
Zahira sedang berdiri di depan butik tempat biasa dia bekerja. Ini adalah jam dimana dia biasa datang. Ketika kakinya melangkah masuk, dia melihat Rara menatapnya dengan sedih. Dia mengabaikannya dan tidak mau disapa juga. Dia langsung berjalan ke dalam kantor Karin tampa permisi.
"Apa ku bilang."
Zahira sudah menemukan jawaban yang ingin ia tanyakan begitu melihat Kenzo sudah ada disana, melihat Zahira dan berbicara dengan yakin pada kakak iparnya.
"Jadi benar anda memecat saya?"
Karin tampak tak enak hati, namun karena menuruti keinginan adiknya itu, ia terpaksa melakukannya.
"Gajimu akan lebih besar jika bekerja dengan Kenzo, aku yakin kamu lebih baik disana. Kamu pintar, aku yakin kamu akan dengan cepat beradaptasi."
Zahira melirik Kenzo yang menatapnya dengan seringaian penuh kemenangan. Membuat dia makin kesal saja.
"Baiklah, Saya tidak tahu apa maksud anda sangat menginginkan saya menjadi asisten anda. Sepertinya anda sangat suka bermain-main dengan hidup orang lain."
Kali ini Zahira menatap langsung kepada mata Kenzo.
"Tapi saya punya syarat."
Kenzo menyeringai, menaikkan sebelah alisnya, menunggu dan mempersilahkan.
"Dengan kekuasaan anda, tolong selidiki apa yang terjadi didalam grup Adira."
Karin jelas terkejut, berbeda dengan Kenzo yang tampak santai dengan wajah datarnya.
"Apa itu mungkin?"
Kenzo menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tidak langsung menjawab. Sepertinya ada banyak pemikiran dikepalanya.
"Grup Adira bukanlah grup yang terlalu besar. Adira masih dibawah perusahaan kami. secara finansial mereka lemah meskipun memiliki beberapa cabang perusahaan. jadi itu tidak akan sulit. Tapi apa hubungan Adira denganmu? "
Itu adalah pertanyaan dari Karin. Sepertinya ia memiliki penilaian baru mengenai Zahira. Berbeda dengan adiknya yang tampak biasa saja.
"Tidak masalah, kamu minta aku untuk menghancurkan mereka juga akan aku lakukan. Itu bukan hal yang sulit."
Kali ini bukan hanya Zahira yang menatapnya tidak suka, Karin juga iku melayangkan tatapan protesnya.
"Apa-apaan kamu, itu terlalu kejam Ken!"
Kenzo terkekeh pelan, terkesan tidak peduli.
"Ikut aku!"
Zahira memohon izin sebelum mengikuti Kenzo.
__ADS_1
"Sepertinya kamu tidak membawa kontraknya."
Kata Kenzo tampa menoleh saat mereka sudah duduk di dalam mobil. Kenzo duduk dibelakang dan Zahira disamping supir.
"Diluar perkiraan, Tadinya saya tidak tahu anda juga ada disana."
Kenzo tersenyum kecil. Mendengar sekarang Zahira bersikap sopan dan formal padanya.
"Panggil aku dengan kurang ajar seperti kemarin, aku lebih suka kamu yang tidak formal."
Kini Zahira total bingung dengan kepribadian orang yang menjadi bos barunya itu. Ia seperti disindir, hanya saja nada bicara Kenzo yang hangat membuatnya melenyapkan pemikiran buruk itu.
Zahira sebelumnya belum pernah bekerja di sebuah perusahaan. Dia benar-benar canggung harus berjalan dibelakang Kenzo yang menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan busana santainya.
Zahira nyaris menabrak punggung lebar Kenzo kalau saja tidak memiliki reflek tubuh yang baik. Ia akhirnya mundur beberapa langkah lagi untuk menyesuaikan jarak.
"Tuan, Tuan besar ada diruangan anda."
Jimi, pria dengan postur lebih kecil itulah yang menghentikan langkah Kenzo. Dia melirik Zahira dan mencoba menyapa dengan senyum kecil setelah Kenzo kembali melanjutkan langkahnya. Tentu saja Zahira yang canggung tidak menanggapi.
Kenzo berbalik padanya sebelum ia memasuki ruangannya. Seperti sedang menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya. Jimi yang sudah kawatir memasang wajah takut-takut. Membuat Zahira yang tidak mengerti semakin bingung.
"Tuan... "
"Jimi! carikan meja dan kursi kerja untuk asisten pribadi baruku. Letakkan didalam ruangan kerjaku."
"Tidak bisa! Kenapa harus didalam ruanganmu? Aku... Aku bisa duduk disebelah bapak ini."
Protes Zahira menunjuk Jimi dengan matanya. Jimi tampak terkejut sesaat, namun ia bersikap biasa lagi ketika menangkap ekspresi biasa diwajah atasannya.
"Aku bosmu, Tunggu diluar selagi aku bermain."
Zahira memasang wajah bingung, memandang Jimi meminta jawaban setelah Kenzo menghilang dibalik pintu.
"Tuan sedikit tidak akur dengan ayahnya, Kamu pasti paham... Ah... perkenalkan! Aku Jimi. sekretaris tuan Kenzo."
"Kenapa bapak memanggilnya tuan?"
"Pertama jangan panggil aku bapak, Aku seumuran dengan tuan, Aku terbiasa memanggilnya begitu sebelum menjadi sekretarisnya. dulu aku bekerja dirumah keluarganya sambil kuliah."
Zahira hanya mengangguk sekilas.
"Zahira."
"Oh! Ya, selamat datang disini. "
__ADS_1
Zahira tersenyum ala kadarnya dan mengucapkan terimakasih dengan nada ragu-ragu. Dia tidak terbiasa dengan basa basi.
Sementara didalam ruagan, Kenzo sedang perang dingin dengan ayahnya sendiri.
"Kamu masih hobi bermain-main dengan hidup orang lain? tidak bisakah kamu serius dan mulai menata hidupmu. umurmu sudah cukup tua untuk belum menikah. "
"Kali ini anak rekan bisnis ayah mana lagi? Ck, aku tidak akan menolak kali ini. Tapi siap-siap saja dia akan menderita dan malu. Media akan tahu aku dipaksa. itu akan jadi berita yang menarik bukan? "
Mereka saling menatap sengit. Ayahnya tampak sangat marah tapi dia berusaha menahannya.
"Adel, Anak pemilik saham terbesar grup Adira. Dia anak sahabat ayah. Kali ini aku tidak menerima penolakanmu. Aku berhutang budi pada mereka."
Kenzo tersenyum, semakin lama semakin lebar dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Dia sudah seperti psikopat gila yang menemukan mangsanya.
"Seriuslah sedikit! "
"Ah... hahaha! Maaf ayah. Masalahnya ini sangat lucu. Hahahahaha! Ayah akan menyesal seumur hidup jika menikahkan aku dengannya. percayalah, tidak ada yang menguntungkan untuk kita. Mereka perusahaan yang lemah. selain itu, Aku tidak menyukai wanita ular itu. Dia bukan tipeku."
Ayahnya menggeram, dia bangkit dan menggebrak meja cukup keras.
"Bukankah ayah sudah bilang tidak ada penolakan kali ini. 5 perusahan yang sudah kamu tolak seharusnya mendatangkan keuntungan. jadi jangan buat alasan itu untuk menolak kali ini. "
Usai berkata demikian, ayahnya pergi dengan raut wajah penuh kemarahan. Kenzo memang selalu bisa membuatnya naik darah setiap kali bertemu. Dibandingkan kakaknya, Kenzo jauh lebih susah di atur. Bahkan dia memang tidak pernah bisa di atur.
Kenzo menatap pintu yang tertutup itu dengan seringaian. Perlahan ia menutup matanya dan membukanya lagi dalam beberapa detik. Memasang wajah biasanya kembali.
Tidak lama pintu diketuk dan Jimi masuk dengan beberapa laki-laki yang membawa meja dan kursi.
"Hmm... disebelah mana saya harus meletakkan ini, Tuan? "
"Letakkan semeter disamping mejaku."
"Baik! "
Jimi mengarahkan pekerja itu ke tempat yang diinginkan Kenzo.
"Cepat suruh Zahira kesini."
"Baik tuan, 30 menit lagi anda ada pertemuan dengan direktur PT Sarimas."
"Aku tahu, pesankan aku kopi juga."
Jimi mengguk dan segera undur diri. Tidak lama Zahira masuk dan berdiri di hadapannya.
"Tugasmu hanya melayaniku, melakukan apa yang aku suruh. sekarang duduk dibangkumu dan pelajari semua jadwalku yang sudah disusun Jimi."
__ADS_1
Zahira menghela nafas, meski begitu ia tidak membantah kali ini. Dia menatap berkas diatas mejanya dan mulai membacanya satu persatu. Mulai jadwal rutin di perusahaan sampai jadwal kegiatan pribadi bosnya itu.