Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Genangan darah pertama


__ADS_3

Kenzo merasakan kemarahan yang amat sangat setelah mengetahui anaknya yang belum lahir meninggal dunia. Setelah sampai di kamar mereka, setelah istrinya tertidur. Kenzo meluapkan kemarahannya dengan berlatih tinju bersama Endru.


Melihat tuannya yang terlihat sangat mengerikan, Bili dan Gana yang ingin menyampaikan laporan hanya berdiri di ambang pintu.


Kenzo tentu saja menyadari kehadiran mereka, maka untuk penutupan, dia melayangkan tendangan memutar sehingga Endru tidak mampu menangkis dengan baik. Dia terlempar beberapa meter kebelakang.


Kenzo melepas sarung tinjunya dan memutar tubuhnya. Menatap kedua orang yang akhirnya masuk setelah mendapatkan perintah tak tersirat.


"Kalian sudah membawanya?"


"Dua orang itu ada di ruang penyekapan bersama Muzakir Tuan," jawab Gana.


"Dimana Sadam?" tanya Kenzo, matanya melirik Endru yang sudah berdiri di sampingnya.


"Saya pikir dia di kamarnya, Tuan."


"Suruh dia turun," perintahnya.


Kenzo keluar dari ruang olahraga menuju kamarnya di lantai 3. Saat masuk, Zahira sudah terbangun. Namun pandangannya kosong. Ibunya berusaha mengajaknya bicara namun Zahira hanya mengabaikannya.


Kenzo yang melihat hal itu menjadi lebih marah dari sebelumnya. Dia mengambil baju bersih dan masuk kedalam kamar mandi. Ibu Zahira yang memahami keadaan mereka hanya tertunduk sedih. Zahira bahkan tidak bisa dibujuk untuk makan.


Kenzo keluar setelah beberapa menit, dia duduk di sisi ranjang. Menangkup wajah Zahira dengan kedua tangannya. Sang mertua berjalan keluar untuk memberikan ruang bagi anak dan menantunya.


"Za... aku tahu kamu marah, aku juga sama. Tapi menyalahkan dirimu bukan solusi yang baik sekarang. Itu bukan salahmu, itu salah mereka. Jika saat itu kamu benar-benar ditangan musuh, aku rasa hal yang lebih buruk akan terjadi." Bulir mata Zahira perlahan bergerak, menatap suaminya. Kenzo tersenyum tipis untuk memberikan kekuatan.


"Jangan kawatirkan apapun, aku akan membalas mereka."


Zahira mencengkram tangan Kenzo yang masih menangkup wajahnya. "Kamu mendapatkan mereka? dua orang itu?" tanyanya. Ada kilat lain dalam mata itu.


Kenzo mengangguk, Zahira melepaskan tangan Kenzo, lalu menyibak selimut dan mengganti bajunya. Kenzo ikut berdiri, menghampiri Zahira karena tahu apa yang dipikirkan istrinya itu.


"Tidak, kamu tetap disini. Aku akan membalaskannya untukmu, bahkan orang yang menyuruh mereka. Kita akan membalasnya. Jadi tetap di sini dan pulihkan dirimu!" tegas Kenzo.


Zahira menggeleng, "Aku sudah kuat. Aku bisa melakukannya." Zahira terlihat lebih tenang diluar, namun Kenzo yakin gejolak didalam hatinya sangat besar. Kemarahan dan dendam.


"Tidak, tetap disini atau tidak selamanya!" Zahira menatap mata suaminya dengan tajam. Tahu bahwa tidak akan bisa melawan suaminya, matanya berkaca-kaca. Kenzo memeluknya dengan erat. Menggumamkan kata maaf berulang kali ketika mendengar isakan tertahan Zahira.


.


Mereka sampai di sebuah gudang kosong yang memang sengaja di beli Kenzo beberapa tahun lalu untuk menyelesaikan urusannya dengan musuhnya. Tempat yang sudah ia ubah menjadi penjara untuk musuh-musuhnya.


Memasuki ruang paling depan, Sadam duduk santai saat yang lain berdiri. Dia biasanya memang akan jadi penonton di awal-awal. Sementara Kenzo adalah orang yang akan langsung turun tangan.


"Bawa mereka!"

__ADS_1


Dua orang yang masih memiliki perban di kepala dan kakinya itu diseret dan dilempar dibawah kaki Kenzo. Mereka segera mundur kebelakang setelah menatap mata Kenzo yang diliputi kabut gelap.


"Apa yang harus aku ambil terlebih dahulu?" tanya Kenzo. Nada tenang namun siapapun tahu dia sedang dalam kemarahan yang terkendali.


"Tu...tuan... saya mohon! saya mohon ampuni saya! Saya hanya disuruh!" ujar salah satu diantara mereka.


"Wah wah... kamu sangat licik meminta ampun untuk diri sendiri." sahut Sadam dari belakang.


"Sa...saya akan melakukan apapun yang tuan suruh. To..tolong Tuan! ampuni saya!" ucap yang satu lagi.


"Apapun?" tanya Kenzo sinis.


"Saya janji, saya janji!" ucapnya cepat seolah mendapat harapan.


Kenzo mengulurkan tangannya, lalu Endru memberikan pistol yang sedari tadi ia bawa. Kenzo tersenyum, mengarahkan pistolnya ke kepala pria yang pertama bicara, tampa aba-aba melepaskan tembakan yang langsung membuatnya mati ditempat.


"Itu balasan karena kematian anakku." desis Kenzo.


Seluruh orang disana tentu saja terkejut. Kenzo tidak pernah membunuh sebelumnya. Dia biasanya hanya akan membuat orang itu kehilangan dua kaki, atau kehilangan tangan mereka. Sadam bahkan terdiam ditempatnya, jelas dia syok berat melihat Kenzo saat ini.


Genangan darah dari kepala pria itu membuat pria satu lagi menggigil ketakutan. Dia tampa sadar merangkak dan bersujud di kaki Kenzo. Memohon ampun berkali-kali dengan suara bergetar.


"Kamu bilang akan melakukan apapun, kan?" kata Kenzo dengan nada menyeramkan.


"Ya..ya...Tuan, sa..ssa...saya akan lakukan apapun." jawabnya terbata-bata. Dia masih saja terus bersujud.


"Satu anak sedang sekolah di SD Sukmawati. Istrinya ibu rumah tangga dan saat ini sedang di supermarket, seseorang bersiap dibelakang keduanya dengan peluru racun." jawab Endru.


"Pilihannya adalah, mati dengan seluruh keluargamu. Atau pergi dan bunuh tuanmu. Aku akan menunggu selama 24 jam. Jika kamu gagal, ucapkan selamat tinggal pada dunia." kata Kenzo.


Dia berbalik, menatap Endru. Endru mengangguk sebagai jawaban. Dia pergi ke dalam suatu ruangan disana, lalu keluar membawa sebuah bom rakitan.


Anak buah yang lain membuka baju pria yang kini menatap bom itu dengan wajah ketakutan. Dia semakin takut saat bom itu dililitkan ditubuhnya.


"Tu...tuan! ja...jangan. Saya mohon..."


"Bukankah kamu akan melakukan apapun? pergilah. Cari tuanmu dan bersikaplah ramah. Endru!"


Endru maju dan memberikan satu pistol pada pria itu. "Pistol itu hanya berisi satu peluru. Jika kamu gagal pada tembakan pertama, maka kami akan meledakkanmu di tempat." lanjut Kenzo.


.


Kenzo dam Sadam sedang menuju kantor. Sepanjang perjalanan Kenzo tidak berbicara. Begitupun Sadam yang masih menyisakan keterkejutan diwajahnya. Dia ingin marah pada Kenzo karena bertindak terlalu jauh. Tidak seharusnya dia membunuh seseorang.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku memang bertindak terlalu jauh. Tapi jika tidak, maka tangannya yang akan menjadi kotor." kata Kenzo dengan wajah sendu. "Saat dia meminta ikut, tatapannya jelas menunjukkan dendam mendalam. Aku tahu dia akan membunuh keduanya, emosinya tidak stabil. Kehilangan yang ia rasakan membuat dia tidak terkendali." lanjut Kenzo.

__ADS_1


Sadam tidak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya dengan frustasi. Lalu bersandar ke kursi dengan mata tertutup. Hanya satu yang ada dalam kepalanya, bahwa dia harus menemukan cara untuk menghancurkan musuh mereka sampai tidak akan bisa melakukan apapun lagi. Sadam tidak ingin Kenzo mengotori tangannya lebih dari ini.


Sesampainya di kantor, seperti biasa Kenzo kembali bekerja dan Sadam masuk ke dalam markas SS Guard. Mereka masuk secara terpisah karena Sadam sedang menyamar. Dia masih menjadi incaran pihak musuh.


Sementara Sadam sedang mencari celah dan terus terhubung dengan Endru yang mengawasi pergerakan pria tadi, Kenzo sendiri di datangi oleh Dursley. Keduanya saling berhadapan di dalam ruang rapat kedap suara.


"Dua orang suruhan kami menghilang, mereka ada padamu kan? itu artinya... kamu sudah menemukan istrimu. Apa kamu sudah memotong lidah atau tangan mereka?"


Kenzo menatap kedua mata Dursley. Wajahnya begitu dingin dan datar. "Aku tidak yakin apa tujuanmu saat ini. Tapi datang kesini seorang diri tampa anak buahmu, bukankah kamu akan mengantarkan nyawamu?"


Dursley tertawa pelan. "Aku tahu kamu tidak akan melakukan apapun padaku saat ini." Dursley menjeda sesaat, menatap Kenzo dengan sorot tajam. "Aku akan menanyakan sesuatu," katanya, lalu memajukan tubuhnya sedikit. Apakah Muzakir ada ditanganmu?"


Kenzo tahu Dursley hanya ingin melihat reaksinya, dengan begitu dia akan tahu kesimpulannya. Selain itu, Muzakir pastilah menyimpan rahasia mereka. Bukti hidup yang akan menjadi saksi transaksi gelap mereka.


"Sangat aneh kamu menayakan dia padaku, Dursley. Kalaupun dia datang padaku, maka aku akan mengirim mayatnya padamu. Seperti yang aku lakukan pagi ini pada kediaman bos kalian." Jawab Kenzo dengan senyum penuh makna. Dursley jelas sangat terkejut, dia menghubungi seseorang.


"Apa ada paket ke rumah tuan Prakoso?" tanyanya. Prakoso adalah nama ketua partai yang menjadi pemimpin tertinggi red wine. Ujung tombak segala transaksi ilegal dan bisnis gelap mereka.


Pupil mata Dursley melebar sedikit sebelum ia menurunkan kembali handphone miliknya. Matanya masih menatap wajah Kenzo yang kini menyeringai.


Dia bangkit berdiri, dengan langkah lebar meninggalkan ruangan itu dengan raut penuh kemarahan. Marah karena lagi-lagi ia merasa di pencundangi oleh Kenzo.


"Apa yang dia lakukan disini?" Sadam masuk ke dalam kantor Kenzo. Ia masih memakai topeng kulit sehingga wajahnya seperti wajah orang lain.


"Mencari informasi."


"Informasi? padamu? apa yang dia pikirkan. Tapi... kenapa kamu mengirim mayat pria itu pada kediaman ketua partai itu? kamu tahu? itu menjadi sangat heboh di media. Semuanya beranggapan itu adalah teror dan saat ini kediamannya dijaga ketat."


"Bukan masalah, aku hanya mengembalikannya. Agar kita tidak repot mengurusnya. Itu hanya ancaman kecil, bukankah ancaman besarnya ada padamu?"


Sadam tersenyum sinis. Dia duduk di salah satu kursi lalu memandang punggung Kenzo yang menatap ke luar gedung melalu dinding kaca.


"Meskipun dengan bukti yang aku punya, kita butuh mendapatkan pengakuannya. Itu akan lebih mudah di pengadilan." kata Sadam.


"Maka kamu akan mendapatkan itu kan?" Kenzo berbalik, menatap Sadam dengan sorot penuh perintah.


"Tentu, meskipun mungkin butuh waktu. Saat ini dia sedang berhati-hati."


"Aku tidak mau menunggu lagi, ini harus cepat selesai agar Zahira bisa tenang."


Sadam menghela nafas. Karena tentu saja itu juga keinginannya. Tapi Sadam tidak suka kekerasan. Dia adalah pemain dibelakang layar. Dia tidak suka membuat darah tertumpah dimana-mana.


"Aku akan menemukan cara, kamu tenang dulu." bujuk Sadam.


Keduanya saling melempar pandang. Kenzo dengan tatapan sengit dan dingin sementara Sadam dengan tatapan penuh bujukan.

__ADS_1


"Aku tunggu," kata Kenzo, lalu keluar dari sana.


Sadam menghela nafas, dia tadinya ingin mendiskusikan rencananya, namun tidak jadi karena nyatanya Kenzo ingin lebih cepat. Sementara dia ingin mengikuti jalur dan menjatuhkan Prakoso bersama presiden secara perlahan. Seperti yang biasa mereka lakukan sebelumnya, bermain dengan musuh-musuh mereka sebelum membuat mereka benar-benar jatuh.


__ADS_2