudah membangunkan singa tidur?


__ADS_2